THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
Bab 70


__ADS_3

Arsyad dan Mira sudah sampai di caffe Shita. Mereka langsung masuk ke dalam ruangan Shita. Arsyad mengetuk pintu ruang kerja Shita dan langsung masuk di ikuti Mira di belakangnya.


"Sudah siap kamu Ta?"tanya Arsyad.


"Sudah dari tadi. Kakak kok lama?"tanya Shita.


"Tuh kakakmu dandannya lama."jawab Mira yang berada di Belakang Arsyad.


"Dandan?"tanta Shita heran.


"Iya, tadi Kak Mira saja menunggu lama sekali."jawab Mira.


"Dandan bagaimana, aku laki-laki masa dandan Mir...ayo sudah kita berangkat, ngobrolnya lanjut di dalam mobil saja ya."ucap Arsyad.


Shita mengambil tasnya dan mereka langsung keluar dari ruangan Shita. Shita berjalan dengan menggelayuti manja tangan Mira. Dia merasa bahagia seperti mendapatkan seorang kakak perempuan. Arsyad yang memandangnya merasa bahagia juga karena adiknya bisa akrab sekali dengan Mira.


"Shita, kakak akan jadikan Mira sebagai kakak iparmu. Kakak yakin sekarang dia memang untuk kakak. Dia benar-benar yang terbaik untuk kakak."ucap Arsyad dalam hatinya.


Mereka sampai di depan mobil, Arsyad membukakan pintu belakang untuk Mira dan Shita.


"Terima kasih Syad."ucap Mira.


"Sama-sama Mira. Ayo Pak Afif kita berangkat."ucap Arsyad.


Pak Afif melajukan mobilnya menuju taman baca Mira. Di dalam mobil Shita dan Mira tak henti-hentinya mengobrol dan bercanda. Sesekali Arsyad menoleh ke belakang melihat mereka. Arsyad tersenyum bahagia melihat dua wanita benar-benar akrab sekali.


"Shita benar-benar sangat bahagia sekali dengan Mira. Bahkan dia tak seperti itu dengan Annisa, walaupun Annisa sering kerumah bersama Arsyil mereka jarang sekali ngobrol hingga bercanda seperti ini saat bersama Mira."gumam Arsyad dalam hati.


Tak butuh waktu lama mereka sudah sampai tujuan mereka. Taman baca Almira memang tidak jauh, hanya kurang lebih 30 menit dari rumah Mira.


Mereka turun bersama dari mobil dan langsung menuju ke lokasi. Terlihat para pekerja sedang merenovasi tempat tersebut.


Halaman taman bacanya sangat luas dan di penuhi pohon-pohon yang rindang. Terdapat taman untuk membaca di luar ruangan yang di desain sangat nyaman untuk membaca dan memperoleh inspirasi. Ada beberapa ayunan juga di sana dan bangku warna-warni di bawah rindangnya pohon. Mereka masuk ke dalam ruangan, sudah terdapat beberapa rak buku,lemari dan beberapa box yang berisi banyak buku bacaan.


"Tempatnya bagus sekali Mira, strategis dan penataan ruangannya juga bagus, taman yang di depan juga bagus sekali."ucap Arsyad sambil melihat-lihat setiap sudut ruangan tersebut.


"Kira-kira apa yang perlu di perbaiki lagi Syad?"tanya Mira.


"Emmm....sebentar, itu dinding yang di sebelah sana bagusnya menggunakan Wallpaper dengan tema anak-anak. Jadi, anak-anak yang membaca di sana akan merasakan nyaman. Kalau yang di sebelah sini pakai cat yang agak cerah sedikit." Arsyad memberikan saran kepada Mira.


Mira hanya mengangguk-anggukan kepalanya saat Arsyad memberikan saran. Dia sesekali menatap wajah Arsyad.


"Bagaimana aku tak jatuh hati dengannya, sungguh indah sekali makhluk ciptaanMu yang berada di depanku ini Ya Allah."gumam Mira


dalam hati.


Arsyad yang menyadari dari tadi Mira mencuri pandang dia malah menggoda Mira hingga Mira salah tingkah.


"Kenapa lihat aku terus seperti itu Mira. Iya memang aku tampan Mira sampai aku tak sadar ada wanita yang rela menunggu untuk kembali menata hatinya yang sudah hancur."ucap Arsyad sambil tersenyum di depan Mira.


