
Sekali lagi, Zian menerjang tubuh polos Agnia dan melancarkan pelepasannya, kali ini dia melakukannya dengan sangat lembut, bahkan lebih lembut dari pada yang dia lakukan di dalam mobil. Hingga gadis itu terus merintih memanggil namanya dengan mendayu dayu, mendesaah saat Zian bergerak diatas tubuhnya.
Begitu pun Zian, hawa panas dan dingin bercampur jadi satu. Sensasi melayang layang di atas awan dengan tubuh Agnia yang semakin lihai belajar, meliuk liuk di bawah tubuhnya membuat permainan mereka yang kali ini dilakukan di atas bathtube.
Zian menggeram, dengan terus mencecap leher putih sang istri saat dirinya mengeluarkan cairan hangat untuk kedua kalinya didalam sana, bibit kehidupan yang akan menjadi Zian junior, begitu juga Agnia yang mencapai puncaknya dengan denyutan hebat di bawah sana, dia mengeraang panjang dengan suara indahnya.
"Thanks baby!" ujar Zian dengan suara serak, dia lantas beranjak dan mengisi air hangat ke dalam bathtube membiarkan tubuh Agnia yang basah dan masih dipenuhi busa sabun mulai terendam.
Gadis itu terkekeh dengan kedua mata yang menyipit, bagaimana tidak. Dia yang masih terlalu polos soal ranjang, juga tubuhnya masih menyesuaikan diri karena serangan serangan dashyat dari pria yang penuh dengan pengalaman ranjang itu tak berdaya sedikitpun.
Setelah memastikan air sudah cukup penuh, Zian ikut masuk kedalam sana, duduk berhadapan dengan Agnia yang kali ini terlihat membulatkan kedua matanya.
"Kita hanya akan mandi baby! Aku janji!" ujarnya dengan mengecup tangan Agnia demgan lembut. Memberikan pijatan pijatan pada tungkai kakinya lalu pada kedua bahunya dan membuat Agnia semakin rileks dan memejamkan mata.
Setelah hampir setengah jam, Zian keluar dari bathtube, dan mengangkat tubuh polos Agnia dan dia meletakkan tubuh polos tanpa sehelai kain pun ke atas ranjang.
"Kau pasti lelah baby!" ujarnya dengan mengecup wajah Agnia berulang kali. Tak lupa dia menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya, dikarenakan tidak ada pakaian yang bisa dia gunakan lagi.
Zian menyambar batrobe ditempatnya lalu memakainya, barulah dia mencari dimana ponselnya dia letakkan tadi.
Setelah memastikan dana yang dia berikan pada acara penggalangan dana yang diwakili oleh salah satu staff nya, dia juga menghubungi pihak butik untuk menyiapkan beberapa pakaian dan salah satunya adalah dress malam, pihak butik membwrikan beberapa pilihan pada Zian, dan setelah mengamati satu persatu Zian menentukan pilihannya pada gaun malam yang dipastikan sangat cocok dengan sang istri, karena Zian tidak ingin Agnia yang mungkin tiba tiba terbangun dan merengek ingin pergi ke acara penggalangan dana.
Setelah memastikan semuanya, pria itu naik ke atas ranjang, masuk kedalam selimut yang sama dan memeluk Agnia. Namun baru saja dia ingin melesat ke alam mimpi, guncangan hebat di bahunya membuat dia kembali tersadar.
"Ayo kita pergi!" Agnia mengguncang bahu Zian berulang kali, hingga kedua matanya terbuka sempurna.
"Memangnya kau tidak lelah baby?"
"Enggak ayo sudah! Udah gak ada lagi alesan ya! Pokoknya Nia mau pergi kesana."
"Baiklah tapi kita makan malam dan menunghu pakaian kita tiba disini baby!" Ujar Zian akhirnya menyerah dengan keinginan sang istri yang terus saja merengek.
__ADS_1
Tak lama terdengar ketukan di pintunya, Zian kembali menutupi bahu Agnia dengan selimut tebal lalu dia sendiri berjalan untuk membuka pintu.
Dan benar saja, seorang petugas membawa troli makanan dan juga beberapa paper bag berisi pakaian baru untuknya juga untuk Agnia, lengkap dengan under we ar nya.
