
Regi menatapnya dengan pandangan nanar, dia bangkit dari duduknya lalu menoleh ke arah belakang, "Lo gak dapet ijin dari om lo?"
Cecilia dan Nita saling pandang, hanya mereka berdua yang tahu jika Zian bukanlah om Agnia, melainkan memiliki hubungan spesial.
"Gue yang akan ngomong sama om lo! Kalian tunggu disini."
"Jangan!!!"
Ketiganya serempak menahan Regi, bahkan Cecilia dan juga Nita berbarengan bangkit dari duduknya, dan memegangi Regi yang hendak melangkah,
"Jangan Gi udah biarin aja! Kita bisa nonton kapan-kapan kok, gak mesti sekarang kan." sela Cecilia berjalan memutar menghalau langkah Regi.
Begitupun dengan Nita, dia berjalan hingga disamping Cecilia hingga Regi tertahan oleh dua gadis itu,
"Iya sih santai aja kali, atau kita main ke rumahnya aja! Terus kita nonton bareng-bareng di sana."
Cecilia menyenggol lengan Nita, dia bergumam, "Sialan, ide lo justru malah bikin ribet tau nggak!"
"Tiba-tiba ngeblank nih otak gue!" bisiknya pada Cecilia,
Sementara Agnia yang berada disamping Regi tampak resah, dia terus melihat ke arah Zian yang masih melipat dada menatapnya.
"Kalian pada kenapa sih aneh deh atau jangan-jangan ada yang di sembunyiin dari gue? Iya....?"
Ketiganya terdiam seketika melihat Regi yang menatapnya bergantian penuh curiga "Ada yang mau ngomong sama gue nggak, kalau nggak, gue tanya sendiri aja sama orangnya! Kenapa dia sampai segitunya ngelarang lo jalan sama kita, toh nggak jalan berdua sama gue kan! Kita rame rame kok." ungkapnya dengan suara keras dan tentu saja kesal.
"Enggak papa kok Gi, next time kita pasti bisa main bareng lagi tapi buat hari ini. Sorry banget, gue emang ada urusan bukan karena Om gue ngelarang gue!"
"Lo kan udah bilang tadi bisa!?"
"Ya gue harus minta izin sama Daddy gue dulu tapi daddy gue bilang ada acara keluarga! Sorry banget ya guys." ucap Agnia dengan kedua tangan menangkup kearah mereka, Cecilia dan juga Nita paham akan alasannya, mereka bisa mengerti, tapi tidak dengan Regi.
"Baru kali ini gue nggak percaya sama alasan lo Nia!" Ujar Regi lalu menyambar tas sekolah miliknya, dia berlalu begitu saja ke arah motor.
Memanaskan motornya, sengaja mengeluarkan suara kenalpot yang bising, menatap ke arah Zian dengan tajam lalu dia tancap gas dan pergi begitu saja.
Cecilia dan juga Nita saling menatap, lalu keduanya melihat kearah Agnia.
"Kayaknya Lo harus ngomong deh sama Regi yang sebenarnya Nia! Kasian dia ... gue gak tega lihatnya, dia udah peduli banget sama Lo dari tadi." ujar Nita merengkul bahu Agnia.
__ADS_1
"Hmmm ... gue juga mikir gitu! Mending lo ngomong sama dia, biar dia gak berharap terus sama lo, gue yakin dia pasti ngerti kok!"
Zian berjalan kearah mereka, dengan santai juga kaca mata yang dia pasang di pangkal hidungnya.
"Let's go Baby!!" ujarnya dengan mengulurkan tangan ke arah Agnia,
Agnia hanya menatapnya dengan tatapan kesal, dia masih ingin bermain dengan teman temannya, ditambah Regi yang juga marah, membuat suasana hatinya kacau.
"Guys gue balik duluan!! Kalian kalau mau ke rumah ke rumah aja, gue tunggu!"
"Hah ...??"
"Pokoknya kalian datang! Kita bakal belajar bersama kan?" ujar Agnia sambil berjalan.
Dia berjalan dengan menghentak hentakkan kakinya kesal menuju ke mobil, bahkan berjalan lebih dulu dan meninggalkan Zian yang masih berusaha menyamai langkahnya dari belakang dengan wajah tanpa dosa.
