Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 211


__ADS_3

Meeting dengan PT Angkasa tengah berjalan, Agnia menunggu Zian disebuah ruangan, dia hanya bermain game kesukaannya saat tiba tiba pintu terbuka.


"Sekretaris Kim?"


Wanita berumur 37 tahun itu duduk disamping Agnia, alih alih menjawab sapaannya, dia justru melihat ponsel Agnia.


"Nia ... kau sudah menjadi seorang istri tapi masih bermain game yang seperti itu?"


"Memangnya kenapa?"


Kim terkekeh, "Tidak apa apa! Nih ...!"


Dia menyodorkan paper bag ke tangan Agnia, gadis itu mengambil nya, "Entah sampai kapan aku harus terus menyiapkan pakaian baru untukmu. Setidaknya kau harus membawa pakaian ganti, sudah tahu Zian itu bertindak sesukanya, apalagi sekarang kalian sudah resmi."


"Maaf selalu merepotkanmu sekretaris Kim."


Sekretaris Kim terlihat menghela nafas, "Aku akan mengambil cuti untuk beberapa waktu, dan aku serahkan sepenuhnya urusan Zian dengan segala keperluannya padamu."


Manik hitam Agnia membola, menoleh ke arah Kim yang bicara seperti itu. "Ta__tapi...?"


Rasanya Kim tampak berbeda, dia keliatan sedang menanggung beban yang berat.


"Memang nya sekretaris Kim mau kemana?" tanya Agnia dengan heran.


"Aku ingin pergi sementara waktu sampai aku kembali siap Nia." Ucapnya sembari menoleh pada Agnia.


Terlihat jelas wajahnya datar namun dari tatapannya Agnia tahu jika Kim tengah mengalami sesuatu yang berat.


"Baiklah ... semoga Sekretaris Kim cepat kembali! Aku tidak tahu apa yang akan Om Zian lakukan jika tidak ada dirimu."


Sekretaris Kim terkekeh, "Kan sudah ada Nia disampingnya, jadi aku tidak khawatir, Nia harus belajar yang giat dan cepat lulus, aku akan memberitahukan semua keperluan Zian dari A sampai Z agar kau bisa membantunya."


Agnia tertegun, Apakah ucapan sekretaris Kim terdengar seperti orang yang tengah kecewa. Hingga dia memutuskan untuk menepi lalu pergi.


"Oh iya ... gimana kencannya dengan Daddy?" Pertanyaan macam apa yang Agnia ajukan pada Kim, yang jelas wajahnya sama sekali tidak berubah.


"Siapa yang mengatakan aku berkencan dengan Ayahmu? Aku tidak berkencan dengan Dave!"


"Om Zian! Nia juga sempet lihat gimana reaksi sekretaris Kim dan juga Daddy waktu itu di apartemen Daddy."


Entah kenapa rasanya seperti dua orang yang baru kenal, percakapan mereka tiba tiba menjadi canggung. Agnia memutar mutarkan ponsel ditangannya, sementara Kim hanya melihat lurus ke depan, dengan wajah yang sama sekali sulit ditebak, hanya pandangannya saja yang terlihat seperti sedang berperang dengan sesuatu.

__ADS_1


"Kalau sekretaris Kim tidak berkencan dengan Daddy, lalu semalem Daddy kemana? Dia bilang ke apartemen hanya untuk mengambil sesuatu dan Daddy pulang pulang langsung marah pada Zian."


"Benarkah?"


"Hem ... aku juga gak tahu Daddy pulang jam berapa kemaren."


"Mungkin Dave marah karena sebab lain! Apa Dave sebelumnya pernah pergi dari rumah Zian seperti itu?"


Agnia menggelengkan kepalanya, dia hanya ingat jika Daddy nya akan selalu berusaha menggagalkan usaha Zian melakukan hal yang membuatnya melayang, bahkan dia tidak akan tidur sebelum melihat Agnia.


"Aku hanya ingat, Daddy seperti itu saat pergi denganmu dan waktu semalam aja. Selebihnya Daddy hanya akan mengawasi Nia dan Om Zian."


Sekretaris Kim mengulas senyuman, dia menepuk paha Agnia lembut. "Itu karena Dave benar benar menyayangi Nia! Dia tidak ingin Nia mengalami hal yang sama dengan nya."


Agnia mengernyit tidak mengerti, namun juga dia hanya terdiam, mencoba berfikir keras dengan ucapan sekretaris Kim.


