THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S3 Cinta Untuk Mereka Bab 34 "Apa Yang Tertinggal?"


__ADS_3

"Kak Arsyad, please jangan seperti itu lagi, aku takut tidak bisa mengendalikan diriku, walau bagaimanapun, aku hanya wanita yang lemah kak, apalagi sudah terbuai sentuhan suami sendiri. Meskipun aku belum begitu mencintai kakak,"gumam Annisa dalam hati.


"Kenapa aku bisa menikmati tadi, apa setiap hari aku harus seperti ini dengan Annisa? Lalu hati ini, Almira akan aku bawa kemana, maafkan aku, Mira. Aku akan mencoba melakukannya dengan Annisa, entah itu kapan,"gumam Arsyad.


Mereka memejamkan matanya, mengarungi mimpi indah malam ini.


^^^^^^


Setelah menagtar anak-anaknya ke sekolah mereka langsung menuju kantornya masing-masing. Arsyad mengantarkan Annisa terlebih dahulu ke kantornya. Annisa dari tadi hanya terdiam bermain ponselnya. Arsyad merasa Annisa mendiaminya karena sibuk dengan ponselnya.


"Nis, sibuk sekali,"tanya Arsyad.


"Ini balas WhatsApp nya Rere,"jawab Annisa.


"Oh, kamu meeting jam berapa nanti?"tanya Arsyad.


"Jam 10, kak,"ucap Annisa.


"Di mana?"tanya Arsyad.


"Di hotel X, aku dan Rere yang akan menemuinya,"ucap Annisa.


"Kakak tidak bisa mengantarmu, kalian hati-hati, ya,"ucap Arsyad.


"Iya, kak, tidak apa-apa, kakak juga banyak pekerjaan, kan?"tanya Annisa.


"Iya, kasihan Rayhan sendirian dari kemarin,"ucpa Arsyad.


"Kan ada Lintang, kak,"ucap Annisa.


"Iya, sih. Kamu nanti hati-hati ya, kabari kalau mau beraangkal menemui klien mu,"ucap Arsyad.


"Iya, kakak." Annisa menatap suaminya yang dari tadi bertanya padanya.


Mobil Arsyad sampai di depan kantor Annisa, Annisa mencium tangan Arsyad lalu turun dari mobil Arsyad. Annisa merasa ada yang kurang, di antar suami tapi tidak seperti di antar suami.


"Kalau dulu sama Arsyil, dia selalu menciumku saat aku akan turun dari mobil, ah…sudah jangan banding-bandingkan Arsyil dengan kak Arsyad. Mereka berbeda, kamu harus bisa menerima, Annisa,"gumam Annisa dalam hati sambil keluar dari mobil Arsyad.


Saat Annis akan melanhkahkan kakinya menuju ke dalam kantor, terdengar seseorang yang memanggilnya. Suara yang sangat ia kenal sekali, Annisa menoleh ke sumber suara.


"Annisa,"panggil Arsyad.


Iya, Arsyad yang memanggil Annisa, Annisa seketika menghentikan langkah kakinya.


"Iya, kak, ada apa?"tanya Annisa dengan menoleh ke arah suaminya.


"Ada yang ke tinggalan, Annisa." Arsyad hanyaemanggi Annisa di depan pintu mobilnya.


"Apa, kak?"tanya Annisa.


"Ini di dalam mobil, coba kamu lihat sendiri,"ucap Arsyad.


Annisa kembali berjalan ke arah mobilnya, dia kembali masuk ke dalam mobil, begitu juga Arsyad, dia juga masuk dan duduk di dalam mobil.


"Kak apa yang ketinggalan?"tanya Annisa.


"Tutup pintu mobilnya,"titah Arsyad.


"Apa hubungannya dengan menutup pintu mobil, kak?"tanya Annisa.


"Sudah tutup saja,"ucap Arsyad.


Annisa menutup pintunya, matanya mencari sesuatu, karena Arsyad bilang ada yang tertinggal di mobil


"Kakak, apa yang tertinggal?"tanya Annisa.


