Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 244


__ADS_3

"Memangnya kau berniat pergi dariku hah!!" Ujar Zian dengan kedua mata tajam, tangannya menggelitik pinggang Agnia hingga gadis berusia 17 tahun itu terpingkal pingkal.


"Kau berani pergi dariku hem? Aku tidak akan membiarkannya."


Agnia mssih tertawa, dengan terus menahan tangan Zian yang masih menggelitikinya. Mereka terus begitu sampai pintu lift pun akhirnya terbuka.


Keduanya keluar dengan terus tertawa, tampak bahagia satu sama lain.


"Ayo jawab! Kau akan pergi dariku baby?"


"Astaga ... ya enggak, ngapain coba aku pergi. Aku dapet suami ganteng, kaya, mapan, dewasa, plus hadiah hotel." Agnia terkekeh.


"Hanya itu?"


"Terus apa lagi dong?"


"Cinta? Memangnya kau tidak mencintaiku baby?" tanya Zian dengan menghentikan langkahnya, hingga langkah Agnia ikut terhenti karena tangannya masih dia genggam.


"Masih nanya?" ucap Agnia lalu melangkah mundur, mengecup pipi Zian lalu terkekeh, melanjutkan langkahnya dengan menarik tangan Zian agar ikut bergerak.


Bahagia? Tentu saja, hati Zian merasa bahagaia, hidupnya terasa lengkap saat bersama Agnia, tidak hanya membuat jiwa muda nya kembali, namun juga sikap dan sifat kekanak kanakannya juga ikut muncul, bahkan pria itu menunjukan sisi manja yang tidak pernah dia perlihatkan pada siapapun. Semua karena Agnia yang membuat hidupnya lebih berwarna.


Zian memeluk tubuh Agnia dari belakang, sambil tetap berjalan menuju ke kamar.


"I love you so much baby!" bisiknya ditelinga Agnia lalu mengecup pucuk kepalanya.


Agnia menoleh, lalu membenamkan kepalanya pada dada Zian, tidak ada yang paling membahagiakan selain saat ini. Mereka sama sama pernah berada di titik terendahnya masing masing, namun kini keduanya saling bergantung satu sama lain.


"Aku tidak tahu bagaimana hidupku tanpa mu Baby! Tidak bisa aku bayangkan, mungkin hidupku sepi sekali.


"Ya pasti hiduplah, bahkan banyak yang antri! Atau berakhir dengan Irene mungkin!" Agnia terkekeh, dia selalu senang jika Zian yang tengah bersikap norak dengan ucapannya itu kesal.


"Irene?" Zian berdecak, "Kau masih saja cemburu padanya baby! Aku hanya ingin membuat cerita hidupku bersamamu! Menghabiskan umurku denganmu ... hanya denganmu."


"Iya iya ... udah ah norak banget!" ucap Agnia menengadahkan tangan ke arahnya, "Kunci mana?"


Zian menghela nafas, dia lantas merogoh saku dan memberikannya pada Agnia satu kunci akses kamar hotel itu.


"Aku akan simpan kunci ini!" ucap Agnia setelsh menempelkan kunci kamar pada alat khusus yang menempel di pintu hotel.

__ADS_1


"No ... baby! Untuk apa kau menyimpan kunci kamar hotel? Mau pergi dengan siapa?" tanya Zian saat masuk, namun pelukannya tidak dia lepaskan sedikitpun.


"Ya simpan saja! Kalau nanti Ni--- Aaawww ...!"


Agnia berteriak saat Zian menggigit bahunya gemas, namun juga tidak terlalu kencang.


"Sakit!!"


Zian terkekeh, dia lantas menariknya masuk kedalam kamar mandi, "Kita mandi bersama agar tidak saling menunggu dan cepat selesai."


Namun Agnia menolaknya, dia menahan tubuhnya dengan berpegangan pada handle pintu, hingga mereka saling tarik menarik.


"Gak mau! Om duluan aja ... nanti Nia belakangan, kalau bareng bareng yang ada nanti bukan mandi."


"Baby!! Kita hanya mandi!"


"Janji?"


"Tidak janji! Tapi aku usahakan." Zian terkekeh seiring dengan tubuh Agnia yang kembali dia bopong.


"Aaaaa ... gak mau!!"


Perlahan lahan Zian melucuti pakaian yang dikenakan Agnia, hingga semua pakaian yang basah tidak karuan itu terlepas. Dia mengambil sabun hotel dan mencampurkannya dengan aroma terapi lalu sedikit campuran sampo hotel. Menjadi tercampur rata pada telapak tangannya.


