THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S4 Chapter 93 " Zombie Kecilnya Abah" The Best Brother


__ADS_3

“Dio, stop...stop...!” ucap Rania sambil menyuruh suaminya menghentikan mobilnya.


“Ada apa, sayang?” tanya Dio dengan sedikit bingung.


“Itu ada jambu.” Rania menunjukkan pohon jambu air yang berada di depan rumah seseorang.


“Iya, itu jambu, memang kenapa, sayang?” tanya Dio dengan heran.


“Mau...ambilin, ya? Aku pingin makan jambu itu,” pinta Rania dengan manja.


“Sayang, itu milik orang, gak mungkin kita asal ngambil, harus minta izin dulu sama orangnya,” ucap Dio.


“Ah...sayang... pokoknya aku pingin itu gak tahu gimana caranya,” ucapnya dengan mengerucutkan  bibirnya.


Dio sedikit kesal dengan Rania, tapi mau bagaimana lagi, apa yang dia minta harus di turuti. Padahal pagi ini dia harus segera menemui kliennya di kantor. Tapi, Rania maunya ada-ada saja.


Dio turun dari mobil, dan menuju berjalan ke rumah itu. Beruntung sang pemilik rumah sedang menyapu halaman rumahnya. Jadi, Dio bisa langsung  meminta izin pada pemilik rumah tersebut.


“Selamat pagi, Bu,” sapa Dio.


“Selamat pagi, ada apa ya, mas?” tanya sang pemilik rumah.


Rania keluar dari dalam mobil mendekati Dio yang sedang berbicara pada pemilik rumah tersebut.


“Gini bu, istri saya kepingin jambu air itu, ibu pemilik rumah ini, kan?” tanya Dio dengan malu.


“Iya, mas. Ini milik saya. Wah...sedang hamil ya?”


“Iya, bu. Istri saya sedang hamil,” jawab Dio.


“Ya sudah, saya ambilkan galah untuk mengambil jambunya, mas.”


“Ahh... ibu, biar suamiku saja yang memanjat,” ucap Rania yang menghentikan sang pemilik rumah untuk mengambilkan galah.


Mata Dio membeliak mendengar istrinya ingin dia memanjat mengambil jambu. Padahal pohonnya cukup tinggi.


“Sayang, aku tidak bisa naik pohon,” ucap Dio.


“Ih... harus bisa,” ucap Rania setengah memaksa.


“Ya Allah, ibu hamil ada-ada saja. Nak, ini kamu yang pengen atau ibu kamu yang mau ngerjain ayah, sih?”  gumam Dio.


“Ayo lah, naik sayang,” rengek Rania.


“Ehm... iya, iya,” ucapnya dengan agak ragu.


Dio melepas sepatunya. Demi apa dia benar-benar tidak bisa naik pohon, apalagi dia harus naik dan mengambil buah.


“Sayang, ini benar aku harus manjat?” tanya Dio lagi dengan bimbang.


“Iya, ayolah, aku pingin sekali makan jambu ini, tapi aku maunya kamu yang ambil, naik ke atas,” rengek Rania.


“Pakai galah, ya? aku tidak bisa manjat pohon, sayang,” ucap Dio setengah memohon.


“Ya sudah, aku pulang,” ucap Rania dengan kesal.


“Iya...iya... aku manjat. Kamu tunggu di sini,” ucap Dio.


Sang pemilik pohon jambu hanya bisa tersenyum melihat Rania yang memaksa suaminya untuk memanjat pohon dan mengambilkan jambu.


“Mbak, kasihan suaminya, sepertinya dia tidak bisa memanjat pohon beneran,” ucap sang pemilik pohon.


“Biar ibu, aku inginnya dia yang ngambilin, tidak pakai galah,” ucap Rania.


Sang pemilik pohon lagi-lagi tersenyum melihat Rania yang manja sekali dengan suaminya.


“Mbak, kasihan suaminya, sepertinya tidak bisa memanjat pohon,” ucap pemilik rumah yang baru keluar dari dalam rumahnya, sepertinya dia adalah suaminya ibu itu.


“Biar, Pak. Aku ingin dia yang ambil,” jawab Rania.


Dio memanjat pohon dengan hati-hati, beruntung ada jambu yang tidak terlalu jauh untuk di gapai tangan Dio. Setelah berhasil memetiknya, dia turun dan dengan rasa bangga langsung memberikan jambunya pada Rania.


