
Semua barang-barang dari rumah Rania sudah tertata rapi di kamarnya. Seusai makan siang tadi, orang suruhan Rania sudah datang membawakan barang-barang yang ada di rumahnya. Rania langsung menata barang-barangnya di kamar. Dia tidak peduli dengan Dio yang entah ke mana perginya setelah makan siang. Rania menyibukkan diri dengan menata semua barang-barangnya di kamar hingga sore hari.
"Sempurna." Rania sudah selesai menata barang-barangnya di kamarnya.
"Biarlah, aku tidur terpisah dengan suamiku, tapi aku juga harus mencegah Dio, agar tidak terlalu dalam bersama Najwa. Bagaimanapun aku merasa miris sekali dengan perbuatan Najwa. Kasihan Abah dan mendiang uminya. Aku tidak mengerti, kenapa seorang Najwa bisa seperti itu. Padahal dia benar- benar pendiam, anggun dan sepertinya wanita yang taat dengan agama. Tidak sepertiku yang masih kurang soal urusan agama. Tapi setidaknya, aku bisa menjaga kehormatan ku pada laki-laki, walaupun semua temanku di luar negeri banyak sekali melakukan *** bebas. Beruntung ayah selalu mengingatkanku, dan aku selalu ingat wasiat-wasiat dari ayah dan ibu yang di berikan padaku, bahwa sejatinya wanita ada pada kehormatannya. Kalau kehormatan itu sudah rusak, maka rusaklah hidup wanita itu, seumur hidupnya," gumam Rania.
Rania pergi ke kamar Dio untuk mengambil beberapa setel bajunya. Dia lebih menghindari kejadian seperti tadi pagi. Rania melihat meja kerja Dio yang sudah tertata rapi. Dia melihat sebuah foto dengan bingkai Love. Ya, foto itu adalah foto Najwa dengan Dio. Dio terlihat mencium Najwa di foto itu.
"Mereka benar-benar sudah kelewat batas, tidak sepantasnya juga Dio seperti ini, kamu sudah menikah Dio. Kamu boleh tidak menyentuhku, tapi tolong hargai perasaanku, karena aku mencintaimu, Dio," gumam Rania dengan meneteskan air matanya matanya dan membasahi bingkai foto Dio dan Najwa.
Rania bergegas keluar dari kamar Dio dengan membawa beberapa setel pakaiannya ke dalam kamarnya. Rania lebih nyaman di kamarnya, karena semua barang-barang yang ada di kamarnya dulu sudah berpindah di kamar sekarang.
Rania sudah sibuk dengan pekerjaan kantornya. Dia mulai mengecek satu persatu pekerjaan kantor yang ia tinggal selama 5 hari. Hingga menjelang Maghrib, belum ada tanda-tanda Dio pulang.
"Sudah mau Maghrib, Dio belum pulang, di mana dia?" Rania berkata lirih sambil mematikan laptopnya.
Rania beranjak ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Rania sebenarnya ingin sekali sholat dengan imamnya. Ya, Dio, mau siapa lagi kalau bukan Dio? Tapi, Dio selalu sibuk dengan sendirinya. Seperti tadi saat waktu Zuhur dia mengajak sholat berjamaah, tapi Dio menolaknya.
"Inikah pria yang aku impikan untuk menjadi imam ku? Kenapa Dio berubah sekali sekarang. Setelah dia di Berlin, dia melupakan kewajibannya dan selalu berkata kasar," gumam Rania sambil menggelar sajadahnya.
^^^^
Rania keluar melihat pintu depan yang masih tertutup rapat. Belum menandakan kalau Dio pulang. Padahal sudah lepas waktu Maghrib cukup lama. Rania ingin sekali menelepon atau mengirim pesan pada Dio. Tapi, dia takut kalau Dio akan marah padanya.
Rania menunggu Dio di ruang tamu, hingga selepas isya belum ada tanda-tanda Dio pulang ke rumah.
"Padahal aku ngantuk sekali, ini sudah jam 8 malam lebih. Tapi, Dio belum pulang juga. Aku khawatir dia bersama Najwa dan melakukannya melebihi itu. Ah … sudah Rania, biar mereka yang menanggung akibatnya. Kamu juga sakit dalam keadaan ini. Kenapa harus memikirkan Najwa yang jelas-jelas sudah mengkhianatimu," gumam Rania.
Rania mengunci pintunya, dan masuk ke dalam kamarnya. Dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Ya malam ke dua setelah menikah, dia tidur sendiri di temani sepi, tidak seperti malam pengantin orang-orang pada umumnya.
"Dio bawa kunci serep tidak, ya? Ah … biarlah, kalau dia tidak bawa paling dia meneleponku. Aku ngantuk," gumam Rania.
