
"Kau fikir aku percaya begitu saja? Aku melihatnya Nia ... aku melihatnya dengan kedua mata kepalaku sendiri Nia!" sentak Zian.
Agnia mendongkakkan kepalanya, menatap nyalang pada pria dihadapannya, "Kau memang bodoh! Pantas saja kekasih dan asisten mu dengan mudah membohongimu Zian. Kau mudah sekali diperdaya, dan kau tidak bisa membedakan mana yang benar mana yang salah."
Gigi Zian bergemelatuk, terlihat dari rahangnya yang kian mengeras, "Jangan sembarangan bicara Agnia! Kau tidak tahu apa-apa."
"Aku tidak tahu apa-apa?" Dia berdecih, "Lucu sekali!"
"Kau benar-benar menantangku Nia! Kau sendiri yang memohon agar aku tidak melakukannya, tapi kau juga yang menguji kesabaran ku!"
Tok
Tok
Tok
Pintu kamar terdengar diketuk, Agnia dengan cepat bangkit dan melihat ke luar dari lubang kecil yang berada di pintu.
"Sekretaris Kim!"
Agnia akhirnya mencelos, sekretaris Kim menyelamatkannya lagi kali ini, sementara Zian berdecak dengan membuka pintu kamar.
"Apa yang kau lakukan?" seluruh Kim saat pintu di buka, dia melihat Agnia dengan wajah serta rambut yang berantakan, pakaiannya pun tidak beraturan, begitu juga dengan Zian yang hanya memakai celana panjang, mengekspos tubuhya bagian atas, memperlihatkan otot-otot di tubuhnya.
"Aku bertanya padamu Pak?" Kim mengulang pertanyaannya.
Agnia berhambur kearah nya dan memeluk Kim, "Sekretaris Kim ... aku ingin pulang! Tolong bawa aku pergi dari sini." ujarnya pada saat memeluk Kim.
Sekretaris Kim mengangguk dengan kedua manik melebar ke arah Zian, lalu dengan santai pria itu membalikkan tubuhnya dan mengambil t-shirt dari lemari. Membalut tubuhnya dengan kaos berwarna putih.
Kim mengurai pelukan dan membawa Agnia, namun sorot matanya menatap Zian dengan tajam. "Kita pulang Nia!"
Agnia mengangguk, lalu membawa tas selempang miliknya.
.
.
Mereka akhirnya keluar dari kamar itu, Agnia yang berpegangan pada sekretaris Kim, sementara Zian mengekor dari belakang, dengan sesekali menghirup aroma sabun khas dari tubuh Agnia yang diterpa angin.
Kau sudah gila Zian, bagaimana bisa kau membenci perilakunya yang menyimpang tapi menyukai kepribadiannya yang kuat dan tidak mudah menyerah.
Sekertaris Kim menghentikan langkahnya lalu menoleh, "Kau bawa mobil?"
Zian mengangguk, dan menyerahkan kunci mobil pada Kim, "Ditempat biasa!"
Kim membawa kunci tersebut, lalu berjalan menuju basement hotel,
"Sekretaris Kim, tunggu aku ikut!"
"Tunggu saja sebentar dengan....."
"Gak mau!" sergah Agnia dengan berlari menyusul Kim.
__ADS_1
Agnia menghela nafas saat berhasil menjauh dari Zian yang menyebalkan, lalu menoleh ddengan menjulurkan lidah pada Zian.
"Dia pasti takut padaku! Tapi so berani begitu!" gumam Zian namun ikut menyusul keduanya.
Ketiga nya berjalan ke arah mobil milik Zian, Kim membuka pintu mobil dari kunci otomatis yang diberikan oleh Zian,
"Biar aku yang menyertir Kim!" ujar Zian dengan kembali merebut kunci mobil dari tangan sekretarisnya.
"Heh ...?"
"Masuklah ..., jangan sampai aku mengulangi perkataan ku lagi." ujarnya pada Agnia.
Agnia membuka pintu belakang mobil, dan masuk ke dalam, sementara Kim duduk disamping Zian.
"Hari ini biar aku yang menyetir! Dan kita akan makan sebelum pulang ke rumah."
Agnia tersentak, Awas saja, gue gak mau pulang ke rumah dia, apapun yang terjadi, enak saja! Dia sudah mengusirku dengan kejam!
"Aku sudah makan malam tadi!"
"Aku tidak bertanya padamu Kim, aku dan gadis liar itu yang belum makan!" Ujarnya tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.
