THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S3 Cinta Untuk Mereka Bab 85 " Pengantar Surat"


__ADS_3

Arsyad tidak menyangka papahnya akan Setega itu pada Annisa. Arsyad menatap tajam pada papahnya dan adiknya. Tatapan yang menyiratkan kekecewaan mendalam bagi dirinya.


"Papah, tega mengusir Annisa dan cucu-cucu papah? Juga calon cucu papah!" Arsyad berkata dengan nada kasar.


"Maksud kamu?"tanya Rico.


"Annisa hamil, pah!" kelekar Arsyad yang membuat semuanya kaget dengan ucapan Arsyad. Semua hanya diam tak berkata apa-apa.


"Berapa bulan aku koma?"tanya Arsyad dengan suara datarnya.


"Empat bulan," jawab Rico.


"Kandungan Annisa pasti sudah membesar. Ya Allah...papah tega sekali dengan Annisa." Arsyad menangis dan meremas selimutnya.


"Maafkan papah, maafkan papah, nak. Papah memang egois. Papah janji akan membawa Annisa kembali ke sini, maafkan papah," ucap Rico dengan menyesal.


Arsyad hanya terdiam, dia tak henti-hentinya menangis, memikirkan bagaimana Annisa di luar sana dengan anak-anaknya dan dia sedang mengandung.


"Ya Allah, di mana istriku? Bagaimana keadaannya dan kandungannya? Lindungi dia selalu, Ya Allah. Andai aku bisa berlari, aku akan lari sekarang meninggalkan rumah papah dan mencari Annisa," gumam Arsyad.


Semua hanya terdiam di dalam ruang perawatan Arsyad. Arsyad merasakan sesak di dadanya. Saat terbangun dari tidur panjangnya, wanita yang ia cintai tidak ada di sampingnya.


Najwa mendekati Abahnya, dia mencium tangan abahnya yang saat itu hatinya sedang kacau.


"Kamu juga sama membenci bunda?"tanya Arsyad.


Najwa tidak menjawabnya, dia hanya menundukan kepalanya dan menangis. Najwa tidak menyangka, kepergian Annisa akan membuat abahnha seperti ini.


"Kenapa hanya diam! Jawab pertanyaan Abah! Kamu juga membenci bunda? Ikut mengusir bunda? Jawab Najwa! Abah bertanya sama kamu!" Arsyad meninggikan suaranya pada anak perempuan kesayangannya itu.


Najwa semakin terisak dan sesegukan dengan menggenggam tangan abahnya. Najwa belum berani berkata pada Arsyad. Dia masih menangis, dan Arsyad masih memalingkan wajahnya dari orang-orang yang ada di sekitarnya.


"Kalian seperti tidak mengerti agama saja, kalian semua menganggap istriku membawa sial dalam keluarga ini, hah? Lalu apa tujuan kalian menikahkan kami? Kalau akhirnya istriku di usir dari sisiku. Terlebih dia sedang mengandung anakku." Arsyad berkata dengan nada kecewa pada semua keluarganya.


"Jika aku mati, apa kalian juga akan membunuh istriku? Aku tidak menyangka, papah yang aku anggap orang yang paling bijak dalam menghadapi masalah, tapi malah berpikir seperti ini, seperti tidak mempunya Tuhan!"


"Dan kamu, Shita! Kamu pernah merasakan betapa sakitnya hampir kehilangan separuh nafasmu. Saat Vino terbaring lemah dan kamu sedang hamil. Kamu merasakan bagaimana sakitnya, kan? Apa kamu tidak berpikir kalau Annisa juga merasakan seperti itu. Dan kalian, kalian menganggap musibah ini karena Annisa? Pikiran papah dan Shita ke mana? Ini musibah, Annisa juga merasa sakit, karena seperuh jiwanya terbaring lemah." Arsyad masih terus berbicara, menuangkan semua rasa kecewanya pada papah dan adiknya.


Rico dan Shita hanya terdiam dan menangis melihat Arsyad yang murka seperti karena ulah dirinya sendiri. Begitupun Najwa, dia semakin menangis dan sesegukan di samping abahnya.


"Syad, kamu jangan banyak berpikir dulu, kamu yang tenang. Annisa akan baik-baik saja. Kamu pulihkan dulu kesehatan kamu, Syad. Om yakin, Annisa baik-baik saja." Bayu mencoba menenangkan hati keponakannya itu.