Sekretaris Kim kembali keluar dari ruangan itu, meninggalkan Agnia tanpa penjelasan yang dapat dia pahami.


Agnia menghembuskan nafas panjang lalu mengganti seragam sekolah dengan pakaian yang disiapkan oleh Kim.


Hampir satu jam Agnia menunggu Zian, hingga pria itu keluar dari ruangan meeting dan melihat Sekretaris Kim yang tengah berjalan ke arahnya.


"Kim ... kau dari mana saja?"


"Hei ... what wrong with you Kim?? Kau sangat kesal sepertinya! Kenapa ... kencanmu berantakan lagi?"


Kim mendengus pelan, "Aku bahkan belum pernah berkencan! Bagaimana bisa dikatakan gagal!" Cicit Kim.


Zian menepuk bahunya, "Bersabarlah, satu hari nanti kau pasti akan bertemu dengan pria itu, kalau tidak aku akan menyeretnya ke hadapanmu."


Kim kembali mendengus dengan menepis tangan Zian dari bahunya, dengan tatapan tajam ke arahnya, "Tidak perlu repot repot ... aku akan mencarinya sendiri! Dan saat itu juga aku akan berhenti memikirkanmu."


Zian tersentak dengan apa yang di kemukakan Kim, "Maksudku memikirkan semua keperluan mu dari A sampai Z, dan aku akan sibuk memikirkan pasanganku bukan!"


"Ahh ...itu, iya tentu saja! Lagi pula aku sudah memiliki Agnia, kau juga harus memiliki seseorang bukan?"


Kim mengangguk, "Tentu saja aku akan melakukannya."


Kim berjalan lebih dekat, hingga jarak mereka sangat dekat, tangannya terulur dengan untuk merapikan dasi yang melilit di lehernya. "Aku harap kau selalu bahagia bersama istrimu!"


Zian mengangguk, dia sudah biasa dengan perlakuan Kim yang selalu merapikan pakaian yang dikenakannya itu. Namun entah kali ini, ada sesuatu yang mengganjal di hati Zian.

__ADS_1


"Aku tidak akan lagi merapikan pakaian mu seperti ini karena sudah ada Agnia disisi mu, aku juga tidak akan lagi sembarangan masuk kedalam rumahmu kedepannya."


"Hei kau bicara apa?"


"Aku menghargai Agnia, bukankah itu salah? Tidak bukan!"


"Tapi tidak perlu melakukan hal seperti itu, rumah itu rumahmu juga Kim. Kau lupa?"


"Aku tidak akan melupakan sedikitpun rumah itu!"


"Kalau begitu aku saja yang pindah rumah! Beres ... walaupun sebenarnya kau juga tidak perlu melakukan hal itu karena Agnia tidak mempersoalkan hal itu."


"Hm ... mungkin sekarang tidak! Aku tidak tahu nanti Zian! Sudahlah kau ini kenapa."


"Kau yang kenapa, tiba tiba aneh begini!" Zian menepis tangan Kim lalu mengayunkan kaki, berjalan pergi meninggalkan sekretaris Kim yang dia anggap keluarga satu satunya dari semenjak kepergian kakeknya.


"Dasar aneh!! Apa yang dia fikirkan, mau pergi begitu saja! Dasar wanita!" gerutu Zian yang berjalan semakin jauh.


Kim menghela nafasnya berat, dia terus menatap punggung Zian hingga pria itu masuk kedalam pintu di mana Agnia berada.


"Karena jika aku terus melakukan hal seperti ini, aku takut tidak bisa lagi mengontrol diriku sendiri Zian."


Sementara Zian kembali dengan wajah berkerut, membuat Agnia yang melihatnya heran.


"Baby Aku merindukanmu!" Ujarnya dengan memeluk Agnia.


"Hey ... baru juga satu jam!"


"Tapi aku benar benar merindukanmu, apa kau tidak merindukanku?" ujar Zian dengan manik yang tertuju pada ponsel Agnia dengan game berkebunnya.


"Dasar anak anak! Sudah jadi istri tapi masih bermain game yang seperti itu."


.


.


.


.


Bosen gak bosen gak?? Kata kalian alur yang othor buat muter muter gak?? Hhm ... kalau menurut kalian muter muter maaf yaa ...wkwkkw tapi othor gak bisa rubah lagi alur yang muter muter ini karena udah sesuai dengan alur yang othor rancang. wkwkwkwk.

__ADS_1


(Terus othor ngapain ngomong!!!) Yaa othor cuma curcor....hahaha


__ADS_2