
"Opa, maafkan, Najwa." Najwa memeluk Rico dengan menangis. Annisa juga duduk di samping Najwa.
"Sudah, jangan menangis. Opa tahu, rasanya cinta tak bisa memiliki." Rico mengusap kepala Najwa dengan sayang.
"Najwa, kamu harus terima, Nak. Mungkin jika kamu tidak satu susuan dengan Dio, kami semua menyetujuinya, tapi, kamu satu susuan Kami tidak bisa menikahkan kalian," jelas Annisa.
"Opa yakin, kamu akan mendapat jodoh yang baik, Sayang," ucap Rico.
"Bahkan lebih baik dari Dio," imbuh Annisa.
Najwa masih menangis di pelukan opanya. Dia memang harus bisa menerima kenyataan pahit ini. Pria yang ia cintai, tidak bisa di milikinya. Najwa semakin tidak mengerti kenapa sampai serunyam ini masalahnya.
"Jika aku harus memilih, aku lebih memilih membenci Dio seperti dulu, dari pada mencintai Dio. Lebih sakit mencintai dia, daripada membencinya. Ya Allah, aku harus bagaimana. Apa ini harus segera di akhiri?" Najwa berkata dalam hatinya dengan di peluk opanya.
"Bunda, opa, Najwa ke kama…." Najwa terjatuh, dia pingsan dan tersungkur di lantai.
Raffi meraih tubuh kakaknya sebelum kepalanya membentur lantai.
"Najwa….!" Rico dan Annisa beranjak dari tempat duduknya.
"Raf, angkat kakakmu ke sofa," ucap Rico dengan panik
Telapak tangan dan kaki Najwa dingin sekali, wajahnya pucat pasi. Annisa membalurkan minyak kayu putih di telapak tangannya, dan mengoleskan di hidung Najwa. Najwa mengerjapkan matanya, menyesuaikan cahaya lampu yang ada di ruang tengah. Arsyad dan Dio belum juga kembali dari tadi. Najwa bangun dari sofa, dia berjalan setengah berlari ke kamar mandi dengan menutup mulutnya. Annisa mengikut Najwa masuk ke kamar mandi.
"Huek…!" Najwa memuntahkan apa yang ada di dalam perutnya.
Namun, hanya cairan kuning saja yang keluar. Najwa memengang kepalanya, dia merasa pusing dan dia pingsan lagi, tubuhya tertahan oleh bundanya yang ada di belakangnya.
"Ya Allah, Najwa...! Papah, Raffi, tolong!" Teriak Annisa dari dalam kamar mandi.
Rico dan Raffi berlari ke arah kamar mandi. Raffi menggendong Najwa dan membawanya ke kamar Najwa.
"Kak, kamu kenapa? Bunda, kak Najwa kenapa, bunda?" tanya Raffi.
"Bunda tidak tahu, tadi kakakmu muntah-muntah, Raf," jawab Annisa.
"Bunda …bperut Najwa sakit," rintih Najwa.
"Sebelah mana, Nak?" tanya Annisa. Belum sempat menjawab, najwa pingsan lagi.
"Najwa, Najwa! Bangun, Sayang." Annisa menepuk pipi Najwa,
"Papah, ini Najwa gimana?" tanya Annisa.
"Tenang, Annisa. Kita bawa Najwa ke rumah sakit, jangan cemas," ucap Rico.
"Pah, apa Najwa hamil?" tanya Annisa.
"Jangan sembarangan kamu bilang, Annisa," tukas Rico.
"Cepat bawa kakakmu masuk mobil," titah Rico pada Raffi.
Annisa dan Rico masuk ke dalam mobil, Raffi mengemudikan mobilnya dengan cepat. Najwa belum juga sadar dari pingsannya. Annisa mencoba menghubungi Arsyad dan Dio, kalau Najwa berada di rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Najwa di bawa ke ruang UGD oleh para suster.
"Kak Ainun? Kenapa, kak Ainun, Bu?" tanya salah satu perawat pada Annisa.