"Om, bagaimana aku bisa tenang, untuk apa aku sembuh, kalau Annisa tidak ada. Lebih baik Tuhan memgambil nyawaku, om. Kalau tau seperti ini," ucap Arsyad dengan penuh amarah.


"Kak, jangan seperti itu, aku sudah kehilangan 1 saudara laki-lakiku, aku melakukan ini semua karena aku tak mau kehilangan kakak," ucap Shita.


"Diam! Aku tidak butuh penjelasan kamu!" tukas Arsyad.


"Kalian keluar, aku ingin sendir. Keluar!" titah Arsyad dengan penuh amarah.


"Abah, maafkan Najwa," ucap Najwa.


"Kamu tidak dengar abah? Abah ingin sendiri, keluarlah." Arsyad berkata datar dengan Najwa tanpa melihatnya.


Raffi melihat abahnya benar-benar terpukul dengan keadaan ini. Raffi masih berdiri di dalam ruangan Arsyad saat semua sudah pergi keluar dari ruangan abahnya. Raffi memandangi wajah abahnya yang benar-benar kacau saat itu. Raffi melangkahkan kakinya untuk ke luar dari ruangan Arsyad.


"Raffi, tinggu. Abah mau bicara." Langkah kaki Raffi terhenti saat Arsyad memanggilnya.


"Iya, Abah. Abah mau bicara apa?" tanya Raffi dengan menunduk karena takut.


"Tutup pintunya dan kunci," titah Arsyad pada Raffi.


Raffi menuruti apa yang abahnya suruh. Dia menutup pintu ruang perawatan abahanya, dan menguncinya.


"Abah mau bicara apa?" tanya Raffi setelah menutup dan mengunci pintu.


"Kapan bunda menitipkan surat ini?" tanya Arsyad.


"Waktu Abah baru saja kecelakaan, dan bunda akan pergi dari rumah," jawab Raffi.


"Apa opa mengusir bunda dan melarang bunda menemui Abah saat Abah koma?" tanya Arsyad lagi.


Raffi diam dan menunduk, dia takut untuk menjelaskannya, karena memang Raffi lebih baik diam saat semua mengusir Annisa dan tidak boleh menemui abahnya.


"Jangan takut, jelaskan semua pada Abah, apa yang sebenarnya terjadi selama Abah koma." Arsyad berkata denah nada menekan pada Raffi.


"Iya, opa mengusir bunda, tante juga, Tante Shita menampar bunda dan menyalahkan bunda saat Abah kecelakaan. Tante Shita menyuruh bunda pergi, dan melarang kami dekat-dekat dengan bunda. Kak Najwa juga benci sekali dengan bunda, Dio, dan Shifa. Hingga Kak Najwa tidak mau sekelas lagi dengan Shifa, dan selama ini Kak Najwa juga sudah tidak les bareng Shifa," jelas Raffi dengan menunduk.


"Lalu, Raffi benci bunda? Raffi ikut membencinya?" tanya Arsyad.


"Raffi sedikitpun tidak membenci bunda, Abah. Raffi bahkan sering bolos sekolah, karena ingin bertemu bunda. Tapi, sudah 2 bulan ini, Raffi susah menemui bunda. Bunda tidak tahu ke mana, Dio dan Shifa di tanya juga bilangnya bunda sedang menenangkan diri. Ya, waktu itu bunda sempat pamit dengan Raffi, mau menenangkan diri, tapi Raffi tidak tau bunda menenangkan diri di mana. Karena, setiap Raffi ke rumah Dio, bunda memang tidak di rumah." Raffi menjelaskan semuanya pada Arsyad.


"Apa Raffi tau, kalau bunda hamil?"tanya Arsyad.


"Tidak Abah," jawab Raffi.


"Ya Allah, di mana istriku? Lindungilah dia selalu," ucap Arsyad lirih.

__ADS_1


"Raffi akan bantu Abah, agar Abah bertemu dengan bunda. Jika Abah mau menitipkan surat untuk bunda. Raffi akan memberikannya pada Dio. Raffi yakin, Dio tau bunda di mana. Dia hanya tidak mau memberitahukan bunda pada Raffi saja. Abah yang tenang, yang penting Abah sembuh, jangan berpikir yang macam-macam. Kalau bunda ada apa-apa pasti Dio tidak pernah ke sekolah. Dio masih ke sekolah dan terlihat biasa-biasa saja," jelas Raffi.


