
Dave kembali mendengus saat mendengar cibiran yang dilayangkan oleh sahabat yang kini jadi menantunya itu, hingga rasanya dia ingin sekali memukulnya, namun mengingat hal yang terjadi semalam, membuat dirinya mengurungkan niatnya, dia masuk kedalam kamar dan membantingkan tubuhnya diatas ranjang, mengingat semua yang terjadi saat malam.
Tubuhnya ... desahhannya, bahkan dia memejamkan mata saat membayangkan kembali apa yang tengah dia alami semalam. Imannya benar benar diuji kala itu, has rat yang sudah lama tidak dia dapatkan kembali menyeruak hebat, ditambah reaksi sang gadis yang membuatnya hampir gila.
"Brengsekk ... kenapa harus terus membayangkannya lagi!" Dave kembali bangkit memukul nakas yang berada di sisi ranjangnya, lalu mendaratkan kembali bokongnya di sofa, dengan kasar, dia meraup wajahnya.
Dia menatap foto Jasmine yang tergantung di dinding, gadis manis itu seolah tersenyum ke arahnya.
"Jasmine ... apa kau senang? Kau bisa lihat perubahan diriku kan? Aku tidak lagi sama Jasmine, kau melihatnya dari atas sana bukan?" ujarnya dengan terus menatap foto Jasmine yang tengah tersenyum.
Dave pun terkekeh, "Kau yang curang Jasmine, kau tidak berubah sedikitpun ... masih manis seperti dulu," Dave berdecak, "Bahkan di foto itu kau masih mengenakan seragam! Curang sekali!"
Dave menghela nafas, dia harus benar benar melupakan kejadian malam tadi, kejadian yang akan dia sesali seumur hidupnya jika itu terjadi, walaupun has ratnya harus dia tahan setengah mati.
"Jangan menertawakan ku Jasmine! Tidak ada yang terjadi pada kami semalam, aku tidak menyentuhnya sama sekali kau tahu! Walaupun rasanya sangat ingin, dan aku menahannya mati matian ... itu tidak boleh lagi aku lakukan! Bisa bisa Zian menertawakan ku dan putriku sendiri akan kecewa padaku kan!" ujarnya tetap pasa foto Jasmine yang tergantung di dinding kamar, "Haiissssh ... aku seperti orang gila ... karena bicara pada fotomu Jasmine."
Dave keluar dari kamar, lalu berjalan turun menuju tangga, Agnia yang baru saja keluar pun melihatnya.
"Daddy?"
Dave menoleh, bibirnya melengkung sampai ujung, dia menghentikan langkahnya dan menunggu sang putri berjalan ke arahnya.
"Kapan Daddy pulang? Nia gak tahu!"
"Baru saja Daddy pulang sayang, Daddy juga akan kembali ke kantor, Bagaimana kabarmu?"
Keduanya melanjutkan langkah mereka, Zian menyusulnya dari belakang, dia berjalan yang hanya berbeda dua anak tangga.
"Tentu saja dia baik baik saja Dave! Kau bicara seolah aku mengurusnya dengan tidak baik!"
"Aku tidak bertanya padamu!" ketus dave tanpa menghentikan langkahnya.
Membuat Agnia menghela nafas, Dave bahkan berjalan lebih dulu, dia duduk lalu menyoroti Zian yang menggenggam tangan Agnia, hingga mereka berjalan bersamaan.
Dave memperhatikan langkah anak perempuan nya itu, merasa ada yang berbeda dari cara Agnia berjalan, seperti sesuatu yang dia tahu ketika seseorang sudah tidak lagi sama, wajahnya juga sedikit pucat, walaupun Agnia memakai sedikit bedak dan juga liptint untuk menutupinya.
Giginya bergemelatuk, menahan sesuatu yang menyeruak dalam dirinya, urat urat dalam tubuhnya tiba tiba menegang, menatap Zian yang kini tengah menarik kursi untuk Agnia, lalu dia sendiri duduk. Terlihat wajah Zian berseri seri dengan mengulas senyuman yang terus terbit di bibirnya. Sedangkan Agnia tampak lelah dan mengantuk, senyuman yang lebih pendek dari biasanya juga terus menunduk saat Dave melihatnya.
__ADS_1
Tangan Dave mengepal, kekesalannya memuncak, kenapa Zian tidak bersabar lebih lama lagi, setidaknya menunggu Agnia lulus sekolah, umurnya masih belum dewasa baginya, dia masih gadis kecil yang masih ingin mengejar mimpinya, bagaimana bisa Zian tidak memikirkan hal itu, berbanding terbalik dengan apa yang dia lakukan semalam.
