
Agnia masuk dengan percaya diri, meski didalam hatinya menyimpan ketakutan yang amat besar, namun sebuah tekad bulat ingin memberi pelajaran padanya atas perbuatan menjijikan yang pria itu lakukan dengan ibunya.
Tentu saja yang bersalah bukan hanya pria itu, namun juga sang ibu, karena hal itu tidak mungkin terjadi tanpa persetujuan Laras ibunya, dan pelajaran bagi ibunya sudah ada dalam fikirannya.
Setelah mengantongi kartu akses kamar, Agnia langsung masuk kedalam hotel, langkah nya mantap dengan tubuh meliuk-liuk bak seorang model, membuat orang yang menatapnya mengikuti langkahnya dengan mulut ternganga.
Mempesona, itulah dirinya saat ini, Agnia mengeluarkan sisi lain dari diri yang belum genap berusia 18 tahun, dia beruntung, mempunyai bentuk tubuh dan paras yang sempurna, dibalut oleh dress mini berwarna merah, sangat kontras dengan kulit putihnya, dengan rambut curly dan digerai begitu saja.
Dia masuk kedalam lift, dan langsung menekan tombol bernomor 3. Dengan pandangan datar dan elegan, kemudian keluar dan langsung menuju kamar bernomor 212.
Tampak berbeda dengan Agnia yang pertama kali menerima tantangan atas kekalahannya dari Cecilia tempo hari, karena kali ini, dia mempersiapkan semua. Bahkan letak kamar sudah dia ketahui.
Agnia menempelkan Card key pada pintu, kemudian dia masuk begitu saja dan melihat seisi ruangan kamar itu gelap gulita, hatinya mulai dipenuhi oleh perasaan cemas, dia menggenggam ujung dress dengan erat, Ayo Nia lo bisa, rencana ini udah lo fikirkan sedemikian rupa.
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka, seorang pria keluar dengan lilitan handuk di pinggangnya, membuat Agnia ingin muntah seketika.
"Kau sudah datang rupanya hem?" ucapnya menyambut tangan Agnia dan mengecupnya lembut.
"Baru saja masuk!" Jawabnya dengan tersenyum.
Pria itu menyalakan lampu, dan menatap Agnia dari ujung rambut hingga ujung kepala dengan tatapan lapar. "Kau cantik sekali! Benar-benar cantik sayang!"
"Terima kasih Om!" Agnia menyempilkan sebagian kecil rambutnya ke belakang telinga, membuat gerakan slow motion dengan sengaja, yang membuat pria itu semakin lapar hanya karena melihat cuping telinga Agnia.
"No ... Don't call me Om, call me Dad... allright?"
Agnia mengangguk pelan, "Ok Dad ... i'm yours tonight!"
"Oh god, kamu memang sempurna! Duduklah dulu, aku akan mengganti pakaianku!" ujarnya dengan melepaskan tangan Agnia, namun Agnia menariknya hingga tubuh mereka merapat, "Tetap begini saja, aku menyukai aroma kulitmu dad!"
Pria itu tersenyum, "Tentu ... apapun maumu!" ujarnya dengan mencondongkan kepala hendak mencium pipi Agnia, namun Agnia dengan cepat menempelkan telapak tangan di bibirnya.
"Kita belum perkenalan Dad, jangan terburu-buru, rasanya tidak akan enak!" ujarnya mengedipkan satu mata.
Membuatnya bergidig sendiri dengan apa yang dia lakukan. Anjim Nia, lo udah mirip dengan seorang jaa lang. Batinnya.
Pria itu menariknya ke depan sofa, dimana di depannya terdapat ranjang berukuran king, lalu dia sendiri mendaratkan bokongnya, "Oke .. kita mulai denganmu!"
"No ... kau sudah tahu dari CV yang temanku berikan, itu curang namanya jika aku menyebutkan semua yang sudah dad tahu!" ujar nya dengan suara sengaja mendayu-dayu.
__ADS_1
"Ah ... suaramu membuatku candu!"
Jijik lo ah anjim.
"Bagaimana denganmu dad," Agnia ikut mendudukkan diri disampingnya sangat dekat, membuat pahanya menyentuh paha pria itu, hingga rasanya tersengat.
Anjim ... tenang lo Nia jangan gegabah.
Begitu pula dengan pria di sampingnya, melihat sinyal agre sif dari seorang wanita didepannya membuatnya semakin lapar dan siap menerkam.
Mereka saling bercerita, dengan segala kelebihan yang pria itu tawarkan, hingga menawarkan kontrak eksklusif untuknya, dengan bayaran fantastis. Agnia mulai memahami langkah-langkah seorang sugar Baby yang tidak pernah dia tahu sebelumnya.