Rania memang tidak pernah tidur terlalu malam. Paling kalau tidur hingga larut malam saat sedang menyelesaikan pekerjaannya yang benar-benar harus selesai.
Baru saja Rania memejamkan matanya untuk menggapai mimpi di tidurnya, suara ponsel memecah kesunyian kamarnya. Terlihat nama Dio di layar ponsel Rania. Rania mengangkatnya dan terdengar suara Dio yang marah-marah.
"Kenapa di kunci pintunya!" bentak Dio dalam ponsel Rania.
"Iya sebentar," jawab Rania dengan gugup dan takut.
Rania membukakan pintu depan, terlihat Dio dengan penuh amarah memandangi Rania dengan tatapan tajamnya.
"Siapa yang nyuruh kunci pintu? Kalau aku belum pulang, jangan di kunci, kamu mengerti?!" ucap Dio dengan membentak Rania. Rania hanya mengangguk dan meneteskan air matanya.
"Tidak usah menangis!" bentak Dio lagi. Entah apa yang merasuki Dio, hingga Dio semarah itu karena perkara Rania mengunci pintu.
"Dio, aku hanya takut, kalau pintu tidak di kunci. Aku sendirian di rumah, kecuali di depan ada satpam dan ada bibi atau siapa yang menjaga. Aku di rumah sendirian, Dio. Sisi kanan kiri rumah ini masih tanah kosong, tidak ada tetangga. Kalau ada apa-apa aku bisa apa?" jelas Rania.
"Tidak usah banyak bicara! Jam 9 sudah tidur, enak sekali kamu, suami belum pulang sudah tidur!" ucap Dio dengan nada yang masih marah.
"Kalau aku tidak tidur, lantas mau apa? Menunggu kamu? Iya, menunggu kamu lalu membukakan pintu saja, dan kita tidur di kamar masing-masing? Seperti itu? Aku istrimu, bukan penjaga rumah ini, Dio!" Rania tidak mengerti mengapa sampai bicara seperti itu pada Dio.
__ADS_1
"Pintar bicara ya, kamu? Apa kamu lupa, meskipun aku menikah dengan kamu, aku tidak Sudi menyentuh kamu, Rania." Dio berkata tepat di depan wajah Rania dengan tatapan tajam.
"Bagus! Kamu lebih senang menyentuh wanita bukan muhrim kamu! Sentuhlah Najwa sepuasmu, Dio!" balas Rania dengan sengit menatap Dio.
"Jangan bawa-bawa Najwa dalam urusan ini. Mau aku bagaimana dengan Najwa, itu urusanku dengan dia, bukan urusan kamu!"
"Jelas ini urusan aku, kamu suamiku, aku ingin kamu berada di jalan yang benar. Walaupun kamu sama sekali tidak menyentuhku, bahkan sampai aku mati kamu tak menyentuhku aku tidak apa-apa, Dio. Asal kamu benar dalam urusan hati kamu dan Najwa. Apa kamu tidak kasihan dengan bunda, dengan ayah Arsyil, dengan Abah Arsyad. Kamu seharusnya berpikir ke situ Dio. Anggap saja aku bicara bukan sebagai istrimu, anggap aku Rania sahabat wanita yang kamu cintai itu, karena aku sayang Najwa. Kalau kamu menginginkan Najwa. Nikahi dia, bukan seperti itu caranya." Rania memberanikan diri berkata seperti itu pada Dio.
"Aku bilang diam, diam, Rania!" Dio semakin kasar dan membentak Rania.
"Terserah!" ucap Rania dengan pergi ke kamarnya.
Rania merebahkan tubuh nya lagi. Dia tahu, kalau Dio habis menemui Najwa. Karena dia melihat kissmark yang ada di leher Dio. Sesak sekali rasanya, melihat suaminya pulang dengan tanda cinta di leher dari wanita lain yang tak lain adalah sahabatnya sendiri.
"Aku harus bagaimana? Apa aku harus menemui Najwa? Iya aku harus menemui Najwa. Aku menemuinya bukan untuk melarang dia mendekati suamiku, tapi agar dia tidak terjerumus terlalu dalam dengan Dio. Dan, apa aku harus bicara dengan Abah dan bunda? Ah…itu mustahil, malah akan menjadi perkara besar. Karena pasti mereka tidak tahu yang sebenarnya," gumam Rania yang kala itu bingung sendiri dengan hubungan Dio dan Najwa.
Dio masih sangat marah sekali dengan Rania. Baru saja berdebat dengan Najwa, di rumah juga berdebat hebat dengan Rania.