“Ini sayang, sudah atau mau lagi?” ucpa Dio.


“Sudah, kasihan kamu, kamu sampai pucat gini,” ucap Rania sambil mengusap pipi Dio.


“Ini semua demi anak kita, sudah yuk, ke kantor, gak enak sudah di tunggu klien,” ajak Dio.


Dio dan Rania mengucapkan terima kasih pada pemilik pohon jambu yang dengan baik mengizinkan Dio mengambil buahnya, bahkan beliau memberikan jambu lagi pada Rania.


Dengan senyum bahagia Rania bergelayut manja dengan suaminya. Dio hanya bisa tersenyum melihat istrinya sebahagia itu.


“Meski harus gatal karena digigiti semut di atas pohon, aku bahagia melihat istriku sebahagia itu. Aku mencintaimu, Rania,” gumam Dio.


Dio melajukan mobilnya menuju ke kantor. Rania dari tadi memakan jambu yang baru di petik Dio.


“Sayang, itu jambunya kan agak asam rasanya,” ucap Dio.


“Gak kok, kamu mau sayang?” Rania menawari jambu pada suaminya.


“Gak, buat kamu saja dan anak kita, nanti ayahnya ikut makan malah kurang,” jawab Dio.


“Ya, sudah.” Rania memakan lagi jambunya.

__ADS_1


Dio memandang wajah Rania yang semakin lucu sekali. Dia benar-benar manja sekali akhir-akhir ini. Setelah dia lepas dari ngidam yang menyiksa dia setiap hari karena bau nasi yang menurutnya membuat mual, sekarang giliran Rania yang selalu ingin di manja dia.


^^^


Dua minggu sudah berlalu. Saat ini Raffi menemani Alina yang sedang menemui pengacara yang di utus Gio untuk mengurus pindah nama kepemilikan rumah. Gio melimpahkan semua rumah dan seisinya untuk Alina. Padahal Alina sama sekali tak menuntut itu.


“Sekarang sudah selesai semuanya, Bu. Dan, ini ada titipan dari Tuan Gio.” Pengacara yang di utus Gio memberikan sebuah surat pada Alina.


“Apa ini, pak?” tanya Alina.


“Di buka saja, Bu. Itu titipan dari Tuan Gio,” jawabnya.


Alina masih duduk di kursi rotan yang berkerangka kayu jati tua yang ada di ruang tamunya. Dia menatap Raffi sambil menunjukkan amplop putih yang di berikan pengacara.


“Buka saja, apa isinya, Alin,” ucap Raffi.


Alina membuka amplop putih itu. Selembar kertas dengan tulisan Gio kini ia baca dengan teliti, tanpa satupun kata yang terlewati. Alina menangis membaca isi surat dari Gio yang menyatakan dirinya kini sudah tiada. Dua minggu yang lalu ternyata Gio datang untuk terakhir kalinya menemui Alina.


Ya, Gio mengindap kanker paru-paru. Dia dengan menguatkan dirinya mencari Alina, wanita yang pernah ia sakiti. Dia hanya ingin memastikan saja Alina baik-baik atau tidak. Tapi, kehadiran Gio membuat Alina takut, karena Gio penah menggoreskan luka pada hidup Alina yang membuat dia trauma bertahun-tahun. Dan, sebelum dia pergi dia sempat menuliskan surat untukl Alina.


“Ada apa Alin?” tanya Raffi yang melihat Alina menangis.


“Ini Raf, baca sendiri.” Alina memberikan surat Gio pada Raffi.


Raffi membacanya hingga selsai, dia tidak menyangka, saat malam itu dua minggu yang lalu adalah pertemuan terakhirnya dengan Gio.


“Pak, apa benar semua ini?” tanya Raffi pada pengacara Gio.


“Benar, Pak. Tuan Gio sudah meningga kemarin, jika tidak percaya, kami antarkan ke makamnya,”  jawab pengacara tersebut.


“Innalillahi wainnailaihi rojiun,” ucap Raffi dan Alina.


“Di mana tempat pemakaman Gio?” tanya Alina.


“Di TPU ... Bu,” jawab pengacara tersebut.


“Terima kasih, pak. Nanti saya dan Raffi akan ke sana,” ucap Alina.


