
...Hai readers ... terima kasih masih setia menunggu othor nya up ... mohon maaf baru lagi up, karena kemarin othor gak sempet up karena jadwal RL. Makasih buat like ... gift dan vote nya. Komennya yang warbysah yang belum sempat othor balas. Lope lope badag buat kalian semua....
.
.
Zian menceburkan diri ke dalam kolam renang, membuat Agnia sontak kaget, diam diam dia melirik ayahnya yang terpaku melihat ke arah nya dengan mata yang terbelalak. Sementara pria itu sengaja berenang mendekati dirinya, memeluknya dari belakang membuat Agnia tersentak. Dia merasa risih karena ada ayahnya disana, sedangkan Zian memeng sengaja melakukannya di depan Dave, dan Agnia pun menarik jemari pria yang baru beberapa jam jadi suaminya yang melingkar di pinggangnya.
"Jangan di lepas Agnia!"
"Tapi aku malu, Daddy melihat ke arah kita!"
Zian berdecak, "Aku memang sengaja! Kamu istriku, jadi harus menurut padaku. Hem ...!"
Apa yang mereka lakukan, Daddy bilang sengaja mengganggu Om Zian dan sekarang Om Zian sengaja membuat Daddy kesal. Dasar bapak bapak. Agnia membatin, dia tidak jadi melepaskan tangan suaminya itu, namun juga terus melihat ke arah Dave.
Zian semakin berani, dia tidak hanya memeluknya, dia juga mengecup leher belakang Agnia. Hingga dia merasakan sesuatu kembali sesak di bawah sana. Agnia bergidig, bulu bulu halus dikulitnya kembali meremang.
Air kolam yang dingin membuatnya sedikit menggigil, namun sejak Zian memeluk nya, entah kenapa suhu disekitarnya menjadi hangat, mungkin karena suhu tubuh Zian yang memanas saat kulit tipis mereka saling menyentuh.
"Kita bisa lakukan ini nanti! Tapi aku ingin melihat dia kesal dulu," bisik Zian ditelinga Agnia, kemudian mengecup cuping telinganya yang basah.
"Aaahhh ...!"
Tak sengaja Agnia justru men de sah, jika tidak ada Dave mungkin dia sudah membalikkan tubuhnya menghadap Zian. Dan membiarkan pria itu melakukan hal sesukanya.
Dave berjalan mendekati tepian kolam, "Nia ... naiklah! Hari sudah mau gelap, kau akan masuk angin jika berenang terlalu lama."
"Kau tenang saja! Aku yang akan menghangatkannya, aku tidak akan membuatnya masuk angin Dave ...!" Zian mengedipkan satu matanya ke arah Dave, sementara Agnia hanya diam dan mengulum senyuman.
"Bede bah kau!" gumam Dave tanpa suara.
Agnia terkekeh, dia merasa kedua pria dewasa itu bertingkah seperti anak kecil yang tengah merebutkan sesuatu, tidak ada yang mengalah diantara mereka.
"Kalian sama saja!" gumam Agnia.
"Dia yang memulainya Nia ... kita sudah sepakat mengenai pernikahan ini! Tapi dia selalu mencari alasan agar aku tidak bisa dekat dekat denganmu."
__ADS_1
"Iya dan kau sama, kenapa sengaja membuatnya kesal pake ikut berenang kesini! Jatohnya ini bukan berenang tahu! Tapi berendam ... Nia gak bisa bergerak." sungut Agnia kemudian.
"Ini hanya sebentar! Setelah itu kita memang harus naik, udara bertambah dingin."
Merasa perkataan nya tidak digubris, Dave kembali melangkah lebih dekat, dia bahkan berjongkok agar bisa melihat keduanya.
"Sweetheart ... ayo naik! Zian ... kau tidak akan membuatnya masuk angin kan? Jadi naiklah." Suara Dave melemah, terdengar seperti sebuah permohonan yang diajukan kepada sahabat masa kecilnya yang kini menjadi menantunya.
Agnia merasa tidak nyaman, dia pun menarik tangan Zian, "Ayo naik! Aku udah kedinginan."
Dave mengulurkan tangan ke arah Agnia, dan membantu putrinya untuk naik, lalu menyuruhnya untuk memakai bathrobe.
"Pakailah dan cepat bersihkan diri!"
Agnia mengangguk, dia mengambil bathrobe dari tangan Dave.
"Ayah mertua, kau tidak ingin membantuku naik?"
"Naik saja sendiri Zian!"
