Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
BSB_10


__ADS_3

Pulang Kantor.


Pulang kerja Farid ikut sama Frans ke rumah dengan alasan Farid mengatakan kalau dia kangen sama mama Frans dan juga masakan nya.


Alasan klasik namun Frans tidak melarang, hanya minta makan kan itu mah tidak seberapa kecuali minta mobil keluaran terbaru baru tidak akan Frans kasih tapi bisa juga asal ada syarat.


"Mama aku kangen,"


Menghampiri mama Frans yang lagi bersantai sama papa di teras rumah menikmati suasana sore.


Tanpa rasa malu mendekat dan melupakan kalian di sana masih ada suami dan anak pemilik yang di panggil mama.


"Kalau ngak laku ya gini, tante tante aja di embat,"


Sindir papa Frans yang melihat tingkah sahabat anaknya yang manja pada sang istrinya.


"Bukan ngak laku pa, hanya aja belum bertemu yang pas,"


Elak Farid yang tidak mau di bilang tidak laku.


Masa cowok setampan Farid tidak ada yang mau, kan dia nya yang pemilih.


Lagian dia kurang apa coba, tampan sudah pasti, uang jangan di tanya lagi, jabatan jangan di ragukan lagi.


Lalu apa yang kurang coba, dia nya aja yang pemilih.


"Mana mau perempuan sama kamu, kalau jalan sama dia ( menunjuk Frans yang hanya jadi penonton) dikira orang kalian penyuka sesama jenis,''


Papa jahat sekali itu kata kata, setampan ini di bilang suka sesama jenis.


Ada yang luka pa tapi tak berdarah.


" Sorry pa, semangka masih enak ketimbang terong,"


Frans bukan suara tidak terima dikira penyuka sesama jenis, amit amit.


Perempuan masih banyak dan kalau pun tidak ada lagi maka lebih baik sendiri kan.


Frans berlalu dari sana dan masuk kamar.


Membersihkan diri tujuan utama sebab sudah tidak enak memakai baju yang terasa lengket.


"Kamu kapan kenalin pasangan sama mama?"


Membelai kepala Farid yang ada dalam dekapan itu.


Farid sudah di anggap anak sendiri oleh keluarga itu.


"Jangan kayak papa deh ma, nanya nya bikin nyesek aja,"


Ya laki laki dewasa ya pasti di tanya pasangan lah, mau nanya apa lagi coba.


Sudah seperti menanyakan hal sensitif pada perempuan dan langsung memasang wajah cemberut.


Lagian juga wajar orang tua menanyakan kapan anak mereka memiliki serta mengenalkan pasangan mereka pada orang tua.


"Kan suami mama,"


Kekeh mama yang suka melihat wajah merajuk itu namun tidak cocok sama sekali.


Iya deh yang punya suami mah bebas dan pasti di bela, ngenes amat Rid tidak ada yang bela.


Makanya buruan cari pasangan biar ada pembela.


Di cari, emang hilang apa?.


"Aku mau mandi dulu ya ma pa,"


Pamit Farid berjalan masuk, tujuan nya adalah kamar Frans buat numpang mandi sekalian pinjam baju ganti.

__ADS_1


Selain juga sudah gerah karena keringat juga gerah di sebabkan pertanyaan yang langsung nyungsep ke hati, perih.


Masuk kamar itu ternyata yang punya belum selesai mandi masih terdengar bunyi air dari kamar mandi.


Frans keluar kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk yang melilit di pinggang hingga menampilkan perut kotak kotak.


"Au mata gue ternoda,"


Dramatis Farid sambil menutup mata tapi jari jari nya terbuka hingga bisa mengintip.


Seperti anak gadis saja.


"Kayak perawan aja lo, udah sana mandi,"


Geli melihat tingkah Farid yang sok gitu, ternoda apa coba sama sama sejenis juga.


"Tau aja lo kalau gue mau numpang,"


Cengir Farid berjalan ke arah kamar mandi.


Ada kamar lain di rumah itu namun entah mengapa Farid lebih suka mandi di kamar Frans dan bisa langsung minjam baju, jiwa apa namanya itu suka minjam.


"Dari wajah lo udah keliatan,"


Mengambil baju ganti lalu di pakai.


Emang ada tulisan mau minjam apa, apa segitunya ya Farid kalau mau minjam atau numpang ketara di wajah tampan itu.


Selesai makai baju Frans keluar kamar menuju ruang keluarga di sana sudah ada papa mama Frans yang sudah pindah duduk yang tadi berada di teras depan.


"Farid belum selesai Frans?"


Melihat Frans turun sendiri.


"Kan mandi gantian ma, jadi ngak bareng.


Bukan rahasia lagi kalau Farid lebih suka mandi di kamar Frans dengan alasan supaya tidak susah bolak balik ambil baju ganti.


"Maklum aja,"


Iya selama ini sifat Farid selalu di maklumi saja hingga kadang rasanya pengen mukul saking terlalu sering makai kata maklum dan dia makin nglunjak.


