Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 44


__ADS_3

"Kau hanya menganggap aku sugar Baby mu bukan? Jadi jangan berharap lebih!"


Deg


"Jadi menurutmu, aku berlebihan? Aku hanya peduli dengan mu ... itu saja! Apa hanya hubungan darah yang bisa jadi alasan agar aku bisa peduli denganmu?"


Agnia mengerdikkan bahu. "Aku tidak butuh!"


Zian semakin berang, dengan sikap Agnia yang keras kepala dan sulit sekali di atur, "Dasar pembangkang!"


"Memang iya, kenapa? Gue gak suka di larang, terlebih hal-hal menurut gue benar!"


Zian menarik tangan Agnia dengan paksa, lalu memasukkannya dikursi belakang, dan dia pun ikut masuk ke dalam nya.


"Om mau apa?" ucapnya dengan nada meninggi


"Aku akan meminta hak ku sekarang juga! Agar kita punya hubungan dan kau menerima rasa perduliku padamu!" bentaknya lalu menarik tengkuk Agnia, dengan satu tangan menopang tubuhnya.


"Jangan kurang ajar Om! Gue bisa teriak!"


"Teriak saja, agar semua orang tahu!"


Zian menyambar bibir tipis yang tengah terus mengoceh itu dengan paksa, dan terus mela hapnya rakus, tidak ada kelembutan disana, yang ada kemarahan.


"Zian ... hentikan!" ujarnya dengan suara tertahan.


Namun semakin Agnia melawan, semakin bertenaga Zian menahannya. Dia terus melu matt bibir Agnia hingga gadis itu hampir menangis.


"Hentikan! Gue gak akan maafin lo Zian!"


"Itu lebih baik, agar lo gak bisa pergi dari gue!"


Deg


Baru kali ini Zian memanggilnya dengan sebutan lo dan gue, dan Agnia merasa hatinya terasa perih, apa semua orang tidak bisa memperlakukannya dengan tulus. Semua orang.


Agnia menangis, tubuhnya yang selalu berontak tiba-tiba melemah, tidak ada lagi alasan untuknya hidup di dunia jika Zian sampai melakukan hal seperti itu. Tidak ada lagi tempat untuknya.


Zian yang merasa Agnia tidak lagi berontak, melepaskan diri, "Kenapa Nia? Apa kau sudsh sangat pasrah dan akan menyerahkan dirimu padaku? Hem ..."


"Lakukan yang lo mau Zian, gue gak peduli!"


Zian menyugar rambutnya dengan kasar, dan membenarkan posisi Agnia yang sudah hampir terlentang itu.


"Apa hanya cara ini yang membuatku bisa peduli padamu Nia!"


Zian mengubah panggilan nya lagi. Brengsekk apa mau lo Zian.


" Lo memang pria lemah Zian, lo berbuat begini pada gadis lemah kayak gue! Tapi lo gak berkutik dihadapan pacar lo sendiri!" ujarnya lirih.

__ADS_1


"Itu beda Nia! Aku peduli padanya, dan dia menerimanya, tidak sepertimu yang keras kepala!"


Agnia menggosok bibirnya dengan keras, menghapus jejak Zian, dan seolah tidak rela bibirnya lagi-lagi menjadi korban, apalagi dilakukan dengan cara paksaan.


Agnia masih menangis, Kau memang bodoh Zian, tentu saja dia menerimanya, karena dia dengan mudah menipumu.


Zian keluar dari mobil, dan menutup pintu mobil dengan keras, sementara Agnia kembali menangis.


Apa yang salah dengan sikap gue, gue keras kepala, dan gue gak mau dia ikut campur masalah gue. Apa dia gak sadar, dia juga keras kepala. Dasar bodoh.


Dreet Drett


Cecilia calling


Agnia menatap ponsel yang tengah menyala itu, lalu menatap punggung Zian yang tengah masuk ke dalam hotel. Dia pun akhirnya mengangkat sambungan telepon dari Cecilia.


'Nia, lo dimana? Gue udah atur waktu dengannya!'


Sedetik Agnia tidak mampu berfikir, lalu menghela nafas, 'Cecil Gue hanya nyuruh lo buat cari tahu kegiatan dia!'


'Kelamaan Nia! Gue gak ada waktu buat ngikutin dia dari pagi sampe pagi, to the point aja, dia langsung mau kok! Baru saja gue ketemu dengannya di hotel xx."


