THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S4 Chapter 17 "Klarifikasi" The Best Brother


__ADS_3

Keesokan harinya. Dua dokter muda masuk ke dalam ruangan Najwa. Siapa lagi kalau tidak Dokter Habibi. Dan, rekan kerjanya, Dokter Luthfi. Dokter spesialis penyakit dalam, yang di pilihkan oleh Habibi khusus untuk menangani Najwa.


"Selamat pagi," sapa Dokter Habibi.


"Selamat pagi, Dok," ucap Arsyad.


"Najwanya sedang di kamar mandi," imbuh Arsyad.


"Oh, iya, saya tunggu Abah," ucap Habibi.


Arsyad mengetuk pintu kamar mandi dan membawakan jilbab Najwa dan Annisa karena ada Dokter Habibi. Annisa membuka pintunya dan Arsyad langsung memberikan jilbab yang ia bawa.


"Bunda, ini jilbab Najwa, di depan ada dokter Habibi," ucap Arsyad sambil memberikan jilbab Annisa dan jilbab Najwa.


Najwa memperlihatkan wajah kesalnya mendengar nama Habibi yang sudah berada di depan. Annisa melihat wajah anaknya yang lucu saat sedang kesal dengan Dokter Habibi.


"Pakai jilbabmu, Nak," titah Annisa.


"Tidak, Najwa mau di sini saja," jawab Najwa.


"Nak, jangan seperti itu, ayo keluar," ajak Annisa.


Najwa menuruti bundanya untuk keluar dari kamar mandi. Dia di papah bundanya menuju ke tempat pembaringannya lagi. Habibi melihat Najwa sudah kelihatan segar wajahnya, tidak pucat seperti kemarin.


"Hai, Ainun, bagaimana, sudah baikan?" tanya Habibi.


"Ya seperti yang Dokter lihat," jawab Najwa.


"Perkenalkan ini Dokter Luthfi, Dokter spesialis dalam, yang akan menangani kamu." Habibi memperkenalkan Dokter Luthfi pada Ainun.


"Pagi, Dok," sapa Ainun.


"Pagi, Nona Ainun. Pantas saja Akmal tidak mau melepaskan nona, sampai menunda keberangkatannya ke Luar Negeri, itu semua karena wanita secantik anda, Nona Ainun." Dokter Luthfi meledek Habibi. Memang Habibi menunda keberangkatannya 1 minggu lagi demi melihat kondisi Ainun stabil kembali.


"Oh, ya. Saya yang di utus secara langsung oleh Dokter Akmal untuk menangani nona, wanita pujaannya. Bisa nona merebahkan tubuhnya? Dan maaf, Mal. Aku periksa dulu wanitamu," ucap Dokter Luthfi.


"Kamu bisa saja, ya silakan. Ini tugasmu," ucap Akmal.


Najwa menatap Akmal dengan kesal, karena dia benar-benar sudah keterlaluan dan menyebalkan. Akmal duduk di samping Arsyad. Dia mengobrol dengan Arsyad saat Luthfi memeriksa Najwa.


"Dokter mau ke luar negeri?" tanya Arsyad.


"Iya, Abah. Sebenarnya tugas saya sudah pindah di Budapest. Papah saya yang menyuruh saya di sana. Papah mendirikan rumah sakit khusus anak-anak di sana, bersama dengan teman-temannya sesama dokter yang di sana. Dan, saya yang di tugaskan di sana. Jadi mau tidak mau, saya harus segera ke sana, Abah. Tapi, maaf Abah, saya ingin mengenal putri Abah dulu, sebelum saya berangkat ke Budapest, jadi aku meminta papah, agar berangkat minggu depan," jelas Akmal.


"Oh, seperti itu? Apa Dokter Habibi, dokter spesialis Anak?" tanya Arsyad


"Iya, Abah, saya dokter anak. Makanya papah yang menyuruh saya ke sana, tapi Habibi ingin mengenal Ainun dulu, Abah," ucap Habibi.


"Ya, kalau mau mengenal, tidak masalah, Abah senang kalau Najwa memiliki temen seperti dokter," ucap Arsyad.


"Kalau lebih dari seorang teman, Abah?" tanya Habibi.


"Maksud dokter?" tanya Arsyad.


"Apa Ainun sudah memiliki teman dekat atau kekasih?" tanya Habibi.


"Kalau itu, kamu tanya sendiri sama putri Abah, dan kalian kan baru mengenalnya," ucap Arsyad.


"Jadi boleh Habibi kenal dekat dengan Ainun? Sebelum habibi ke Budapest?"


