
Arkan menunggu abahnya pulang dari pemakaman Reno. Namun, sampai malam hari abah dan bundanya belum pulang juga. Arkan ingin sekali memberitahukan pada abahnya kalau Najwa akan pergi keluar negeri.
"Kira-kira Kak Najwa berangkat kapan, ya? Apa lebih baik aku menelepon Kak Raffi saja?" gumam Arkan.
Tanpa berpikir panjang lagi, Arkan menelepon Raffi. Tapi, sayangnya tidak di angkat oleh Raffi. Arkan terpaksa menunggu mereka kembali, rasanya Arkan ingin sekali menemui Najwa, tapi dia tidak tau di mana kakaknya berada. Dia hanya bertemu Najwa jika siang saja di sekolahnya. Dan Najwa tidak memberikan kontak atau alamat di mana Najwa tinggal sebelum ke luar negeri.
Sudah pukul 10 malam, Arkan masih menunggu bunda dan abahnya pulang. Dan tak lama kemudian Arsyad, Annisa, Rico dan Raffi pulang. Arkan langsung menghampiri mereka dan mengajak bicara mereka di ruang tamu.
"Ada apa, Arkan? Kamu mau bicara apa?" tanya Arsyad.
"Abah tidak berusaha mencari Kak Najwa?" jawab Arkan sembari bertanya pada abahnya.
"Jangan bahas soal Kakakmu itu. Biarkan dia pergi," ucap Arsyad.
"Kak Najwa tadi ke sekolahan Arkan, apa abah tidak mengkhawatirkan kakak?"
"Mau apa dia ke sekolahan mu? Minta uang? Baju? Biar dia jadi gelandangan di luar."
"Arsyad! Jaga ucapan kamu!" tegur Rico dengan marah.
"Kenapa dengan Najwa? Kakakmu ke sekolahan mu mau apa, Arkan? Jelaskan pada opa." Rico memaksa Arkan untuk bercerita.
"Sebenarnya dari kemarin Kak Najwa ke sekolahan Arkan. Kak Najwa minta Kartu identitas dan paspor, opa," jawab Arkan.
"Paspor? Apa kakakmu bilang mau ke luar negeri?" tanya Rico lagi.
"Mungkin," jawab Arkan.
"Sekarang katakan, di mana Kakak kamu tinggal dan dengan siapa?" Rico semakin meninggi kata-katanya.
"Aku tidak tahu kakak di mana, yang jelas dia bersama teman wanitanya. Sepertinya Kak Najwa akan ikut kerja temannya di luar negeri, Opa," jelas Arkan.
Rico terdiam sejenak mendengar penuturan Arkan. Dia berpikir Najwa akan menjadi TKW sebagai pembantu rumah tangga. Pikiran Rico semakin kacau, dia takut terjadi apa-apa dengan cucu kesayangannya.
"Syad, kita cari Najwa sekarang," ajak Rico.
"Pah ini sudah malam," jawab Arsyad.
"Iya opa, besok saja, nanti Raffi temani opa, sebaiknya opa istirahat," ujar Raffi.
"Iya, Pah. Papah sebaiknya istirahat, dari tadi siang papah lelah," imbuh Annisa.
"Iya opa, besok saja, tidak mungkin Kak Najwa akan langsung berangkat, karena baru saja kemarin Kak Najwa mengambil paspornya pada Arkan. Sebenarnya Kak Najwa menyuruh Arkan tutup mulut, tapi Arkan takut Kak Najwa kenapa-napa di luar sana. Walau bagaimanapun Kaka Najwa adalah kakak Arkan. Meski Kak Najwa salah seharusnya abah jangan usir Kak Najwa. Kak Dio juga salah kan, Abah? Tidak hanya Kak Najwa saja," ucap Arkan.
"Kamu masih kecil tahu apa, Arkan. Tidur sana, sudah malam," titah Arsyad.
"Iya ini mau tidur," jawab Arkan.
Arkan langsung pergi ke kamarnya. Arkan masih memikirkan kakaknya yang pergi entah ke mana bersama temannya. Beruntung besok minggu, dia akan ikut mencari Najwa bersama Opa Rico dan Raffi.
^^^
__ADS_1
Malam hari di rumah Anna. Dio terlihat sedang menikmati kopinya di ruang tengah. Suasana duka masih menyelimuti rumah Anna. Dio masih memikirkan ucapan ibu mertuanya tadi saat setelah pulang dari pemakaman Ayah Reno. Rania keluar dari kamar ibunya, dia melihat Dio yang duduk di ruang tengah sendirian. Rania mendekati suaminya itu yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya.
"Kamu masih di sini? Pulanglah, ibu sudah tidur. Jangan khawatir soal aku dan ibu," ucap Rania.
"Aku hanya menuruti permintaan ibu saja. Ibu ingin aku di sini hingga 100 hari ayah pergi," jawab Dio.
"Tidak perlu, pulanglah, biar aku jelaskan pada ibu pelan-pelan untuk masalah kita," ucap Rania.
"Itu akan menambah beban ibu, kamu boleh menceraikan aku, Rania. Tapi lihat kondisi ibumu saat ini," ujar Dio.
"Aku tahu kondisi ibu, pulanglah, Dio." Rania tetap menyuruh Dio untuk pulang.
"Maaf aku tidak bisa. Aku menuruti kata ibu, ibu memintaku untuk tetap di sini," ujar Dio.
Rania bisa apa, mungkin benar ibunya menyuruh Dio tetap di sini. Dan ada benarnya juga kata Dio, kalau menjelaskan pada ibu sol perceraiannya, justru membuat ibunya semakin terpuruk.