"Terima kasih, nak. Kamu tidak membenci bunda. Kamu boleh keluar, dan panggilkan suster atau dokter ke sini," titah Arsyad.


"Iya, Abah. Abaha harus semangat untuk sembuh. Bunda pasti menunggu Abah menjemput bunda lagi," ucap Raffi.


"Iya, Abah akan semangat untuk sembuh." Arsyad memeluk Raffi dan mencium keningnya.


Raffi keluar dari ruangan Arsyad dan memanggil perawat juga dokter. Raffi bergabung dengan opa dan lainnya yang sedang duduk di ruang tengah. Terlihat jelas raut wajah Rico dan Shita diliputi rasa penyesalan yang dalam. Raffi duduk di samping Bayu. Bayu mengusap kepala Raffi, dia tak menyangka Raffi yang masih kecil justru tidak terpengaruh dengan opa dan tantenya. Bayu memeluk Raffi dan mencium kening Raffi.


"Raf, jujur sama Om Vino, apa kamu sering bertemu bundamu?" Vino yang menebak Raffi sering menemui Annisa, karena Raffi sering sekali tidak masuk sekolah.


"Emm…iya, om," jawab Raffi.


"Benar bunda hamil?" tanya Vino.


"Raffi tidak tahu, om. Raffi 2 bulan ini tidak pernah bertemu bunda lagi, kalau ke rumah adanya Dio dan Shifa saja. Mereka hanya bersama Tante Rere dan Tante Vera di rumahnya," jawab Raffi.


"Lalu bunda di mana?" tanya Rayhan.


"Kata Dio dan Shifa, bunda ingin menenangkan diri. Mereka juga bertemu bunda seminggu sekali, dan entah di mana bunda sekarang, Raffi tidak tau. Raffi banyak tugas sekolah, jadi Raffi juga jarang ke sana sekarang," jelas Raffi.


"Kamu kalau ke sana dengan siapa?" tanya Bayu.


"Om Kevin, dia yang sering mengantar Raffi. Tapi, setelah Om Kevin kembali ke Vila Opa, Raffi jarang ke sana. Om Jordy seringnya tidak mau mengantar, karena Raffi sudah sering bolos sekolah," jawab Raffi.


Shita dan Rico hanya terdiam saja mendengar penuturan Raffi. Hanya air mata yang ia keluarkan dan penyesalan yang amat dalam. Rico mengambil ponselnya dari saku celananya. Dia mencari kontak Kevin dan meneleponnya. Dia ingin tahu apa benar Annisa sedang hamil, dan yang terakhir bersama mereka adalah Kevin, pasti Kevin tau, Annisa ada di mana.


^^^^^


Annisa terlihat sedang menikmati makan siang bersama Rere, Vera, Dio, dan Shifa di rumahnya. Ini hari minggu, jadi Annisa di rumah untuk menghabiskan waktu bersama kedua anaknya. Dua bulan ini, Annisa pulang ke rumah orang tuanya. Dia ingin menentramkan pikirannya, dia di sana ditemani Alvin, Zidan, dan paman Diki. Kadang juga hanya bersama Alvin saja. Karena Zidane dan paman Diki sibuk mengurus bisnis barunya.


Kevin, ya, Kevin juga selalu setia menjadi sopir pribadi Annisa. Dengan memegang semua rahasia Annisa dan menyembunyikan Annisa di rumah orang tua Annisa. Kevin memang yang memiliki ide seperti ini. Kevin juga tidak cerita dengan Raffi soal Annisa yang hamil dan Annisa tinggal di rumah orang tuanya.


Dua bulan sudah Kevin berpamitan dengan Rico untuk kembali ke Villa Rico. Kembali menjadi penjaga Villla Rico. Memang Kevin sengaja di suruh Rico kembali menjaga Vilanya. Tapi, Kevin sekarang sudah tidak lagi bekerja dengan Rico, dengan alasan dia menjaga orang tuanya yang usianya sudah senja. Sekarang Kevin menjadi sopir pribadi Annisa dan anak-anaknya.