“Mari, kami antarkan ke sana, Bu.”


Alina dan Raffi bersiap untuk pergi ke makam Gio bersama pengacara Gio. Alina dari tadi tidak percaya kalau Gio sudah meninggal dunia. Padahal dua hari yang lalu, dia bermimpi bertemu Gio. Gio menemuinya dengan pakaian serba putih. Dia hanya memberikan bunga pada dirinya tanpa berkata apapun padanya, lalu langsung meninggalkan dirinya, dan tak lama kemudian, Raffi datang menemuinya.


“Apa ini pertanda dia rela aku menikah dengan, Raffi?” gumam Alina.


Raffi melihat Alina yang lagi-lagi menyeka air matanya. Dia mengusap kepala Alina dan tersenyum padanya.


“Sudah, jangan ditangisi. Semoga Allah menerima amal ibadah Gio, syukurlah, sebelum dia meninggal kamu dan dia hubungannya sudah membaik, dia tulus meminta maaf padamu, kamu pun tulus memaafkannya,” ucap Raffi.


“Iya Raf, aku tidak menyangka saja, Gio akan pergi secepat ini.”


“Ini makan Tuan Gio, Bu,” ucap pengacara tersebut.


Alina dan Raffi berjongkok di depan makam Gio, mereka berdoa untuk Gio. Tak lama kemudia, seorang wanita mendorong kursi roda. Terlihat seorang yang sudah paruh baya duduk di kursi roda. Dia adalah Wiryawan, ayah dari Gio.


“Alina, kamu di sini?” tanya Wiryawan.


“Bapak?” ucap Alina.


Dengan menatap Alina dengan tatapan sendu, Wiryawan menyuruh istrinya mendorong ke arah Alina.


“Alina, maafkan bapak, nak. Maafkan bapak,” ucapnya dengan menangis.


“Sudah, Pak. Yang berlalu biarlah berlalu, sekarang sudah saatnya bapak tidak mengulangi kesalahan dulu,” ucap Alina.


“Iya, terima kasih. Terima kasih kamu sudah memaafkan Gio. Dan, terimalah yang Gio berikan untukmu, Nak,” ucap Wriyawan.


Wiryawan bercerita apa yang selama ia perbuat pada anaknya. Dia sudah menghancurkan pernikahan anaknya dengan Alina. Setelah Gio menikah lagi, istrinya malah di jadikan simpanan olehnya. Ya, istri yang sekarang adalah mantan istri Gio. Sudah agak lama mereka berdoa, lalu bercerita di depan makan Gio. Akirnya sang pengacara pamit untuk pulang.


“Kami permisi dulu, nanti kalau sudah terproses semua saya kembali ke rumah Bu Alin,” pamit pengacara dan asistennya.


“Baik, Pak. Terima kasih,” ucap Alina.


Setelah pengacara itu pamit, Alina dan Raffi juga pamit dengan Wiryawa dan istrinya. Raffi menggandeng tangan Alina dan merangkulnya berjalan menuju mobil.


Alina tidak menyangka kalau keluarga Gio akan hancur seperti ini. Keluarga yang dulunya sangat di takuti orang-orang kecil, sekarang jatuh seperti itu. Ayahnya juga lumpuh, karena kecelakaan, Gio meninggal, dan kakaknya juga sebulan sebelum Gio meninggal dia kecelakaan. Ya, kecelakaan bersama ayahnya, ayahnya selamat, tapi lumpuh, dan kakaknya meninggal di tempat kejadian.


^^^^


“Arkan, kamu mau ke mana?” tanya Annisa saat Arkan akan keluar, dan jam sudah menunjukkan pukul 8 malam.


“Mau keluar sebentar, ke Caffe Rana, Bunda. Mau kumpul dengan teman sebentar,” jawab Arkan.


“Jangan malam-malam pulangnya.”


“Iya bunda, sayang.” Arkan mencium pipi Annisa dan langsung pergi mengambil helm dan kunci sepeda motornya.


Annisa hanya menggelengkan kepalanya saja. Arkan anaknya dia dengan Arsyad, tapi gayanya dan cara bicaranya mirip sekali dengan Arsyil, mendiang suami pertamanya.


“Dia mau pergi lagi, bunda?” tanya Arsyad yang baru saja keluar dari dapur mengambil kue yang tadi dibuat istrinya.


