
Ke esokan harinya, Annisa di sibukkan dengan pekerjaannya, dia hari ini juga menghadiri rapat penting dengan relasi bisnisya. Dia terpaksa menghadiri sendiri, karena Rere juga sedang di sibukkan dengan beberapa pekerjaan nya. Annisa sampai di tempat undangan rapat tersebut. Karena saking sibuknya dia lupa menghubungi suaminya kalau hari ini ada rapat penting dengan para relasi bisnisnya.
Annisa memasuki gedung untuk rapat tersebut, dia merasa dari di ikuti dengan seorang pria asing, entah siapa orangnya Annisa tidak tau, dan dia juga tak mempermasalahkannya. Annisa duduk di kursi nya dan di samping Annisa masih terdapat kursi kosong belum ada yang mendudukinya. Seorang pria dari kejauhan berjalan mendekati kursi yang kosong yang berada di samping Annisa.
"Permisi nona, boleh saya duduk di sini?"tanya pria tersebut.
"Boleh, silakan," ucap Annisa dengan santainya.
Annisa baru ingat kalau dia belum menghubungi suaminya, dia mengambil ponselnya, tapi sayangnya saat akan menghubungi suaminya rapat akan segera di mulai, dan membuat dia tidak jadi menghibungi suaminya. Annisa mengikuti rapat dan duduk di sebelah pria yang dari mengikutinya dari awal dia datang.
Arsyad juga hari ini sangat di sibukan dengan pekerjannya, dia sekarang sedang berada di jalan untuk menghadiri rapat dengan relasi bisnisnya. Ya, di tempat rapat yang di hadiri oleh Annisa juga. Dia sudah sampai di depan gedung dan segera masuk ke dalam karena dia sedikit terlambat. Beruntung rapat masih belum di mulai.
Arsyad duduk di kursi yang kosong, dan tidak menyangka dia duduk di depan istrinya. Tempat duduk memang di tata melingkar, dan Annisa juga tidak menyangka suaminya duduk di depannya. Annisa melempar senyum pada suaminya yang berada di depannya. Orang yang ia rindukan ternyata ikut dalam rapat tersebut. Semua sudah berkumpul, rapat segera di mulai.
Dari tadi Arsyad memandangi pria yang duduk di sebelah Annisa, yang selalu saja mencoba mengajak Annisa bicara. Arsyad melihat tatapan pria itu menyiratkan rasa suka pada Annisa. Arsyad merobek secarik kertas yang ada di depannya, dia menuliska sesuatu pada kertas tersebut dan melemparkan pada istrinya.
"Hati-hati, dengan pria di sebelahmu, sepertinya dia menyukaimu, sayang." seperti itu tulisan Arsyad pada secarik kertas yang ia akan lempar ke arah istrinya.
Arsyad melempar kertas pada Annisa. Lemparan itubgeoat mengenai dada Annisa, beruntung tidak mengenai orang lain. Kalau mengenai orang lain Arsyad sendiri yang bakalan malu.
"Aww..siapa yang melempar kertas ini," gumam Annisa.
Annisa melihat ke arah suaminya yang juga sedang memandang Annisa. Arsyad mengisyaratkan pada Annisa untuk membuka kertas itu dan membaca tulisannya. Annisa membaca tulisan Arsyad yang ada di dalam secarik kertas itu. Annisa mengembangkan senyumannya dan mengedipkan sebelah matanya dengan genit di hadapan suaminya, dia juga menggigit bibir bawahnya yang membuat Arsyad tersenyum dan ingin menciumnya.
"Ada-ada saja, ada orang di samping aku saja, di kira menyukai aku, suamiku terlalu posesif sekali," gumam Annisa.
"Kamu ada-ada saja, sayang. Aku saja tidak tau siapa pria itu. Kakak ternyata ikut rapat juga di sini? Maaf aku sibuk sekali jadi tidak menghubungi kakak, tadi ikut rapat saja karena ada pemberitahuan mendadak dari Rere," tulis Annisa pada secarik kertas untuk membalas tulisan Arsyad tadi dan melempar ke arah Arsyad.
Arsyad membuka dan membacanya, dia menuliskan lagi pesan di secarik kertas dan melempar pada Annisa. Seseorang yang berada di samping Arsyad hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja, karena Arsyad seperti itu.
"Tuan, kenapa tidak dekati saja, pakai lempar-lemparan kertas seperti anak remaja," tutur seseorang yang ada di samping Arsyad.
"Husss….dia istriku, tuan," ucap Arsyad.
__ADS_1
"Istri tuan?"tanya orang itu.
"Iya, dia istriku," jawab Arsyad.
Annisa membuka kertas dan membaca tulisan tersebut.
"Jangan menggodaku dengan bermain mata dan bibir manismu, mau aku makan?" Annisa mengembangkan senyumannya lagi pada Arsyad.
Dari tadi pria di samping Annisa memerhatikan Annisa saling membalas dan melempar kertas dengan Arsyad. Hingga pria di sebelah Annisa mengajak bicara Annisa dan bertanya kenapa saling melempar kertas.
