
"Mr Dave?"
"Sekretaris Kim?" sapa Dave yang heran kenapa sekretaris dari Zian bisa datang ke apartemen nya malam malam seperti ini.
Kim mengangguk kecil, dibelakangnya ada seorang pria dengan membawa beberapa bungkusan.
"Aku kemari hanya untuk mengantarkan ini saja," tunjuknya pada bungkusan berwarna hitam dan merah itu, dan beberapa paper bag.
Dave mengernyit dengan mulut yang sudah terbuka untuk mengatakan sesuatu, namun belum sempat mengatakan apapun, Kim sudah menyelanya.
"Benar ... Zian yang menyuruhku mengantarkan semua ini,"
Dave tentu saja tertegun, hubungannya dengan Zian belum bisa dikatakan kembali seperti dulu.
"Zian?"
"Hm ... boleh aku masuk dan meletakannya atau Mr Dave yang akan meletakkannya sendiri saja?" Ujar Kim terus terang, dia hanya ingin cepat selesai dan kembali pulang.
"Ah ... iya, masuklah!"
Dave membuka pintu, Kim dan seorang bawahannya masuk, membuat Agnia beranjak dari kursi meja makannya.
"Sekretaris Kim?"
Gadis itu menghampirinya, manik hitamnya melebar saat melihat Kim membawa barang cukup banyak.
"Sekretaris Kim bawa apa?"
"Kudengar dari Zian, kalian tengah makan malam keluarga, jadi dia mengirimkan makanan spesial dan juga bingkisan ini sebagai hadiah,"
"Om Zian baru saja dari sini tadi! Tapi gak bilang apa apa!"
Kim mengulum senyuman, "Entahlah ... Boleh aku meletakkannya disini?"
"Tentu ...letakkan disini saja!" tunjuk Dave pada sebuah meja.
__ADS_1
Begitu pun dengan Laras yang berdiri menatap Kim, Kim hanya mengangguk ke arahnya dan kembali meletakkan barang bawaannya.
"Ayo sekretaris Kim? Kita makan." ajak Agnia.
"Oh lain kali saja Nia, aku harus segera pulang!" Kim tidak enak dan menolaknya karena itu acara keluarga mereka.
"Ayolah ... ini hanya makan malam!" Agnia menarik tangan Kim menuju kursi.
"Bolehkan mommy? Daddy gak keberatan kan?"
"Tentu Sweetheart!"
"Tidak apa apa, ayo sekretaris Kim. Duduklah."
Keempatnya kini kembali duduk, dengan Kim yang kini duduk di samping Dave, Kim sebenarnya canggung, dia nyaris tidak pernah berkumpul dengan orang orang, selain rekan kerja atau rapat saja.
"Apa kalian tahu, Sekretaris Kim pernah menyelamatkan hidupku!" ujar Dave tiba tiba. "Sekali lagi terima kasih Sekretaris Kim." ujarnya lagi.
"Mr Dave ... itu bukan masalah, siapa pun yang melihatmu saat itu pasti akan melakukannya." Kim mulai menyendok makanan didepannya.
"Hanya masalah kecil Nia ...! Iya kan Mr Dave?" pungkas Kim,
Dave mengangguk, "Ya Nia! Masalah kecil saat aku keluar dari kantor milik Zian tempo hari,"
Laras mengernyit, begitu pun dengan Agnia, namun mereka tidak membahasnya lebih dalam, karena Kim terlihat enggan menceritakannya.
"Kau tidak ingin mereka tahu betapa lemahnya dirimu waktu itu kan Mr Dave, jadi tidak perlu membahasnya lagi!" gumam Kim yang hanya bisa didengar oleh Dave.
Dave menatapnya sekilas lalu tersenyum, bagaimana bisa seorang Kim memikirkan apa yang bahkan dia tidak memikirkannya sejauh itu. Hari dimana dia hendak menabrakkan diri ke tengah jalan, bagaimana bisa dia menceritakannya pada anak dan mantan istrinya secara terang terangan.
Dering ponsel milik Laras kembali berbunyi, dan saat itu juga dia harus pergi. Karena urusan yang mendadak, dengan begitu hanya tinggal mereka bertiga, Dave, Agnia dan Kim.
Kim semakin tidak enak hati dan juga canggung.
"Nia ... mommy harus pergi! Biar Daddy yang antar Nia pulang ke rumah nanti ya!"
__ADS_1
"Baiklah Mom ... hati hati!"
Laras beralih pada Kim, "Sekretaris Kim ... maaf, aku merepotkanmu."
"Tidak masalah nyonya Laras. Aku juga akan segera pergi setelah menyelesaikannya."
"Terima kasih!" ujar Laras kembali.
Mau tidak mau Kim membantu Agnia membereskan meja makan, Dave juga membantu mengumpulkan piring dan gelas kotor.
"Biar aku yang mencuci piring!" Kim berinisiatif.
"Jangan ... biar aku saja!" Dave mengambil piring dari tangan Kim, tatapan mereka beradu namun dengan cepat Kim mengalihkan pandangannya.
Dave mengulum senyuman saat melihat rona kemerahan pada wajah sekretaris Kim, dia bisa menerka jika Kim tengah malu berhadapan dengannya.
Agnia sendiri sudah terbaring diatas sofa, gadis itu kekenyangan hingga akhirnya mengantuk.
Kim menuju wastafel yang berada tidak jauh, karena apartemen itu tidaklah besar, dia mengikuti Dave karena gelas kotor masih dalam genggamannya, Dave berbalik seketika dan justru menabrak Kim.
"Maaf ...!"
Kim mengangguk, dia melangkah ke arah kiri, namun justru Dave juga melangkah ke kiri, Kim pun melangkah ke kanan, begitu juga Dave yang ke kanan. Keduanya menjadi salah tingkah.
"Mr Dave stop! Biar aku duluan!" Tegas Kim yang merasa lama lama bertingkah konyol, Dave menggaruk kepalanya, rasanya dia juga merasa konyol.
"Biar aku yang mencuci!" Kim melangkah maju lebih dulu ke wastafel, melewati Dave begitu saja.
Sejujurnya Dave juga tidak bisa mencuci piring, bahkan dia tidak pernah melakukan hal itu sebelumnya, tapi dia cukup tahu diri dan tidak membiarkan tamunya mencuci piring.
"Biar aku membantu mengeringkan, seharusnya kau tidak melakukan hal ini, apalagi kau adalah tamu disini,"
"Tidak perlu sungkan Mr Dave."
Agnia terbangun dan melihat keduanya dari sofa, dia sedikit mengernyit melihat keduanya yang bersikap salah tingkah.
__ADS_1
"Jangan bilang Daddy juga naksir sama Sekretaris Kim."