“Ya, seperti itu. Mau melarang nanti malah ngambek,” jawab Annisa.


“Memang mau ke mana dia?” tanya Arsyad.

__ADS_1


“Katanya ke cafe Rana, ada teman-temannya sudah menunggu di sana,” jawab Annisa.


“Abah melihat dia makin lama makin seperti Arsyil, dari dulu, hobi sekali kumpul dengan temannya, sampai papah tidak mau lagi menasihatinya. Seperti itu, dulu aku yang sering menasihatinya, dan Arkan, dia lebih mempan kalau Raffi sudah angkat bicara,” ucap Arsyad.


“Bunda juga lihat dia seperti Arsyil, bunda kira bunda saja yang menyamakan Arkan seperti Arsyil, ternyata abah juga bicara seperti itu,” ucap Annisa.


“Ya, hampir mirip, malah mirip sekali. Itu anak aku kan, bunda? Bukan anak kamu dengan Arsyil?” tanya Arsyad pada Annisa.


“Iya lah jelas anak kamu, mana mungkin anaknya Ayahnya Dio, abah itu ada-ada saja,” jawab Annisa.


“Kali aja, bunda mimpi dengan ayahnya Dio,” ucap Arsyad dengan mencium pipi istrinya.


“Mana bisa mimpi terus aku hamil, yang ada semua karena abah yang tidak mau berhenti meminta. Hmm... dulu boro-boro minta, bunda malah di suruh tidur di kamar tamu,” ucap Annisa.


“Sudah jangan bahas itu, abah sayang bunda, lupakan hal menyakitkan itu.” Arsyad memeluk istrinya dan mencium kilas bibirnya.


Namanya bukan Arsyad kalau hanya mencium istrinya sekilas saja. Ciumannya semakin dalam hingga Annisa tidak bisa bernapas karena terlalu lama Arsayd mencium bibirnya.


“Ehem... sudah tua, sudah mau punya cucu, nanti anak bungsunya liat jadi menirukan abah dan bunda, lho,” ucap Raffi yang tiba-tiba berada di dekat abah dan bundanya.


“Raffi...!” ucap Arsyad dan Annisa bersama.


“Si Zombie kebiasaan sekali, mengganggu,” ucap Arsyad dengan lirih.


“Apa abah? Zombie?” tanya Raffi dengan tersenyum.


“Iya, Zombie kecilnya abah yang sekarang sudah mau nikah,” jawab Arsyad.


“Wah...Raffi tahu nih, pasti pas dulu Raffi mimpi di kejar Zombie, abah mau itu ya sama bunda?” ledek Raffi pada abahnya dan duduk di samping abahnya.


“Tau aja, kamu. Nanti kita gantian ya, Bun, kalau dia nikah sama Alina kita gangguin malam pertamanya,” ledek Arsyad.


“Kejamnya....” ucap Raffi sambil mencubit abahnya.


“Sakit, Raf...!” Arsyad mengusap lengannya yang di cubit Raffi.


“Bagaimana urusan Alin sama Gio?” tanya Annisa.


Raffi tidak langsung menjawab pertanyaan bundanya. Dia menarik napsnya dalam-dalam sebelum mengatakan semua yang terjadi tadi pagi, saat menemui pengacara yang diutus Gio.


“Gio sudah meninggal kemarin, Bunda,” jawab Raffi.


“Kamu jangan sembarangan bicaranya!” tukas Arsyad.


“Abah, ini Raffi bilang sebenarnya, memang Gio meninggal, Abah.” Raffi akhirnya menjelaskan semua pada abah dan bundanya apa yang terjadi tadi pagi saat bertemu pengacara Gio.


“Innalillahi wainnailaihi rojiun, jadi benar Gio meninggal?” ucap Arsyad dan Annisa.


“Iya, abah, bunda. Gio benar meninggal,” jawab Raffi.


Arsyad dan Annisa pun tidak menyangka mantan suami Alina meninggal. Tapi, Arsyad juga bersyukur karena ancaman Gio pada Raffi ternyata karena emosi Gio saja yang tidak bisa menemui Alina.


Arsyad dan Annisa akhirnya membicarkan soal pernikahan Raffi dan Alina. Raffi meminta saat menikah dengan Alina, dia ingin menggelar resepsi di rumah Umminya. Alasannya karena, di rumah Umminya lah dia menemukan wanita yang sangat ia cintai dan ia sayangi setelah ummi dan kakak perempuannya, jadi dia ingin resepsi dan akad nikahnya di laksanakan di rumah Almira dulu.