"Hey ... terus saja memanggilku dengan sebutan itu!"
Kim berdecak dan menoleh ke arah belakang, "Lantas sedang apa kalian dari tadi?"
"Tanyakan saja padanya, si tukang ikut campur!" tukas Agnia dengan bibir yang mengerucut.
Gue harus ngabarin Cecilia, pak Ali pasti mengatakan semuanya, bisa kacau ini urusannya.
"Ponsel gue mana?" gumamnya pelan.
"kau mencari apa Nia?"
Agnia menoleh, "Ponsel Nia gak ada sekretaris Kim!"
"Kok bisa? Apa Nia lupa?"
"Enggak kok, tadi....!" Agnia mencoba mengingat, "Apa tadi tertinggal di kamar hotel?" ungkapnya kemudian.
"Coba misscall saja ... mungkin jatuh di bawah jok?" ujar Kim mengeluarkan ponsel miliknya,
"Yah ... ponselku mati!"
Agnia merogoh kembali tasnya, kemudian membungkuk mencari ke bawah jok namun juga tidak ada.
"Bos ... pinjam ponselmu?"
"Untuk apa? Sudah jelas ponsel nya mungkin tertinggal saat dia keluar, kau tidak lihat dia buru-buru keluar tadi?"
Sekertaris Kim mengenadah, "Pinjam saja, untuk memastikan ponselnya jatuh apa tertinggal di kamar hotel, soalnya dia juga masuk mobil dengan tergesa- gesa."
Zian berdecak, lalu merogoh ponsel miliknya di dalam saku celana dan memberikannya pada Kim.
__ADS_1
"Nia kamu hapal nomor mu kan?" ujarnya dengan memberikan benda pipih itu kepadanya.
Zian menatap ke arah belakang tanpa menoleh, dia melihat pantulan di spion, sementara Agnia mengangguk dan mengambil ponsel Zian dari tangan sekertarisnya.
"Kenapa kau berikan ponselku padanya?" sentak Zian.
Agnia yang masih tersungut tidak peduli apa yang dikatakannya, "Pelit banget, cuma dipake buat misscall doang juga!"
Agnia mengetik kan nomor ponsel miliknya di benda canggih itu, dia mengerjapkan matanya sesaat, dan kornea matanya melebar seketika saat nomor miliknya ternyata tersimpan di phone book milik Zian.
...Calling ...
...Calon Pacar...
What the Fuccckkk, dia nyimpen kontak gue dengan sebutan Calon pacar. Gila sih dia ... apaan nih maksudnya.
Skitttt
Seketika Zian mendadak menginjak pedal rem dengan cepat, membuat Agnia yang tidak memakai seat belt itu terhuyung ke depan.
Brukkk
"AW ... kau ini kenapa mendadak berhenti?" Kim menoleh ke arah belakang, "Nia kamu tidak apa-apa?"
"AW ... ih apaan sih bisa nyetir gak?" ujarnya dengan memegangi kepalanya, sementara ponsel Zian jatuh ke bawah jok mobil.
Zian menoleh ke arahnya, "Kembalikan ponselku!"
"Sabar ... ponselmu terjatuh kan jadinya!" sungut Agnia dengan mengambil ponsel Zian.
"Nih!!" ujarnya dengan memberikannya pada Zian dengan kasar. "Ngarep banget jadi orang!"
Glek
Zian tersedak salivanya sendiri. Kim ... ini salahmu.
"Bagaimana Nia? Ponselnya masih berdering?"
Agnia mengangguk, "Seperti nya memang tertinggal di kamar hotel, lebih baik kita kembali dan mengambilnya!"
Zian berdecih, "Enak saja ... kau fikir kau siapa? Besok saja, biar Kim yang mengambilnya!"
"Tapi semua tugas sekolahku ada di situ?!" ujar Agnia dengan menghentakkan kaki.
"Aku tidak peduli!"
Kim menghela nafas, "Bisakah kalian berhenti berdebat?"
"Tidak bisa....!" ujar keduanya serempak.
Namun sepersekian detik keduanya tampak terdiam, dengan fikirannya masing-masing.
Dia pasti sudah tahu aku menyimpan kontaknya dengan nama seperti itu.
__ADS_1
Agnia menatap wajah Zian dari pantulan spion, cukup lama hingga Zian menyadari dan juga menatapnya dari spion.
"Kau gila...." ujar Agnia tanpa suara.