THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
Ekstra Part 13 "Perpisahan Kelas" The Best Brother


__ADS_3

Hari terus berganti. Arkan dan Thalia tinggal menunggu hasil kelulusan. Seperti yang pernah di katakan Thalia, Thalia ingin kembali ke Berlin. Ya, demi pendidikan Thalia rela harus berjauhan dengan Arkan. Arkan juga tidak masalah, meski dia tidak ingin semuanya terjadi. Namun, Arkan tidak ingin memupus cita-cita Thalia yang ingin belajar bisnis.


“Kamu benar mau kembali ke Berlin, Nak?” tanya Rere.


“Iya, mah. Aku ingin kuliah di sana,” jawab Thalia.


“Apa kamu tidak mencoba mencari universitas yang bagus di sini? Di sini juga banyak universitas bagus, Nak,” tutur Rere.


“Mah, aku di sana Cuma 3 tahun saja, nanti kembali ke sini. Aku ingin seperti mamah, yang bisa membantu papah mengurus perusahaan. Suatu saat jika aku menikah dengan Arkan, pasti ilmu itu akan bermanfaat, Mah,” jawab Thalia.


“Benar juga, sih. Tapi, katanya kamu ingin menjadi guru,” ucap Rere.


“Iya, Thalia ingin menjadi guru. Guru untuk anak-anak Thalia kelak. Seperti mamah, yang sudah mendidik Thalia hingga Thalia bisa seperti ini. Terima kasih, Mah. Thalia sayang, Mamah, mamah jangan pernah iri, kalau Thalia lebih dekat dengan papah. Aku ingin menjadi seseorang yang hebat seperti papah, dan seorang wanita yang pintar seperti mamah.” Thalia memeluk Rere dengan erat.


Rere baru menyadari putrinya sudah tumbuh menjadi wanita yang cantik, wanita yang memiliki jiwa semangat untuk menganyam pendidikan yang baik, dan sesuai keinginannya. Rere bisa apa, kalau puturinya sudah ingin seperti itu. Meski kadang dia iri dengan kedekatan Thalia dan Tita dengan Leon, tapi setelah mendengar penuturan Thalia, dia tahu kalau Thalia sangat menyayanginya.


“Mamah juga sayang kamu, Nak, kejarlah ciat-citamu. Jangan lupakan harkat dan martabatmu sebagai seorang wanita. Kamu harus bisa menjaga diri kamu, apalagi kamu sudah memiliki Arkan, yang sepertinya dia akan serius dengan kamu. Mamah hanya mengingatkan saja, godaan jarak itu lebih berat dari pada godaan perempuan lain, mamah pernah meraskan itu, makanya mamah tidak ingin jauh lagi dari papahmu,” tutur Rere.


“Iya, Thalia dan Arkan tahu itu, tapi kalau di landasi rasa saling percaya, pasti kita bisa melewati itu semua, Mah. Thalia yakin itu,” jawab Thalia.


Rere mengecup kening putrinya. Dia ingat kemarin saat bertemu Annisa dan Arsyad. Arsyad dan Leon ingin Arkan dan Thalia tunangan terlebih dulu, tapi Annisa dan Rere menolaknya. Bagaimanapun mereka masih terlalu dini untuk diikat dengan suatu hubungan yang mendekati kata resmi. Bisa jadi, mereka yang seharusnya fokus dengan kuliah dan cita-citanya malah justru akan semakin pudar semangatnya untuk mengejar cita-cita, karena sudah memiliki keterikatan.


“Mamah kok nangis?” tanya Thalia.


“Tidak, mamah tidak nangis. Mamah bangga punya anak gadis seperti kamu. Tetap menjadi kakak yang baik untuk Tita, Nak,” ucap Rere.


“Itu pasti, Mah. Mamah jangan melow gini dong,” ucap Thalia dengan menghapus air mata Rere yang sudah membasahi pipinya.


“Nak, mamah boleh bertanya?”


“Boleh, Mah.”


“Seandainya, Arkan melamar kamu dalam waktu dekat ini gimana?” tanya Rere pada Thalia.


“Mamah ada-ada saja tanyanya. Enggak mungkin lah. Lia sama Arkan sudah berkomitmen untuk  mengejar cita-cita dulu, Mah. Lia dan Arkan sudah berencana untuk meresmikan hubungan kami setelah 5 tahun ke depan. Lia ingin mewujudkan cita-cita Lia, begitu juga Arkan,” jawab Thalia.


