
Almira dan Arsyad menuruni anak tangga, dia kembali menemui para tamu undangan yang datang. Mereka menghampiri keluarganya yang sedang berkumpul.
"Kalian sudah ganti pakaian?"tanya Rayhan.
"Iya, tadi sholat jadi sekalian saja mandi dulu lalu ganti baju."jawab Arsyad.
"Syad masih banyak tamu, kamu gak gituan dulu kan?"bisik Vino.
"Apaan sih kamu."Arsyad mengikut perut Vino.
"Awwww....sakit tau Syad."
"Makanya bilangnya yang bener."
"Ya, kali aja Syad, ya kan Ray?"
"Ya bisa jadi Vin." ucap Rayhan sambil tersenyum.
"Ihh...kalian bicara apa sih?"tanya Shita.
"Anak kecil gak boleh ikut-ikutan."ucap Rayhan.
"Anak kecil bagaimana, aku lahir duluan daripada kamu tau."ucap Shita dengan kesal.
Shita dan Rayhan selalu seperti itu jika bertemu. Ada saja yang di ributkan. Almira yang melihatnya hanya senyum-senyum di balik cadarnya. Mira dan Arsyad meninggalkan Shita dan lainnya ke teras depan.
Andini menghampiri Arsyad dan Almira yang sedang berdiri dan mengobrol di teras depan.
"Duh....pengantin baru, bahagia sekali rasanya."ucap Andini sambil mendekati mereka yang sedang Asik mengobrol.
"Ah.....ibu, Ibu bahagia juga kan melihat aku dan Mira menikah?"tanya Arsyad.
"Tentu saja bahagia sayang, Syad ibu pasti akan merindukan mu nak, kalau kamu tinggal di sini."
"Ibu pasti kami sering ke rumah ibu kok. Kan dekat Bu." ucap Mira.
"Iya sayang, boleh ibu memelukmu Mira?"
"Tentu saja ibu." Mira mendekati Andini dan mereka berpelukan.
"Ibu titip Arsyad ya, nak."
"Iya ibu, dia suami ku ibu. terima kasih sudah memberikan Arsyad pada Mira."ucap Mira sang Sakin mengeratkan pelukannya.
"Iya sayang sama-sama. Sini Syad, ibu pengen meluk kalian." Andini memeluk Arsyad dan Almira.
"Syad jaga Almira ya, apapun keadaan kalian jangan sampai kalian seperti ibu dan papah dulu. Arsyad tau kan?"
"Iya ibu Arsyad tau."
"Maksud ibu?"tanya Mira.
"Nanti Arsyad yang menjelaskan semua, nak. Almira, kamu jaga kesehatan selalu ya sayang."
"Iya ibu, ibu juga jaga kesehatan ya Bu."ucap Mira.
"Bu, ibu sudah gak sakit lagi kepalanya? kalau masih sakit periksa ya Bu?" Arsyad bertanya dan membujuk ibunya untuk memeriksakan kesehatannya.
"Ibu sudah tak apa-apa Syad. Kamu tidak usah khawatir, sayang." Andini meyakinkan Arsyad agar percaya.
"Ibu masuk dulu ya, nak. Kalian lanjut saja ngobrolnya."
"Iya ibu." jawab Mira dan Arsyad
Andini masuk ke dalam lagi menemui tamu-tamu dari perusahaan Rico dan Abah Fajri juga rekan kerja Pak Rizal papahnya Nisa. Iya, mereka saling bekerja sama perusahaannya dan ternyata Tuhan menghendaki mereka berbedanya juga. Vino yang melihat Papah Rico dengan kedua besannya akur, dia merasa sangat sedih sekali.
"Pah, lihatlah Vino di sini sendirian pah, rasanya sakit pah melihat semua ini. Melihat semua rekan bisnis papah ada di sini. Vino rindu papah, rindu mamah. Semoga Allah memberikan Surga untuk kalian."ucap Vino dalam hati.
Shita yang melihat mata Vino berkaca-kaca saat melihat papah dan semua rekan kerja nya sedang mengobrol, dia segera menghampiri Vino.
