Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 295


__ADS_3

...Tuh kan gitu ... sebel deh! Giliran othor up cuma 1 bab pada bawel. Udah up 3 bab eeehh komennya cuma di bab akhir doang. Ayolah ... othor tahu kalian keasikan baca sampe lupa like dan komen, tapi gak kasian apa sama othor. Bayangin coba wajah othor yang paripurna ini sedih karena kalian komennya loncat loncat. Hiiisss. Tega nya....


.


"Hentikan semua aktifitas memasak kalian dan semuanya keluar sekarang juga!"


Suara Zian menggelegar, menyuruh semua staf dapur beserta kepala koki untuk meninggalkan dapur seseger mungkin.


"Maaf tuan! Anda tidak berkepentingan disini, dan juga tidak berhak memberi perintah pada kami." sahut kepala koki dengan tegas, satu persatu dia pandangi dengan tajam.


"Lakukan saja perintahnya! Atau kalian akan di anggap menyulitkan pencarian dan membayar denda saat polisi datang kemari." tambah Kim. "Keluarlah ... beri kami waktu 10 menit saja. Kalau tidak ada maka kami akan pergi." ujarnya lagi.


Pria asal Singapura itu menghela nafas, dia tidak punya pilihan selain harus keluar. Dia pun membuka apron yang terpasang di tubuhnya, dan menyuruh semua orang keluar.


"Kalian hanya membuang waktu saja! Orang yang kalian cari tidak mungkin ada di sini." ujar kepala koki saat melewati mereka dan keluar dari ruangan dapur itu.


Semua kompor telah di matikan, begitu juga bahan masakan yang tengah di olah di atas wajan dibiarkan begitu saja.


Zian melangkahkan kaki nya mencari Agnia, di ikuti oleh Kim, dan Dave jiga Laras.


"Kim ... aku---"


"Berpencarlah ke sana, agar kita cepat menemukan putrimu." Ujarnya tanpa menoleh.


Dave menghela nafas, dia pun menghentikan langkahnya dan menuju ke arah lain bersama Laras.


Zian masuk ke ruang penyimpanan, deretan lemari berisi bahan bahan baku masakan, bumbu dan juga botol botol yang entahlah Zian sendiri tidak tahu.


"Kau yakin Nia di sini?"


"Hm ... perasaan ku mengatakan dia ada disini. Karena semua tempat sudah diperiksa dan hanya tempat ini yang belum kau periksa bukan Kim?"


Kim mengangguk pelan, memang ruang penyimpanan lah yang luput dia periksa, disamping kepala koki yang melarangnya, juga karena Agnia sudah pasti tidak akan di temukan di sini.


Kedua manik tajam dari pria berumur 34 tahun itu tiba tiba membola saat pandangannya mengunci sesosok gadis yang membuatnya frustasi.


"Nia?"


Gadis itu menoleh dan menatap suaminya dengan pandangan nanar, ditangannya sebungkus camilan berbahan kulit ikan yang di bumbi telur asin yang hampir ludes setengahnya, di sampingnya semangkok Kari Singapura yang terkenal enak telah tandas dan hanya tersisa sendok saja.


"Hubby? Ak----!"


Zian bergegas mendekatinya, dengan sekali gerakan dia menarik tubuh ringan Agnia dan memeluknya. "Ternyata kau benar benar disini Baby? Aku sangat khawatir padamu."

__ADS_1


"Nia?" ujar Dave yang bergegas menyusulnya., begitu juga Laras.


"Hubby! Emangnya acara nya sudah selesai? Kok gak kasih tahu Nia? Lagi pula Nia disana kayak orang bego. Gak ngerti sama sekali."


Zian mengangguk lirih. "Maaf ... harusnya aku mengatakannya padamu saat kau bertanya."


"Nia gak apa apa kok! Beneran,"


Zian mengurai pelukannya, dia menatap wajah Agnia dengan sendu, dan gadis itu tengah menutupi semuanya dengan rapi.


"Kau tahu bagaimana cemasnya aku Nia Hm?"


"Benarkah?"


Kalau iya kenapa malah acara begituan, bukan resepsi aja sih! Atau apa kek kejutan buat gue.


