
Ucapan Agnia tentu saja menohok, tak hanya Arkhan, namun juga Laras. Seorang ibu mana yang tidak kaget saat melihat anak gadis yang dia fikir hanya seorang anak yang nekad dan gemar kabur kaburan itu, ternyata adalah anak yang tidak mau tinggal diam saat dirinya tertekan, bahkan terancam oleh satu keadaan, dan lebih utama dia tidak mau dipaksa.
Arkhan tak habis fikir, baru kali ini dia mendapat perlakukan tidak mengenakan, yang bahkan itu dilakukan oleh cucunya sendiri.
"Laras, kau benar-benar tidak becus mengurus satu orang anak! Pantas saja Dave menceraikanmu, kau tidak lebih baik dari Karina. Kalian sama saja!" ujung telunjuknya mengarah pada Laras, kemudian dia beralih pada Agnia, " Dan Kau anak kecil, kau tidak punya etika terhadap kakekmu sendiri! Benar benar tidak sopan!" ujarnya lagi dengan amarah, dia lantas keluar dari ruangan tamu.
"Lihat saja! Kalian pasti akan menyesal!" ujarnya lagi dengan keluar dari rumah itu.
Agnia mendengus kasar, dia mengintip dibalik jendela memastikan semuanya pergi lalu mengunci pintu dan juga seluruh jendela.
"Menyesal! Yang ada kau dan anakmu yang menyesal!" gumam Agnia berjalan kembali masuk kedalam ruang tamu.
"Nia ... kenapa kamu bersikap seperti tadi! Bagaimanapun juga dia itu kakekmu Nak." ucap Laras membantingkan tubuhnya di sofa, hatinya melengos, bagaimanapun juga dia tidak ingin Arkhan satu hari nanti berbuat macam macam karena sakit hati pada anak nya.
"Biarin aja mom, biar mereka tahu, kalau kita gak butuh mereka, apalagi harta yang hanya jadi rebutan. Dan wanita itu ... walaupun Nia gak tahu gimana ceritanya, tapi dari apa yang Nia dengar. Daddy, maksud Nia ... dia tengah kesulitan, apa Mommy mau bantuin dia gitu aja setelah apa yang dia perbuat? Kalau Nia sih ogah!" ketusnya dengan ikut menghempaskan tubuhnya di samping sang ibu.
"Bagaimana kalau memang Daddy dalam kesulitan, sayang? Bagaimanapun juga, dia tetap ayahmu Nak."
"Biarkan saja! Toh dia juga gak mikirin kita, sepuluh tahun mom ... sepuluh tahun, dia hanya ngirimin uang... uang terus uang pada Nia, Nia gak butuh uang, Nia butuh Daddy ...Nia butuh Mommy! Bukan harta yang gak bakal di bawa mati, bukankah Nia udah pernah bilang sama mommy!" kata Agnia dengan berapi api.
Tangan Laras mengelus rambutnya pelan, "Mommy ngerti sayang! Mommy ngerti."
Gue pengen punya Daddy kayak orang lain, dianterin sekolah, dijemput sekolah, ditanya gimana hari ini disekolah, apa ada kesulitan atau gak. Perhatian yang gue dapet justru dari orang lain, Gue benci Daddy. batin Agnia disusul oleh helaan nafas.
Kemarahan seorang anak terhadap ayahnya sendiri mungkin akan reda seiring waktu, atau bahkan perubahan yang harusnya dilakukan oleh orang yang jadi cinta pertama anak perempuannya dilakukan. Bukan justru keegoisan yang merajainya.
__ADS_1
"Ya sudah, lebih baik Nia pergi istirahat gih, bukankah besok harus sekolah. Mommy juga ingin istirahat."
Agnia mengangguk, sekilas dia mengecup pipi sang bunda lalu keluar dari ruangan itu dan kembali naik ke kamarnya sendiri.
Bi Yum yang sedari tadi hanya diam di dapur, namun terus mendengar keributan yang tengah terjadi itu membawa segelas susu hangat dan mengetuk pintu kamar Agnia.
