Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 85


__ADS_3

"Biar aku yang memasangkannya."


"Agnia menggigit ujung gelang lalu menariknya, "Tidak usah aku bisa sendiri!"


Setelah keluar dari gerai aksesoris itu, Agnia menjajal segala jajanan yang ada disana, membuat Zian lagi-lagi menahan diri untuk tidak kesal.


"Om gak pernah maen ke tempat umum begini kan?"


Zian menggelengkan kepalanya, "Biar ku tebak, semasa Om masih muda pasti hidupnya membosankan, iyakan."


"Tidak juga! Diluar negeri mana ada yang jualan begini, lagi pula aku sibuk belajar, tidak ada waktu bermain-main seperti ini!"


Agnia mendecih, "Sombong amat! Yang sekolah diluar negeri," Ujarnya dengan memakan takoyaki yang cukup enak dan juga murah.


"Kenapa kita tidak pergi ke Korean food, lebih higienis juga, dari pada makan itu, asap dari kompornya saja kemana-mana!" decihnya.


Agnia berkacak pinggang, "Siapa yang mengajak kesini, siapa yang banyak protes! Menyebalkan."


Setelah berdebat tentang makanan kaki lima, mereka kembali menjajal permainan, kali ini Agnia memilih permainan lempar bola, siapa yang berhasil melempar bola dengan tepat, maka akan mendapat hadiah.


"Aku duluan!" Agnia berlari terlebih dahulu, disusul oleh Zian yang bisa berdecak, Suasana hati Agnia memang cepat berubah, namun sekalinya riang malah membuat Zian selalu kesal.


"Bisa gak?"


"Susah tau Om," ujarnya melempar bola, namun tidak ada satu pun yang kena.


"Biar aku saja! Kau tunggu disitu, dan lihat lemparanku." ujarnya dengan percaya diri.


Namun Zian juga sama sekali tidak bisa melempar bola dengan tepat, Agnia tertawa, karena sama saja, dan Zian melihatnya merengut.


"Padahal Nia mau dapet boneka itu! Tunjuknya pada boneka Teddy bear kecil berwarna coklat.


"Hey kau petugas yang berjaga disini?" tunjuknya pada seorang pria muda yang tengah berjaga. Zian mengeluarkan sejumlah uang dari dompet dan memberikannya pada pria tersebut.


"Aku beli saja boneka Teddy itu!"


"Hey ... mana bisa begitu, itu bukan hadiah dari permainan, tapi membelinya langsung, gak seru sama sekali."


"Kelamaan Nia kalau menunggu kita bermain, sepertinya penjaga permainan ini curang! Masa dari tadi kita tidak bisa melempar dengan tepat.


"Selain norak, malu-maluin juga gak sabaran! Namanya juga permainan Om."


Zian mengambil boneka Teddy bear kecil itu dari penjaga dan memberikannya pada Agnia.

__ADS_1


"Kita akan menghabiskan waktu banyak hanya untuk mendapatkan boneka kecil ini! Aku bahkan bisa membelinya di toko boneka, ukurannya juga lebih besar dari pada ini!" seloroh Zian.


Membuat Agnia mendengus kesal, tapi juga mengambil boneka itu dari tangan Zian. "Lain kali Om di rumah saja, norak tahu gak! Mana ada yang begini, dimana-mana kita main dulu! Kalau pun kalah dan gak dapet boneka ini juga gak apa-apa."


Agnia menghentakkan kakinya lalu berjalan terlebih dahulu.


"Aku hanya mempermudah hal yang sepele ini Nia!" ujarnya dengan menyusul gadis itu.


Zian menyusul Agnia yang entah kemana, gadis itu berlari sangat cepat, Zian mengedarkan kepalanya diantara kerumunan orang-orang yang mengelilingi sebuah tepat, dan kedua matanya mengunci sosok Agnia yang tengah bertepuk tangan disana.


Zian menghampirinya, dan tersentak kaget karena didalam lingkaran yang terbuat dari papan kayu itu ada beberapa orang yang mengendarai motor lalu berputar-putar, dilingkaran papan kayu dengan posisi miring, dan semakin lama, laju kendaraan semakin cepat hingga mengeluarkan kepulan asap dari kendaraannya.


"Nia ... ini sangat berbahaya, lebih baik kita mencari tempat lain saja!"


"Ini belum selesai Om, lebih baik Om Zian nonton dulu sampe selesai,"


"Mereka bisa terlempar jauh dari atas motor, bagaimana jika mengenaimu?"


"Astaga Om, ya gak mungkin lah! Mereka itu sudah terlatih!" kilah Agnia dengan tangan memeluk boneka.


Sepertinya aku salah tempat. Hanya untuk menghiburnya, aku terpaksa mengajaknya ke tempat berbahaya seperti ini. Gadis ini benar-benar berbeda.