"Iya boleh," ucap Arsyad.


Kesehatan Najwa sudah sedikit membaik, tapi Dokter Luthfi belum mengizinkan Najwa untuk pulang. Habibi mendekati pembaringan Najwa, dia menarik kursi dan duduk di samping Najwa pembaringan Najwa.


"Masih ada yang sakit?" tanya Habibi.


"Sudah agak mendingan, terima kasih untuk semuanya, Dok," ucap Najwa yang sedikit lembut


"Iya sama-sama, oh ya, kita bisa kenalan dengan baik-baik, dan maaf untuk masalah kemarin waktu di depan mini market juga soal story' WhatsApp ku itu," ucap Habibi.


"Iya, jangan di ulangi lagi, karena dengan seperti itu, dokter sudah melakukan pencemaran nama baik," ucap Najwa.


"Oke, tapi di sini kamu masih tetap statusnya, calon istriku, karena semua staf dan tenaga medis di sini, sudah tahu, kalau kamu calon istri aku," ucap Habibi.

__ADS_1


"Apa tidak bisa untuk bicara di hadapan mereka semua, kalau aku bukan calon istri dokter?"


"Bisa tapi ada syaratnya," ucap Habibi.


"Syarat? Dokter sudah mencemarkan nama baik saya, tapi masih meminta syarat?" tanya Najwa dengan sedikit kesal.


"Ya, aku minta syarat, tidak berat kok," jawab Habibi dengan santai.


"Apa itu syaratnya, tolong katakan sekarang, Dokter Habibi yang terhormat," ucap Najwa semakin kesal.


"Maukah berteman denganku?" Dokter Habibi mengulurkan tangannya pada Najwa.


"Em ... apa ini syaratnya?"tanya Najwa.


"Ya." Habibi menjawabnya dengan tegas.


"Mau tidak berteman denganku?" tanya Habibi.


"Oke, kita berteman, tapi syaratnya dokter harus bilang pada semua staf dan para medis di sini, kalau saya bukan calon istri dokter," ucap Najwa sambil menjabat tangan Habibi.


"Oke nanti aku hubungi staf bagian ruang auditorium, dan akan aku jelaskan pada staf dan tenaga medis di sana, sekarang juga,"ucap Habibi.


"Makanya, Dok, jangan asal bicara, maklum saja, Ainun. Dokter Akmal seperti ini karena sedang menjadi incaran para suster dan dokter cantik. Sampai aku dan Arya tidak ada yang melirik," celah Dokter Luthfi.


"Ya, aku reflek saja waktu malam itu, habis mereka langsung bertanya, dia calon istriku bukan, ya aku jawab saja iya," ucap Habibi.


"Bukanya tidak dilirik, ya mungkin daya tarik kamu dan Arya saja yang kurang," ledek Habibi.


"Ah, kamu, tidak usah mengejekku, ya sudah, sana siapkan syaratnya calon istri kamu, Dokter Habibi," ucap Luthfi.


Saat Habibi dan Luthfi hendak keluar dari ruangan Najwa, seorang Dokter perempuan, yaitu Dokter Wulan, sahabat Najwa masuk bersama Raffi, Dio dan Arkan.


"Najwa, kamu kenapa?" Wulan langsung masuk dan memeluk Najwa tanpa menyadari ada Dokter Habibi dan Dokter Luthfi.


"Wulan, kamu tau aku di sini?"tanya Najwa.


"Iya, tadi aku bertemu Dio dan Raffi, katanya kamu di sini. Kamu kenapa, Sayang?" Wulan memeluk Najwa lagi.


"Dokter Wulan, Dokter kenal dengan Ainun?" tanya Dokter Habibi.


"Iya, ini Ainun, Dokter kenal?" tanya Habibi.


"Sebentar, sebentar, jadi Ainun yang sedang ramai di rumah sakit ini, itu kamu, Najwa? Dan, apa benar kamu calon istri Dokter Akmal?" Wulan sangat terkejut dan berkata dengan suara keras, semua yang ada di ruangan mendengarnya. Dio dan Raffi juga mendengarnya.


"Tenang Dokter Wulan, ini adalah kesalahpahaman, dan sebentar lagi ada meeting di auditorium, ya untuk menuntaskan masalah ini," ucap Habibi.


"Oh, jadi ini salah paham saja?" tanya Wulan.


"Iya, Dok. Nanti akan saya klarifikasi secepat mungkin, sebelum saya berangkat ke luar negeri," ucap Habibi.


