
"Eeuuh ...!"
"Apa maksudmu?"
"Kami belum sadar juga? Atau pura-pura tidak mengerti?"
Agnia menggelengkan kepalanya, dengan mengerdikkan bahu, "Nia memang tidak mengerti."
"Ya sudah, kalau begitu lebih baik kamu tidur! Besok harus sekolah." ujar Zian dengan kembali berbalik.
Gue ngerti apa yang dia ucapkan dari kemarin, bahkan kode-kode yang dia berikan, sampai berakhir dengan ciuman itu, tapi gue rasa dia hanya terbawa suasana, dihatinya tetap ada Dita, dan gue gak mau ambil resiko, Jangan-jangan saat dia cium gue, yang dia bayangkan justru adalah Dita.
Zian membaringkan tubuhnya diatas ranjang, mencoba memejamkan kedua mata yang sudah tampak lelah, namun tetap tidak dapat terpejam.
Drett
Drett
Ponselnya berdering, nomor tidak dikenal terpangpang dilayar menyala itu. Zian menatapnya dengan mengernyit, lalu melirik jam kecil yang tersimpan diatas nakas.
Namun Zian mengabaikan panggilan itu, dia memilih keluar dari kamar. Semenjak ada Agnia dia tidak bisa dengan leluasa pergi ke klub malam ataupun sekedar meminumnya di rumah. Namun setelah kedatangan Iyan, fikirannya kembali kacau.
Zian turun dan menuju ke bar mini dirumahnya, mengeluarkan sebotol wine yang tertata rapi didalam lemari khusus. Perlahan Zian menenggak minuman keras itu, menenggaknya hingga hampir menghabiskan sebotol penuh.
Dengan berjalan sempoyongan dia naik ke atas, menggedor kamar Agnia dengan keras, Agnia yang baru saja memejamkan mata kembali bangun,
"Nia ... Agnia!" seru Zian dari luar pintu kamarnya.
Agnia bangkit dari tempat tidur nya lalu membuka pintu, dia tercengang menatap Zian yang sudah dalam mabuk itu berdiri dihadapannya.
"Astaga ... Om! Pasti habis minum kan?"
"Nia ... percayalah padaku, aku juga ingin menghilangkan perasaanku ini pada Dita, tapi aku masih belum sanggup! Tapi aku tidak mau kehilanganmu lagi Nia!" ujar Zian meracau.
"Aku mohon bantulah aku, untuk melupakannya!"
Zian menarik tangan Agnia dengan cepat hingga menabrak tubuhnya sendiri, lalu dia melingkarkan kedua tangannya pada bahu Agnia, gadis itu terkesiap, dia berusaha melepaskan diri. Namun Zian menahannya
__ADS_1
"Biarkan aku memelukmu seperti ini, aku tidak ingin kamu pergi! Dan satu lagi, Jangan pernah mengatakan hal mengenai laki-laki lain Nia, aku tidak suka dan aku cemburu!"
"Bukankah tadi Om bilang masih menyimpan Dita di hati Om, kenapa bisa ada Nia disana juga!"
Zian menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Agnia, "Aku juga tidak tahu apa sebabnya, yang jelas aku tidak mau kehilangan dirimu lagi, Nia! Aku juga tidak ingin berlarut dalam kondisi seperti ini, aku ... aku___!"
Brukk
Tubuh Zian ambruk seketika, dengan hampir saja menimpa Agnia yang tidak bisa menahan berat tubuhnya itu.
"Om ... astaga!"
Agnia terpaksa menyeret tubuh Zian yang besar itu ke atas ranjang dengan susah payaah, lalu dia masuk kedalam kamar mandi dan mengambil air. Gadis itu berusaha membuat Zian sadar, namun karena Zian menenggak minuman yang banyak, dia tidak terpengaruh sama sekali.
Akhirnya Agnia membiarkan Zian tertidur tak sadarkan diri di ranjangnya, sementara dia memilih tidur disofa.
Aku tidak ingin kamu pergi! Dan satu lagi, Jangan pernah mengatakan hal mengenai laki-laki lain Nia, aku tidak suka dan aku cemburu!
Agnia mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, teringat perkataan dari Zian. Tanpa dia sadari, bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis.
.
.
Zian terbangun dengan tubuh yang terasa sakit semua, dan dia tidak ingat apapun. Ditambah dia terbangun dan berada di kamar Agnia.