Arsyad menarik Annisa agar jarak mereka dekat, Arsyad menyentuh pipi Annisa dan mengusapnya dengan lembut. Arsyad mencium pipi Annisa, dia menatap Annisa yang masih kaget dengan apa yang dia lakukan.


"Ini yang ketinggalan, kamu pacarku, juga istriku, jangan turun dari mobil dan masuk ke kantor sebelum aku mencium kamu, paham, kan?" Arsyad masih menatap wajah Annisa yang memerah, dia semakin lembut menyentuh pipi Annisa.


Arsyad semakin mendekatkan wajahnya, Annisa memejamkan matanya, dia merasa sesuatu menempel di bibirnya. Arsyad mencium lembut bibir istrinya, hingga dia ******* bibir istrinya. Annisa hanya menikmati apa yang suaminya lakukan. Arsyad merasa Annisa terlalu mencolok memakai lipstik. Entah apa yang di rasa Arsyad saat itu, dia menghapus lipstik Annisa dengan bibirnya, dengan bermain di bibir Annisa.


"Kak,"ucap Annisa yang sudah merasa kehabisan oksigen.


"Hmm, iya Nis." jawab Arsyad yang wajahnya masih di depan Annisa dan kening mereka saling beradu.


"Sudah siang, aku masuk ke dalam, ya,"pamit Annisa.


"Iya,"ucap Arsyad.


"Nisa, tunggu." Arsyad menghentikan Annisa yang akanbuka pintu mobil.


"Iya, kak,"ucap Annisa.


"Besok jangan terlalu tebal pakai lipstiknya," ucap Arsyad.


"Iya, kak. Apa aku terlalu tebal memakai lipstik nya?" Annisa melihat bibirnya lewat kaca spion.


"Iya, tadi, ini sudah tidak ada, sudah aku habiskan,"ucap Arsyad.


Annisa terkekeh melihat suaminya seperti tidak suka karena dirinya memakai lipstik yang lumayan tebal.


"Oh, iya sudah hilang, kakak nakal juga ya ternyata?" Annisa menggoda suaminya.


Annisa semakin tertawa melihat bibir Arsyad ada bekas lipstik miliknya. Annisa mengambil tissue lalu mengusapnya.


"Kak, jadi berpindah di bibir kamu semua ini lipstiknya." Annisa terkekeh sambil menghapus sisa lipstik yang menempel di bibir Arsyad.


"Masa sih, Nis?"tanya Arsyad


"Ini, lihat di tissue ada warna merah, kan?" Annisa memperlihatkan tissue yang saja di gunakan untuk mengelap bibir suaminya.


"Kak, terima kasih,"ucap Annisa.


"Terima kasih untuk apa?"tanya Arsyad.

__ADS_1


"Untuk gigitan lembut kamu tadi." Annisa berkata dengan menggoda suaminya.


Arsyad yang melihatnya, dia menarik Annisa ke dalam pelukannya. Arsyad berbisik di telingan Annisa dengan lembut.


"Kamu mau kakak gigit lagi?"bisik Arsyad di telingan Annisa.


"Jangan, sudah siang,"ucap Annisa.


"Makanya jangan menggoda, kakak,"ucap Arsyad.


"Dih, siapa yang menggoda, kakak kepedean sekali, ih." Annisa mencubit dada suaminya.


"Sakit Annisa, sudah sana masuk ke kantor, bos masa datang terlambat," ucap Arsyad yang masih saja memeluk istrinya dan mencium puncak kepalanya.


"Kak, bagaimana aku akan masuk ke dalam kantor, kalau kakak masih peluk Annisa seperti ini,"ucap Annisa.


"Oh, iya, ya sudah sana masuk,"titah Arsyad.


Dia melepaskan pelukan Annisa dan mencium kembali, pipi, kening dan bibir Annisa.


"Tiap aku mengantar kamu, sebelum turun, aku mauencoum kamu dulu, jika aku lupa, ingatkan aku, Nis,"ucap Arsyad.