"Emm … Ainun? Dia pingsan tadi," ucap Annisa yang sejenak berpikir dulu, karena suster itu menyebut Najwa dengan nama Ainun, beruntung Annisa langsung tahu nama depan Najwa itu Ainun.
"Ibu tunggu di depan, biar dokter memeriksa, Kak Ainun," ucap suster tersebut.
"Tolong hubungi Dokter Akmal," pinta salah satu suster itu.
Beruntung dr. Akmal belum berangkat ke luar negeri, jadi dengan segera dia ke rumah sakit melihat foto Najwa terbaring di pembaringan dalam UGD. Ya, salah satu suster tadi memotret Najwa. Entah kenapa dokter muda itu ingin sekali mengenal Najwa lebih dekat lagi. Ini adalah kesempatan dia bertemu Najwa lagi, sebelum dia ke luar negeri dan menetap lama di sana.
Rico duduk di depan ruang UGD bersama Raffi dan Annisa. Arsyad dan Dio sudah sampai di rumah sakit dan langsung menuju ke arah Annisa yang sedang duduk dengan wajah yang cemas.
"Bagaimana Najwa? Kenapa bisa seperti ini?" tanya Arsyad.
"Najwa tadi pingsan, lalu setelah sadar, dia muntah, dan pingsan lagi. Dia hanya bangun, dan mengeluh perutnya sakit," jawab Annisa.
"Muntah?" tanya Arsyad.
"Jangan pikiran macam-macam, Najwa pasti tidak apa-apa," jawab Rico.
Dio hanya diam menatap pintu ruang UGD yang tertutup rapat. Dokter belum juga selesai memeriksa Najwa. Dio meneteskan air matanya, dan menundukkan kepalanya. Terdengar lirih isak tangis Dio. Raffi menepuk pundak Dio. Dia tahu apa yang Dio rasakan malam ini.
__ADS_1
"Maafkan aku, Raf. Aku sudah buat Najwa sakit. Aku tidak bisa menjaga kakakmu lagi. Aku tidak bisa menikah dengan Najwa, Raf." Dio terisak di pelukan Raffi.
"Sudah, kalian tidak bisa menikah, kalian juga masih saudara, aku pernah bilang dengan kamu, Dio. Hubungan kalian susah di satukan, kamu jangan seperti ini, Dio. Kamu harus kuat." Raffi menenangkan hati Dio yang hancur saat itu.
Suster keluar dari ruang UGD, Arsyad bangun dan bertanya pada suster yang keluar dari ruang UGD.
"Bagaiman anak saya, sus?" tanya Arsyad.
"Maksud bapak, Kak Ainun?" Suster itu balik bertanya.
"Ah iya, Ainun putriku," jawab Arsyad.
"Sebentar, Pak. Dokter belum selesai memeriksa," ucap suster itu dan berlalu meninggalkan Arsyad. Rico dan lainnya bingung, kenapa setiap suster di sini memanggil Najwa dengan nama depannya.
"Ah, iya ini rumah sakit milik Dokter Habibi. Pantas saja mereka menyebut Najwa dengan sebutan Ainun," gumam Arsyad.
"Syad, kenapa semua suster di sini mengistimewakan Najwa? Dan memanggil Najwa dengan sebutan Ainun?" tanya Rico.
"Ah, ceritanya panjang, Pah. Nanti aku ceritakan," ucap Arsyad.
Sorang dokter tampan, berjalan dengan tegap dan gugup ke arah UGD. Ya, dia dokter Akmal, dia datang hanya ingin mengetahui keadaan Najwa.
"Sus, bagaimana Ainun?" ucap Akmal dari kejauhan karena melihat suster yang akan masuk ke dalam ruang UGD.
"Masih di periksa Dokter Arya, Dok. Silakan masuk," ucap Suster tersebut.
Arsyad melihat betapa khawatirnya dokter itu pada putrinya. Dan, dia tahu, kalau dokter tersebut adalah Dokter Habibi.