Sialan ... aku menolong orang lain dari setan iblis yang memasuki diriku, sementara di rumah putriku sendiri telah dilahap habis setan iblis Zian. Batin Dave penuh amarah.
Dave hanya menatap keduanya bergantian, bahkan ketika Zian memberikan nasi goreng ke atas piring sang istri, "Makan yang banyak," ujarnya dengan tatapan meneduhkan.
"Makasih!" jawab Agnia dengan kembali tertunduk.
Sejujurnya dia sangat malu saat bertatapan langsung dengan ayahnya, walaupun pria yang duduk dihadapannya itu tidak mengatakan sesuatu, Agnia seolah melalukan dosa dan merasa bersalah pada Dave, hingga dia terus menunduk saat beradu pandang dengannya.
"Nia ... Daddy antar ke sekolah!"
"Mana bisa. begitu! Aku yang akan antar dia,"
Dave berdecih, "Dia masih putriku, kau tidak bisa terus melarangku Zian!"
Zian sudah membuka bibirnya untuk menimpalinya lagi, namun Agnia menyentuh lengannya, hingga dia kembali mengatupkan bibirnya.
"Jangan hanya karena kau menikahinya, kau melarang apa yang ingin aku lakukan dengannya!"
Entah kenapa masih saja ada perasaan tidak rela saat kesucian putrinya sudah direnggut, walaupun dia tahu dengan jelas dan sadar siapa yang merenggutnya.
Agnia melihat Dave yang keluar dengan marah, walaupun dia tidak mengerti kenapa Ayahnya itu marah sedemikian rupa. Namun tidak untuk Zian, dia sudah menduga kemarahan Dave disebabkan oleh apa yang dilakukannya semalam bersama Agnia.
"Om ... Nia akan pergi ke sekolah di antar Daddy,"
Zian mengangguk, "Habiskan dulu sarapanmu!"
"Nanti saja ... aku bisa jajan di sekolah, Aku pergi yaa!" Agnia bangkit dari kursi, menyampirkan tas di punggungnya lalu mengayunkan kakinya.
Namun baru saja melangkah tiga langkah, Zian kembali memanggilnya.
"Nia?"
Agnia menoleh, melihat Zian berjalan ke arahnya.
"Kau lupa mencium suamimu!" ujarnya dengan menunjuk pipinya sendiri dengan telunjuknya.
__ADS_1
Agnia menghela nafas, bisa bisanya Zian berfikir hal seperti itu saat dirinya merasa tidak enak pada Dave karena kemarahannya, namun dia juga melakukan apa yang Zian katakan walaupun dengan sekilas.
Zian terkekeh, tangannya terulur pada rambut panjang setengah basah istrinya itu, "Kau tidak perlu khawatir baby!! Kemarahan Dave tidak beralasan, dia hanya masih belum menyangka saja jika putrinya sudah dewasa dan sangat enak!!"
Agnia terbelalak, sejurus kemudian dia mencubit pinggang suaminya dengan keras.
"Terus aja mesum!!!"
Lalu secepat kilat dia berbalik dan mengayunkan kakinya keluar, meninggalkan Zian yang meringis dengan menggosok pinggangnya yang sedikit sakit.
Agnia masuk kedalam mobil Dave, menatap sang ayah yang memegangi kemudi mobil dengan tatapan sulit diartikan.
"Daddy ... are you oke?"
Dave mengangguk, "Daddy lupa sesuatu, Nia tunggu dimobil ya!"
Agnia mengangguk, melihat Ayahnya kembali masuk kedalam mobil. Dia menghampiri Zian yang masih meringis.
Bhuugg
Pukulan keras tanpa basa basi dan peringatan itu melayang dengan kuat. Zian tersentak kaget, dia menyusut ujung bibirnya yang sobek.
"Kau gila Dave!!"
"Ini untuk mu atas apa yang kau lakukan pada putriku! Tidak setimpal bukan?" terang nya lalu kembali keluar dan masuk ke dalam mobil, dia lantas menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Udah Daddy??"
"Hem ... sudah Nia."
"Nia ...!"
"Hem ...?"
"Maafkan sikap Daddy tadi, Daddy hanya masih belum percaya putri kecil Daddy saat ini sudah memiliki kehidupan lain selain sekolah dan menikmati masa masa remaja."
"Daddy ... kenapa bilang begitu? Nia kan masih putri Daddy ... akan selama jadi putri kecil Daddy yang cantik. Iya kan??"
__ADS_1