Zian meringis saat roda sepeda motor itu nyaris mengenainya, dan juga Agnia, adegan berbahaya yang baru saja dia lihat sekarang.


Agnia tertawa melihatnya, "Sepertinya Om tidak bersenang-senang di sini!"


"Tidak ... aku senang, ya walaupun sedikit kesal. Mereka bahkan tidak memakai pelindung tubuh, padahal itu sangat berbahaya sekali."


Agnia kembali mendengus, "Aku ingin kesana! Dan jangan protees kali ini!" Tunjuknya pada Zian setelah dia melihat permainan biang Lala yang berada ditengah-tengah.


Orang-orang terlihat mengantri di loket pembelian tiket masuk, begitu juga dengan Zian.


Sekali seumur hidupnya, dia ikut mengantri seperti yang lain. Biasanya dia tahu beres dan semua urusannya di kerjakan oleh sekretaris Kim ataupun Iyan.


Setelah hampir 10 menit mengantri, akhirnya Zian berhasil membawa 2 tiket untuk menaiki permainan itu.


Permainan yang terlihat seperti sangkar berayun-ayun dengan lambat itu berhenti, Zian dan Agnia masuk kedalamnya, permainan ini terbilang paling santai, kita bisa melihat pemandangan dari jauh jika posisi kita tengah berada di atas, namun akan terasa jatuh jika kita berada di paling bawah.


"Om tidak akan berteriak dan bikin Nia malu kan?" ujarnya dengan melahap corn dog ala-ala ditangannya.


"Tidak, sepertinya permainan ini terlihat santai dan juga Seru."


Mesin pun menyala, mereka mulai bergerak ke atas, kemudian terdiam saat posisi tertinggi. Agnia menatap ke arah bawah, orang yang terlihat banyak itu kini terlihat mengecil, lalu melihat hamparan langit dengan bintang yang bertabur.

__ADS_1


Sementara Zian menatapnya tanpa berkedip, melihat mulut Agnia yang tengah bergerak sesuai irama kunyahannya. Bibir tipis merah muda yang membuatnya candu.


"Kenapa melihatku seperti itu? Apa ada yang salah dengan wajah Nia?"


Zian menggelengkan kepalanya, perlahan dia yang duduk dihadapannya itu mencondongkan tubuhnya, dengan ibu jari yang terulur menyusut ujung bibir Agnia.


Agnia tersentak, lalu memundurkan kepalanya perlahan.


"Bibirmu belepotan oleh saus!" ujarnya.


"Ooh ... Iya!" jawabnya gelagapan, dengan menyeka mulutnya dengan punggung tangannya.


Nia lo mikirin apa? Lo kaget kalau dia tiba-tiba nyium bibir Lo lagi di sini!


Zian tersenyum melihat tingkah Agnia yang gelagapan, "Memangnya apa yang kamu pikirkan."


"Gak ada! Udah deh ... fokus aja tuh lihat kesana, atau kesana! Gak usah lihat Nia!" ujarnya dengan menunjuk ke arah lain.


Zian kembali tersenyum, tanpa mengalihkan pandangannya pada gadis yang berhasil mencuri hatinya itu.


"Baru permainan ini yang membuat Om diam tanpa protes!"


"Kamu benar! Hanya ini permainan yang membuat aku fokus pada satu hal." jawab Zian dengan mengulum senyuman.


"Maksudnya, membuat aku tenang tanpa khawatir jatuh atau lainnya! Apalagi itu tuh apa namanya yang sepeda motor naik-naik keatas berputar-putar!"


"Dasar norak! itu namanya Tong setan!" jawab Agnia dengan terkekeh.


Zian mengangguk, "Pantesan, namanya saja aneh!"


"Memangnya Om belum pernah ketempat-tempat begini? Maksudku dimall juga ada, di tempat rekreasi juga ada. Cuma ini versi murah meriah dan merakyat, sedangkan disana kan mahal." terangnya.


"Sudah aku bilang, aku belum pernah ketempat begini, walaupun ke tempat lain yang sejenis, hidupku terlalu sibuk mengurus perusahaan."


"Sombong lagi!"


Zian mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya, lalu menyodorkannya pada Agnia, "Ini ... kau pegang ini! Aku sudah memberikannya padamu, kau bebas memakainya."


Agnia menatap sebuah kartu berwarna hitam ditangan Zian, dengan cepat dia menolaknya dengan halus.


"Tidak apa-apa, ini milikmu! Kau bebas membeli apa saja!"


"Tap___"

__ADS_1


Jari Zian menempel dibibir Agnia, "Tidak usah membantah oke! Anggap ini adalah hadiah karena kamu mau kembali ke rumah dan tinggal bersama ku!"


__ADS_2