Agnia menatap bangunan hotel, didepannya, dan benar itu hotel Xx


'Brengsekk, lo Cil.'


Gue disini juga anjim! Jadi yang naik dengannya ke atas itu Cecil.


'Duit Nia ... Duit! Itu yang penting buat gue. Dia langsung tertarik sama lo, dan membayar cash, dan gue punya bukti rekaman buat lo! Lakukan saja, walaupun gue gak tahu masalah lo apa, tapi gue yakin, apa yang mau lo lakuin!'


'Good luck Nia! Gue share waktu dan tempatnya ok!'


Sambungan telepon berakhir, bertepatan dengan Zian yang masuk kembali ke dalam mobil dan menyodorkan air mineral untuknya.


Agnia hanya mendelik, dia sama sekali tidak berminat mengambil botol dari tangan Zian.


"Minumlah, kita pulang!"


Zian benar-benar aneh! Gue gak habis fikir apa yang ada di benaknya. Sebentar baik, sebentar galak. Tapi gue lega dia gak ngelakuin hal itu tadi. Tapi Cecilia... kenapa dia sangat berbeda! Gue gak ngenalin dia tadi, apa dia seperti itu jika sedang bekerja.


Kepalanya sekarang dipenuhi oleh berbagai fikiran, dengan banyak pertanyaan. Gue bisa gila lama-lama dengan beban hidup gue dan masalah-masalah ini.


"Nia?"


Agnia tersentak, dia menatap Zian yang masih menunggunya dengan botol masih dia sodorkan.


"Maaf ... aku tidak bermaksud berbuat jahat padamu! Aku hanya kesal karena, dengan ke- keras kepala- an mu."


Agnia tidak menjawab, dia mengambil botol itu dari tangannya, membuka tutup botol dan menenggaknya, lalu menyiramkannya dikepalanya sendiri. Zian. Pria itu melebarkan kedua matanya, lalu merebut kembali botol itu.

__ADS_1


"Kau gila!!!"


"Gue hanya ingin mendinginkan kepala, Om!"


"Gak gitu juga caranya!"


Agnia mendengus, "Gue suka begitu kok kalau banyak fikiran!"


Zian menghela nafas, "Kau benar- benar menguji kesabaran Nia!"


Agnia menarik tipis bibirnya, "Mungkin itu sebabnya orang-orang terdekat Nia pergi! Mereka tidak sabar?"


"Kamu tidak cerita, jadi aku tidak tahu!"


Zian keluar dan kembali masuk ke belakang kemudi, lalu melajukan mobilnya. Sementara Agnia masih duduk dibelakang dengan menyandarkan kepalanya dan menatap keluar jendela.


Zian meliriknya dari spion tanpa Agnia tahu,


"Kenapa aku semakin kasian pada gadis itu, beban hidupnya sepertinya terlalu banyak, tapi dia masih bisa sekuat itu." gumamnya.


Ting


Sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya, Agnia melihatnya dengan kedua mata yang membulat lalu menghela nafas.


Daddy


Dad sudah transfer ke rekening you, see you next month Nia.


Agnia menghela nafas, "Uang dan uang! Sekali nya mengirim pesan hanya uang, kabar gue aja gak ditanya." gumamnya kesal.


Dia menggulir kembali layar ponselnya, dan satu pesan yang dia terima dari Cecilia.


Cecilia


Lusa, Hotel xx no 212 jam 7.


Setelah membacanya Agnia kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas, lalu memejamkan kedua matanya, mengabaikan Zian yang sibuk dengan kemudi.


Tak lama mereka sampai di rumah, Zian memasukkan mobil ke dalam carport, dan melihat Agnia yang sudah tertidur.


"Lagi-lagi harus aku gendong!"


Zian kemudian membuka pintu belakang, dan menggendong Agnia, membawanya ke kamar.


Ceklek


Zian masuk ke dalam kamar dan membaringkannya, "Aku tidak pernah bisa marah padamu Nia! Aku benar-benar ingin melindungimu." ucapnya dengan menarik selimut dan menutupi tubuhnya.


Zian mengecup keningnya lalu keluar dari kamar. Sekejap Agnia membuka matanya.

__ADS_1


"Zian ... apa kau benar-benar bodoh!"


__ADS_2