Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 48


__ADS_3

"Nyesel kan lo!"


Serly mendongkak kan kepala nya, dan melihat Cecilia dan juga Nita yang berada di depannya dengan melipat tangan.


"Bukan urusan kalian!" tukasnya dengan ketus.


Cecilia tergelak, begitu juga dengan Nita,


"Siapa juga yang mau ngurusin hidup lo! Kasian malah gue sama lo! Jahat kok sama sahabat sendiri, padahal si Nia udah baik banget sama lo."


Nita menarik Cecilia, "Lebih baik kita pergi, gak guna banget ngurusin hal begituan!"


"Lagi pula disini udah gak ada siapa-siapa! Kita telat, atraksi lompat indah si Vina udah berakhir!"


Cecilia melirik ke arah Nita, "Ba chot lo ngalahin lambe-lambean Nit!"


Kemudian keduanya tertawa, "Masih mending gue, cuma bac hot doang! Tapi hati gue putih dan suci." elaknya kembali tertawa, namun kata-kata sindiran itu dia tujukan pada gadis yang tengah berdiri dihadapannya.


Mereka berdua lalu pergi meninggalkan Serly, dan dia kembali menangis tersedu,


"Gue emang jahat ... Nia maafin gue!"


Sementara Agnia yang dalam perjalanan pulang, fikirannya juga kacau, video yang dia putar menjadi penyebab Vina melakukan hal itu. Dan tiba-tiba saja, dia menghentikan laju mobilnya di tepi jalan, air mata yang ditahannya tumpah begitu saja. Gue gak nyangka kalau Vina bisa senekad itu! Maafin gue Vin, gue gak akan gini kalau aja lo gak mulai duluan!


Alih-alih melajukan kendaraannya pulang ke rumah Zian, Agnia memutar balikkan laju ke rumah sakit dimana Vina di bawa. Dia ingin melihat Vina, bagaimanapun juga, dia merasa ikut andil dalam kejadian ini, dan ingin memastikan kalau Vina baik-baik saja.


Adam sudah menghubungi orang tua Vina, dan


mereka sudah dalam perjalanan ke rumah sakit. Vina tengah diperiksa oleh dokter, disana juga ada Sopian yang tengah cemas.


"Pak, saya sudah menghubungi orang tuanya, mereka dalam perjalanan kemari Pak."


Sopian mengangguk, dia sebagai guru dan tentu saja sebagai penanggung jawab dari pihak sekolah.


Tak lama kemudian, dokter keluar dari ruangan UGD, dan Sopian menghampirinya, "Dokter, bagaimana keadaan muridku?"


Dokter itu terlihat mengangguk, "Dia hanya shock, dan keadaan nya baik-baik saja, tidak ada luka serius, hanya luka di lututnya saja." terangnya pada Sopian.


"Dan karena kronologi kecelakaan akibat dari sebuah upaya bu nuhh diri, silahkan isi form ini, karena dalam kasus seperti ini, pihak kepolisian selalu terlibat."


"Apa perlu itu dok? Saya ras---"


"Apa ... buu nuuh diri? Maksudnya anak saya?"

__ADS_1


Ucap seorang ibu yang baru saja datang,


Sopian dan juga dokter menoleh ke arah suara, yang di sinyalir pasti ibunya Vina, dia datang bersama suami dan juga kakaknya Vina.


"Pak Sopian! Saya ibunya Vina, ini ayahnya dan ini kakaknya. Apa yang kalian bicarakan mengenai anak saya itu benar?" ujar ibu Vina menunjuk suami dan anak pertamanya.


"Karena ini kasusnya adalah sekolah, maka saya ijin undur diri!" ucap Dokter yang memeriksa Vina, dia kembali masuk ke dalam ruangan, setelah menyerahkan selembar kertas berisikan keterangan dan kronologis kejadian yang harus mereka isi.


Kemudian Sopian mengajak keluarga Vina untuk duduk dan membicarakan masalah yang tengah terjadi, begitu juga dengan Adam yang ikut menjadi saksi. Sementara ada 2 siswa yang merupakan anggota Osis menunggu di depan ruangan.


Kedua orang tua Vina sudah duduk berhadapan dengan Sopian, dan kakak Vina beserta Adam berada di sebelah sisi mereka.


