
"Nia ...!" panggil seseorang yang berlari masuk kedalam ruangan kelas dengan nafas terengah-engah.
"Ya ampun, apalagi sih? Hari pertama sekolah gue nih, banyak banget yang manggil gue ... Nia ... Nia!" ujarnya dengan menoleh kearah suara. "Apaan lo?" sentaknya.
"Itu ... itu...!" ujar salah satu temannya berdiri dengan satu tangan yang berkacak pinggang mengatur nafasnya kembali normal.
"Pake lari-larian segala sih lo ... ribet! Apaan ngomong yang jelas, itu ... itu!" ketusnya lagi.
"Bentar... gue atur nafas dulu!" temannya itu menghirup nafas panjang dengan mulutnya lalu dia hembuskan kembali menggunakan hidung.
"Salah ngambil nafas lo! Udara yang kotor lo isep, yng bersih lo buang!" tukas Agnia terkekeh melihat kelakuaan temannya itu.
"Bodo lah ... gue gak bisa mikir mana yang bersih mana yang kotor, yang jelas gue lari-lari karena ada yang nyariin lo tuh disana, kayaknya sekarang lagi ke ruang pak Sopian deh! Soalnya tadi juga nyarin dia." jelas laki-laki berkaca mata itu.
"Siapa sih? Nyariin gue apa nyariin pak Sopian?"
Agnia bengkit dari kursi dan melongo keluar, namun karena jarak dari kelas ke ruangan konseling memang jauh dan juga arah yang berbeda, dia pun tidak melihat apa-apa.
"Ya kesana ... bego juga sih lo kadang-kadang!" pria berkaca mata itu menunjuk kearah berlawanan dengan arah pandangan Agnia.
"Santai dong! Kali aja kan muncul disana!" Agnia masih terkekeh, dan memukul lengan temannya itu.
"Galak lo! Dah sana cari sendiri!"
Agnia mendengus kasar, dia lantas keluar dari kelas dan melongo ke bawah melalui celah tembok yang jadi pembatas, namun dirinya susah jika harus melihat ke arah bawah dari atas seperti itu, karena tetap saja tidak terlihat.
__ADS_1
Hingga datang Bu Sri yang menyuruhnya untuk ke ruangan kepala sekolah. Membuat semua orang bertanya-tanya, siapa yang memanggil Nia ke ruangan kepala sekolah, penilaian mereka ruangan kepala sekolah itu paling menyeramkan dibanding ruangan konseling, karena kepala sekolah mereka terkenal galak dan tidak pernah sekalipun mentolerir kesalahan apapun.
Agnia keluar dari kelas, dia mengayunkan kedua kakinya dengan berat menuju ruangan kepala sekolah, dengan bertanya tanya dalam hatinya, siapa yang datang mencarinya.
Zian tidak mungkin, dia sudah jelas-jelas jadi guru kelas tambahan, Mommynya apalagi, itu jelas tidak mungkin dan jauh walaupun pernah terbersit harapan Agnia jika ibunya itu akan datang mencarinya. Daddy? Masih ada waktu beberapa hari lagi, karena pria sibuk itu akan datang di akhir bulan atau weekend saja.
Suara gelak tawa sang kepala sekolah pun sudah terdengar menggelegar dan juga nyaring, Agnia mengatur nafasnya saat berhenti di pintu bertuliskan kepala sekolah itu.
Tok
Tok
Dengan perlahan Agnia mengetuk pintu, dan menunggu jawaban dari dalam, setelah mendapat jawaban, dia pun masuk. Kedua matanya melebar seketika saat melihat sosok yang tengah duduk di hadapannya, sosok yang membuat dirinya hadir didunia ini dan seharusnya menjadi cinta pertama untuknya.
"Daddy?" Agnia tertegun melihat ayahnya sendiri, dia senang bisa melihatnya setelah sekian lama, suara bariton yang selalu mengganggunya saat main sewaktu kecil. Namun tubuhnya enggan bereaksi, dia hanya berdiri dengan menatapnya.
"Daddy ngapain kesini?" tanyanya dengan suara getir, seolah dia tengah menahan tangis.
"Nia ...! Kenapa bertanya seperti itu? Jelas Daddy kemari untuk melihat anak Daddy yang semakin cantik ini."
Pria itu merengkuhnya dan memeluknya, bahkan mengecup keningnya dan juga pucuk kepalanya, "Kamu sudah bertambah tinggi sekarang Nak, dulu kamu masih sekecil ini." ujarnya dengan meletakkan tangan di batas pinggang.
Agnia terlihat diam saja, dia merasa berada di dalam kebingungan dan juga rasa kecewa, namun juga senang.
"Are you Ok Sweetheart?" tanya nya kembali.
__ADS_1
Agnia mengangguk, kedua matanya mulai menghangat dan pandangannya sedikit mengabur.
"Aku sudah meminta ijin untukmu agar bisa pulang lebih awal, kita pergi?" tawarnya dengan kembali memeluk nya.
Mereka berdua keluar dari ruangan kepala sekolah, menuju kelas sebentar lalu berjalan turun dan masuk kedalam mobil.
"Kenapa diam saja Hem? Kau tidak senang Daddy datang?"
Agnia tidak menggubrisnya, dia sibuk memasang seat belt ditubuhnya, "Nia ...! Daddy sedang bicara dengan mu, kenapa kamu tidak mau mendengarkan?"
"Aku kira Daddy lupa kalau Daddy punya anak di Indonesia dan udah gede, dia tidak hanya butuh uang Dad! Tapi dia juga butuh kasih sayang, kalau Daddy ingin Nia mendengar semua ucapan Daddy, Nia juga ingin Daddy dengar apa mau Nia!" ungkapnya dengan kedua pelupuk yang sudah menganak.
"Nia ... kau tahu Daddy ini sibuk! jadi tolong tidak usah dibesar-besarkan ya! Karena Daddy tahu, kalau Nia itu anak pintar yang bisa mengerti semua hal."
"Semua hal Dad bilang? Terus apa kalian juga ngerti semua hal tentang Nia? Enggak kan ... kalian sibuk dengan diri kalian sendiri, bisnis kalian, tanpa kalian tahu ... ada anak yang menderita sendirian.
"Nia ... kenapa bicara begitu?"
Agnia menghempaskan punggung nya disandaran seat mobil, kedua pipinya sudah hampir basah oleh air yang menitik perlahan, dengan bibirnya yang kini terkatup. Percuma saja rasanya mengeluarkan apa yang dirasakannya, karena ayahnya sendiri tidak ingin mengerti. Bahkan untuk bertanya saja tidak.
"Nia ... come on, Daddy kemari untuk melihat putri Daddy yang cantik ini, kita habiskan waktu bersama-sama oke, don't cry sweetheart! Sekarang kita ke rumah, ambil pakaian yang kamu butuhkan, dan menginap bersama Daddy selama Daddy disini oke! Daddy janji selama disini, Daddy tidak akan mengurus pekerjaan, Daddy habiskan waktu bersama mu yaa!" ungkapnya dengan membelai rambut Agnia.
Gadis berusia 18 tahun itu mengangguk pelan, namun seketika tatapannya berubah, mengingat mereka akan kerumah terlebih dahulu.
Celaka ... Daddy akan tahu kalau gue sebenarnya gak tinggal dirumah lagi!
__ADS_1