"Ya bagaimana aku tak menatapmu Syad, kan kamu sedang berbicara denganku. Wajar kalau aku menatapmu."jelasnya agar tidak grogi.


"Maksudmu siapa wanita yang rela menunggumu itu Syad?"tanya Mira kembali.


"Emmm...dia..."ucapan Arsyad terhenti karena Mira berkata.


"Jangan di sebut, kalau masih belum siap. Aku kesana dulu mengahampiri Shita."ucap Mira sambil berlalu.


Arsyad memandangi Mira yang semakin menjauh darinya, dia melihat dua wanita yang sedang sibuk memilah-milah buku di box. Arsyad masih menatap Mira dari kejauhan. Tiba-tiba seorang laki-laki menepuk bahu Arsyad dan berkata.


"Sudah, menikahlah dengan Mira, baru kali ini Mira mengajak seorang pria dan akrab dengan pria Mas Arsyad."ucap laki-laki tersebut.


Iya laki-laki itu adalah Pak Afif, beliau sangat tau bagaimana Almira, dari Almira SD dia sudah bekerja dengan Abah Fajri, dan sekarang dia di khususkan menjadi sopir pribadi Mira.


"Pak Afif mengagetkan saya saja."ucap Arsyad sambil tersenyum.


"Mas, baru kali ini Mba Mira mau di jodohkan dengan seorang pria yaitu Mas Arsyad. Berkali-kali abah mengenalkan Pria tapi sama sekali dia tak mau menemuinya, hanya Mas Arsyad yang dia mau terima bahkan dia juga mengajak Mas kesini, kalau Mira tidak mau, mungkin tidak seperti ini. Aku sudah tau bagaimana Mira, karena aku sudah menganggapnya seperti keponakanku sendiri."jelas Pak Afif.


"Pak, apa aku pantas dengan Mira?"tanya Arsyad.


"Sangat serasi mas."jawabnya.


"Ah Pak Afif bisa saja."


"Mas, jangan menunda-nunda nanti kalau Mira menemukan pria lain Mas Arsyad nyesel lho."


"Iya pak, aku pasti akan segera melamar Mira dalan waktu dekat ini."jawab Arsyad dengan tegas.


"Yakin?"

__ADS_1


"Iya saya yakin pak Afif."


"Syukurlah, ya sudah ayo kita masuk ke ruamah sebelah, kita makan siang dulu. Aku panggil Mira dan juga adik mas."


"Sebentar pak, rumah sebelah? Itu yang luas dan besar?"tanya Arsyad.


"Iya mas, itu rumah milik Mira, namun belum di tempati. Hanya ada beberapa asisten rumah tangga yang mengurus rumah Mira itu. Mungkin jika sudah menikah Mira akan tinggal di sini jadi bisa sekalian mengurus taman baca yang dia bangun ini."jelas Pak Afif.


Arsyad hanya terdiam mendengar kata-kata Pak Afif.


"Dia memiliki rumah sendiri? Ya Allah aku malu, bukannya aku yang mempersiapkan tempat tinggal untuk calon istriku. Tapi, dia sudah mempersiapkannya. Apa aku bisa hidup dengan Mira yang serba ada ini? Sedang aku hanya orang biasa, perusahaan papah juga tak sebesar perusahaan Abah." Arsyad


bergumam dalam hatinya.


Mira, Shita dan Pak Afif menghampiri Arsyad yang masih berdiri mematung dan melamun.


"Syad ayo kita ke rumah. Kamu belum makan siang kan?"ajak Mira


"Oh iya Mira."jawabnya gugup.


Mira mengajak masuk Shita dan Arsyad kedalam rumahnya. Mata Shita terbelaklak melihat rumah Mira yang begitu luas sekali.


"Kak ini rumah Kak Mira?"tanya Shita.


"Iya Shita, ini hasil dari perjuangan kakak menulis buku."jawabnya.


"Benarkah?"tanya Shita kembali.


"Iya Shita, ayo masuk kita makan di ruangan sana. Maaf Syad kamu makan dengan Pak Afif dan lainnya ya, aku ingin makan dengan Shita di sana."ucap Mira.


"Oh iya silahkan Mira."jawab Arsyad.