Perut Annisa sudah terlihat membuncit, usia kandungannya sudah memasuki bulan ke-6. Kadang Annisa merasakan getirnya hidup pada dirinya. Mengandung tanpa suami disisinya, padahal suaminya masih ada dan terbaring lemah. Annisa memang belum tahu, kabar Arsyad akhir-akhir ini. Biasanya Kevin lah yang memberitahu kabar tentang Arsyad.


"Bunda, kemarin Raffi tanya sama Dio, gimana kabar bunda," ucap Dio.


"Lalu kamu bilang apa pada Raffi?"tanya Annisa


"Bunda baik-baik saja, lalu dia ingin ke sini, aku bilang bunda tidak di rumah, bunda sedang menenangkan diri di suatu tempat," jawab Dio.


"Hmmm….terus Raffi gimana?"tanya Annisa.


"Iya, bunda juga merasa gitu, tapi mau bagaimana lagi, opamu saja seperti itu, tega dengan kamu. Kamu juga cucu opa,"ucap Annisa.


"Bunda, kalau Abah sudah sadar, apa bunda akan menemui Abah, kalau Abah meminta bunda kembali ke sana?"tanya Shifa


"Jika Abah ke sini, bunda akan menerima Abah kembali, tapi jika bunda yang di suruh ke sana, bunda belum sanggup kembali ke keluarga opamu," jawab Annisa.


"Bunda, bunda kan yang bilang sama kita jangan dendam, kok bunda gitu?"tanya Shifa lagi.


"Bunda tidak dendam. Bunda hanya menantu, menantu itu orang asing, tidak memiliki ikatan darah dengan mertuanya. Tapi, kalau kalian, kalian adalah cucu Alfarizi. Ada darah Alfarizi pada diri kalian. Itu kenapa bunda tidak mau kalian dendam pada opa kamu," tutur Annisa


"Bunda tidak dendam, bunda sayang sama opa kalian, bunda sudah anggap opa seperti orang tua bunda sendiri, semenjak eyang kamu meninggal. Dan, sekarang bunda seperti di buang oleh opa kalian, bunda kecewa, kalian juga pasti merasakan kecewa, sama seperi yang bunda rasakan sekarang," imbuh Annisa.


"Iya Shifa memang kecewa dengan opa,"


"Dio juga bunda,"


"Kalian boleh kecewa, tapi jika opa kalian meminta kalian ke sana, turutilah. Kamu jenguk Abah, walaupun tanpa bunda. Bunda belum bisa menemui Abah, kalaupun Abah sudah sadar,"


"Bunda, Abah tidak salah, bunda jangan menyiksa hati Abah, pasti Abah kecewa bunda tidak menemui abah," ujar Dio.


"Abah pasti tau, bunda tidak mau menemui karena apa, dan bunda yakin Abah yang akan menemui bunda di sini atau di rumah eyang," jawab Annisa.


"Makanan kalian di habiskan, jangan bicara terus," ujar Annisa.


Dio dan Shifa melanjutkan makan siangnya. Terlihat Kevin dari luar berjalan masuk ke arah meja makan, sepertinya dia terlihat sangat gugup sekali untuk menemui Annisa.


"Ada apa, Vin?" tanya Annisa.


"Pak Rico tadi meneleponku, katanya ada hal penting yang harus di bicarakan dengan saya, apa saya boleh ke sana sebentar?"


"Emm…boleh, tapi jangan sampai malam, aku harus kembali ke rumah mamah lagi," jawab Annisa.


"Baik, saya pamit dulu, Bu." Kevin pamit pergi ke ruang Rico


Annisa hanya mengernyikan dahinya mendengar Rico ingin bertemu dengan Kevin. Annisa melanjutkan makan siangnya. Dio dan Shifa sudah selesai makan, mereka meninggalkan meja makan karena harus mengerjakan tugas sekolahnya yang belum selesai.


"Mau apa Pak Rico menyuruh Kevin ke sana, Nis?"tanya Vera.


"Mana kutahu, Ver," jawab Annisa snmbil menikmati buah apel kesukaannya itu.


"Mungkin suami kamu sudah sadarkan diri, dan dia mencarimu, lalu Pak Rico kalang kabut mencari informasi tentang kamu. Tau sendiri suami kamu orangnya gimana kalau sudah marah," ujar Rere.

__ADS_1


"Entahlah, siapa suruh memisahkan anaknya dari istrinya. Ya risiko di tanggung penumpang, Re,"ucap Annisa dengan santai.