"Oke, aku izinkan kamu di sini, selama 100 hari. Dan setelah itu kita bilang dengan ibu, kalau kita sudah bercerai. Mungkin dalam waktu 100 hari itu, kamu sudah bukan suamiku lagi Dio, dan kalau masalah kita di pengadilan agama sudah selesai. Aku harap saat itu kita bisa menjelaskan ini secara baik-baik dengan ibu," ucap Rania.
"Iya, nanti aku akan jelaskan semua pada ibu," jawab Dio.
"Jangan lupa minggu depan datang ke sidang pertama." Rania mengingatkan lagi.
"Iya aku tahu. Istirahatlah sudah malam," jawab Dio sembari menyuruh Rania untuk tidur.
Tanpa menjawab Rania langsung masuk ke dalam kamarnya. Rania merebahkan dirinya di tempat tidur. Bukan dia egois dengan keadaan ini. Rania sudah tidak bisa menahan rasa sakit yang selalu Dio berikan untuk Rania. Mang mencintai tanpa balas, sakitnya melebihi tergores belati tajam.
"Aku harus tetap pada pendirian ku, aku tidak boleh goyah, ini jalan yang aku pilih, aku tidak boleh menyerah," gumam Rania dengan berusaha memejamkan matanya.
Dio masih duduk di ruang tengah, dia tidak menyangka Rania tetap kukuh pada pendiriannya untuk bercerai dengannya. Dio tidak mengerti apa yang sudah terjadi pada hatinya, juga pada pikirannya yang terpenuhi oleh nama Rania.
"Dio, kamu tidak tidur di kamar?" tanya Anna yang membuat dirinya terjingkat karena kaget.
"Nanti, Bu. Dio sedang ngopi kok. Ibu belum tidur?" tanya Dio.
"Ibu ingin mengambil air putih, apa Rania sudah tidur?"
"Sudah, baru saja masuk ke dalam kamar," jawab Dio.
Anna berlalu meninggalkan Dio ke dapur. Dio langsung bergegas ke kamar Rania.
"Ran … Rania, buka pintunya." Dio mengetuk pintu kamar Rania. Rania yang belum bisa memejamkan matanya akhirnya membuka pintu kamarnya.
"Ada apa, Dio," ucap Rania.
"Ayo masuk." Dio menarik tangan Rania masuk ke kamar.
"Apaan, sih! Sakit tau." Rania menepis tangan Dio yang menarik tangan Rania.
"Maaf, Ran. Ada ibu," ucap Dio.
"Kalau ada ibu kenapa, hah?" tukas Rania.
__ADS_1
"Ibu sepertinya curiga aku tadi tidur di sofa."
"Lalu? Mau tidur di sini? Enak saja, keluar!" titah Rania.
"Apa kamu tidak kasihan dengan ibu, kalau ibu tahu kita akan bercerai?" tanya Dio dengan penuh penekanan.
"Suatu hari nanti pasti akan tahu, Dio," jawab Rania.
"Iya, tapi tidak untuk sekarang, Rania,"
"Ya sudah, tidur di sofa," titah Rania.
"Oke," jawab Dio.
"Jangan menyentuh barang-barang ku!" seru Rania dengan merampas buku milik Rania yang akan di baca Dio.
"Pelit amat, Mbak," ucap Dio.
"Sejak kapan aku jadi Mbak mu, hah? Kalau mau tidur, tidur! Jangan macam-macam di kamarku," tukas Rania
"Iya, iya," jawab Dio sambil duduk di sofa yang ada di kamar Rania.
Rania bergegas naik ke tempat tidurnya tanpa melihat Dio yang masih duduk di sofa.
"Ran," panggil Dio.
"Hmmm …" jawab Rania dengan bergumam saja.
"Pinjam bantal dong," pinta Dio.
"Ih … kamu ganggu saja, Dio," tukas Rania.
"Nih…!" Rania melempar bantal untuk Dio.
"Kasar sekali kamu, Ran," ucap Dio.
"Lebih kasar kamu, Dio. Sudah tidur, jangan berisik!"
Rania kembali menutup tubuhnya dengan selimut tebalnya. Dia menambah suhu AC nya, tidak peduli Dio yang kedinginan tanpa selimut.
"Rania, kamu mau membunuhku? Gila dingin sekali," gumam Dio.
Dio memejamkan matanya yang sudah sangat mengantuk sekali walaupun sangat kedinginan. Rasa dingin semakin menusuk ke tulang-tulangnya. Rania tertawa di balik selimutnya. Dia tahu kalau Dio sangat tidak kuat pada suhu dingin.
"Ran, ini dingin sekali, kamu mau membunuh aku?" ucap Dio dengan membangunkan Rania yang pura-pura tidur.
"Ran, remote AC nya mana?" Dio membuka selimut Rania.
Dia melihat Rania sudah tidur, tapi sebenarnya dia pura-pura tidur. Dio menatap wajah Rania yang manis itu. Dia mengusap kepala Rania dan mencium kening Rania.
"Ran, aku turuti kalau kamu ingin bercerai dengan ku. Tapi, aku akan mencoba dan selalu mencoba menumbuhkan rasa cintaku kembali padamu. Aku akan berusaha mencintaimu, Ran." Dio berkata lirih di depan Rania yang pura-pura tidur dan mencium kening Rania lagi, lalu tidur di sofa lagi meskipun dingin sekali di kamar Rania tanpa selimut.
__ADS_1
Rania membuka matanya dan tanpa terasa air mata Rania luruhh membasahi pipinya. Dia sebisa mungkin menahan isak tangisnya dan mengubah suhu AC nya.
"Dio, maafkan aku, aku tahu, di dasar hatimu masih mencintaiku, tapi kamu tidak menyadari itu. Jika memang kamu jodohku, kamu akan kembali bersamaku Dio, entah itu kapan," gumam Rania.