Mira masuk ke dalam ruangan yang tak jauh dari ruang makan bersama Shita. Jika di rumah Mira lebih leluasa makan dengan melepas niqabnya, maka dari itu dia hanya mengajak Shita saja untuk makan bersama. Tidak mungkin kan ada Arsyad dia melepas Niqabnya. Kecuali, jika sedang di luar di bisa makan dengan masih menggunakan niqabnya karena suatu keadaan. Tidak masalah juga sebenarnya makan bersama dengan Arsyad dan Pak Afif. Tapi, dia juga ingin bertanya seseuatu pada Shita, jadi biar lebih leluasa dia memilih makan di ruang terpisah dengan Shita.


Sementara di ruang makan, Pak Afif dan Arsyad sudah duduk di kursi meja makan.


"Mas Arsyad ayo silahkan makan dulu."ajak Pak Afif.


"Iya pak."jawabnya.


Arsyad makan siang dengan Pak Afif. Asisten di rumah Mira sudah menyiapkan semuanya.


"Ta, maaf ya kakak Lepas Niqab kakak dulu."ucap Mira.


"Kakak mau melepas cadar kakak?".l


"Iya Shita. No foto-foto ya?"jawab Mira sambil tersenyum.


"Iya lah kak, masa mau kayak gitu. Lagiyan kita mau makan biar gak ribet juga kak."ucap Shita.


"Makanya kakak ajak kamu makan di sini biar kakak lebih leluasa menikmati makanannya."jawab Mira dengan melepas cadarnya.


"Subhanallah, Kak Mira cantik sekali."ucap Shita yang terpukau karena kecantikan Mira.


Hidung Mira yang sangat mancung sekali, bibir yang tipis dan sama-sama memiliki lesung pipit seperti Arsyad.


"Kenapa Shita, ada yang salah dengan kakak? Kamu menatapnya begitu sekali. Ayo makan dulu. Sehabis makan kita lanjut ngobrolnya."ucap Mira.


"Baik kak."


Mira dan Shita makan siang bersama tanpa ada suara.


"Kak Arsyad, kamu akan menyesal kalau sampai melepaskan Kak Mira. Ya Allah satukanlah Kak Arsyad dengan Kak Mira."ucap Shita dalam hatinya.


Arsyad dan Pak Afif sudah selesai makan, mereka sudah berada di ruang tamu untuk mengobrol sambil menikmati secangkir teh hijau.


"Pak Afif, apa aku pantas jika menikah dengan Mira?"tanya Arsyad.


"Kenapa Mas Arsyad bilang seperti itu?"ucap Pak Afif.


"Tidak apa-apa sih pak, Pak Afif tau kan, bagaimana Abah? Abah memiliki perusahaan yang besar dan maju. Sedangkan aku pak, aku hanya bekerja di perusahaan papahku yang tak cukup besar seperti yang Abah miliki."jelas Arsyad.


"Jika Abah memilihkan calon suami untuk Mira dengan memandang harta, Abah tak akan pernah menjodohkan Mira denganmu Mas. Kamu rendah hati sekali Mas, kamu sudah pandai agama, pengusaha pula. Mas Arsyad memiliki beberapa supermarket besar di kota ini kan, juga memiliki coffe Shop yang hampir memadati kota ini.


Kenapa seakan-akan Mas Arsyad tak memiliki apa-apa?"jelas Pak Afif.


"Dari mana Pak Afif tau?"tanya Arsyad.


"Ya tau lah siapa yang tidak tau keluarga Alfarizi mas."jawabnya.

__ADS_1


"Sudah ingat pesanku, jangan lama-lama melamar Mira. Nanti kamu keduluan dengan pria lain. Lagiyan Mas, adik-adik mas kasihan menunggu Mas menikah, masa mereka gak nikah-nikah karena menunggu mas menikah dulu. Sudah yang lalu biar berlalu. Masa depan mas yang terpenting." Pak Afif mencoba meyakinkan Arsyad lagi.


"Pak Afif bisa saja. Lihat saja nanti


dalam waktu dekat aku akan melamar Mira pak."ucap Arsyad.


"Yakin?"


"Yakin pak. Arsyad sudah mantap. Terima kasih pak sudah meyakinkan aku untuk menatap masa depan bersama Mira."


"Iya sama-sama. Aku juga ingi melihat Mira bahagia."jawab Pak Afif.