Zian kembali menarik bahu sang istri dan memeluknya lagi. "Bodoh! Tentu saja aku mencemaskan istri dan anakku yang tiba tiba saja menghilang."


"Itu karen---"


"Maafkan aku baby! Harusnya aku lebih mengerti dan memahamimu lagi."


Agnia tertegun, dia belum mengatakan apa apa pada Zian, apalagi tentang perasaannya yang tiba tiba kecewa hanya karena semua tidak sesuai harapannya.


"Jangan pernah pergi tanpa mengatakan apa apa." Lirih Zian yang semakin merekatkan pelukannya.


.


.


Keduanya keluar dari ruangan penyimpanan makanan, Kim, Dave serta Laras mengikutinya dari belakang. Dan mereka berpapasan dengan kepala koki yang tengah menunggu di luar.


"Kau?" tunjuknya pada Agnia.


Agnia mengulas senyuman, serta menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Pria bertubuh tambun itu menghela nafas lalu membalas senyuman Agnia.


"Maaf sudah merepotkan anda," ujar Zian, pria itu mengeluarkan dompetnya dan mengambil beberapa lembar uang Singapura, dan memberikannya pada kepala koki.


"Anggap saja ini kompensasi dari ku karena istriku mengemil di ruang penyimpanan."


"Haiissh ... kenapa dia bisa masuk tanpa aku ketahui." gumamnya.

__ADS_1


Sementara Agnia hanya mengeratkan gigi putihnya yang berjajar rapi. Lalu dia menundukkan kepala sebagai permintaan maaf.


"Kulit ikan buatanmu sangat enak! Terima kasih."


Zian menoleh ke arahnya, dia baru tahu jika yang di makan Agnia itu adalah kulit ikan. Dia pun melepaskan tangan Agnia.


"Skin Fish?"


Agnia mengangguk, dia melihat kearah Zian yang kini mengeluarkan sapu tangan dan mengelap tangannya.


"Kenapa? Jangan bilang kau tidak suka kulit ikan?"


"Aku tidak suka ikan." ujarnya sembari melangkahkan kaki.


Agnia menyusulnya, "Tapi ini sangat enak! Hanya kulitnya saja dan dibaluti telur asin. Jadi gak bau amis."


"Cuci dulu tanganmu Baby!"


Agnia mencium tangannya sendiri, lalu menggosokkan nya di pakaian yang dia kenakan."Gak bau amis kok! Gak usah cuci tangan."


"Tetap saja! Segala bentuk apapun dari ikan, aku tidak menyukainya."


"Isssh ... tadi aja bilangnya dia gak akan ninggalin Nia, sekarang lihat ... dia sendiri yang ninggalin Nia."


Laras menyusulnya dan meraih tangannya, "Nia ... benarkah kau kesal karena acara ini dan pergi begitu saja karena marah?"


"Iya Mom ... awalnya saja! Nia juga bingung kenapa tiba tiba jadi kesal karena---," ucapan Agnia terhenti, Lupakan. Lo cerita sama Momy kalau lo berharap disini gedung resepsi nikahan gue. Lo hanya akan malu Nia.


Laras mengernyit, "Karena?"


"Ah enggak Mom, mom sendiri ngapain ada di sini? Bukankah cabang baru momy hari ini dibuka?" Agnia malah balik bertanya. Membuat Laras tidak bisa menjawabnya.


"Apa momy kesini karena dapet kabar Nia hilang? Maafin Nia Mom."


Laras menghela nafas berat, dia memberikan alasan pembukaan cabang baru hanya agar Agnia terkejut melihatnya. Namun semua gagal saat dia dihubungi kalau Agnia hilang.


"Aa ... ya begitu lah sayang."


"Maaf Mom."


Laras memeluk sang putri yang tengah hamil muda itu, Lebih baik tidak menjawab apa apa selagi Zian juga belum memberikan penjelaskan apa apa. Ditambah saat ini melihat sikap yang ditunjukan Zian.


"Itu bukan masalah besar baby!"

__ADS_1


Agnia mengangguk lalu melihat punggung tegap Zian yang tengah berjalan kesal.


"Mom ... Nia harus nyusulin om Zian."


__ADS_2