"Najwa, aku tidak bisa seperti ini terus. Kenapa saat dekat denganmu aku tidak bisa mengontrol hawa nafsuku. Aku selalu menginginkan hal yang semestinya tak ku lakukan dengan mu, Najwa. Maafkan aku, aku selalu menggoreskan luka di hatimu, dan malam ini, aku memaksamu lagi untuk melakukannya. Dan, saat kamu menolaknya, hati ini sakit sekali, Najwa. Kamu selalu menolak saat aku ingin berbuat lebih dari sekedar menyentuhmu. Dan, malam ini, Rania menyadarkanku, kalau hubungan ini salah. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku tidak ada hasrat dengan Rania. Bagaimana memilik hasrat dengan Rania. Mencintai saja tidak." Dio benar-benar hancur hatinya malam ini.
Najwa yang baru saja menolak untuk berhubungan lebih dari sekedar menyentuh, membuat Dio murka dan marah pada Najwa, karena hasratanya tertahan. Dan, setelah di rumah, dia berdebat hebat dengan Rania. Namun, sedikit menyadarkan hatinya, karena dia memang salah berhubungan dengan Najwa.
"Kenapa kamu baik sekali Rania? Kenapa kamu di luar dari pemikiranku? Aku yang hanya tahu kamu gadis manja dan gampang sekali bergonta-ganti laki-laki, tapi itu salah. Dan dulu dengan Yohan kamu. Ah … Rania …! Kamu wanita seperti apa sebenarnya?" Dio semakin penasaran dengan masa lalu Rania dulu saat bersama dengan Yohan, yang membuat dirinya perlahan menjauh.
Dio mencoba memejamkan matanya, namun kata-kata Rania masih terngiang di telinganya.
^^^^^
"Aku hanya bisa memandang, namun tak bisa aku
memiliki kamu seutuhnya Dio. Hanya status saja yang aku miliki saat ini," gumam Rania dengan menatap Dio.
"Ada apa? Mau berdebat lagi?" tanya Dio dengan ketus.
"Sarapan dulu, aku sudah membuatkan sarapan. Kamu hari ini tidak ke kantor?" ucap Rania
"Iya, sekalian Senin saja," ucapnya sambil keluar kamar dan menutup pintu.
"Kamu hari ini ke kantor?" tanya Dio.
"Iya, mungkin tidak sampai sore," jawabnya dengan mengambilkan nasi Dio di piring.
"Oh … mau aku antar?" tanya Dio.
"Tidak aku berangkat sendiri saja," ucap Rania.
"Aku tidak mau terlalu dekat dengan kamu Dio. Karena ini akan menyakitkan, luka semalam masih membekas Dio, jangan beri luka lagi, sebelum luka ini mengering," gumam Rania.
"Bisa nyetir sendiri?" tanya Dio.
"Bisa, aku berangkat, Dio," pamit Rania.
__ADS_1
Rania berpamitan dengan Dio untuk berangkat ke kantor. Dia mencium tangan Dio, karena bagaimanapun Dio adalah suaminya dia. Walau tidak mencintainya sekalipun.
Rania masuk ke dalam mobilnya. Dia masih terpaku dan terdiam. Seketika air matanya menetes. Dia benar-benar sakit hatinya. Batinnya tersiksa hidup dengan orang yang sedikitpun tidak mencintainya.
"Dio, sampai kapan ini akan berakhir. Jika kamu ingin menikahi Najwa, aku ikhlas. Tapi, ceraikan aku, sebelum aku jatuh terlalu dalam mencintaimu. Walaupun saat ini aku sudah jatuh kedalam palung yang curam untuk mencintaimu," ucap Rania dengan lirih di iringi isakan tangisnya.
Rania keluar dari rumahnya, dia menuju ke butik Najwa dulu sebelum ke kantornya. Memang Rania sudah berencana seperti itu dari semalam. Sebelum ke kantornya, dia ke butik Najwa terlebih dahulu.
Rania memarkirkan mobilnya di sebelah mobil Najwa. Najwa memang sudah berangkat dari pagi, karena akan menemui pelanggannya. Rania masuk ke dalam butik Najwa dan di sambut oleh karyawan Najwa. Rania diantar karyawan itu masuk ke ruangan Najwa.
"Ranai…!" seru Najwa dengan sedikit gugup saat Rania masuk ke ruangannya.
"Iya, ini aku," ucap Rania dengan tenang.
"Emmm … silakan duduk, Rania." Najwa mempersilakan Rania duduk di depannya.
"Ada apa, Ran?" tanya Najwa.
"Najwa, sebelumnga aku minta maaf, aku ke sini ingin bertanya perihal hubungan kamu dengan Dio," jawab Rania.
"Ran, masalah di rooftop itu, aku …."