Saat mereka mengobrol Mira dan Shita juga sedang asik mengobrol. Mereka berpindah tempat menuju kamar Mira. Kamarnya begitu luas sekali, ada 2 rak buku yang penuh dengan buku yang tertata rapih. Ada meja khusud untuk menulis dan di sebelahnya tempat khusus untuk sholat.


Ranjang yang luas dengan desain ukiran clasic. Dan, satu lagi sebuah soffa yang unik dan clasic berada di depan jendela besar yang jika duduk atau rebahan di situ bisa memandang keluar menikmati rindangnya pohon dan bisa melihat taman baca milik Almira. Shita duduk di soffa yang menghadap ke jendela.


"Kak, ini kamar kakak luas sekali. Ini kakak yang mendesainnya?"tanya Shita.


"Iya, siapa lagi kalau bukan kakak Ta."jawabnya.


"Kak, boleh aku bertanya?"


"Boleh, mau tanya apa Shita?"


"Kakak benar menerima di jodohkan dengan Kak Arsyad?"


"Kamu kok tanya itu? Ta, kakak tadi nya tidak menyangka Abah dan Ummi akan menjodohkan kakak dengan kakakmu, iya kakak menerimanya, awalnya tidak, karena Kak Mira merasa Arsyad orangnya cuek dan angkuh. Tapi, setelah sudah mengenalnya walau baru sebentar kakak tau kakakmu tidak angkuh dan cuek yang seperti kakak fikir sebelumnya. Iya kakak menuruti saja apa kemaunan orangtua kakak. Kan Ridho orang tua Ridho Allah Shita." jelas Mira.


"Terus apa kakak menyukai atau memiliki perasaan pada Kak Arsyad, atau mungkin cinta?"tanya Shita lagi.


Mira hanya terdiam menatap jendela. Dia memang sudah menyukai Arsyad semenjak mengembalikan tasbih milik Arsyad. Tapi, dia tahu kalau Arsyad masih sangat menyukai Nisa.


"Duh...Shita kenapa bertanya seperti ini. Aku harus jawab apa? Iya aku akui aku menyukai Arsyad. Bahkan, aku sudah menjatuhkan hati ini pada Arsyad." Gumam Mira sambil melamun.


"Kak, kok malah melamun?" Shita mengagetkan Mira yang sedang memikirkan jawaban dari pertanyaan Shita tadi.


"Emmm...tidak. Shita, sebenarnya Kak Mira sudah kagum dengan kakakmu saat pertama Kak Mira bertemu di masjid mengembalikan tasbih Kakakmu. Tapi, Kak Mira tau Kakakmu masih susah untuk melupakan Nisa. Dan, Kak Mira sudah memberi waktu pada kakakmu untuk memikirkannya. Kak Mira tak memaksanya mau menerima perjodohan ini. Jika Arsyad jodohku pasti akan bersatu."jelas Mira.


"Kakak tenang saja, Kak Arsyad sebenarnya juga sudah ada sedikit rasa untuk kakak, mungkin dalam waktu dekat ini Kakak dengan Ibu dan papah akan kerumah Kak Mira untuk bertemu Abah dan Ummi." ucap Shita.


"Benarkah?"tanya Mira tidak percaya.


"Iya kak. Oh iya kak, mana teman kakak?"tanya Shita.


"Naila tidak jadi kesini dia sibuk mengurus butiknya sekarang."jawab Mira.


"Oh...pantas tidak datang-datang."


Shita dan Mira mengobrol hingga sore, mereka memutuskan untuk pulang setelah sholat asar.


Mereka sudah berada di dalam mobil untuk pulang.


"Oh iya Mira, aku turun di caffe Shita saja, nanti biar aku pulang dengan Shita "ucap Arsyad.


"Oh baiklah."jawab Mira.


Pak Afif mengantarkan Shita dan Arsyad ke Caffenya.


Tak lama kemudian mereka sampai di caffe Shita. Pak Afif dan Mira langsung pamit untuk pulang ke rumahnya.


.


.


.


.


.


.


♥happy reading♥


detik-detik Arsyad mau mengkhitbah Almira segera hadir di bab-bab selanjutnya...hehehehe


terima kasih untuk kalian yang masih setia menunggu..


salam sayang dari Author...

__ADS_1


__ADS_2