"Kamu tidak ingin menemui suami kamu, Nis?" tanya Rere.


"Menemui? Kalau di bolehkan, Kalau di usir lagi? Apa aku harus meratap dan mengiba pada mereka? Nanti juga mereka yang akan merasakan bagaimana kalau Kak Arsyad sudah siuman," jelas Annisa.


"Iya juga sih, kamu jangan khawatir, banyak yang sayang dengan kamu, Annisa,"ucap Vera.


"Iya, Ver. Tapi, apa aku harus kedua kalinya melahirkan tanpa suami yang mendampingiku? Dulu aku melahirkan Dio dan Shifa, Arsyil sedang tugas ke luar kota, dan sekarang?" ucap Annisa


"Jangan bilang seperti itu, Pak Arsyad pasti akan segera kembali pada kamu," ucap Rere.


"Entahlah, aku berusaha kuat dan bertahan hanya untuk anak-anakku, Re. Kalau tidak ada mereka, mungkin aku ingin pergi saja dari dunia ini,"ucap Annisa dengan tatapan kosong.


"Jangan bicara seperti itu, Nis,"ucap Vera.


Rere mengemasi piring kotor dan mencucinya sekalian. Vera menyuapi anaknya di ruang tengah dengan menemani Dio dan Shifa yang sedang mengerjakan tugas. Annisa masuk ke dalam kamarnya. Dia berjalan menuju lemari pakaiannya. Mengambil baju milik suaminya. Hanya dengan meemluk baju Arsyad dia bisa menjadi tenang. Iya, itu yang ia lakukan setiap hari di rumah orang tua Annisa.


Hanya air mata dan kesedihan yang selalu hinggap di hidup Annisa selama 4 bulan ini. Ingin rasanya merengkuh tubuh suaminya yang masih terbaring lemah dan belum bangun dari komanya.


"Kak Arsyad, apa kakak sudah bangun? Apa kakak mencariku? Annisa merindukan kakak. Kak, apa papah akan memisahkan kita?" pertanya itu setiap hari muncul dalam hati Annisa saat dia sendiri di kamar dengan berlinang air mata dan memeluk baju suaminya.


^^^^^^


Kevin sudah sampai di kediamab Alfarizi. Semua terlihat sedang berkumpul di ruang tengah. Kevin masuk ke dalam ruang tengah menemui Rico dan lainnya. Kevin mendudukan diri di sebelah Bayu.


"Ada apa Pak Rico memanggil saya?"tanya Kevin.


"Apa Annisa hamil?" Pertanyaan Rico membuat Kevin sedikit terjingkat. Dia tak menyangka Rico tau perihal Annisa hamil.


"Emm….emm…" Kevin tidak tau harus bagaimana menjelaskannya.


"Jawab Kevin!" bentak Rico.


"Iya, Bu Annisa hamil, kandungannya sudah 6 bulan," jawab Kevin.


"Sejak kapan kamu tau kalau Annisa hamil?" Pertanyaan Rico kembali terdengar di telinga Kevin tentang kehamilan Annisa.


"Sejak kapan Kevin! Jangam berbelit, jawab!" Rico semakin geram dengan Kevin yang sepertinya sengaja menyembunyikan kehamilan Annisa.


"Sebelum kecelakaan, Aku mengantar Pak Arsyad dan Bu Annisa periksa ke dokter Iren," jawab Kevin dengan santai.


"Kenapa kamu tidak memberitahu kami?"tanya Shita.


"Memberitahu? Memberitahu dengan orang yang sedang di liputi emosi besar percuma saja. Saya ingin memberitahukan pada kalian saat anda menampar Bu Annisa berkali-kali, tapi Bu Annisa melarangku," jawab Kevin.


"Tolong beritahu Annisa di mana sekarang ini, Kevin. Arsyad sudah bangun dari komanya. Dia terus meminta Annisa pulang,"pinta Rico.


"Semudah itu? Semudah itu kalian melupakan kekejaman pada Bu Annisa? Kalian harusnya merasakan bagaimana rasanya menjadi Bu Annisa, disalahkan, dianggap membawa petaka bagi keluarga kalian, dan sekarang, kalian merasakan betapa tersiksanya Pak Arsyad? Sama dengan apa yang Bu Annisa rasakan hingga sekarang," jelas Kevin.