"Kak Vino, kakak baik-baik saja?"sapa Shita.
"Ehmm..iya Ta baik, kamu mengagetkan saja Ta."jawabnya.
"Kak aku tahu apa yang kakak rasakan."ucap Shita.
Mata Vino semakin berkaca-kaca Shita berbicara seperti itu.
"Ayo kak ikut Shita." ajak Shita.
"Kemana?" tanya Vino.
"Udah ikut saja kakak."
Shita mengajak Vino ke taman samping rumah Almira.
"Kamu mau apa ngajak aku ke sini Ta?"tanya Vino.
__ADS_1
"Dudukan di sini saja Kak. Kak, aku tau apa yang di rasakan, kakak kangen kan sama papah dan mamah nya kakak di saat seperti ini?"tanya Shita.
"Iya Ta, kangen sekali rasanya." ucap Vino dengan mata berkaca-kaca. Shita menyandarkan kepala Vino di bahunya dan membelai kepalanya.
"Kak, besok kita ke makan orang tua kakak ya, jangan merasa sepi kak, Ada Shita, Papah dan Ibu. Anggap Ibu dan Papah orang tua kakak sendiri."ucap Shita menenangkan Vino.
"Iya Ta, terima kasih kamu sudah mau menerimaku yang tak punya siapa-siapa lagi."Vino memeluk Shita dan mengecup keningnya.
"Ta, bulan depan kita nikah ya? Aku sudah ingin hidupku lebih sempurna lagi dengan di dampingi kamu."
"Kak Vino yakin?" tanya Shita.
"Yakin, sayang. Kita tunangan sudah hampir satu tahun Shita. Aku tak ingin menunda lagi Ta. Arsyad sudah menikah, sekarang kita juga harus menikah sayang."jelas Vino.
"Iya Kak Vino, Shita mau kok. Nanti bilang sama papah dan ibu ya kak."ucap Shita.
"Iya sayang, itu pasti. Ayo masuk ke dalam."ajak Vino.
Shita dan Vino masuk ke dalam lagi menghampiri yang lainnya.
Hari sudah semakin sore, akhirnya acara pernikahan Arsyad dan Almira berjalan dengan lancar. Semua keluarga Arsyad berpamitan untuk pulang.
"Syad, papah pamit dulu ya, Mira, titip anak papah yang bandel ini. Kalau bandel di jewer saja Mira."ucap Papah Rico sambil bercanda pada Arsyad dan Mira.
"Ih...papah apaan sih." Arsyad menyahuti dengan malu.
"Tenang Pak Rico, nanti kalau Arsyad bandel Abah yang jewer." ujar Abah yang di ikuti tawa semua orang.
"Ya sudah kami semua pamit dulu Abah, saya titip Arsyad. Selalu ingatkan anak saya Bah, jika dia melakukan kesalahan."
"Iya Pak Rico itu pasti. Kalian hati-hati ya."
"Ibu, jaga kesehatan, Arsyad dan Mira akan sering-sering ke rumah ibu."
"Iya sayang. Oh iya itu koper kamu, nak."
"Iya ibu terima kasih."
"Kami pamit ya. Assalamualaikum." ucap papah Rico dan semuanya.
Semua keluarga Arsyad sudah pulang kerumahnya.
Arsyad membawa koper yang berisi baju-bajunya ke kamar. Almira yang sudah menunggu di kamarnya dia sedang merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Almira, kamu sudah mandi?"
"Sudah hampir jam setengah 5. ayo mandilah kita belum Sholat Ashar."
"Aku lelah sekali Syad. Kakiku sakit."
"Coba sini kakinya, aku pijat ya?"
Arsyad memijat kaki Almira dengan telaten.
"Syad."
"Iya Mira, ada apa?"
"Terima kasih."
"Untuk?"
"Sudah memijat kakiku yang pegal ini."
"Iya Mira, apa mau aku pijat yang lainnya." Arsyad menggoda istrinya.
"Arsyad......ih...apaan sih.."ucapnya manja yang membuat Arsyad semakin gemas dengan Mira.