"Jadi, Dokter yang kemarin menabrak ku dia Dokter Habibi?"bgumam Arsyad yang mengingat ada seorang dokter muda dan sopan menabraknya.
"Dok tunggu." Arsyad menghentikan langkah Dokter Akmal yang akan masuk ke dalam ruang UGD.
"Ah, iya, pak. Ada a ... Sebentar, bapak yang kemarin, ya?" tanya Akmal.
"Iya, Dok. Ainun putriku yang ada di dalam," ucap Arsyad.
"Oh, ya? Ya Allah, tidak menyangka bertemu dengan bapak. Mari masuk, Pak. Tapi, hanya bapak saja, soalnya belum selesai dokter Arya memeriksanya," ucap Akmal.
"Baiklah," ucap Arsyad. "Papah, Annisa, aku masuk dulu," pamit Arsyad. Semua semakin heran, karena Arsyad bisa mengenal baik dengan dokter muda itu.
"Bagaimana, Arya?" tanya Akmal.
"Ainun mu baik-baik, saja. Jangan khawatir," ucap Arya. Dokter jaga, yang juga sahabat Akmal.
"Syukurlah," ucap Akmal.
"Bagaimana putri saya, Dok?" tanya Arsyad.
"Putri bapak, terkena asam lambung, jadi jangan sampai telat makan, dan jangan sampai stres, karana itu akan memicu asam lambung bekerja tidak stabil," jelas Dokter Arya.
"Lalu apa perlu, opname?" tanya Arsyad.
"Iya, karena keadaannya belum begitu stabil, dan harus opname 1 atau 2 hari," jelas Dokter Arya.
"Saya boleh melihat putri saya, dok?" tanya Arsyad.
"Silakan, pak," ucap Dokter Arya.
Dokter Arya keluar dari UGD, dia kembali ke ruangannya. Sebelum keluar, Arya meledak Akmal terlebih dahulu.
"Ketemu calon mertua, nih. Semangat, Pepet terus. Ainun mu sepertinya orang istimewa sekali, Bro," bisik Arya pada Akmal.
"Itu pasti, aku akan dekati dia, dia memang sangat istimewa," ucap Akmal.
"Semangat, Habibi," ledek Arya sambil keluar dari UGD.
^
Rico dan Annisa masuk ke dalam UGD. Karena dr. Arya sudah memperbolehkan mereka masuk. Tidak hanya Annisa dan Rico. Raffi dan Dio juga ikut masuk ke dalam UGD. Najwa terlihat sudah sadar, dia membuka matanya yang pertama ia liahta adalah dua pria yang tampan dan memiliki wajah yang hampir mirip. Siapa lagi kalau bukan Abahnya dan dokter Habibi.
"Abah, perut Najwa sakit," ucap Najwa dengan lirih.
"Iya, besok sembuh, sayang." Arsyad mengusap kepala putinga itu dengan sayang.
"Kamu, ngapain kamu di sini?" tanya Najwa dengan ketus pada Akmal.
__ADS_1
"Apa kamu sudah lupa? Aku kan bilang, Habibi pasti akan menemukan Ainunnya kembali, dengan cara seperti apa kita bertemu, Ainun," jawab Akmal dengan tegas di antara semia keluarga Najwa.
Semua bingung dengan ucapan Akmal yang memang terkesan blak-blakan dengan Najwa.
"Diam, kamu!" tukas Najwa.
"Sakit saja galak, gimana mau sembuh? Abah, putrimu sungguh lucu sekali," ucap Akmal dengan bercanda pada Rico.
"Tuh, jangan galak-galak," ucap Arsyad.
"Aku bercanda, Ainun. Jangan marah. Maaf sudah membuat kamu marah dan kesal, setiap kali kita bertemu," ucap Akmal.
"Oh, iya. Maaf, kenalkan saya, Habibi, temannya Ainun," ucap Akmal memperkenalkan diri pada keluarga Najwa.
"Sejak kapan kita berteman, hah!" tukas Najwa.