"Iya, nanti aku ingatkan, ya sudah Nisa turun ya, kakak hati-hati,"ucap Annisa sambil membuka pintu mobil Arsyad dan keluar.


Hati Annisa cukup berdebar-debar di pagi hari, berasa senam jantung di dalam mobil tadi. Detak jantungnya di buat berdetak sangat cepat oleh Arsyad. Wajah Annisa masih memerah, dia tersenyum sendiri sambil berjalan masuk ke dalam kantor.


Arsyad masih terpaku di dalam mobil, dia belum menuju ka kantornya. Arsyad masih memandang istrinya yang berjalan masuk ke dalam kantornya hingga tak terlihat lagi dari pandangannya.


"Apa yang tadi aku lakukan dengan Annisa di sini, aku begitu menikmatnya tadi, dan kenapa aku bisa seperti itu, aku tidak mencintainya, tapi aku menikmatinya. Annisa terkadang bisa menghipnotis ku, dia bisa membuat hati ini bergetar lagi. Syil, maafkan kakak, kakak akan berusaha membahagiakan Annisa, maaf kakak belum bisa menyentuhnya, menjadikan ia istri yang sesungguhnya. Hati kakak masih berpihak pada Almira, Syil,"ucap Arsyad lirih.


Dia menghidupkan mesin mobilnya, lalu melajukan mobilnay menuju kantor. Di sepanjang jalan menuju kantor, bayang-bayang wajah Annisa masih terlihat di mata Arsyad. Sesekali dia menoleh jok di sampingnya, dia merasa masih ada Annisa di sampingnya.


"Annisa, jangan buat aku seperti ini, wajah manismu masih terbayang di mataku, Nis,"gumama Arsyad dalam hati.


^


Annisa sudah berada di dalam ruangannya, dia masih membayangkan apa yang ia lakukan tadi di dalam mobil bersama suaminya. Annisa tidak habis pikir, suaminya bisa melakukan itu, dan terlihat menikmatinya.


Annisa terus mengumpulkan senyumnya, hari ini dia seperti mendapat asupan semangat bekerja di pagi hari. Wajah tampan suaminya masih melekat di matanya. Annisa memejamkan matanya, membayangkan lagi apa yang ia lakukan tadi.


Senyum merekah berhasil lolos dari bibir Annisa seraya membuka matanya, hingga ia tak sadar ada Rere yang sudah berada di depannya.


"Nyonya Arsyad, pagi-pagi sudah senyam-senyum gitu. Wah, habis dapat apa nih, semalm?" Rere mengagetkan lamunan Annisa, mata Annisa membulat sempurna melihat sahabatnya sudah berada di depannya.


"Rere…! Kamu ngagetin saja, ih!"kelekar Annisa.


"Siapa yang ngagetin, aku sedang melihat sahabatku yang sedang bahagia sekali kelihatannya,"ucap Rere.


Rere mendudukan dirinya di depan Annisa, Annisa masih saja tersenyum membayangkan kelakuan suaminya tadi.


"Nis, kamu sehat?"tanya Rere.


"Sehat lah, orang bisa masuk kerja ya sehat, Re,"jawab Annisa.


"Kalau sehat ngapain senyum-senyum sendiri,"ucap Rere.


"Nah, kan! Benar-benar tidak sehat kamu, Nis,"tukas Rere


"Tidak sehat bagaimana, Re?" tanya Annisa.


"Jelas lah, tidak sehat, pertanyaanmu tadi itu, pertanyaan yang tidak butuh jawaban, Annisa,"ucap Rere.


"Lalu?"tanya Annisa.


"Ya gak salah mencintai suami kamu, itu namanya kamu sudah bisa move on, sayang,"ucap Rere.


"Aku bahagia, akhirnya, kamu bisa mencintai dosen angkuh itu,"imbuh Rere.


"Sebenarnya dia orangnya asik, bukan angkuh, tapi cuek. Iya, cuek kebangetan. Tapi, ah…sudah lah, aku jadi terbayang dia terus, Re." Annisa berkata sambil membayangkan suaminya.