"Hey ... itu racikan Nia! Jangan di tiru apalagi dipakai oleh orang lain."


"No baby! Just for you." ujarnya dengan membaluri tubuh polos Agnia dengan hasil racikannya.


Dia juga menggulung rambut Agnia hingga berkumpul jadi satu, lalu diikatkannya keatas, setelah selesai dia kembali menyusuri kulit Agnia yang licin dan berbusa dengan lembut. Namun membuat darahnya kembali berdesir hebat.


"Ini pasti akan lama!" Agnia membalikkan tubuhnya, hingga kedua tangan Zian leluasa bermain main di puncak dadanya yang licin. Lalu turun kearea perut yang sama sama licin.


"Aahh ... ini menyenangkan!" bisik Zian di belakang telinga Agnia, begitupun dengan Agnia yang merasa semua tulang tulang yang menopang tubuhnya melemah. Bahkan dia memejamkan matanya saat gerakan tangan Zian begitu lembut di kulitnya yang kini di penuhi gelembung gelembung sabun.


Tak hanya bagian depan, Zian menyusuri pungung Agnia dengan hingga semua gelembung busa menutupinya, lalu kembali ke dua benda bulat di depannya yang kian membusung.


Zian berjongjok, mengambil kembali racikan sabun dan sampo lalu membaluri kedua paha sampai ke kaki Agnia.


"Aaah ...shiitttt!!!" Desis Zian saat Agnia sengaja membuka kakinya selebar bahu, dan menarik kepala Zian tepat di pusat intinya.

__ADS_1


Pria itu tidak menyia nyiakannya, perlahan dia menyentuh pusat inti milik Agnia dengan lembut, membuat Agnia memejamkan kedua matanya, tangannya juga bergerak lembut dan meremaas rambut belakang Zian.


Entah bagaimana caranya, Agnia hanya mengikuti gerak tubuhnya saja. Dan tentu saja mengikuti alur yang telah dimulai oleh Zian.


Perlahan namun pasti, lidah Zian menerobos masuk kedalam, dan menari nari didalam sana dengan sangat lembut. Membuat Agnia semakin tidak berdaya dan melayang dibuatnya.


"Aaah ... stop! Aku mau pipis!" Ujar Agnia mendorong kepala Zian ke belakang, pria itu terkekeh, melihat Agnia terduduk di toilet dengan tersenyum ke arahnya, rona merah terlihat jelas. Seakan dirinya baru saja tersadar dengan apa yang dilakukannya.


Zian membuka satu persatu pakaian yang dikenakannya hingga tersisa kain segitiga yang menutupi senjata miliknya yang menegang, mencetaknya dengan jelas dibalik kain.


Agnia mengalihkan pandangannya kearah lain, benda tajam yang belum pernah dia lihat jelas kini ada di depan kedua matanya.


"Apa kau tidak penasaran melihatnya?" Ujar Zian menggodanya, bibirnya melengkung melihat Agnia yang kikuk.


"Memangnya harus?"


"Ya kalau ingin melihatnya lihat saja! Ini juga milikmu baby!" Zian masih mengulum senyuman, sementara Agnia masih melihat ke arah lain, dia merasa itu sangat memalukan.


"Milikku ... milikku!"


"Ya terus milik siapa kalau bukan milikmu baby!" Zian mengulum senyuman lagi, dengan berjalan mendekati Agnia yang kini sudah berdiri di dekat bathtube.


"Kalau begini caranya kita tidak jadi ke acara!" ujarnya dengan kesal.


"Tidak masalah! Acara itu akan tetap berlangsung walau kita tidak hadir disana!" ujarnya dengan terus melangkah.


"Tapi aku ingin kesana!" Agnia mulai merengek bak anak kecil.


"Tidak penting baby!"


"Tapi aku tidak ingin anak kita nanti dibuat di kamar mandi hotel!" Agnia terkekeh juga, dengan Zian yang terus mendekatinya.


"Kalau begitu kita buat disegala tempat, sampai kita tidak bisa menjawab jika anak itu bertanya."


.


.


Apa yaa gak jelas banget mereka ... othor juga dibikin pusing bab hari ini. Dah ah 3 bab cukup , sampai ketemu besok yaa readers terlope lope aku.

__ADS_1


__ADS_2