“Kak Najwa kira-kira pulang tidak ya, Bah?” tanya Raffi.


“Pasti pulang lah, tapi mungkin tidak lama. Katanya Akmal yang ingin pulang ke sini, dia ingin hidup di sini lagi, tapi pekerjaannya belum selesai di sana,” jawab Arsyad.


“Semoga saja Kak Najwa pulang ya, Bah?”


“Iya, mudah-mudahan dia pulang,”


Rico keluar dari kamarnya dan bergabung dengan anak dan cucunya di ruang tengah. Setelah pulang dari liburan bersama keluarga Shita, dia kelihtam sedikit memiliki beban pikiran.


Dia duduk di samping cucunya. Rico mengusap punggung Raffi, dan tiba-tiba mengatakan sesuatu yang selalu di katakan pada anak cucunya.


“Nanti, kalau kamu menikah dengan Alina, jangan pernah duakan Alina. Jangan menikahi wanita lagi selain Alina, opa hanya pesan itu,” ucap Rico.


“Iya opa, itu pasti. Raffi tidak sanggup kalau beristri dua opa,” jawab Raffi.


“Kalau pun sanggup, lebih baik jangan, nak. Susah menyatukan 2 istri, walaupun kedua istri kita akur dan saling mengerti,” ucap Rico.


“Kok papah tiba-tiba bilang seperti ini?” tanya Arsyad.


Rico sejenak diam, dan tidak langsung menjawab pertanyaan Arsyad. Dia bingung mau menyampaikannya. Saat kemarin berlibur di ajak Farrel dan Istri Farrel, juga Shita, Vino, dan Rana, dia tidak menyangka, kalau Farrel dan istrinya meminta izin pada Rico karena Farrel ingin menikah lagi.


“Farrel, dia akan menikah lagi. Ismi yang meminta Farrel untuk menikahi Dian,” jawab Rico.


“Dian sekretaris Farrel?” tanya Raffi.


“Iya benar, dia ternyata diam-diam menjalin hubungan, dan diketahui Ismi.”


“Farrel keterlaluan sekali, apa kurangnya Ismi, dia cantik, bisa memberikan keturunan, masa iya dia sampai main serong dengan Dian? Pantas saja dia sering jalan bareng, aku sih tidak curiga, karena mereka kan saling menggantungkan dalam hal pekerjaan,” ucap Raffi.


“Makanya dari dulu opa tidak mau memiliki asisten perempuan di kantor. Tidak memiliki asisten perempuan saja, Oma Dinda menyuruh menikah lagi dengan Oma Andin,” ucap Rico


“Lalu gimana, pah?” tanya Annisa.


“Ya, mau tidak mau, papah mengizinkan, karena Ismi memaksanya,” jawab Rico.


Farrel menikah setelah dua bulan Dio menikah dengan Rania. Karena kandungan Ismi sehat dan tidak ada masalah, dia cepat di beri keturunan. Tidak seperti Shifa yang memang lama hamilnya, meski dia adalah cucu Rico yang paling awal menikah. Memang tidak ada pesta meriah dalam pernikahan Farrel dan Ismi, hanya sederhana saja di gelar di rumah Ismi. Ya, cicit pertama Rico adalah Rindra, anak pertama dari Farrel dan Ismi yang sekarang masih berusia hampir 1 tahun.


Keluarga Farrel dan Ismi yang Rico kira tenang dan baik-baik saja, ternyata seperti itu. Sama saja dengan Dio dan Rania yang sangat rumit rumah tangganya. Dia tidak percaya kalau ada yang menuruni dirinya beristri dua. Bedanya Dinda istri pertamanya meminta dirinya menikahi Andini karena Dinda tak bisa memberikan dia keturunan.

__ADS_1


Sedangkan Ismi, dia meminta Farrel menikah dengan Dian, karena dia tidak mau suaminya lagi dan lagi berbohong. Dia tahu Dian dan Farrel saling mencintai. Sejauh apapun mereka di pisahkan, besar kemungkinan Farrel akan mengejar Dian lagi. Jadi, ismi memutuskan menyuruh Farrel menikahi Dian.


__ADS_2