
Decakan demi decakan kian terdengar merdu seiring tautan kedua benda kenyal yang semakin membelit indah dan saling mencecap satu sama lain. Tangan Zian perlahan turun, menyusur ke area pinggang, merapatkan jarak yang bahkan tidak bersisa diantara mereka hingga semakin beradu.
Terus turun hingga ke berhenti di gumpalan daging dibelakang Agnia, benda singsat yang diremmasnya perlahan, hingga Agnia merasa gelayar aneh menyerangnya tiba tiba.
Agnia menahan tangan Zian yang meremmas bokongnya perlahan, meletakkannya kembali dipinggangnya, namun kembali turun dengan nakalnya.
"Ini kantor Pak Superman," Lirih Agnia melepaskan tautan bibirnya terlebih dahulu.
"Ya aku tahu ini kantor!" Jawab Zian mengangkat tubuh sang istri, membuat Agnia tersentak dan nyaris berteriak, lalu membawanya duduk disofa.
"Kamu yang datang menyerahkan diri!" bisik Zian dengan suara berat, pada gadis yang kini duduk dipangkuannya, "Jadi aku tidak salah! Dan aku akan menagih hadiahku hari ini."
Agnia memukul bahu Zian dengan keras, "Ih ... ini kantor! Masih aja otak mesum, Nia kesini mau bantuin kerjaan, bukan hal hal kayak gitu! Itu bisa dirumah nanti." Ujarnya dengan berusaha bangkit dari pangkuan Zian, namun Zian kembali menarik pinggangnya hingga kembali terduduk.
"Ayolah baby!"
Agnia menggelengkan kepalanya, "Kerja!"
Gadis itu bangkit dengan melepaskan tangan Zian, dia berjalan ke arah kursi kekuasaan mikik Zian dan duduk disana. Kursi panas yang membuat suaminya bekerja keras, melihat lihat apa yang ada di atas meja. Dan menemukan sesuatu.
"Kamu ada meeting sebentar lagi?" ujarnya llau melirik jam tangan yang melingkar ditangan Zian yang mengikutinya dan bersandar pada meja disampingnya dengan menghadap ke arahnya. Zian mengangguk, "Itu bisa aku atur, aku bisa mundur satu jam!" Kedua alisnya naik turun, membuat Agnia berdecak, lalu kembali melihat jadwal berikutnya, "Kalau mundur kau hanya akan bentrok dengan Pt Gemilang yang akan datang kemari. Bu Irene, siapa nih ...!"
"Ceo PT Gemilang."
Agnia mengangguk, "Nah kan ... makanya! Tidak ada waktu bermain main, kerja dulu." sambungnya dengan serius.
"Kamu lebih galak dari pada Kim Baby ...!" Zian menarik hidungnya lembut.
__ADS_1
"Tentu saja ... itu karena aku bukan sekretaris Kim yang takut padamu atau takut kamu marah."
"Memangnya kau tidak takut aku marah padamu?"
Agnia mengelengkan kepalanya, dia bangkit dan melingkarkan kedua tangan di leher Zian, "Tidak ... karena aku mencintaimu! Dan aku percaya My Superman yang tampan ini tidak akan marah tanpa sebab padaku, bukankah yang aku lakukan adalah hal yang benar?"
"Wow ... Gaya bicara dan ucapanmu luar biasa, My Baby sekretaris."
Agnia tergelak, "Apa Nia udah kayak sekretaris beneran?"
Zian mengangguk, membalikkan tubuhnya dan mengangkat Agnia ke atas meja, "Bukan hanya sekretaris, kamu mempesona Nia, dan membuatku tidak bisa menahannya lagi."
Zian kembali menyambar bibir Agnia, kali ini dia dengan kedua tangan yang menggulung rambut Agnia dan mengikatnya dengan gelang karet yang dia rogoh dari saku celananya.
Mengecup leher Agnia dengan lembut dan membuatnya harus menggigit sedikit bibirnya, aliran darahnya kembali berdesir saat Zian menyisir lehernya begitu lembut.
Kedua tangannya perlahan membuka kancing blazer yang dikenakannya, dan membuat jantungnya berdegup semakin kencang.
"Aaaahhkk ...!" Agnia kembali harus menggigit
bibir bagian dalamnya saat Zian menenggelamkan kepala di puncak dadanya, memilin tonjolan kecil berwarna pink di balik penutupnya.
Membuat Agnia semakin terbuai, namun tidak lama, karena dia kembali mendorong bahu Zian dengan cepat. "Kalau kita melakukannya disini! Bukan hanya akan membuatmu telat tapi juga memperburuk keadaan, om nanti kelelahan, tidak fokus bekerja dan fatal ... gagal meeting bahkan lebih buruk dari itu, kehilangan klien. Mau ....?"
Zian berdecak, melonggarkan dasinya tapi memeluk Agnia erat, "Hanya padamu aku bisa lemah begini Nia ... tidak berdaya, bahkan marah sekalipun!"
Agnia ikut memeluknya, sambil tertawa, "Harus dong, itu namanya suami."
__ADS_1
Gadis itu kembali merapikan dasi Zian, dengan terus tersenyum, Zian menatapnya lekat dengan kedua tangan mengunci tubuh Agnia.
"Aku beruntung memilikimu Nia ... tidak hanya hatimu, tapi pemikiranmu yang dewasa."
"Itu karena kamunya aja yang bucin! Sama Dita juga gitu! Kan....?"
"Ya ... karena aku tidak akan pernah main main dengan perasaan, hanya saja Dita tidak memerankannya dengan baik, tidak mengarahkanku pada yang baik baik seperti mu."
Agnia berdecak, "Hih ... mana ada, yang di otakmu kan hanya mesum!"
"Ya itu hanya masa lalu Nia, aku memang bukan pria baik baik baby, aku pernah jadi pria brengsekk tapi aku lah orang yang tepat yang datang di waktu yang tepat dan akan menjadi satu satunya orang yang tepat untukmu."
Zian tidak main main dengan ucapannya, terlihat dari kedua manik nya yang bersinar dan menatap Agnia dengan penuh cinta. Gadis itu mengulum senyuman, itu memang benar, Zian memang datang di waktu yang tepat, walau datang dengan cara yang sedikit berbeda dan penuh drama namun berakhir dengan indah dan bahagia.
"Kenapa senyum senyum? Apa aku salah bicara baby?"
"Enggak ... ya walaupun Nia dengernya agak lebay, tapi itu kenyataannya."
"Jelas kan? Aku bahkan lebih hebat dari pada pria lain yang terlalu pengecut ingin menciummu diam diam seperti Adam, atau menyukaimu sekian lama dan malah bersembunyi dibalik nama persahabatan seperti Regi, menatapmu diam diam, bahkan setiap kamu pulang sekolah.
Agnia membulatkan kedua manik hitamnya, "Eeh ... kenapa membahas mereka sih?"
Zian tergelak, "Itu artinya, aku lebih hebat!"
"Tentu saja ... kau kan Mr Superman. And I love you so much!"
.
__ADS_1
.
Cie om bikin othor klepek klepek kan jadinya wkwkkw ...