"Heran, deh. Dokter suka sekali keterlaluan bercanda seperti ini," ujar Wulan.


"Itulah dia, konyol kalau bercanda, Dok. Yah, sebentar lagi gak ada dokter sekonyol dia di sini lagi, Dok," sahut Luthfi.


"Sudah, kalian jangan sedih, paling 3 tahun, kok. Pasti aku kembali ke sini lagi, ya sudah saya pamit dulu, cepat sembuh Ainun, nanti kalau ruang auditorium sudah siap, aku ajak kamu ke sana," ucap Habibi.


"Oke, terima kasih, Dok," jawab Najwa.


"Abah, bunda, maaf lama di sini, saya pamit keluar dulu," ucap Habibi.


"Iya, dok, terima kasih," ucap Arsyad.


Akmal dan Luthfi keluar dari ruangan Najwa. Dio hanya tersenyum dengannya, saat Akmal melewati dirinya. Raffi dan Dio mendekati Najwa, dan menanyakan keadaan Najwa. Raffi juga memberikan ponsel Najwa dan baju ganti bunda dan abahnya. Arkan langsung berlari memeluk kakaknya.


"Kaka Najwa, kakak kenapa?" tanya Arkan dengan manja.


"Kakak tidak apa-apa, sayang. Ini sudah sembuh,"ucap Najwa.


"Kamu tidak ke sekolah?" tanya Najwa.


"Aku bolos jam pelajaran 1-2 kak, tadi sudah izin sama wali kelas. Kak Dio yang mengizinkannya," jawab Arkan.


Najwa memandang Dio dan mengurai senyuman padanya. Hati Najwa tenang melihat wajah Dio saat ini. Orang yang ia rindukan semalaman hingga tak bisa memejamkan matanya, sekarang ada di depannya. Begitu pula Dio. Perasaan dia lega, mendengar sendiri penuturan Habibi kalau semua adalah kesalahpahaman saja.

__ADS_1


"Gimana, kak. Sudah baikan?" tanya Dio sambil mengusap kepala Najwa.


"Seperti yang kamu lihat," jawab Najwa dengan tersenyum manis.


Senyum yang meneduhkan hati Dio, senyum yang ia rindukan, senyum yang membuat hati Dio menjadi tentram. Ya, senyuman Najwa yang membuatnya bisa memperpanjang napasnya.


"Kamu kakakku, Sayang. Aku akan mencoba, mencoba menjadi adik mu lagi seperti dulu, meski hati ini sakit sekali, Najwa. Aku sangat mencintaimu," gumam Dio.


Seorang pramusaji membawakan sarapan untuk Najwa. Dia meletakkannya di atas meja dan langsung berpamitan dengan Arsyad dan Annisa setelah meletakan sarapan Najwa.


"Sarapan dulu, kak. Besok lagi kalau sudah sembuh makan asinannya Mba Lina yang super pedes," ledek Dio sambil mengambil bubur milik Najwa.


"Apaan, sih!" tukas Najwa dengan kesal.


"Wih … ini mah bukan sarapan di rumah sakit, ini sarapan ala hotel bintang 5 kak, coba lihat." Dio memperlihatkan menu sarapan Najwa yang tidak seperti di rumah sakit seperti biasanya.


"Yah, mau seenak apapun, namanya menu rumah sakit, rasanya pasti tidak enak," ucap Najwa.


"Eh, ini bukan menu pasien, Nih. Ini mah kelewat spesial nih, Najwa," ucap Wulan.


"Bener deh tuh Akmal jatuh hati pada kamu, lihat ini, ini ruangan pribadi dia, lho. Sampai rela di tata sedemikian rupa buat kamu," imbuh Wulan.


"Apaan sih, Lan. Dia tuh orang aneh tau," sahut Najwa.


"Dia tidak pernah mengenal wanita sampai seperti ini, Najwa. Mungkin kamu orang yang sangat spesial, nikmati saja, kapan lagi, sih, di rumah sakit dispesialin gini," ucap Wulan.


"Benar kata Dokter Wulan, mungkin saja kamu ada wanita pilihannya," ucap Dio, dengan sedikit sesak di dadanya.


Semua orang menatap Dio, yang berkata seperti itu dengan hati yang tegar dan tenang. Padahal semua tahu, kalau hati Dio saat ini tidak baik-baik, setelah berkata seperti itu.


"Tuh, Dio saja bilang seperti itu," ucap Wulan.


"Sudah, ah…jangan bahas Habibi," ucap Najwa.