Mami ... andai kau tahu pria macam apa yang kau kencani, kau tidak akan pernah membuatku keluar dari rumah hingga melakukan hal ini.
Pria itu menuangkan Wine, kedalam sloki, dan memberikannya pada Agnia, dia lantas mengambilnya namun tak jua menenggaknya,
"Khusus untuk malam ini, dan kamu baby, aku tidak akan menggunakan benda ini!" ujarnya dengan kotak merah yang biasa dilakukan orang dewasa.
"Hei ...dad, jangan nakal! Itu diluar kontrak!" ucapnya dengan manja, namun juga hatinya cemas, jijik ingin muntah, kesal, dan marah yang berkumpul jadi satu.
"Akan aku berikan semua untukmu, jika kamu sampai mengandung anakku, aku akan menikahimu! Dan kuberikan dunia untukmu."
Menikahi ndasmu, dunia apanya, yang ada neraka dan dunia ku meledak tiba-tiba anjim, brengsekk lo
Anakku anak kucing ... hihihi
Pria itu tersenyum lalu mengambil ponsel, dan mulai mengotak-ngatik lalu memperlihatkan sejumlah saldo yang dia miliki. "Ini baru satu rekening!"
Agnia membulatkan kedua matanya, melihat nominal besar yang belum pernah dia lihat sebelumnya, bahkan nominal yang orang tua nya punya sekalipun.
"Wow ... dad, kau membuatku berfikir berulang kali untuk hal itu, tapi aku tidak mau! Bagaimana kalau dad ternyata menipuku,"
"Kau tidak percaya padaku!"
Agnia memukul lembut bahunya, "Tentu saja tidak!! Semua pria itu hidung belang, dan aku tidak mudah percaya!!"
Pria yang ingin sekali dipanggil Dad itu membulatkan kedua matanya, "Jadi benar apa yang dikatakan managermu, kau masih Vir gin---"
Agnia menempelkan telunjuk di bibirnya, "Tentu saja...! Kau yang yang pertama, jika Dad berikan semua yang ada di rekening itu padaku!" ucapnya dengan lembut dan gerakan tubuh yang gemulai.
Sialan Si Cecilia, mengaku manager dan bahkan mengatakan hal itu padanya.
__ADS_1
Pria yang diketahui bernama Rendra itu tampak berfikir, lalu mengambil kembali ponselnya, "Berikan nomor rekeningmu! Aku akan mengirimkan setengahnya sebagai uang muka!"
Agnia terperanjat, Dia serius anjim ... benar-benar gila.
"Uang muka? Mana bisa begitu, kalau dad memberiku uang muka, berarti aku tidak akan memberimu semuanya, hanya sebatas ini!" ujarnya membuat garis tepat di bawah 2 benda bulat miliknya.
"Kau pintar bernegosiasi rupanya! Bagaimana kalau kau kabur setelah mendapat semua uangku?"
"Kau kan tahu managerku, dia tidak akan kabur, aku juga! Kita profesional."
"Baiklah ... kemana aku mengirimkannya honey?"
Agnia menuangkan wine untuknya, pada saat pria itu sibuk dengan ponselnya, lalu menyimpannya diatas meja, kemudian dia mengambil pulpen disebelah meja, "Kirim ke no ini."
Pria itu pun mengambil kertas dari tangannya, lalu mengirimkan semua uang yang di ada direkeningnya, "Sisakan sedikit untuk istrimu dad!"
Rendra tersenyum, "Kau baik hati juga rupanya."
Agnia tersenyum, "Aku hanya membaginya sedikit bukan?"
Setelah beberapa menit, Rendra memperlihatkan bukti transfer padanya.
"Thanks Dad...." Agnia menelengkupkan kepalanya ke dada Rendra.
Lalu memberikan segelas wine yang sudah dia tuang tadi, dan mengambil gelas miliknya,
"Cheeers ... for you!!"
Ting
"For Us and tonight baby!!"
Gelas beradu, Pria itu bangkit dan mengajak Agnia ke tepi ranjang, Agnia melepas sepatu high hills dari kakinya, dan mengikuti langkahnya.
"Tapi pelan-pelan kan Dad!!"
"Tentu sayang...."
.
.
__ADS_1
Wkwkw ... sabar... sabar yaa readers!! dan ikuti alur yang lambat ini, terima kasih untuk like, komen, gift dan vote yang luar biasa untuk mendukung author receh ini. Lope lope pake banget.
Dan seperti biasa mohon maaf telat balas komen, hihi