Kedua pupil hitamnya melebar, saat pandangannya tertuju pada Agnia yang tertidur pulas diatas sofa dikamar itu, sementara Zian berada di ranjang. Zian mencoba mengingat, dia takut melakukan sesuatu tanpa sadar, namun dia melihat semua pakaiannya lengkap dan merasa lega.
"Kenapa aku ada disini? Apa aku berjalan tak sadarkan diri seperti yang dilakukan Agnia, tapi rasanya tidak mungkin!" gumamnya.
Tak lama kemudian, Zian beranjak dari ranjang dan menghampiri Agnia, lalu menganggjatnya hendak memindahkan gadis itu ke ranjang.
Namun tanpa dia sangka, Agnia terbangun saat dia menggendongnya, dan Zian terkesiap dengan tatapan Agnia yang tertuju padanya.
"Om ...!"
"Kau sudah bangun? Aku baru saja akan memindahkan mu." Ujarnya dengan membungkuk meletakkan Agnia.
__ADS_1
Entah kenapa justru dia malah jatuh menindihnya, dan tepat berada diatas tubuh Agnia.
"Maaf aku tiba-tiba pusing!"
"It__Itu karena Om mabuk semalam!"
Seingat Zian, dia memang mabuk, setelah itu pergi ke kamar dan tidur, tapi nyatanya dia terbangun diatas ranjang milik Agnia, dan lebih parahnya lagi, saat ini dia berada diatas tubuh gadis kecil itu.
Kedua manik hitam mereka kembali beradu, kedua mata Zian yang meneduhkan membuat Agnia kembali terpaku dan menikmati muka bantal Zian.
Perlahan-lahan, Zian memajukan wajahnya dan mengecup bibir Agnia dengan lembut, bahkan lebih lembut dari pada ciuman terakhir mereka, kedua matanya terpejam, seolah menikmati setiap detik sentuhan benda kenyal itu, dengan sedikit gigitan lembut, membuat Agnia membuka bibirnya dan meloloskan lidah Zian begitu saja, membiarkannya menyisir rongga dalam miliknya.
Mendapat sinyal yang bagus dari lawannya, Zian pun semakin berani, dengan tangan yang kini menyusup pada ceruk putih gadis yang tengah berproses itu, menyentuhnya dengan teramat lembut hingga Agnia terbuai.
Benda basah itu kini saling membelit, walau Agnia tentu saja belum bisa mengimbanginya, lidah mereka saling membelit, kedusnya merasakan sensasi yang berbeda, semakin lama dan semakin dalam.
Dengan bertumpu pada satu tangan, menahan tubuhnya agar tidak menindih tubuh Agnia dan membuatnya sesak, Zian mencoba mengimbangi pergerakannya, agar tidak gegabah, mengingat Agnia hanyalah gadis yang baru saja beranjak remaja.
Keduanya saling bertaut, dengan desiran yang menyerang seluruh urat nadi mereka, nafas Agnia mulai terengah, membuat Zian menghentikan gerakannya. Dengan dada yang turun naik menahan gejolak Zian benar-benar menjaganya.
"Maaf ... lagi-lagi aku tidak bisa menahannya lagi!" ujarnya dengan suara yang serak.
Agnia terpaku, dia bahkan mendadak bisu, suaranya tercekat di tenggorokan setelah sesuatu hal yang baru saja dia rasakan.
"Lebih baik kamu siap-siap berangkat sekolah! Aku juga akan mandi!" ujarnya dengan merapikan anak rambut Agnia yang berantakan.
Agnia mengangguk pelan, namun juga menunggu Zian yang sama sekali tidak bergerak dari tempatnya, dia masih betah menatap wajah Agnia dengan senyuman yang terus menempel di bibirnya.
"Eekkhem ...!" Agnia berdehem pelan, membuat Zian akhirnya tersadar dan beranjak dari posisinya.
"A__aaku akan ke kamarku! Kau mandilah!" ujarnya tergagap dan melengos pergi.
Agnia menghela nafas setelah Zian menghilang dibalik pintu. Dia menutupi wajahnya yang terasa panas dengan bantal.
Nia bego, Lo mau aja lagi kalau dia nyium Lo, bego kan!
Namun tidak dapat dipungkiri, jika Agnia mulai menyukai pria pemaksa itu, yang semakin hari sikapnya semakin lembut.
__ADS_1
"Gak ... gak mungkin kan gue suka sama dia! Please Nia, Lo jangan bodoh!"