"Oh ayolah ... kau membantu anak perempuanmu, tapi kau tidak mau membantu anak laki lakimu. Pilih kasih sekali kau ini!"
Zian menarik satu bibirnya ke atas, lalu dia menyambut tangan Dave, pria yang kini jadi mertuanya itu menariknya ke atas, Zian yang sejak awal ingin mengerjainya justru menariknya kuat, hingga Dave ikut tercebur kedalam kolam.
Zian tergelak, dia lantas melompat naik ke tepian kolam dengan kaki yang masih menjuntai dengan terus tertawa.
"Brengsekk kau Zian! Kau memang sengaja!" ucap Dave dengan kesal, dia memukul air.
"Maaf ayah mertua, aku tidak sengaja! Kau saja yang tidak bertenaga! Sepertinya kau harus banyak olah raga, jangan hanya diam saja."
Dave menarik kaki Zian dengan satu tarikan, membuat Zian kembali jatuh ke kolam, lalu dia yang kini giliran tertawa sementara Zian merengut.
"Satu sama! Kau juga tidak lebih kuat dari ku, tenagamu masih lemah! Kau juga perlu olah raga sama denganku."
"Kau memang pengacau Dave!" Zian mencipratkan air pada Dave, keduanya justru tertawa.
Agnia terpaku melihat kedua pria dewasa yang nyatanya bertingkah tidak dewasa, sama sama bersaing tapi juga kini justru sama sama tertawa.
__ADS_1
"Kalian berdua emang freak!"
Agnia memilih meninggalkan mereka berdua, dia naik ke atas menuju kamarnya, saat sampai di tangga paling atas, dia melirik sebentar ke kamar yang sempat di tinggalinya dulu.
"Aku tidur dimana malam ini?" gumamnya, dia sedikit ragu dan masih tidak percaya jika dia sudah menikah kini. "Apa jangan jangan Om Zian akan memintanya malam ini!" hidungnya kembali, namun garis tipis di bibirnya tidak bisa berbohong, senyuman itu muncul walau sekilas.
"Non ... Kenapa?" Bi Nur muncul dari ruangan sebelah, dia tengah membereskan kamar untuk Dave.
"Bi Nur! Nia gak apa apa." sahutnya,
Asisten rumah tangga keluarga Maheswara itu mengusap bahunya, dengan mengulum senyuman, "Cepat mandi Non ... nanti masuk angin! Kalau Aya justru udah ketiduran,"
"Oh ya ... cepet banget tidurnya, katanya masih mau main!"
Agnia kembali berjalan, diikuti oleh Bi Nur, "Anak anak memang suka begitu Non kalau sudah berenang atau mandi. Suka ketiduran ... mungkin kelelahan."
"Benar juga Bi...!"
Bi Nur membuka pintu kamar Zian, "Ya sudah ... Non mandi, bibi ijin membereskan pakaian Non yang masih di dalam koper yaa! Tadi bibi mau bereskan tapi non didalam terus sama tuan." Bi Nur terkekeh, "Takut ganggu!" ujarnya lagi dengan sedikit berbisik.
"Bi Nur! Apaan iiih ... Nia gak ngapa ngapain kok! Itu ....!!"
Bi Nur kembali tersenyum, "Tidak apa apa Non ... awalnya pasti malu! Tapi setelahnya tidak kok! Tuan pasti akan memperlakukan non dengan baik, Non tidak perlu khawatir."
"Iya bi ... Nia gak khawatir, yang Nia khawatir kan justru dia dan Daddy!"
"Tuan Dave sepertinya belum rela melepaskan putri cantik dan juga baik seperti Non ini! Sampai sampai tuan Dave meminta kamar yang berada disebelah kamar ini."
"Benar kah bi?"
Bi Nur menggeret koper berwarna pink itu, lalu membukanya, "Iya Non! Tapi tuan Zian juga tidak keberatan, tuan menyuruh bibi membersihkan kamar itu terlebih dahulu."
Agnia mengangguk anggukan kepalanya, "Berarti mereka juga bersenang senang dengan keadaan ini!" gumam Agnia, yang justru malah bersandar pada lemari.
"Iya Non ... Tuan Zian membiarkan pintu kamar itu dimasuki oleh orang lain, biasanya dia hanya mengijinkan Sekretaris Kim yang masuk kesana."
Agnia mengernyit, "Apa mungkin kamar itu kamar Jasmine?"
__ADS_1
Kedua mata wanita paruh baya itu terbelalak sempurna, "Non Nia tahu mendiang non Jasmine?"
"Tahu kok Bi!"