"Tapi apa? Hayo semalam sudah berapa kali dengan dosenmu itu? Hmm..mau lounching adiknya Dio,nih,"ucap Rere.


"Hus, ngomong apa sih! Kak Arsyad emang cuek orangnya, tapi dia selalu mengerti aku,"ucap Annisa.


"Hmm…Annisa jatuh cinta lagi rupanya, kasihan pangeran Arsyil, Puteri Annisa yang cantik jelita sudah jatuh cinta lagi," ucap Rere.


"Jangan berkata seperti itu, Re. Justru jika aku tidak menunaikan kewajibanku sebagai istri Kak Arsyad, Arsyilku akan sedih di sana. Aku masih sangat mencintai Arsyil, Re. Sangat, bahkan tidak dapat di gantikan oleh siapapun. Dia masih menjadi raja di singasana hatiku yang paling dalam. Tapi sekarang kenyataannya beda, Re, aku sudah menikah lagi, dengan kak Arsyad, kakak dari mendiang suamiku. Apa salahnya aku mencoba menerima dia dan mencoba mencintainya, walau itu susah sekali,"jelas Annisa.


"Iya juga, Nis. Kamu harus belajar menerima kenyataan ini. Kamu pasti bisa mencintai Pak Arsyad, walau akan lama tumbuh rasa cinta di hati kalian, karena kalian memilikiasa kalau yang indah semua. Pak Arsyad pernah memilki cinta yang dalam kepada mendiang istrinya, kamu juga sama,"ucap Rere.


"Itu masalahnya, Re. Kak Arsyad masih sangat mencintai Kak Mira, dia belum bisa mencintai wanita lain, Re,"ucap Annisa.


"Apa Pak Arsyad belum menyentuhmu?"tanya Rere.


"Sudah lah,"ucap Annisa.


"Asik dong, berapa kali dalam satu malam." Rere menggoda sahabatnya itu.


"Apaan sih, Re. Rahasia dong, Re,"ucap Annisa.


"Berapa kali dalam satu malam? Hah, menikmati ciuman saja baru tadi mobil, aku yakin, dengan berjalannya waktu, Kak Arsyad bisa melakukannya denganku,"gumam Annisa.


"Hmm..iya deh iya, aku tunggu kabar baiknya saja, buatkan aku keponakan lagi, yang ganteng seperti Pak Arsyad." Rere berkata dan dia langsung pergi meninggalkan ruangan Annisa.


"Iya, nanti aku buatkan lima, Re," teriak Annisa.


Annisa kembali melanjutkan aktivitasnya, banya sekali pekerjaan yang harus ia selesaikan hari ini, belum lagi nanti menemui klien. Dia dengan cepat menyelesaikan pekerjaan yang sudah menumpuk di depannya. Annisa tersenyum lagi mengingat kejadian di mobil tadi.


^


Arsyad sudah sampai di kantornya. Dia terlihat tidak seperti biasanya di pagi ini, wajahnya yang berseri dan tampan, membuat Rayhan ingin sekali menggoda saudara sepupunya itu.


"Ehem…pengantin baru, segar amat mukanya, bang, berapa ronde semalam, gitu dong, move on. Gimana rasanya menikah dengan mahasiswamu itu?"goda Reyhan di depan meja Yulia. Yulia juga tak mau kalah, dia menggoda bos tampannya itu.


"Pasti berkali-kali, Pak Ray. Lihat saja wajahnya berseri seperti ini,"ledek Yulia juga.

__ADS_1


"Kalian bahagia sekali rupannya dengan meledek aku,"ucap Arsyad.


"Siapa yang tidak bahagia melihat sepupu saya ini bahagia sekali, gimana rasanya?"bisik Rayhan di telinga Arsyad.


"Hus, sudah kalian kembali bekerja, kalau soal rasa, memang rasa tak pernah bohong, Ray."ucap Arsyad sambil berlalu meninggalkan Rayhan ke dalam ruangannya.


"Dikira kecap bangau, rasa tak pernah bohong, Syad!"teriak Rayhan.