"Nona ini sedang rapat, jangan seperti anak SMA yang sedang kasmaran," ucap pria tersebut.
"Emm…kasamaran dengan suami sendiri gak boleh, tuan?" ucap Annisa.
"Maksud nona?"
"Dia adalah suamiku, tuan,"jawab Annisa.
Pria itu diam seketika dan masih belum percaya kalau yang ada di depan Annisa adalah suaminya. Rapat berjalan dengan lancar, selesai Rapat, Arsyad langsung mendekati istinya yang masih duduk di kursinya, dan seorang pria yang duduk di sebelah Annisa saja masih duduk di sebelahnya, dia tidak percaya kalau Arsyad adalah suami Annisa..
"Sayang, mau makan siang bersama?" Arsyad bertanya seperti itu dan duduk di sebelah Annisa.
"Emm..boleh, kakak kenapa tidak mengabariku?"tanya Annisa.
"Kakak sibuk sekali, hari ini Lintang kan sudah keluar, sayang, jadi kakak kerjanaya dobel lagi,"ucapnya.
"Syukurlah, kalau Lintang sudah mulai mengurus usahanya," ucap Annisa.
"Iya, tapi kakak repot jadi tidak bisa menghubungimu,"
"Tidak apa-apa, kan di rumah bertemu, kak. Ini juga tidak sengaja ketemu, kan?"ucap Annisa.
"Ya sudah, yuk makan siang di luar saja, habis ini sudah kan selesai, tidak ada rapat lagi,"
__ADS_1
"Iya, paling itu, kan ada makan siang, aku gak mau makan di sini,"ucap Annisa manja.
"Ya sudah ayo keluar saja," ajak Arsyad.
Pria yang di samping Annisa masih menatap intens ke arah Annisa dan Arsyad. Arsyad sesekali melirik ke arah pria itu dan melempar senyum pada pria itu.
Annisa dan Arsyad keluar dari ruangan rapat, pria itu mengikuti Arsyad dan Annisa keluar juga. Entah apa maksud pria itu mengikuti Annisa dari awal Annisa datang ke tempat rapat hingga akan pulang. Annisa merasa pria itu ada maksud tertentu. Seketika Annisa ingat akan Farina, dan dia menduga-duga pria itu adalah suruhan Farina.
"Kak, pria tadi mengikuti kita," bisik Annisa.
"Sebentar aku hubungi Kevin," jawab Arsyad.
Arsyad berhenti sejenak, dia mengambil ponsel di saku celananya, dan pria yang mengikutinya itu juga ikut berhenti dan menyandarkan dirinya pada pilar yang sedikit jauh dari Annisa dan Arsyad. Arsyad menuliskan pesan pada Kevin dan Annisa masih memandangi pria itu yang dari tadi menatap Annisa dengan tatapan tajam.
"Kevin, lihatlah pria yang ada di belakangku dan Annisa, dia mengikuti kami, tolong selidiki kamu dengan Jordy. Aku akan memakai mobilku untuk makan siang dengan Annisa. Kamu ikuti saja mobil ku jika orang itu mengikuti kami, kamu tau kan, apa yang harus kamu lakukan," ~Arsyad.
Arsyad menunggu balasan dari Kevin sebentar, dia berdiri dan berhadapan dengan Annisa. Sesekali dia mengusap pipi Annisa dan mencium keningnya. Arsyad melakukan itu karena pria misterius itu masih mengintainya dari balik pilar bangunan gedung rapat.
"Kak, dia masih memerhatikan kita," ucap Annisa.
"Biarlah, aku sudah menyuruh Kevin untuk mengawasi kita, kamu jangan khawatir." Arsyad berusaha menenangkan hati istrinya.
"Aku takut dia suruhan Farina, kan," ucap Annisa.
"Ya, kakak juga merasa seperti itu" jawab Arsyad.
Arsyad merasa ponselnya bergetar ada pesan masuk ke ponselnya. Arsyad membukanya , dan benar dengan dugaan Arsyad, Kevin yang membalas pesannya.
"Baik tuan, saya juga sudah bertemu Jordy, kunci mobil tuan sudah berada di dalam mobil, dan pintu mobil tidak saya kunci, saya tetap mengawasi mobil tuan dari dekat," ~Kevin.
"Bagus, awasi pria yang mengikutiku, jangan sampai lepas," ~Arsyad.
"Siap, Tuan!" ~Kevin.
__ADS_1
Arsyad dan Annisa berjalan dengan santai seperti tidak peduli dengan pria yang mencurigakan itu. Arsyad semakin tau, kalau pria itu adalah suruhan seseorang. Tidak mungkin, kalau dia hanya suka dengan Annisa, pasti dia tak akan mengikutinya, karena Annisa dengan suaminya. Namun, ini benar-benar mencurigakan, pria itu masih mengikutinya hingga ke parkiran mobil.