"Aku tidak mempermasalahkan itu. Sejak kapan kamu menjalin hubungan dengan Dio?" tanya Rania. Najwa hanya menunduk dan tidak menjawab.
"Najwa tolong jawab jujur. Aku ke sini bukan untuk melarang kamu menjauhi Dio. Aku ingin membantumu, agar kamu bisa bersatu dengan Dio, aku tidak mau ada hal yang memalukan timbul di antara hubungan kamu dan Dio, Najwa. Menikahlah dengan Dio. Kamu bisa menikah dengan Dio. Walaupun kamu sepupuan Najwa. Jangan seperti itu. Apalagi kamu sudah menjurus ke hal-hal yang seperti di rooftop kemarin. Sayang dirimu, Najwa." Rania berkata tanpa jeda di depan Najwa, dan Najwa hanya terdiam dan menangis, tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut Najwa.
"Najwa, jika kamu bilang semua nya dengan aku, aku tidak akan menikah dengan Dio. Menikahlah dengan Dio. Aku akan mengurus semua perceraian ku dengan Dio. Aku tidak mau, kamu hanya sebagai pelampiasan Dio saja. Sebelum semuanya terlambat, Najwa. Kamu bicara baik-baik dengan bunda dan Abah. Apa kamu tidak pernah berpikir, bagaimana persaan bunda dan Abah, kalau kamu melakukan seperti itu hingga kamu melampaui batas dan maaf, kamu hamil dengan Dio. Itu akan membuat nama baik keluargamu hancur Najwa. Dan apa kamu tidak ingat ummi kamu?" Rania kembali menjelaskan dan menasehati Najwa, meskipun hatinya sangat sakit sekali.
"Rania, aku dan Dio tidak akan bisa menikah, sudah cukup, Ran, jangan di teruskan. Maafkan aku," ucap Najwa dengan terisak.
" Najwa, kalian bisa menikah," ucap Rania.
"Tidak, Rania, tidak bisa. Sudah jangan bahas ini. Aku sebisa mungkin akan menghindar dari Dio. Maafkan aku, aku janji, Rania," ucap Najwa.
"Oke, aku pegang janji kamu, jangan mengumbar janji tanpa bukti, Najwa. Aku ke sini tidak untuk menyuruh kamu menjauhi Dio. Aku ke sini hanya ingin menyampaikan. Kamu sebagai wanita harus bisa menjaga kehormatanmu, Najwa. Karena sebaik-baiknya wanita adalah yang bisa menjaga kehormatannya. Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari. Maaf bukan aku mengguruimu, Najwa. Kita sama-sama wanita. Aku hanya mengingatkan saja, karena kamu adalah sahabatmu, aku permisi, Najwa." Rania berkata pada Najwa dan beranjak dari tempat duduknya untuk keluar.
Tapi, saat akan keluar Rania melihat karyawan yang masuk dengan membawa sebuket bunga mawar merah untuk Najwa.
"Wah, dapat kiriman bunga, nih. Coba lihat dari siapa." Rania mengambil alih bunga mawar itu dari karyawan Najwa.
"Selamat pagi, cantik. Kau adalah sesuatu yang sulit kujamah, harap demi harap selalu aku semogakan dalam untaian doa. Namun, semua hanyalah angan semata yang tak akan pernah menjadi kita dalam kisah yang nyata. Love You." ~Dio
Rania membacakan kartu ucapan di bunga itu. Ya, bunga itu dari Dio. Dan Dio adalah suaminya. Tapi, bunga itu untuk Najwa bukam untuk dirinya.
"Wah ... sebegitu besarkah cinta Dio pada kamu? Sudah bicara saja dengan abah dan bunda. Dan, aku akan mengalah, Najwa," ucap Rania sambil menaruh bunga yang di berika Dio pada Najwa di meja kerja Najwa.
Sesak sekali rasanya dada Rania, melihta suaminya mengirim bunga pada wanita yang dicintainya, yaitu Najwa, sahabatnya sendiri. Najwa hanya terdiam, dan melihat Rania keluar dari ruangannya.
Rania masuk ke dalam mobilnya. Dia menangis sejadi-jadinya di dalam mobil. Rania teriak sangat keras di dalam mobil. Baru kali ini dia merasakan sakit hati karena pria, dan pria itu adalah suaminya sendiri.
Rania melajukan mobilnya menuju kantor setelah meredakan emosinya terlebih dahulu. Setelah sampai di kantor, dia langsung masuk ke dalam ruangannya. Sejenak Rania menenangkan dirinya lagi, dia membenamkan wajahnya di kedua tangannya yang berada diatas meja. Rania benar-benar sakit sekali hatinya. Dia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
__ADS_1