Petugas itu mengangguk dengan tetap tersenyum ke arah bos nya itu, lalu kembali keluar dari ruangan kamar itu.
"Baby ... kita makan hem!" ujarnya mendorong troli ke sisi ranjang dekat Agnia.
Gadis itu menyandarkan tubuhnya dengan berselimut tebal, Zian mengambil makanan diatas piring dan memberikannya.
"Makanlah yang banyak calon ibu." ujarnya terkekeh dengan mencondongkan tubuhnya dan mengecup pucuk kepalanya.
Agnia terhenyak, namun tidak lama dia ikut terkekeh, "Calon daddy gak makan?"
Keduaa nya tergelak bersama, Zian naik keatas ranjang lalu ikut menyantap makanannya.
.
Agnia terpana saat melihat gaun malam telah disiapkan Zian untuknya, gaun malam berwarna hitam dengan lengan namun mengekspons sebagian punggungnya, dipinggangnya terdapat tali pinggang kecil yang menjadi pemanis, gaun yang sangat pas di tubuhnya hingga memperlihatkan lekukan pinggang dan tubuhnya yamg tinggi ramping itu.
"Kau suka baby?"
Agnia mengangguk, selera Zian ternyata sangat bagus, bahkan lebih bagus daripada apa yang dia pilih sebelumnya. Gadis itu memutarkan tubuhnya, lalu tersenyum ke arahnya.
"Suka banget! Makasih Om Superman." ujarnya mengecup pipi Zian.
"Panggilanmu untukku selalu berubah, kau menggantinya sesukamu baby!" ujarmya menjumput hidung Agnia dengan lembut.
"Sesuai dengan suasana hati lah Daddy!"
"Astaga...!" Agnia terkekeh.
__ADS_1
Waktu sudah menunjukan jam delapan malam, acara yang dihelat pun sudah berlangsung satu jam, namun Agnia bersikeras ingin datang kesana. Membuat Zian tidak lagi bisa menolaknya selain mengikuti keinginannya. Keduanya keluar dari kamar hotel. Berjalan menuju ke arah lift lalu turun.
"Benar kau tidak lelah? Hem?"
"Gak ...!"
"Jadi sepulang dari acara kita lanjutkan yang tadi bisa ya!" Goda Zian saat pintu lift terbuka kembali.
"Iiihhh ... masih gak ilang juga tuh mesum! Padahal udah seenaknya ngelakuin di mana aja gak lihat tempat." Agnia mencubit lengan Zian, namun pria itu justru tertawa.
Mereka berdua keluar dari gedung hotel, dan petugas hotel membukakan pintu untuk Agnia, lalu untuknya.
"Jangan mencari masalah, apalagi membuat keributan baby! Aku tidak mau kau mempersulit dirimu sendiri jika disana ada Irene atau wanita lain yang menyapaku."
"Percaya diri sekali Om! Emangnya apa yang bisa aku lakuin disana?"
"Aku teringat saat bertemu pertama kali denganmu." ujar Zian mengubah topik pembicaraan.
Agnia menoleh ke arahnya, pria itu tengah memasangkan seat belt dengan wajah yang sangat dekat. Udah sering ngelakuin hal itu tapi jantung gue pasti deg degan terus kalau lihat dia sedeket ini. Batin Agnia dengan terus menatap wajah Zian.
"Kau tidak ingat baby?"
"Iya? Aku lupa."
"Kau berlari dari dalam dan tiba tiba masuk kedalam mobil ini?"
Agnia mengelengkan kepalanya, dia bahkan baru sadar jika mobil telah berganti. Lalu menoleh kearah pintu masuk hotel. Dimana dia baru saja sadar jika hotel yang baru saja dia masuki adalah hotel yang sama dimana dia dulu pernah terjebak bersama pria tua dengan perut buncit.
"Hotel ini ya? Nia gak inget lho Om! Ooh mobil ini kenapa ganti?"
"Mobil yang tadi harus di cuci, ada sisa sisa bercintta dan keringat kita disana." Ujarnya dengan mengedipkan matanya genit, namun tangannya tidak juga bergerak.
__ADS_1
"Iihh ...!! Masih aja! Udah ayo jalan, nungguin apa lagi sih!"