
Setelah kepergian Arkhan dari kamar hotel, Dave bangkit dari duduknya, dia membuka pintu lebar balkon kamar hotel dan berdiri menatap gedung gedung pencakar langit dengan lampu lampu yang terang, berhias langit hitam dengan desiran angin malam menusuk ke bawah kulit ari.
Dave sadar, kesalahan demi kesalahan yang diperbuat olehnya, keegoisan dirinya sendiri yang membuat orang orang yang dia cintai menjauh, bukan serta merta kesalahan ayahnya saja, Arkhan. Namun juga dirinya sendiri, keegoisannya, tidak pernah peduli bahkan selalu mementingkan dirinya sendiri, kini hanya penyesalan lah yang tersisa.
Tabungannya habis untuk biaya ini dan itu, mengurus ini dan itu namun justru Zian lah yang memenangkan merger perusahaannya. Uangnya habis tak bersisa, tidak banyak pula yang bisa dia bawa dari rumah keluarganya, barang barang mewah yang dulu dimilikinya, sudah berpindah tuan. Kini dia tidak punya apa apa lagi, Hancur sehancur hancurnya. Bahkan saat ini pun, dia harus meninggalkan hotel tempat dia menginap dengan segera, karena batas waktupun hampir habis.
"Besok pagi, aku pasti diusir dari hotel ini! Semua sudah lenyap, tidak ada lagi Dave Arkhan, yang berkuasa. Yang ada hanya Dave pecundang yang telah kalah." gumamnya dengan mengacak rambut berantakannya, tak lama tawa mengiringinya.
Keesokan pagi.
Laras dan Agnia yang hendak keluar dari rumah, dikejutkan oleh sesosok pria yang menelengkup di depan pintu, beralaskan mantel dengan koper kecil menjadi bantalnya.
"Mom ...?"
"Nia, lebih baik kau masuk! Mom takut dia orang jahat yang datang mencelakai kita." ujar Laras menyuruh Agnia masuk.
Sementara dia melangkah maju untuk melihat wajah pria itu. Namun alangkah terkejutnya saat dia melihat wajah pria itu ternyata adalah Dave, mantan suaminya.
"Dave? Astaga...! Apa yang terjadi denganmu?"
Agnia menatapnya dari ambang pintu, pria menyedihkan dengan penampilan berantakan itu adalah ayahnya, "Mom ...?"
"Dia Daddy mu Nia! Astaga ...!"
Laras menyuruh tukang kebun untuk menggotongnya masuk kedalam rumah, dia juga menyuruh bi Yum membawakan segelas teh hangat.
Dave masih tak sadarkan diri, dengan bau alkohol yang masih menyengat menyeruak dari tubuhnya.
Agnia berdiri menatapnya, dia berdecak melihat kondisi Dave yang justru datang dengan mabuk, dan tidak seperti yang dia harapkan.
"Apa dengan mabuk, semua masalah akan selesai?" gumamnya.
"Nia ... jangan hanya berdiri, hubungi dokter Siska, sepertinya Daddymu demam tinggi!"
__ADS_1
"Dia hanya mabuk Mom, tidak usah panggil dokter, biarkan dia sadar, kalau perlu kita gusur ke kamar mandi dan guyur dia!" ketusnya dengan kesal.
"Honey! Tidak boleh begitu, bagaimanapun juga, dia tetap ayahmu sayang."
"Itu karena mommy masih cinta kan sama dia! Walaupun dia sudah mengecewakan kita." ujarnya dengan menghentakkan kaki lalu keluar, Agnia memilih pergi kesekolah dengan naik ojek online.
Laras menatap anak semata wayangnya dengan lirih, lalu menghela nafas berat, "Maafkan aku Dave, aku turut andil dalam hal ini, sampai Nia begitu membencimu!" ujarnya menatap Dave yang masih belum sadarkan diri.
Agnia naik ke atas motor tepat saat Laras keluar mengejarnya, dia sudah berjanji dari semalam hendak mengantarnya ke sekolah, dan Agnia terlihat senang dengan hal itu, namun lagi lagi Laras membuat Agnia kecewa.
Akhirnya Laras pun pergi ke kantor, meninggalkan Dave yang sudah berada dikamar tamu, dan menitipkannya pada bi Yum.