"Sebenarnya siapa sih, namanya? Habibi atau Akmal?" tanya Raffi.


"Namanya Rafqi Akmal Habibi. Biasa di panggil Akmal. Mungkin saja dia sengaja pakai nama Habibi saat kenalan dengan Najwa, biar dapat panggilan sayang, sepertinya," jawab Wulan.


"Tuh, kan. Sini Dio, aku lapar, suapi aku," ucap Najwa dengan manja pada Dio.


"Oke, aku suapi. Makan yang banyak biar cepat sembuh, dan makan sambal lagi, oke," ucap Dio sambil mengusap kepala Najwa.


"Apaan sih, gak lucu tau," tukas Najwa.


Dio menyuapi Najwa hingga buburnya habis. Rindu di hati Dio sudah tertebus, walau dengan hati bergemuruh. Dia benar-benar takut tidak bisa dekat lagi dengan najwa. Tidak bisa merengkuh tubuhnya lagi. Dan, tentunya tidak bisa seperti dulu lagi. Sekarang kembali seperti dulu, Dio menjadi adik Najwa lagi. Bukan kekasihnya. Meski mereka belum mengakhirir hubungannya secara resmi.


Najwa memandangi wajah Dio yang saat ini begitu sendu. Matanya seperti habis menangis, dan seperti tidak tidur semalaman. Najwa tahu, Dio pasti tidak bisa tidur semalaman, sama seperti dirinya semalam. Hingga abahnya menidurkannya dengan mengusap kepalanya hingga tertidur pulas.


"Dio, sekarang kita seperti dulu lagi, aku kakakmu, kita tidak bisa menikah, dan mulai detik ini, aku akan melepas mu, merelakan mu dengan wanita lain. Ini sakit Dio, sangat sakit, tapi mau bagaimana lagi. Kita satu susuan, kita kakak adik, kita tidak bisa menikah, Dio. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu, Dio," gumam Najwa.


Dokter Akmal memanggil Najwa ke ruangannya. Dia ingin mengajak Najwa ke auditorium untuk mengklarifikasi kan masalah mereka berdua.


"Ayo, Ainun. Kita harus mengklarifikasi masalah kita," ucap Habibi.


"Oke," jawab Najwa.


Najwa naik ke kursi roda, dia duduk dan di dorong oleh dokter Habibi. Dio berjalan berdampingan dengan Dokter Habibi. Arsyad dan Annisa ikut dengan mereka, juga Raffi. Arkan tidak ikut, karena harus kembali ke sekolahannya. Rico yang nampak baru datang dengan sopir pribadinya yang akan menjemput Arkan ke sekolahan juga.


"Ini Najwa mau ke mana?" tanya Rico.


"Mau ke auditorium, pah. Ayo papah ikut saja, biar papah tahu," ajak Arsyad.


"Oke," jawab Rico.


"Abah, bunda, Arkan berangkat dulu," pamit Arkan.


"Iya, nak kamu hati-hati," ucap Annisa.


"Oke." Arkan kembali ke sekolahannya lagi.


Najwa dan lainnya masuk ke dalam ruang auditorium, semua staf dan tenaga medis yang sudah di dalam, memandangi Najwa dan Dokter Habibi yang berjalan ke depan. Setelah sudah siap, Habibi mulai mengklarifikasi hubungan dirinya dengan Najwa.


"Selamat pagi, semuanya. Sebelumnya saya minta maaf, karena sudah mengganggu kerja kalian di pagi hari ini. Tujuan saya mengumpulkan kalian di sini, karena saya akan mengklarifikasi hubungan saya dengan Ainun. Sebenarnya kami tidak ada hubungan apa-apa. Kami hanya berteman saja, belum dekat, dan mudah-mudahan Allah mendekatkan kami dengan cara-Nya yang unik lagi. Dan, saya katakan sekali lagi, saya dan Ainun murni hanya berteman, tidak ada hubungan apa-apa. Ainun bukan calon istriku, dan semoga dengan kehendak Allah dia menjadi calon istriku sesungguhnya. Demikian yang bisa saya sampaikan, silakan semua bekerja kembali, terima kasih," ucap Habibi denan tegas dan jelas.

__ADS_1


Semua staf dan para medis, kembali dengan pekerjaannya. Ada yang sempat menyesali hubungan mereka hanya sebatas teman saja, ada juga yang senang, karena Dokter tampan itu masih free dan belum memiliki kekasih. Ya, clentingan mulut-mulut pengghibah mulai berceceran di setiap sudut rumah sakit.


__ADS_2