
"Tetaplah berada disisiku." lirih Zian.
Agnia mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, tiga kata itu meluncur tulus dari seorang pria asing yang membantunya sejauh ini, dan juga seseorang yang jauh dari ekspektasinya. Bukan dari orangtuanya yang dia harapkan y mengatakan hal itu.
Dia mengenadah, menatap Zian yang tengah menatapnya lekat, "Eeeuuhhmm ...!" gumamnya, berada di antara kebingungan dan juga heran.
"Tidak usah difikirkan," ujar Zian pada akhirnya.
Kedua orang berbeda generasi itu menatap langit kelam yang berhias bintang-bintang, sinar rembulan malam seolah bersaing dengan pancar cantiknya gadis yang kini masih mencerna perkataan pria disampingnya, dengan gemiricik air dari danau buatan menjadi teman dari kesunyian malam itu.
Zian menatapnya dari arah samping, gerakan impulsif yang dilakukannya tanpa sadar itu juga membuatnya terdiam seketika. jantungnya berdegup kencang, seolah baru kali ini dia merasakan jatuh cinta, ditambah pada seorang gadis yang jauh dari bayangannya, seorang gadis kecil berusia 17 tahun, yang lebih pantas menjadi keponakannya itu.
"Om ...!"
"Hhmmm ...?"
"Apa Om udah ngerasa lebih baik sekarang?"
Zian menghela nafas, "Jujur, jika tidak ada kamu. Aku mungkin sudah berbuat nekat da___"
"Om mau bu nuh diri? Wah parah, Cemen banget jadi laki."
Zian tergelak, "Bukan itu, maksudnya mungkin aku akan nekat menghabisi mereka berdua. Tapi setelah difikir-fikir, membalas mereka seperti kamu membalas teman-temanmu lebih seru. Sikapmu ketika ada orang yang jahat yang membuatku sadar." Zian menatapnya kembali.
"Makanya itu, aku tidak ingin kamu pergi lagi."
"Kok kebalik! Harusnya yang muda yang mencontoh yang lebih tua!"
Zian mendengus pelan, "Usia sepertinya hanya batasan angka, buktinya aku lebih bodoh selama ini, 2 tahun Nia ... 2 tahun bukan waktu yang sebentar bukan?"
Agnia mengangguk, "Benar juga! Apa Om sedih?"
Zian mengacak rambut Agnia, "Pertanyaan bodoh itu sih!"
"Iih ... kan kusut rambut Nia! "Ujarnya dengan merapihkan rambutnya sendiri.
Zian terkekeh lalu bangkit dari duduknya, dengan tangan yang terulur pada Agnia, "Yuk pulang! Aku tidak mau sampai kamu sakit dan menyalahkan ku."
Agnia menatap tangan yang masih menggantung itu dengan ragu, lalu menatap wajah Zian yang tampak tersenyum ke arahnya.
Kalau senyum gitu, keliatan gantengnya, eeh Nia apaan sih lo. Agnia tengah berperang batin.
Zian berdecak, "Kelamaan, ayo naik? Sepertinya kamu sudah mengantuk!"
Zian berjongkok dengan membelakangi Agnia, menyuruhnya naik ke punggungnya.
.
.
__ADS_1
Zian berjalan kembali ke arah rumahnya, dengan Agnia yang berada di punggungnya, dia memegangi kedua kaki Agnia yang melingkari pinggangnya, sementara Agnia menelengkupkan kepalanya dengan kedua tangan melingkar dileher Zian.
"Maafin Om karena selalu keras dan terkesan galak padamu, dan juga sempat mengusirmu!"
"Hhmmmm...."
"Nia maafin Om kan?"
"Hmmmm...."
Bulan yang bersinar sempurna seolah mengikuti langkah mereka, Zian mengenadah ke atas lalu menyunggingkan senyuman, hatinya terasa menghangat, ditambah kehadiran Agnia dalam hidupnya, lalu menoleh ke arah belakang.
Zian terus berbicara dengan Agnia yang hanya menjawab dengan gumaman, sampai mereka tiba di rumah, "Ayo turun kita sudah sampai!"
Namun tidak ada pergerakan dari Agnia, gadis itu terlelap begitu saja dalam gendongan Zian.
"Gak dimana-mana, pasti ketiduran!"
Akhirnya Zian naik ke atas, membuka pintu kamar Agnia dan menidurkannya diatas ranjang bak seorang bayi, lalu menyelimutinya.
"Aku akan selalu menjagamu Nia, jadi tetaplah disini." ujarnya dengan mengelus pipi Agnia yang tengah terlelap.
Agnia menggeliat dibawah selimut, sementara Zian mengelus rambutnya lembut, hingga gadis itu merasa nyaman dan semakin terlelap.
"Lucu sekali! Aku meminta hal itu pada anak-anak, pantas saja dia bingung dan tidak tahu menjawab apa!" gumamnya pelan. lalu beranjak keluar.