"Kalian tau, setiap hari Bu Annisa harus menjalani hari tanpa disisi suaminya, kalian melarang dia menemui Pak Arsyad. Itu sama saja kalian membunuh separuh raga Bu Annisa, Pak Rico," tukas Kevin


"Beruntung Bu Annisa memiliki Dio dan Shifa yang menjadi kekuatan Bu Annisa. Bu Annisa mencoba tegar, mencoba tersenyum di depan anak-anaknya, dan saat mereka pergi ke sekolah, hal yang di lakukan Bu Annisa adalah menangis dan menangis." Kevin terbawa emosi saat itu. Suara Kevin terdengar sangat keras di ruang tengah hingga terdengar ke ruang perawatan Arsyad.


Arsyad meminta seorang perawat mengantarnya keluar dengan menggunakan kursi roda. Arsyad keluar menghampiri mereka di ruang tengah.


"Kevin, aku mohon, pertemukan aku dengan Annisa,"pinta Arsyad.


"Pak Arsyad, Bu Annisa baik-baik saja, ya suatu saat pasti aku akan membantu Pak Arsyad bertemu Bu Annisa, tapi tidak sekarang. Bu Annisa saat ini sedang berada di suatu tempat untuk menentramkan pikirannya. Itu alasan aku keluar bekerja di Vila Pak Rico. Aku ingin menjaga Bu Annisa dengan orang-orang yang menyayanginya, saat dia di usir dan di buang dari sini,"ucap Kevin.


"Aku akan menunggu Vin, aku titip Annisa. Katakan padanya, aku akan menjemputnya jika aku selesai terapi, dan aku sudah benar-benar bisa melindungi istriku lagi. Sampaikan maafku," ucap Arsyad.


"Pak Arsyad tidak salah, Pak Arsyad rela seperti ini untuk melindungi istri Bapak, yang salah adalah orang yang tidak mau menerima takdir, ini semua sudah tertulis, sudah di gariskan oleh Tuhan," jelas Kevin.


"Bisa ikut saya ke kamar, Vin," pinta Arsyad.


"Iya, pak." Kevin mengambil alih mendorong kursi roda Arsyad menuju kamarnya.


Arsyad ingin menuliskan surat untuk Annisa. Dia juga meminta Kevin setiap hari ke sini, menceritakan apa yang Annisa lakukan di rumah. Arsyad merasa tenang, karena Kevin masih setia menjaga Annisa saat dia tidak bisa apa-apa.


"Vin, aku tidak peduli papah melarangku bertemu Annisa, aku tidak peduli. Aku ingin cepat sembuh, aku ingin kembali menjemput istriku,"ucap Arsyad selesai menuliskan suratnya.


"Pak Arsyad tenang saja, Bu Annisa selalu menunggu Pak Arsyad datang ke rumahnya. Dia masih menanti Pak Arsyad kembali. Pak Arsyad harus semangat untuk sembuh, kasihan Bu Annisa, kandungannya sudah mulai membesar. Aku siap menjadi pengantar surat kalian berdua," ucap Kevin.


"Iya, Vin. Terima kasih, titip Annisa, Dio, dan Shifa, katakan pada Annisa tunggu aku sembuh, dan ini surat untuk dia." Arsyad memberikan surat pada Kevin untuk di berikan pada Annisa.


Kevin mengurai senyumnya dan sambil melihat amplop putih berisi curahan hati Arsyad untuk istrinya.


"Akan aku sampaikan. Pak Arsyad harus sembuh." Kevin menepuk bahu Arsyad dan memberi semangat pada Arsyad.


"Iya, terima kasih, Vin," ucap Arsyad.


Kevin berpamitan untuk pulang, karena harus mengantar Annisa ke rumah orang tuanya lagi.


"Rahasiakan semua ini dari papah, dan lainnya, Vin," ucap Arsyad sembelum Kevin beranjak dari kamar Arsyad.


"Iya, itu pasti," jawab Kevin dan melangkahkan kaki untuk kembali ke rumah Annisa.

__ADS_1


Kevin keluar dari kamar Arsyad dan berpamitan dengan Rico juga lainnya. Rico masih saja diam seribu bahasa. Dia benar-benar menyesali apa yang telah ia lakukan dan ia perbuat pada Annisa. Terlebih Annisa sedang mengandung calon cucunya.


__ADS_2