
"Sedang apa kamu disini?"
Agnia tersentak, "Sial banget kalau ketahuan ramre Dita!"gumamnya pelan.
Kemudian dia menolehkan kepala ke arah suara, tentu saja dengan dada yang bergemuruh hebat, dan membayangkan dirinya tertangkap basah saat itu juga.
"Sekretaris Kim? Se--se--sedang apa di sini?"
"Nia? Aku yang bertanya padamu?"
Seketika dadanya merasa lega, melihat sosok wanita dihadapannya bukanlah Dita, melainkan Ayana Hakim.
"Ak--aku tadi, i--itu!!" Nia masih gelagapan dengan menunjuk pintu kamar di belakangnya.
"Ikut aku sekarang juga!"
Sekretaris Kim melangkah lebih dulu menuju lift, dan Agnia menusulnya dari belakang, mereka tidak ada yang berbicara sedikitpun, Sekretaris Kim memandang lurus tanpa ekspresi, sementara Agnia diam-diam meliriknya, entah apa yang terjadi, gadis kecil itu sama sekali belum mengerti.
Pintu lift terbuka, wanita berambut pendek itu keluar dari sana, bahkan langkahnya terlalu cepat, hingga Agnia harus ikut melangkah lebih cepat dari biasanya.
"Duduk!" titahnya pada Agnia.
Agnia duduk disatu sofa, tak lama sekretaris pribadi dari seorang Zian itu pun ikut duduk dihadapannya.
"Apa yang Nia lihat hari ini?" ucapnya tanpa basa-basi.
"Nia lihat Anandita masuk ke hotel ini, bersama seorang pria!"
Kenapa sekretaris Kim gak kaget Nia bilang seperti itu? Apa sekretaris Kim sudah tahu....
Kim terlihat biasa saja, dia malah terlihat menghela nafas panjang, dan kedua matanya menatap Agnia dengan lekat.
"Apa sekretaris Kim tahu hal ini?"
Tanpa disangka dia mengangguk, "Aku tahu!"
"Om Zian tahu juga?"
"Tentu saja tidak Nia, kalau dia tahu, dia bisa mati bunuh diri!" ucapnya mendengus.
Agnia tersentak, "Pria lemah itu pasti terlalu bucin padanya,"
"Kau juga tahu itu Nia, dia itu terlalu mencintainya! Bodoh sekali...."
"Memangnya sekretaris Kim tidak akan bilang padanya?"
Kim menggelengkan kepalanya, "Sekalipun aku bicara padanya, dia tidak akan percaya! Bisa-bisa aku yang ditendangnya! Kecuali ada yang membuat perhatiannya teralihkan...."
"Apa?"
Sekretaris Kim tidak menjawab, dia justru tersenyum ke arah Agnia, membuat gadis kecil itu merasa heran.
"Ayo aku antar kamu pulang!" ucapnya dengan bangkit dari duduknya. Sementara Agnia yang masih tidak mengerti itu hanya diam.
__ADS_1
Kim menoleh, "Ayo Nia? Apa kau ingin Nona Dita melihatmu disini?"
Agnia buru-buru bangkit dari sofa, lalu mengikuti sekretaris Kim keluar dari hotel.
"Jangan katakan apa-apa pada Bos Zian!"
"Sekretaris Kim, kenapa kau tidak mengambil gambarnya, atau mem- video dan berikan padanya, Om Zian pasti percaya!"
Kim membuka pintu mobil untuk Agnia, "Tidak semudah itu, profesinya sebagai model internasional, selalu menjadi alasannya!"
Kim kemudian menutup pintu mobil setelah Agnia masuk, lalu dia sendiri masuk ke belakang kemudi.
Agnia mengernyit, "Maksudnya, ini bukan hal yang pertama?"
"Hem ... seperti itu lah!"
.
Zian terlihat mondar-mandir diatas balkon, dengan terus melirik jam yang melingkar di tangannya lalu berkali-kali melihat ponselnya.
Dia merasa resah karena Dita belum mengabarinya sama-sekali. Bahkan nomor ponselnya pun tidak aktif, dia juga mencoba menghubungi managernya, namun pria tulang lunak itu tidak mengangkatnya sama sekali.
"Apa aku harus menyusulnya kesana?" gumamnya.
"Jika dihitung dari jam keberangkatan, seharusnya Dita sudah landing, apa dia sedang sibuk, atau dia langsung tertidur karena kelelahan." monolognya sendiri.