"Jangan seperti itu, aku gemas sekali lihatnya Mira. Ayo mandilah, apa mau mandi bareng?"Arsyad kembali menggoda Istrinya.
Wajah Almira merona seketika dengan ucapan Arsyad.
"Kenapa wajahmu Mira?"
"Ehmm ..tidak apa-apa kok."
Arsyad mendekati Almira dan menyentuh pipi Mira dan mencium pipi Mira lalu berlari ke kamar mandi untuk mandi.
"Arsyad....."ucap Mira.
Mira senyum-senyum sendiri dengan tingkah laku Arsyad.
"Arsyad....Arsyad.... ada-ada saja dia. Aku sampai malu sekali dibuatnya."gumam Almira dalam hati.
Almira menata baju Arsyad yang di bawanya dari rumah. Dia membuka koper Arsyad dan menaruh bajunya di dalam lemari. Dia mengambilkan baju Arsyad dan menaruhnya di atas tempat tidur.
Arsyad keluar dari kamar mandi dan menghampiri Almira yang masih sibuk menata baju-baju Arsyad.
__ADS_1
"Mira, katanya lelah kok menata baju?"
"Iya, ini kan tugas Aku Syad. Syad itu baju kamu udah aku ambilkan."
"Iya terima kasih. Sudah kamu mandi dulu sana, aku tunggu kamu, kita sholat Ashar bersama."
"Iya Syad, aku mandi dulu ya."
Mira membalikan tubuhnya dan melihat Arsyad memakai bajunya.
"Suamiku tampan sekali."gumam Almira dengan memandangi wajah Arsyad.
"Kenapa menatapku seperti itu Mira."
"Em.....tidak apa-apa. Aku mandi dulu ya Syad."
"Iya sana mandi dulu."
Almira masuk ke dalam kamar mandi, dia tidak sadar kalau dia tak membawa handuknya.
"Mira, handukmu ini tidak di bawa!" seru Arsyad sambil mengetuk pintu kamar mandi.
Mira keluar lagi dari kamar mandi. Dan mengambil handuknya.
"Terima kasih Syad."
"Iya Mira."
Arsyad menunggu Mira selesai mandi, dia duduk di tepi ranjang dengan memandang foto Almira yang dia ambil tanpa sepengetahuan Mira.
"Mira, kamu benar-benar mengalihkan duniaku."
gumam Arsyad dalam hati.
Almira sudah selesai mandi, dia keluar dari kamar mandi dengan menggeraikan rambutnya yang masih basah karena habis keramas. Arsyad terlihat senyum-senyum sendiri melihat ponselnya.
"Syad, kamu kenapa senyum-senyum sendiri?"tanya Mira yang melihat Arsyad sedang memandangi fotonya.
"Eh....sudah selesai mandinya?"
"Sudah, kamu lihat foto siapa?"
"Foto istriku yang cantik sekali."
Wajah Almira memerah mendengar Arsyad memuji dirinya. Almira tersenyum manis dan menaruh handuknya di rak handuk.
"Ayo kita sholat dulu."
"Iya Syad."
Arsyad dan Almira sholat Ashar bersama, setelah selesai seperti biasa Almira mencium tangan Arsyad dan Arsyad mencium kening Mira.
Mira menata lagi mukenahnya setelah sholat. Dia meletakkannya di atas meja kecil.
"Mira ada Hair Dryer?"tanya Arsyad.
"Ada, untuk apa Syad."jawabnya.
"Coba ambilkan dan bawa kesini."pinta Arsyad.
Mira mengambilkan Hair Dryer dan memberikannya pada Arsyad.
"Ini syad, untuk apa Syad kamu minta Hair Dryer?"
"Kamu duduk di sini, aku keringkan rambutmu, basah sekali nanti kamu masuk angin Mira."
"Oh...jadi buat ini?"
"Iya Mira."
Arsyad mengeringkan rambut Almira dengan telaten. Setelah selesai mereka duduk di atas ranjang bersama dan membaca buku sambil menunggu Maghrib datang..
.
.
.
.
.
.
.
♥️Happy Reading♥️
__ADS_1