Agnia turun dari motor yang membawanya ke sekolah dengan wajah tersungut, mengembalikan helm dan selembar uang kepada pengendara ojek itu lalu pergi begitu saja, wajah penuh senyumnya kembali ditekuk. Bagiamana tidak, lagi lagi dia harus kecewa melihat Dave yang datang dengan keadaan mabuk dan tidak sadarkan diri.
"Nia ... ?"
Nita berjalan keluar dari mobil Cecilia, sementara sang empunya mobil masuk kepelataran parkir. Agnia hanya menoleh sekilas, lalu kembali berjalan.
Gadis itu hanya mengerdik, dia masih enggan bercerita pada temannya perihal ayahnya. Cecilia berlari mengejar keduanya, dia melingkarkan tangan di bahu Agnia. "Kenapa Lo ... akhir akhir ini muka lo gitu terus! Masalah itu jangan dipendem sendirian, tapi dibagi, ya walaupun kita pasti gak bakal bisa bantu banyak, minimal kita bantu meringankan beban masalah lo dengan dengerin Lo!"
Agnia mendengus kasar, dia duduk di sebuah bangku, di ikuti kedua oleh Cecilia dan juga Nita.
"Gue lagi kecewa aja sama orang! Yang gue harap dia bisa berubah lebih baik, dan menyesali perbuatannya!"
Cecelia dan juga Nita saling menatap, mereka tidak tahu siapa yang Agnia maksud, lalu kembali menatap sahabatnya itu.
"Siapa?"
"Pacar Lo?" tebak Nita asal.
Cecilia menyikut lengannya, sebagai tanda jika dia tidak boleh asal menebak, Nita hanya membentuk bibirnya menjadi huruf O tanpa suara, bak menyetujui kode dari Cecilia. Keduanya pun akhirnya menjadi terdiam, begitupun dengan Agnia yang hanya menatap lahan kosong di depannya.
"Menurut kalian, minum alkohol akan menyelesaikan masalah?" Tanya Agnia tiba tiba setelah mereka saling terdiam untuk beberapa menit.
__ADS_1
"Kenapa tiba tiba nanya hal itu? Lo gak niat buat minum kan?" ujar Nita dengan heran.
Agnia menggeleng, "Gue hanya tanya!"
"Kalau gue sih jujur aja, minum alkohol itu cuma sesaat, tapi pada saat itu, saat masalah yang gue hadapi itu gede dan terus neken gue, gue milih minum hanya untuk lupain semua masalah gue!" jawab Cecilia, alasan itu tidak masuk dalam logika Agnia, dia tetap bersikeras jika minum alkohol justru membuat masalah semakin besar.
"Mungkin juga buat nenangin diri!" sahut Nita, "Lo kenapa sih, tanya hal gituan, kalau lo mau minum ayo deh gue temenin! Udah lama juga gue gak minum nih!" sambungnya lagi.
Cecilia menoyor kepalanya, "Lo kalau lagi bego, gak usah ngajak ngajak orang, bego aja sendiri, lo bukan nenangin temen, malah ngajak bikin dosa lo!"
"Elah ... ngomongin dosa! Lo lupa diri sekarang? Mau insyaf?" timpal Nita lagi.
Agnia beranjak dari duduknya, dia lantas berjalan meninggalkan keduanya yang masih terus saja ribut.
"Nia tunggu!"
Keduanya menyusul Agnia, berjalan melewati selasar untuk menuju kelasnya masing masing.
"Bentar lagi kita ujian, lo udah nentuin fakultas mana lo bakal kuliah?"
"Gue lagi gak mau ngomongin itu!" jawab Agnia.
Cecilia mencuil pipi Agnia, "Gue tahu obat bete lo! Apa perlu gue panggil dia buat nemuin lo di ruang kesenian?" ujarnya dengan terkekeh.
"Apaan sih lo! Norak banget!" ujar Agnia dengan kedua mata membola ke arah Cecilia yang tengah cekikikan, ditambah Nita yang tertawa dengan keras.
"Nia?" seru Adam yang baru saja muncul dari belakang.
Membuat kedua gadis yang tengah tertawa itu terdiam seketika dan menoleh kearah suara, begitu pula dengan Agnia.
"Kenapa Dam?"
Adam mengulum senyuman, "Enggak gue cuma mau panggil nama lo yang cantik aja!"
__ADS_1