Dreet
Dreet
"Honey ... dari mana saja? Kenapa baru memberiku kabar?"
"Bos?"
Seketika Zian tertegun, lalu melihat layar ponsel menyala itu, bukan Dita yang menghubunginya.
"Ada apa Kim?" Zian mendengus.
"Aku didepan, bersama Nia!"
Zian turun dan berjalan dengan kesal, lalu membuka pintu untuk mereka.
Ceklek
Kim dan Agnia saling pandang, lalu menatap kembali ke arah Zian yang terlihat gusar. Agnia tidak mengatakan apa-apa, kedua matanya menyapu ruangan, memastikan kehadiran Dita yang tampaknya tidak ada disana.
"Kim ... siapkan tiket pesawat untukku, aku ingin ke New York malam ini juga!" ujarnya dengan kembali naik ke lantai 2, lalu menghilang di balik pintu kamarnya.
Kim menghela nafas, sementara Agnia masih terpaku ditempatnya dengan menatap wanita dewasa yang tengah kebingungan itu.
Tak lama Zian turun dengan menggeret koper miliknya, dia telah bersiap-siap untuk menyusul kekasih hanya karena belum memberikan kabar padanya.
"Bos ... lebih baik kau tidak usah menyusulnya ke sana,"
__ADS_1
"Dia tidak memberiku kabar Kim, padahal dia sudah landing, aku khawatir!"
"Lebih baik tidak usah, mungkin Nona sedang sibuk! Makanya belum sempat mengabarimu."
Zian menatapnya tajam,
"Sudah kau urus saja tiket keberangkatanku!" sentaknya, yang membuat Agnia melonjak kaget.
"Oke ... aku siapkan, tapi kau harus pergi bersama Nia!"
Agnia mengerjapkan matanya ke arah Kim, begitu juga Zian yang tersentak kaget, "Kau gila Kim ... menyuruhku pergi dengannya, dia hanya akan merepotkanku!"
"Heh ... Om gila, sejak kapan Nia merepotkanmu! Bukannya sebaliknya, sejak bertemu dengan Om, hidupku jadi kacau!" pungkas Agnia dengan kesal.
"Heh ... kau tidak sopan pada orang yang lebih tua!"
"Aku hanya akan sopan pada orang yang pantas! Bukan Om-om lemah karena cinta, sampai mudah di bo---" ucapannya terjeda setelah Kim menarik lengannya.
"Pergi dengan Nia, atau tidak sama sekali!" tegas Kim.
Zian mendengus, "Kau ingin ku pecat Kim?"
"Dengan senang hati Bos!"
Zian melemparkan kopernya ke arah kaki Kim, lalu dia kembali naik dan masuk kedalam kamar.
Agnia yang merasa heran pun mendekati Kim, "Kenapa malah nyuruh Nia nemenin ke New York, kenapa gak bilang terus terang saja padanya!"
"Belum saatnya! Dan lebih baik kau ikuti saja Nia!"
Agnia menghentakkan kakinya, lalu meninggalkan sekretaris Kim, dan masuk ke dalam kamar.
Tunggu, New York? Jadi perempuan itu bilang pada om Zian pergi ke New York, tapi nytanya dia masih disini, pergi ke hotel dengan pria lain? om Zian gak bilang pacarnya sudah pergi? Lalu untuk apa gue masih disini? Harusnya gue bisa pulang sekarang juga kan?
...
Tok
Tok
"Nia ... buka pintunya!" Suara Zian yang menggelegar, mengagetkan Agnia yang tengah membereskan barang-barang miliknya kedalam tas.
"Nia ... Agnia! Kamu belum tidur kan?"
Agnia berdecak dengan membuka pintu kamarnya, "Apa sih Om?"
"Temani aku makan!"
"Tinggal makan aja ribet banget sih, harus ditemani segala, memangnya Om gak bisa sendiri apa? Kan tinggal makan aja."
Zian yang sudah berjalan terlebih dahulu kembali menoleh, "Buruan...!"
Agnia mendecak, "Apaan sih!! Udah tua ngeselin banget! Lagi pula Nia mau pulang hari ini juga!"
__ADS_1
Zian menghentikan langkahnya kembali,
"Tidak bisa! Sudah kuputuskan untuk menyewamu lebih lama."