Rayhan mengikuti Arsyad masuk ke dalam ruangannya, dia begitu penasaran dengan Arsyad yang sepertinya baru saja mendapatkan sesuatu yang membuatnya bahagia.


"Syad, gimana dengan Annisa." Reyhan mendudukan dirinya di depan Arsyad. Melihat Arsyad yang mulai dengan pekerjaannya.


"Annisa, dia cantik, manis, ya seperti itu, memang dia seperti itu kan dari dulu, manis dan cantiknya masih tetap sama." Arsyad berkata dengan membayangkan wajah istrinya yang masih melekat di matanya.


Membayangkan paras cantik dan manisnya, juga membayangkan apa yang tadi ia lakukan dengan istrinya di mobil. Arsyad mengurai senyumnya saat mengingat kejadia di dalam mobil tadi, hingga tak sadar ada Rayhan di depannya.


"Hai, malah senyum-senyum sendiri, sudah gila emang ni orang, bahagia sekali rupanya,"ucap Rayhan.


"Ray, salah tidak sih, kalau aku jatuh cinta dengan Annisa lagi?"tanya Arsyad.


"Syad, kami itu bodoh sekali, jawabannya ada di hati kamu,"ucap Rayhan.


"Aku ingin memulai dengan Annisa, tapi selalu bayangan Mira hadir, aku belum bisa Ray,"ucap Arsyad.


"Lalu, apa yang membuat kamu bahagia di pagi ini?"tanya Rayhan penasaran.


"Gak tau Ray, bahagia saja dengan Annisa, setiap hari harus ribut dulu sama dia, berdebat dulu, wajahnya juga menggemaskan."ucap Arsyad, dia kembali tersenyum mengingat Annisa, apalagi mengingat kegiatannya tadi di mobil dengan istrinya.


"Berdebat kok bahagia, Syad. Tuh, senyum-senyum lagi, pasti nih semalam sudah berkali-kali dengan Annisa, dan sebelum melakukannya pasti berdebat dulu,"ucap Rayhan.


"Kamu itu, aku belum melakukannya Ray. Aku belum bisa,"ucap Arsyad.


"Jangan seperti itu, kalian sudah suami istri, Syad. Yang dulu ya dulu, simpan di memori kamu yang paling dalam. Jika ingin mengingatnya, buka kembali. Tapi, jangan terlalu larut pada masa lalu. Karena masa depan kamu juga lebih baik,"tutur Rayhan.


"Aku belum bisa melupakan Almira, Ray." Arsyad mengusap rambutnya kasar, dia menundukan kepalanya, kembali teringat mendiang istrinya.


"Kamu jangan seperti itu, kasihan Almira, ini semua juga kemauan Almira, bukan?"tanya Rayhan.


"Iya, ini kemauannya, dia yang ingin aku menikah dengan Annisa,"ucap Arsyad.


"Berarti Almira ingin kamu bahagia, Syad, bukan seperti ini, Almira ingin kamu memperlakukan Annisa layaknya istri kamu, dan kamu harus siap itu,"tutur Rayhan.


"Aku belum siap, Ray. Tapi, mengapa aku sangat nyaman jika di dekatnya, memeluk dan menciumnya sudah menjadi candu untuk ku, Ray,"ucap Arsyad.


"Kamu bisa memeluk dan mencium dia, tapi belum cinta? Itu sangat mustahil, Syad. Kamu itu mencintai Annisa, tapi hati kamu saja masih tertutup. Buka untuk Annisa, kalian pasti akan menuai bahagia,"tutur Rayhan.


"Atau kamu tanya papahmu, bagaimana dia melupakan Mamah Dinda hingga bisa mencintai Ibu kamu dengan dalam. Kamu pasti bisa, Syad. Lihat papah kamu, memiliki dua istri saja bisa membagi waktu dulunya saat Mamah Dinda masih ada, papah kamu juga bisa melakukannya dengan Ibu kamu, wlaau tanpa cinta, karena papah kamu itu tau, kalau itu kewajiban, yang harus di tunaikan, Syad,"tutur Rayhan kembali.


