
Cecilia mulai melajukan mobil, mereka keluar dari pelataran parkir rumah sakit dan melaju dengan cepat.
"Ngapain lo nemuin sugar Daddy lo di jalan xxx?" Seloroh Nita yang duduk di kursi kemudi, sementara Cecilia duduk di belakang tengah mengedit video dan foto yang baru saja dia ambilnya, Agnia duduk disamping Cecilia, ikut memberikan saran dan membantu Cecilia.
"Gak tau ... kadang dia suka random aja gitu! Udah norak ditampah freak, kumplit deh!" sahutnya tanpa melihat ke arah Nita.
"Tapi kan ganteng banget btw!! Mau norak juga gak norak norak amat!" Timpal Cecilia.
"Tahu nih si Nia, bilang norak norak, freak tapi di Embat juga!" Nita tergelak, disusul oleh Cecilia yang ikut ikutan.
"Huum ... mana mau aja lagi diajak mojok di ruang kesenian, padahal dia punya banyak hotel ya kan Nit!" Kali ini tawa Cecilia membahana, membuat Agnia mengerucutkan bibirnya.
"Lo gak tahu Ce, pribahasa cinta itu bikin bego? Mana bisa mikir kalau udah gitu, dimana aja dah yang penting enak!" tambah Nita yang membuat keduanya semakin tergelak sampai terpingkal pingkal.
"Sialan banget kalian nyindir orang depan mukanya! Tapi sumpah ... bener kata Lo Nit! Cinta itu bikin bego! Dan itu gak rencanain kan pas di ruang kesenian, untung aja gak ada yang lihat." Agnia menepuk jidatnya sendiri seraya memejamkan mata saat mengingat kejadian yang membuat bulu bulu halus di kulitnya kembali meremang.
"Kita berdua lihat kalian keluar bego!" sahut Cecilia. "Tapi Lo tenang aja, rahasia lo aman!" tambahnya lagi.
"Iya ... karena rahasia kita juga Lo yang pegang Nia ... iya gak Ce?"
"Enggak ... Lo aja kali!" Cecilia menyahuti Nita dengan asal, hingga gadis yang tengah mengendarai mobil itu mendengus. "Sialan ... awas lo Ce, ngajak mabok! Gue gak bakalan mau!!" gumamnya seraya menatap sahabatnya itu dalam spion mobil.
"Elah ... gitu doang lo baper! Gak pentes lo ... muka lo muka pendosa." seroloh Cecilia dengan kembali tergelak.
Agnia tertawa mendengarnya, keunikan kedua temannya itu memang beda, walaupun mereka akan saling menyindir dan juga mencela, namun tidak ada yang iri dengki satu sama lain, bahkan saling melindungi dihadapan orang lain.
Berteman dengan orang seperti mereka lebih baik dari pada berteman dengan orang kayak Serly, perilaku mereka jelas berbeda, mereka berdua suka minum, free se xs, bermain main dengan sugar Daddy, ngelakuin hal yang mereka mau. Tapi hati mereka tulus, lebih tulus dari Serly. Serly ... maaf gue jadi ngelakuin hal buruk ini sama lo. Agnia membatin, dengan terus mendengar ocehan kedua sahabatnya yang terus berdebat.
Tak lama kemudian, mobil menepi, Agnia memang meminta turun di persimpangan jalan, ke kemudian naik taksi menuju ke jalan xxx, dia tidak ingin diantar, karena saat ini Cecilia dan juga Nita akan melancarkan aksinya lagi.
__ADS_1
"Lo yakin, kesana sendiri?"
"Gue yakin! Pokoknya kalian beresin yang tadi dulu ... nanti kabarin gue gimana- gimana nya ya!"
"Oke ... Lo hati hati yaa, kita cabut!"
Nita kembali melaju, sedangkan Agnia menunggu taksi yang akan membawanya ke jalan xxx.
Sebuah taksi berhenti, gadis berusia 17 tahun itu masuk kedalam dan mengatakan alamat pada supir taksi tersebut. Supir taksi itu meliriknya diam diam di spion.
"Non sendirian saja ke sana?"
"Enggak pak! Memangnya kenapa?"
"Ah ... enggak! Bapak hanya bertanya, soalnya bapak sedikit heran, non terlihat masih muda."
"Memangnya kenapa kalau masih muda pak?" Agnia bertanya karena memang dia tidak mengerti apa yang di maksud dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh supir taksi itu.
Mobil mengarah pada alamat yang diberikan oleh Zian, tak lama kemudian supir pun menghentikan mobilnya.
"Sudah sampai Non!"
Agnia mengedarkan pandangannya, dia tidak mengenal jalan itu. Setelah membayar ongkos dia keluar dan kembali mengedarkan penglihatannya.
"Mana sih Om Zian belum kesini?"
Tidak ada gedung gedung pencakar langit seperti bayangannya, tidak ada juga hotel disana, yang ada gedung gedung yang terbilang cukup lama, kantor pos juga ada. Dan kedua matanya berakhir di kantor catatan sipil.
Alisnya berkerut, namun sedetik kemudian kedua matanya terbelalak saat melihat mobil Camry hitam millik Zian berada disana.
__ADS_1
"What the fu ck? Jangan bilang dia nunggu gue di kantor catatan sipil!"
"Tunggu!! Pendaftaran pernikahan?? Ooh my God!! Demi apa Om Zian ... Freak!! Mau daftarin pernikahan sekarang?"
Seseorang melambaikan tangan dari kejauhan, dalam balutan jas berwarna hitam dan juga sangat tampan.
"Om Zian?"
Zian berjalan mendekatinya, wajahnya berseri seri menandakan jika dirinya mungkin tengah bahagia, sementara Agnia masih terlihat bingung.
"Tunggu Om! Om gak lagi daftarin pernikahan sekarang kan?" Tanyanya tiba tiba saat Zian berada dihadapannya.
"Tidak! Memangnya kenapa?"
"Lalu untuk apa Om parkir di depan kantor pencatatan sipil?"
"Memangnya kenapa? sepertinya kau bingung sekali?"
"Ya ... Nia sedikit bingung aja, kenapa menyuruh Nia kemari!"
Zian menarik tangannya, lalu kembali berjalan, "Kita bicarakan nanti saja! Mereka sudah menunggu ... ayo cepat!"
Mereka sudah menunggu? Siapa? Jangan jangan bener nih ... Om Zian memang daftarin pernikahan sekarang, kok gue jadi takut begini.
"Ayo cepat! Kamu sudah terlambat lima menit masih saja berjalan dengan pelan!"
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like, komen, gift rate 5 dan juga vote. jangan lompat lompat like nya yaa bestie ... maaf belum sempet balas komen, karena othor dikejar RL jadi update satu bab langsung lanjut kerja.