Setelah menjelaskan bahwa Vina benar melakukan percobaan buu nuuh diri, mereka terlihat shock, terlebih ayah Vina.


"Adam, apa rekaman video itu masih ada?"


"Dari awal yang asli memang sudah tidak ada Pak, tapi cuplikan-cuplikan video itu sudah tersebar luas di media sosial." ujarnya dengan menyerahkan ponsel pada gurunya itu.


Dan potongan video yang sudah dibagikan berkali-kali oleh akun-akun yang tidak bertanggung jawab. Ibu Vina memaksa melihatnya, sedangkan kakak Vina memeriksa ponselnya sendiri.


"Saya selaku perwakilan sekolah sebelumnya ingin meminta maaf, atas kejadian ini, kami lalai mengawasi putra-putri yang di titipkan pada kami, namun menurut isi video yang kini tersebar luas, itu terjadi di luar wilayah sekolah, dan menurut teman-teman disini, itu terjadi di dekat rumah Vina sendiri Bu, Pak." ucap Sopian menerangkan.


"Jadi menurut anda, kami yang salah?" ujar Ibu Vina kesal.


"Apa karena terjadi dirumah kami, itu menjadi tanggung jawab kami?" tambah ayah Vina.


"Bagaimana dengan mental anak saya, akibat video ini tersebar luas! Seharusnya pihak sekolah bisa mencegahnya."


"Lalu siapa yang secara sengaja mengambil video itu?" tambah ayah nya Vina.


"Mungkin itulah sebabnya pihak rumah sakit meminta saya untuk mengisi form ini, dan jika keluarga Vina sendiri mengijinkan, maka pihak rumah sakit akan menghubungi polisi untuk menangani pemeriksaan lanjutan.


"Kenapa harus memakai polisi, kalau kami mau! Kami tidak akan segan melaporkan pihak yayasan sekolah karena tidak becus mencegah hal begini saja!" tukas kakak Vina.


Berapa kali Sopian menjelaskan kepada mereka, namun mereka sepertinya tidak mau menerima semuanya begitu saja.


"Mana temannya yang terlibat di video ini?" tanya ibu Vina.


"Dia Agnia, masih satu kelas dengan Vina, bahkan menurut siswa yang lain, mereka itu bersahabat." ujar Sopian tanpa terbawa emosi sedikitpun


"Agnia?"


.

__ADS_1


.


Sementara Agnia sudah memarkirkan mobil milik Zian itu di parkiran rumah sakit, dia juga bersiap-siap untuk keluar, namun tiba-tiba ponselnya berdering.


Dreet


Dreet


Ponselnya masih berdering nyaring, Agnia menatap ponsel yang dia simpan di atas dashboard mobil itu.


Zian Pe'aa Calling


"Aduh Om, nanti dulu deh!" gumamnya dengan memasukan ponsel itu ke dalam tas selempangnya, lalu dia keluar dari mobil.


Dia masuk kedalam melewati lorong rumah sakit, mencari keberadaan teman atau Sopian.


Dreet


Dreet


Ponsel kembali berdering didalam tas, dan kali ini sekretaris Kim yang menghubunginya.


Agnia menatapnya, "Tadi Bosnya, sekarang bawahannya." ucapnya dengan kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas.


"Nia ... Agnia sebelah sini!"


Agnia menoleh ke arah suara dan langsung be berjalan menghampiri mereka, "Gimana keadaan Vina guys?"


"Baik-baik aja kok! Orang tuanya juga sudah datang. Sekarang mereka lagi ngomong sama pak Sopian."


"Syukurlah Kalau gitu! Gue sempet takut tadi,"


Kedua orang tua Vina dan Sopian telah selesai berbicara, mereka semua kembali berjalan ke ruang pemeriksaan. Dan ibu Vina langsung bisa mengenali diri Agnia.


"Itukan orangnya?


Sopian mengangguk.


Mereka berjalan semakin dekat dan menghampiri Agnia yang tengah berbicara dengan teman-temannya,


"Kau Agnia anaknya Laras dan Dave bukan?" tukas ibu Vina.


Agnia terperangah, lalu mengangguk mengiyakan perkataan ibu Vina.

__ADS_1


"Pantas saja, kelakuan mu sama seperti ibumu Laras. Tukang cari masalah dan gara-gara dengan orang lain!"


__ADS_2