Gadis itu kesal dan bertambah kesal saat melihat wajah cian yang tampak senang, sementara dia dan temannya temannya tidak jadi pergi ke bioskop.
Agnia membuka pintu mobil dengan sedikit keras, membantingkan tubuhnya di atas seat mobil. Zian masuk ke arah pintu kemudi dan duduk.
"Baby ... kau marah padaku?" tanyanya dengan melingkarkan seatbelt di tubuhnya. "Kau pikir saja sendiri!" Agnia mendengus, dia enggan menoleh ke arah suara, tatapannya lurus ke arah depan walaupun didepannya hanyalah tembok parkiran.
"Aku sudah lama tidak menonton bioskop! Aku juga udah lama gak ketemu Regi ... bisa gak sih om paham? Enggak kan ... Dunia kita itu jelas beda." Sungutnya dengan kesal, dan kedua tangannya melipat di dada.
Zian hanya menghela nafas, membiarkan istrinya itu terus menggerutu tiada henti, dia memanaskan kendaraannya namun tidak melaju.
"Hanya itu?" Tanya Zian dengan kedua manik menatapnya.
"Ya tentu saja ... hanya itu memangnya Kau pikir apa?"
Zian mengulum senyuman, "Bukan kesal karena pacarmu pergi?"
Agnia baru menoleh kearah Zian, "Enak aja dia bukan pacarku! Dia sahabatku, teman baikku ... teman yang selalu ada dan membantuku saat aku kesusahan!" jawab Agnia lugas.
Pria yang duduk disampingnya itu mengganggukan kepalanya. "Terus aku siapa?"
Gadis itu mengerjap ngerjapkan kedua matanya, tangannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal,
"Pertanyaan macam apa itu?" gumamnya.
__ADS_1
"Jawab saja!! Aku ingin mendengarnya."
Agnia berdecak, "Udah ah ... ayo buruan jalan! Ngapain masih disini! Ke bioskop enggak juga!"
Zian terkekeh melihat Agnia yang tengah kesal itu, mulutnya mengerucut dan kembali menatap lurus ke depan.
"Belum menjawab pertanyaanku kok, belum juga mengganti panggilan namaku! buruk sekali nasibku ini!" Gumam Zian dengan melajukan mobilnya perlahan-lahan keluar dari pelataran parkir.
Agnia mendengar gumaman Zian itu, bahkan terdengar jelas olehnya. Namun dia enggan menjawabnya, dia hanya diam dengan bibir yang mencebik.
"Hanya orang bodoh yang bertanya seperti itu! Padahal dia sendiri tahu jawabannya." gumamnya lebih pelan.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, gadis berusia 17 tahun itu terus memikirkan Regi yang marah dan pergi begitu saja.
Cecilia dan Nita benar, gue emang harus bicara dengan Regi mengenai hubungan gue dengan Zian yang bukanlah sebatas paman dan keponakan, agar Regi gak lagi berharap lebih sama gue! tapi gue juga takut kalau Regi gak terima dan justru gak mau lagi temenan sama gue. Batin Agnia.
"Nanti malem, aku ngundang Cecilia, dan Nita ke rumah gak apa apa kan?"
"Gak masalah!! Asal gak ada laki laki!" jawab Zian tanpa mengalihkan pandangannya kearah suara.
"Kalau Regi?"
Zian menghela nafas, "Kau sengaja memancingku baby? Dia laki laki dan dia menyukaimu!"
"Tap___"
"Tidak ada tapi! Aku tidak suka dan aku tidak mau dia datang!"
Agnia mendengus lagi, dia kembali terdiam sampai akhirnya mereka tiba di rumah.
Zian baru saja menghentikan laju kendaraannya, namun Agnia langsung turun tanpa berkata apa apa lagi. Kekesalannya memuncak saat itu juga, dia kesal karena Zian bertingkah berlebihan.
Dia masuk kedalam rumah lalu naik ke atas dan menuju kamarnya.
Bruukkk
Tanpa berganti pakaian terlebih dahulu bahkan sepatu yang masih menempel di kedua kakinya.
"Kebangetan banget!!! Padahal udah berapa kali aku bilang dari dulu, aku gak punya rasa ke Regi."
__ADS_1