Agnia membuka pintu kamarnya, dan bi Yum masuk dengan nampan ditangannya.
"Sebelum tidur, minum susu hangat dulu ya Non ... bibi udah lama gak lihat Non Nia minum susu!" ujarnya dengan menyerahkan gelas berisi susu coklat itu.
"Nia hampir lupa kebiasaan itu Bi!" ucapnya dengan terkekeh.
"Mungkin Non semakin dewasa ya sekarang, jadi Non sudah jarang minum susu?" tukasnya ikut terkekeh.
"Enggak juga bi, mungkin karena diluar, Nia dituntut buat bersikap dewasa! Nia harus bisa ngambil keputusan sendiri Bi!"
"Non sudah jadi anak hebat, sudah bukan anak kecil lagi, kalau sudah bisa mengambil keputusan sendiri atas hidup Non, dan bibi juga tahu kalau Non itu baik hati...."
"Ahk ... bi Yum paling bisa bikin hati Nia seneng." ujarnya terkekeh lagi.
"Bibi juga yakin, Non gak bener bener marah sama tuan besar kan? Non sayang sama Daddy Non, bahkan sayang banget, Non hanya kecewa karena Daddy Non tidak sesuai seperti harapan Non." ucapnya dengan berhati hati.
Agnia terdiam seketika, ada benarnya yang dikatakan oleh orang yang selama ini mengasuhnya, bi Yum lebih mengenalnya dibandingkan mommynya sendiri, dia bisa mengerti dan memahami apa yang jadi keinginannya.
"Bi ... apa sikap Nia termasuk anak durhaka?" tanyanya tiba-tiba.
__ADS_1
"Lho kok anak durhaka, menurut bibi tidak Non, Non kan hanya kecewa karena keadaan Non aja! Bibi yakin, didalam hati Non itu, non kangen kan sama Daddy Non."
Bi Yum menyimpan sisir ditempatnya kembali, dia lantas mengambil gelas yang kini telah tandas dari tangan Agnia.
"Bibi juga yakin, suatu hari nanti, Non dan Daddy non akan berbaikan, saling sayang dan keadaan akan berubah." mengelus lembut pucuk kepala anak majikan yang teramat dia sayangi itu. "Sekarang Non tidur yaa. Istirahat," ungkapnya lagi.
Agnia hanya mengangguk, dia naik keatas ranjang dan menarik selimut, dan menutup tubuhnya sebatas dada. Kedua matanya menatap langit langit kamar yang berwarna biru dengan gambar bintang-bintang berwarna kuning disertai oleh gambar berbentuk awan berwarna putih.
"Mungkin suatu hari nanti, apa yang dikatakan Bi Yum akan terjadi, tapi gue gak mau berandai andai, apalagi harus kecewa lagi oleh sikap Daddy." gumamnya sesaat sebelum kedua matanya terpejam karena kelelahan.
Berbeda dengan sang anak, Laras kini termenung diruang kerja dirumahnya, setelah memeriksa informasi yang dia dapatkan mengenai perusahan Dave, dan juga apa yang dilakukan oleh Karina.
Dia mendial nomor kontak Dave dan ingin memastikan semuanya sendiri, nada sambung beberapa kali terdengar, sebelum suara serak terdengar saat panggilannya tersambung.
'Dave?'
'Hai Laras.'
'Are you Ok?'
'Ok ... don't worry!'
' Apa kau tahu, ayahmu baru saja pergi dari sini Dave, dan Nia menolak ikut dengannya ke Singapura.'
"Ooh God ... aku bahkan tidak tahu ayah kesana Laras! Maafkan aku, aku tidak ingin melibatkan mu apalagi putri kita dengan masalah ini.'
__ADS_1
Laras menutup kembali sambungan telepon itu, dia duduk termenung dengan ponsel yang terlepas dari telinganya.
"Apa yang kalian rencanakan pada putriku!"