"Iya, Ray, aku akan berusaha, aku akan berusaha memenuhi kewajibanku pada Annisa dan belajar mencintai dia kembali,"ucap Arsyad.


"Gitu dong, baru namanya Arsyad. Kadang gak ada gunanya kamu belajar agama, kalau harus di tuntun dulu, payah, kamu!"ucap Rayhan sambil meledeknya.


"Yah, seperti itu, Ray. Kamu tidak tau perasaan ini bagaimana, sih,"ucap Arsyad.


"Biar kamu saja yang tau, dan harus segera tau, itu hati sudah setengah terisi Annisa, kamu jangan mengelak, Syad. Selamat berjuang, brother. Aku yakin Arsyil dan Almira akan bahagia di sana melihat kamu bahagia dengan Annisa. Ibu kamu juga akan bahagia, percayalah." Rayhan menepuk pundak saudara sepuounya itu.


Rayhan keluar dari ruangan Arsyad, dia kembali ke ruangannya untuk melanjutkan pekerjaannya. Sementar di depan pintu ruangan Arsyad, Lintang dari tadi mendengar percakapan Arsyad dan Rayhan. Beruntung Yulia sedang tidak ada di mejanya, dia dengan leluasa mendengarkan Ray dan Arsyad berbicara. Saat Ray akan keluar, dia bersembunyi di balik pintu agar Ray tidak melihatnya.


"Jadi, Pak Arsyad tidak mencintai Annisa?"gumam Lintang.


Lintang tersenyum penuh kemenangan, dalam hatinya bahagia, Arsyad tidak mencintai istrinya. Karena dia masih mengharapkan Arsyad untuk menjadi miliknya.


"Aku jaid mudah mendekati Pak Arsyad, karena dia tidak mencintai Annisa,"gumam Lintang.


Dia masuk ke dalam ruangan Arsyad, memberikan dokumen yang harus di tanda tangani Arsyad. Arsyad yang masih berkutat dengan komputer, dia tak menghiraukan siapa yang masuk. Dan dia menyangka kalau itu Rayhan.


"Ada apa lagi, Ray. Mau meledekku lagi, iya aku akan mencintai Annisa, toh aku pernah mencintainya dulu, mungkin itu akan mudah bagiku mencintai dia lagi." Arsyad berkata tanpa menoleh siapa yang datang.


"Maaf pak, saya Lintang, bukan Pak Ray,"ucap Lintang.


Arsyad menaikan alisnya dan menoleh ke arah Lintang, dia benar-benar tidak tau, kalau yang datang adalah Lintang.


"Ah, maaf aku kira, Rayhan,"ucap Arsyad.


"Tidak apa-apa, pak. Ini dokumen yang harus bapak tanda tangani,"ucap Lintang.


"Oh, iya, kemarikan, saya akan menyelesaikan yang lain dulu, setelah ini selesai, aku panggil kamu lagi, silahkan keluar,"ucap Arsyad.


"Baik, pak. Terima kasih,"ucpa Lintang.


Lintang keluar dari ruangan Arsyad. Dia masih terngiang kata-lata Arsyad tadi, saat bilang akan berusaha mencintai Annisa lagi, dia semakin penasaran dengan Annisa, apa sebelum Annisa menikah dengam Arsyil mereka saling mencintai atau bagaimana.


"Pak Arsyad bilang, dia akan berusaha mencintai Annisa lagi seperti dulu, apa mereka dulu saling mencintai? Atau bagaimana?" Lintang bertanya-tanya dalam hatinya.


Dia memang menyukai Arsyad sejak awal dia bertemu di depan kantor dan tidak sengana menabrak Arsyad.


.


.


.


.


.


.


.


.


♥️happy reading♥️


maaf baru up nih, semalam ada pekerjaan lain yang harus segera di selesaikan.

__ADS_1


jangan lupa likenya ya...


kalau mau follow IG author juga bisa @hanyhoney6


__ADS_2