"Sayang, jangan seperti itu," ucap Arsyad.
"Dia yang mulai, Abah," ucap Najwa.
"Oh, Habibi, saya Rico, opanya Najwa." Rico menjabat tangan Habibi.
"Ini istri saya, bundanya Najwa, Dok. Kalau itu, Raffi, adik Najwa, dan sebelahnya, Dio, adik Najwa juga." Arsyad memperkenalkan semua keluarganya lada Habibi.
"Salam kenal, bunda, Dio, Raffi," ucap Habibi dengan menunduk.
Najwa hanya diam saja ,melihat abahnya dekat dengan Habibi. Padahal baru pertama bertemu, tapi mereka berdua sudah akrab sekali.
"Bagaimana, sayang, apa kamu sudah baikan?" tanya Rico.
"Masih sakit perutnya, opa," ucap Najwa.
"Besok juga sembuh, tadi kamu habis makan malam makan asinan pedas, kan?" tanya Annisa.
"Iya, bunda," jawab Najwa.
"Pantas saja, kamu seperti ini," ucap Rico.
Dio hanya diam, dia hanya menatap Najwa dengan penuh arti. Sebenarnya dia ingin merengkuh tubuh kekasihnya itu. Ya, dia masih menganggap Najwa adalah kekasihnya, sampai kapanpun. Walaupun nanti dia sudah menikah.
"Bukan aku egois. Meskipun kamu tidak bisa aku miliki, hati ini hanya milikmu, dan cinta ini juga hanya milikmu, Najwa. Sampai kapanpu," gumam Dio sambil menatap mata Najwa yang sendu.
Dio melihat Habibi dengan tatapan tajam dan intens. Karena dari tadi dia akrab dengan Arsyad dan Rico. Seorang suster masuk ke dalam UGD. Dia memberitahukan kalau ruangan untuk Najwa sudah di siapkan.
"Dokter, ruangan Kak Ainun sudah kami siapkan," ucap suster tersebut.
"Teriam kasih, Sus," ucap Habibi.
Najwa di pindahkan ke ruang pasien. Habibi menyiapkan ruangan yang nyaman untuk Najwa. Dan terlebih untuk orang yang menungguinya.
"Maaf, sepertinya ini sudah malam sekali, saya pamit pulang, biar Ainun istirahat," ucap Habibi.
"Dokter Habibi, mau pulang?" tanya Rico.
"Iya, opa. Biar Ainun ku istirahat, dulu, besok pagi Habibi ke sini lagi, opa," ucap Habibi.
"Oke, hati-hati, dok," ucap Rico.
"Abah, bunda, Raffi, dan Dio, saya pamit pulang dulu,"
"Iya, hati-hati," jawab mereka .
"Ainun, aku pulang," pamit Habibi.
"Hmmmm…" jawab Njawa.
"Najwa, jangan seperti itu," ucap Arsyad.
"Lalu? Ehh lupa, mau pulang, ya? Sudah sana hati-hati." Najwa berkata sambil memalingkan wajahnya.
Akmal tahu, Najwa kesal pada dirinya yang sok dekat dengan keluarganya. Ya, itu semua karena Akmal ingin meliha Najwa yang kesal dengan dirinya. Menurut Akmal, Najwa adalah wanita yang lain daripada yang lain. Dia wanita sempurna di mata Akmal. Walaupun dia sulit untuk mendapatkan Najwa.
"Tidak mungkin aku meminta langsung pada Abhmu, Ainun. Aku ingin kita bisa bersama, dan semoga di pertemukan lagi entah kapan dan di mana. Aku hanya bisa berdoa. Kamu yang aku minta dalam setiap doaku, Ainun," gumam Akmal dengan melangkahkan kaki untuk pulang.
Najwa diam saja, dia semakin tidak mengerti, kenapa selalu saja bertemu dokter itu. Dan, sejak kejadian tadi, membuat Dio tidak bisa berkata apa-apa. Dia terlihat menyimpan segudang pertyaaan untuk Najwa.
__ADS_1