"Bukan kata maklum lagi yang pas buat dia ma, tapi udah biarin aja.


Kayak orang susah, udah mandi numpang, nanti baju minjam abis tu makan minta lagi,"


Itu ngungkit atau ngak rela sih Frans.


Sama sahabat sendiri masa gitu, tapi iya juga setidaknya kalau pergi kan bisa bawa baju ganti tarok dalam mobil dan bisa di gunakan kapan aja.


Cara orang bersahabat kan berbeda tiap orang.


Ada yang cuma suka cerita, ada yang sekalian suka makai barang, ada yang leluasa sikapnya.


Ada juga yang kurang ajar seperti Farid, maka kalian terserah berada di posisi mana.


"Kok belum pada makan, pasti nungguin anak mama yang tampan ini,"


Tuhan tolong sadarkan makhluk engkau yang satu ini atau mau di jemput juga tak apa kami ikhlas.


Apa dia katarak ya, tidak lihat apa orang lagi santai di ruang keluarga mana ada makanan.


"Eh anak curut bisa liat tidak,"


Geram Frans yang ingin sekali menendang Farid dari sana lalu membuangnya ke empang.


"Ngak, udah ayok makan semua anggap aja rumah sendiri,"


Farid langsung jalan ke meja makan yang mana makanan sudah tertata di atasnya hanya menunggu penikmatnya datang saja.

__ADS_1


Jam juga sudah menunjukkan jam makan malam.


Namun ngak gini juga caranya, masa tamu yang ngajak makan bukan tuan rumah kan aneh.


Cuma di rumah ini ada tamu yang tak tau diri dan ngajak makan tuan rumah.


Boleh di usir tidak sih tamu seperti ini bikin darah tinggi saja.


Mereka makan dengan sedikit tidak tenang sebab Farid ada saja yang dia bicarakan hingga membuat orang di meja makan itu ingin sekali melemparkan piring ke wajah mereka.


Makan malam usai dan di lanjut dengan obrolan ringan diselingi canda tawa serta ejekan status jomblo yang mana masih menjadi topik utama.


Apakah sebuah status adalah sebuah lelucon atau alat buat di jadikan bahan obrolan atau mereka saja yang suka menistakan, entah lah kita juga tidak tau atau bisa jadi juga sudah nasib mereka harus menerima ini semua.


Di lain tempat.


Di rumah ini hanya mereka berdua saja, merasa kesepian sudah pasti namun harus bagaimana lagi ini sudah terbiasa sejak setahun terakhir ini.


Ingin melarang juga tidak bisa jadi dengan memberi dukungan yang bisa di lakukan kala itu.


Tidak bisa menentang apa yang sudah jadi keputusan final itu dan berharap semua itu hanya sebentar.


"Kapan Ndah skripsinya, bentar lagi kan?"


Ibu selalu seperti ini kepada anaknya dulu pada kakak nya begitu juga menanyakan tentang bagaimana Sekolah anaknya.


"Iya Bu bentar lagi, kalau ngak meleset delapan bulan lagi udah bisa mulai,"


Cuma ini aktifitas mereka sejak tinggal berdua saja.


"Selesai kuliah kerja dekat dekat sini aja ya,"


Pinta Ibu yang tidak ingin di tinggal kerja lagi oleh anaknya cukup satu saja jangan sampai keduanya.


"Kenapa Bu takut kangen sama Indah ya?"


Menaik turun kan alis menggoda Ibu.


Indah juga tidak ingin habis kuliah harus kerja jauh dari Ibu nya.


Selain tidak biasa, dia juga tidak mau ibu nya sampai sedih di tinggal sendiri.


Dan juga kakak nya sudah berpesan sebelum pindah dulu, agar jangan pernah membiarkan ibu nya sendiri dan maka dari itu juga selalu menentang saat Indah bekerja.


Sebab kalau Indah sudah bekerja maka waktunya banyak habis di luar rumah dan akan pulang saat malam tiba.


"Ibu bukan takut kangen Ndah, tapi siapa nanti yang akan ibu marahi kalau kamu jauh dari Ibu,"


Apa hanya itu, hanya itu alasan ibu tidak ada yang mau di marahi.


Hey Ibunda tercinta apakah anak mu di lahirkan untuk di marahi.


Apa ibu sekejam itu? ibu bukan ibu tiri Indah kan? jadi plis jangan kejam kejam amat sebab si amat tidak tau apa itu kejam.


"Indah bisa apa atuh kalau kehadiran Indah hanya di jadikan bahan pelampiasan amarah ibu.


Sok atuh ibu bebas marahi ibu sebab Indah ngak akan pernah membalas,"


Pasrah Indah pura pura sedih.


Anak kandung berasa anak tiri, nasib emang ya tidak selalu berpihak sama kamu Ndah.


Tolong di tanyain Ndah apa bisa tukar tambah ibu.


Malam semakin larut hingga mereka putus kan buat mengakhiri obrolan itu dan masuk kamar masing masing buat istirahat dan berharap bangun pagi dengan lebih baik lagi.


\=\=\=\=\=


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2