.
.
"Sayang, buka pintunya! Jangan begini...."
"Pergilah, aku tidak mau melihatmu lagi!"
Iyan terus menggedor pintu kamar, "Kalau tidak dibuka aku terpaksa mendobraknya, jangan membuatku cemas Dita!"
"Pergi kau sialan! Sudah aku bilang, aku tidak ingin melihatmu."
"Lo lebih baik pergi, biar gue yang urus!" ujar manager Dita yang sering dipanggil Rose itu
Iyan mengangguk, "Lo urus dia Rose! Jangan sampai terjadi sesuatu padanya,"
Setelah kepergian Iyan, Rose mengetuk pintu kamar Dita dengan lembut, "Keluarlah, Iyan sudah pergi!"
Akhirnya Dita membuka pintu, setelah tahu Iyan sudah pergi, sementara Rose berdecak melihat kamar Dita yang berantakan.
"Kau ini ...!"
"Apa dia sudah pergi! Huh ... malas aku kalau dia terus menempel kemana-mana!"
__ADS_1
"Tapi hanya dia yang bisa membersihkan namamu saat ini."
"Membersihkan namaku bagaimana? Kita saja sama-sama hancur!"
"Setidaknya dia masih punya perusahaan Dita, sementara kau sudah hancur, bagaimana? Sudah aku bilang jangan bermain api."
Dita mendudukkan tubuhnya di sofa, "Apa sih, saat ini yang aku butuh bukan ceramah! Tapi bagaimana caranya aku bisa kembali pada Zian."
Rose menggulung rambut panjangnya ke atas kepala, "Dasar tidak tahu malu, kau pikir dia akan menerimamu begitu saja? Heh ... banyak wanita yang tergila-gila padanya, tapi dia hanya tergila- gila padamu, lalu kamu menghianatinya dengan sangat kejam, kamu fikir sekali lagi? Apa dia akan menerimamu?" Rose menghela nafas, "Apalagi sekarang media tahu hubungan antara kalian sudah hancur."
"Ini semua gara-gara Iyan, harusnya dia bisa menyangkal semua nya, bukan malah mengatakan semua padanya!"
"Kau kan tahu dia sangat mencintaimu, bahkan dia masih menerimamu dengan tulus meskipun berkali-kali melihatmu tengah berada diatas tubuh pria lain."
"Dia memang bodoh!"
"Kau juga Princes, sekarang aku kesini untuk mengatakan sesuatu! Aku akan berhenti menjadi managermu, aku harus mendampingi talent lain!"
Dita menggebrak meja, "Heh ... mana bisa begitu! Kau mau meninggalkanku saat keadaan ku begini?"
"Sorry Princes, aku harus menyambung nyawa dan aku butuh uang! Sementara kamu sudah tidak bisa memberiku uang!"
Rose bangkit dari duduk dan mengelus kepalanya, "Aku pergi ya! I' am so sorry...!"
Pria yang gemulai itu beranjak pergi, dan menghilang dibalik pintu, sementara Dita melemparkan vas bunga ke arahnya.
"Brengsekk ... kenapa semuanya jadi begini!"
Tak lama kemudian Iyan kembali masuk, Dita yang tengah duduk pun seketika beranjak dan hendak masuk kedalam kamar, namun Iyan berhasil mencekal lengannya.
"Sayang, kita harus bicara!"
"Sudah lah Iyan, saat ini fikiranku sedang kacau! Aku tidak ingin bicara apapun denganmu lebih baik kau pergi jauh-jauh dari hidupku."
Iyan terhenyak, dia menggelengkan kepalanya, "Kenapa kau jadi begini sayang? Bukankah dari awal kita sudah sepakat akan selalu bersama-sama?"
"Itu jika Zian berada disisiku! Tapi sekarang lihatlah dirimu? Kau saja tidak akan mampu memberiku kehidupan Iyan! Bagaimana hidupku kedepan,"
"Jadi selama ini kau menganggap aku apa Dita?"
Anindita berdecih, "Sudahlah kita selama ini hanya bersenang-senang bukan! Jadi kita akhiri saja semuanya Iyan, aku akan lakukan apa saja untuk kembali pada Zian."
"Omong kosong! Dia tidak akan menerimamu kembali Dita! Lebih baik kita pergi dari sini, aku masih punya perusahaan diluar kota, walaupun tidak besar. Tapi kita bisa sama-sama mulai dari nol lagi."
Dita melipat tangan diatas dada, "Dari nol? Maaf Iyan, aku tidak bisa, lebih baik kau cari wanita lain yang bisa diajak hidup susah! Aku tidak bisa."
"Pergilah!!" ujarnya lalu dia kembali masuk kedalam kamarnya dan menguncinya.
"Aku tidak menyangka kau lakukan hal ini padaku Dita."
__ADS_1