“Nak, apa itu tidak terlalu lama? Nanti kalau kamu berbalik dengan pria lain yang menurut kamu lebih baik dari  Arkan bagaimana? Atau mungkin sebaliknya, Arkan yang akan menemukan gadis yang lebih baik dari kamu,” ucap Rere dengan khawatir.


Rere memang sudah sayang Arkan seperti dia mnyayangi anaknya sendiri, begitu juga Leon. Arsyad dan Annisa juga sama seperti itu. Mereka juga sudah menganggap Thalia seperti anaknya sendiri. Benar kata Leon dan Arsyad, jika hubungan mereka tidak secepatnya di resmikan, pasti mereka akan goyah saat mereka berjauhan. Leon dan Arsyad tidak mau, Arkan dan Lia berpisah, karena mereka sudah menganggap Lia dan Arkan seperti anak-anaknya sendiri.

__ADS_1


“Mamah, soal jodoh, Lia percaya, jika suatu saat nanti Lia dan Arkan akan berjodoh. Mah, jodoh itu misteri, kita tidak tahu nanti jodohnya seperti apa. Mungkin aku akan langgeng dengan Arkan hingga kakek nenek, atau mungkin kami harus ditakdirkan memiliki pasangan lain,” jawab Thalia.


“Seperti mamah dan papah saja. Bukankah dulu papah sudah melamar Bundanya Arkan? Dan, sekarang malah papah berjodoh dengan mamah, itulah jodoh, Mah. Mamah jangan khawatir akan hal itu. Karena, Lia percaya, kalau Arkan dan Lia akan terus bersama, meski jarak memisahkan kami,” imbuh Thalia.


“Iya, mamah tahu itu. Mamah hanya khawatir saja, mamah sudah menganggap Arkan seperti anak mamah sendiri, Lia. Mamah sayang sama Arkan, sama seperti mamah menyayangi kamu dan Tita,” ucap Rere.


“Mulai sekarang, mamah dan papah harus bisa menghilangkan rasa kekhawatiran itu. Mamah harus percaya, kalau Thalia akan bersatu dengan Arkan. Seperti Thalia yang selalu percaya itu. Sekarang restui Thalia untuk kuliah di Berlin, Mah.” Thalia mencium tangan Rere.


“Iya, mamah merestuinya. Mamah percaya dengan kalian berdua.”


“Sudah jangan memikirkan ini dulu, Thalia juga masih lama ke sananya. Kok mamah sudah melow gini.”


“Mamah hanya tidak mau saja, kamu terluka karena cinta, Nak.”


“Jika kita takut terluka karena cinta, untuk apa kita mencinta, Mah? Kadang kita mencintai orang tua kita atau saudara kita, kita juga pasti akan merasakan kecewa. Tapi, kecewa juga ada porsinya masing-masing, Mah, begitu pun mencintai.”


Rere tidak menyangka anaknya akan sedewasa ini. Dia mengira anaknya seperti anak gadis pada umumnya, jika hubungannya sudah direstui orang tuanya, pasti langsung untuk meresmikan tanpa mementingkan pendidikan atau cita-cita.


^^^


Semua siswa di kelas Thalia riuh sedang membicarakan soal acara perpisahan kelas. Semua riuh mengusulkan pendapatnya masing-masing akan mengadakan acara yang seperti apa untuk acara perpisahan kelas nanti. Arkan dan Thalia hanya diam saja, mendengarkan usul dari teman-temannya. Rangga yang selaku ketua kelas juga sudah merasa kebingungan untuk menentukan acaranya, karena banyak usulan dari semua siswa.


“Boleh juga usul kamu,” ucap Rangga.


“Bagaimana, kalian setuju?” tanya Rangga. Semua siswa bersorak gembira dan menyetujuinya.


“Gini, dari pada kalian ngeluarin dana banyak untuk acara. Mending acaranya di Vilaku saja. Dana yang ada untuk menyewa transportasi saja, untuk masalah makan dan lainnya, itu masalah belakangan, bagaimana?” usul Arkan.


“Ehm...boleh-boleh,” jawab Angel. “Bagaimana? Kalian semua setuju, kan?” sambungnya.


Semua siswa menyetujui usul Arkan. Mereka semua senang dengan usul Arkan yang akan mengadakan perpisahan kelas di vilanya. Arkan juga ingin, ada momen-momen terakhir dengan temannya dan dengan Thalia. Thalia yang sebentar lagi akan kuliah di Berlin. Thalia sudah di terima di universitas yang ia pilih untuk menganyam pendidikan. Arkan pun sama, dia juga sudah di terima di universitas impiannya dari dulu.


Arkan duduk di samping Thalia lagi dan mengambil buku yang masih di baca Thalia. Thalia menghunuskan tatapan kesal pada Arkan yang mulai mengganggu hobinya itu.


“Arkan, kembalikan bukuku!” Thalia berdecak kesal pada Arkan dan menyahut bukunya, namun Arkan semakin menjauhkan buku milik Thalia.


“Habis gak ada seneng-senengnya ya, kamu? Aku mau ajak semua ke Vilaku malah kamu santai sekali baca buku,” kesal Arkan.


“Paling gitu saja marah, iya aku dengar, Arkan. Aku senang kok, masa iya aku harus bersorak gembira gitu. Malu ih...” ujar Thalia.

__ADS_1


“Aku kira kamu enggak senang,” ucap Arkan dengan mengembalikan buku Thalia.


“Senang lah, kan nanti di sana ada kamu juga,” jawabnya dengan mengurai senyumannya.


Arkan semakin gemas dengan gadis yang ada di sampingnya. Seperti biasanya jika dai gemas dengan Thalia dia mengacak-acak rambut Thalia dan mencubit pipinya.


“Ih...kamu kebiasaan,” decaknya dengan menyingkirkan tangan Arkan.


“Suatu saat nanti kamu akan merindukan orang yang suka ngacak-ngacak rambut kamu selain papah dan mamah kamu,” ucap Arkan dengan mengusap pipi Thalia.


“Iya juga, sih. Sudah jangan bicara itu. kita pasti bisa melewati masa-masa itu, Arkan,” ujara Thalia.


“Iya benar, aku pastinya juga akan merindukan kamu. Sudah lah, memang ini keputusan kita, untuk meraih cita-cita kita,” ucap Arkan.


Thalia menyandarkan kepalanya di bahu Arkan dengan tak lepas matanya melihat halaman buku yang masih ia baca. Arkan memandangi wajah gadis itu yang ia sebut sebagai kekasih hatinya. Arkan menyimpulkan senyumannya saat ia membingkai wajah ayu Thalia dengan lensa matanya.


“Kalian berdua makin lengket saja,” ujar Rangga yang baru selesai membahas soal perpisahan kelas nanti.


“Kenapa iri?” tanya Thalia tanpa menatap Rangga, karena dia fokus dengan buku yang ia baca.


“Iya gitu deh, enggak hanya aku saja yang iri pada hubungan kalian. Semua siswa di sini iri semua pada hubungan kalian,” jawab Rangga.


“Apa yang di irikan dari kita, Ngga? Kita biasa-biasa saja, Ya kan, Lia?” tanya Arkan.


“Iya, kita biasa saja,” jawab Thalia.


“Bagaimana? Semua mau dengan usulku tadi, kan?” tanya Arkan. “Kalau setuju, nanti sepulang dari sekolah, aku bicarakan dengan abah,” imbuh Arkan.


“Iya setuju, kita tadi bahas untuk acaranya. Enggak mungkin, kan, hanya acara makan-maka saja? Kita bikin seru-seruan juga, seperti game atau apalah, biar berkesan perpisahan kita, biar jadi kisah klasik untuk masa depan,” papar Rangga.


“Macam lagu saja,” cebik Arkan.


“Boleh lah, buat acara serame dan semeriah mungkin, untuk masalah konsumsi dan lain-lain, biar aku saja. Kamu dan lainnya urus acara saja,” ujar Arkan.


“Siap, komandan!” jawab Rangga.


“Cie, calon TNI,” ledek Arkan.


Rangga memang ingin menjadi TNI-AD. Dia juga sudah mulai untuk mengikuti beberapa tes masuk calon TNI-AD. Memang tubuh atletisnya menunjang untuk menjadi seorang prajurit TNI-AD. Dia juga rela LDR dengan Anya nanti saat mereka sama-sama menganyam pendidikan. Memang semua akan berpisah hanya untuk mengejar cita-cita, dan meninggalkan cinta dalam sebuah doa, hingga waktunya tiba lagi, cinta dan cita-cita akan menyatu sempurna.

__ADS_1


Seperti Thalia dan Arkan, yang sedang mempersiapkan diri dan hatinya untuk menimba ilmu dan meninggalkan cinta. Thalia berpikir jika dalam sujud saja kita juga harus meninggalkan cinta pada dunia dan pada manusia, apalagi saat sedang meraih cita-cita. Cinta memang akan selalu ada, tapi adakalanya cinta kita tinggal dan kita bingkai dengan seuntai doa, agar cinta itu kuat. Baik cinta kepada manusia maupun pada Rabb-Nya.


__ADS_2