
Tegas, lugas dan to the point saat Zian menolak ajakan Irene. Bahkan dia tidak tertarik sedikitpun saat Irene dengan sengaja memperlihatkan kemolekan tubuhnya dengan dua benda bulat yang membusung indah.
"Ayolah ... bukankah tidak ada yang marah jika kau tertarik tawaranku?" Irene masih berusaha dengan giat.
Namun Zian hanya mengangkat satu garis tipis di bibirnya. "Maaf Irene, aku tidak tertarik."
"Benarkah? Kau masih normal kan Zian? Kalau aku jadi kau, aku tidak akan menolaknya." Decak Carl yang duduk disamping kanan Zian, dia langsung mengedipkan satu mata pada Irene dengan senyuman nakalnya, namun tangannya tidak berhenti meremass paha wanita yang dia bawa.
"Kalau begitu ... kau saja Carl!" jawab Zian menohok.
Rekan rekan sesama pengusaha terkekeh mendengarnya, membuat Carl mendengus kesal.
"Kau payah Zian! Tapi sorry, aku lebih tertarik pergi dengan sekretarismu itu!" ujarnya dengan menunjuk Agnia dengan dagunya.
Zian melirik ke arah Agnia, disampingnya kini ada seseorang yang dia kenal.
Orang suruhannya yang datang mewakili dirinya dalam penyerahan dana bantuan. Agnia terlihat mengangguk anggukan kepalanya saat pria disampingnya itu mengucapkan sesuatu. Lalu melirik sebentar ke arahnya dengan senyuman manis. Membuat jantung Zian berdegup kencang, gadis manis, cantik, menggemaskan, kadang liar dan sulit di atur, keras kepala namun bisa bersikap dewasa dan pandai membawa diri.
"Kecuali yang itu Carl!" gumamnya tanpa mengalihkan pandangannya pada sosok cantik berbalut dress hitam, dadanya memang tidak sebesar Irene, namun cukup besar dalam genggamannya saja, punggung putih serta suara seraknya yang tengah mendesaah beberapa jam yang lalu kembali membayang. Membuat Zian kembali berhas rat walau hanya membayangkannya saja.
Carl terus menatap Zian yang tengah melihat Agnia, dia tersenyum mengerti kenapa Zian menolak Irene yang terang terangan menggodanya.
"Pilihanmu bagus Zian!" Gumamnya dengan terkekeh.
Zian mengulas senyuman, apalagi saat Agnia melangkah ke arahnya dengan elegan, senyuman terus terbit di wajah cantiknya.
Gadis itu mencondongkan kepalanya dan berbisik tepat di telinganya, "Tugas orang yang kau suruh sudah selesai, jadi aku menyuruhnya pulang."
Zian mengangguk. Dia lantas menarik pinggang Agnia hingga tubuhnya terduduk dipangkuannya. Agnia tersentak kaget, dan hampir semua orang di meja itu menatapnya. Tanpa berfikir panjang, Zian merekatkan kedua tangan melingkari pinggangnya, hingga Agnia tidak berkutik.
"Perkenalkan ini istriku!"
Agnia melebarkan pupil hitamnya, kali ini rencananya untuk melihat sejauh mana Irene bertindak lagi lagi gagal karena ulah suaminya yang mengakui dirinya sebagai istri,
Astaga ... padahal sedikit lagi, nih Om om gak bisa di ajak kerja sama, gue kan pengen bikin cewek gatel ini gondok. batin Agnia, mau tidak mau dia mengulas senyuman dengan melingkarkan kedua tangan di leher Zian.
"Kenapa bilang sekarang! Aku bahkan belum apa apa!" gumam Agnia yang hanya didengar oleh Zian.
Semua orang tentu saja tertohok, tidak ada kabar berita pengusaha ternama itu mengadakan pernikahan, bahkan yang terdengar hanyalah kegagalan pernikahannya karena kekasihnya berkhianat.
Kedua mata Carl bahkan membola tidak percaya, begitu pun dengan Irene yang tampak sinis melihat ke arahnya.
__ADS_1
"Benarkah? Bukankah dia sekretarismu Zian? Aah ... aku tahu, dia sekretaris plus plus mu?" cibirnya dengan tatapan sengit.
Agnia tersenyum ke arahnya, "Memangnya kenapa? Kau kecewa ya?"
"Ayolah, untuk apa aku kecewa! Hampir semua bos memiliki hubungan spesial dengan sekretarisnya. Ini bukan rahasia umum lagi di dunia bisnis. Dan kau mungkin salah satunya." Ucap Irene sengit.
Agnia terkekeh lagi, namun Zian semakin merekatkan tangan dipinggangnya. "Sudah lah baby! Jangan kau ladeni dia! Lebih baik kita pergi."
Agnia mengulum senyuman, Enak saja ... gak semudah itu. Enak saja dia bicara semua bos bermain nakal dengan sekretarisnya. Dan itu sama aja dia menghinamu dan juga Kim.
"Kau salah! Justru aku lah satu satunya!" Ujarnya dengan memperlihatkan cincin yang tersemat dijemarinya. "Benarkan hubby?"
Zian mengangguk, lantas dia beranjak dari duduknya dan segera merengkuh bahu Agnia.
"Kami permisi duluan! Carl ...!" ujarnya dengan menepuk bahu rekan bisnisnya.
Carl yang masih tercengang itu hanya bisa mengangguk, begitu juga dengan beberapa orang yang ada duduk di meja itu.
Irene mengepalkan tangannya dengan kesal saat melihat Agnia melambaikan tangan ke arahnya, lalu melenggang pergi.
"Kurang ajar sekali dia! Tadi siang bahkan dia mengaku sebagai sekretaris Zian!"
"Ya dan malam hari sebagai istri Zian! Itu sudah biasa bukan seperti katamu?" Ucap wanita yang duduk disampingnya.
"Kau kenapa? Dasar gila!" Ujar Carl mengerdikkan bahu, kemudian kembali menoleh pada Zian dan Agnia yang sudah berjalan kearah luar.
"Aku pun akan memilihnya jika sekretarisku sepertinya." gumamnya dengan melepaskan tangannya dari paha wanita yang hanya diam disampingnya itu.
.
Zian membuka pintu mobil untuk Agnia, gadis itu masuk kedalam dengan wajah yang mencebik kesal. Melihat Zian yang berjalan ke arah sebaliknya lalu masuk kedalam pintu kemudi.
"Kenapa?"
Zian menoleh ke arahnya, "Kenapa apa baby?"
"Kenapa harus bilang segala, padahal tinggal dikit lagi!"
"Apa?"
"Apa apa!! Nia tuh pengen bikin si Irene sok keren itu dongkol! Ini malah langsung bilang!" ujarnya dengan tersungut. "Sengaja kan!"
__ADS_1
"Baby! Memangnya ada yang salah! Dari pada Irene terus menggodaku! Kau mau?" sahut Zian yang mulai melajukan mobil nya keluar dari pelataran parkir.
"Justru itu ... biarin aja dia godain! Biar gue jambak rambutnya yang kayak sarang tawon itu!"
Zian terkekeh, "Kamu serius? Merengek ingin pergi ke acara itu hanya ingin menunggu Irene menggodaku agar punya alasan untuk menjambaknya?"
Agnia mendengus, "Keenakan kan di goda! Makanya dibelain terus."
"Astaga ... siapa yang bela dia?"
"Ya kamu! Siapa lagi?" tukasnya dengan tersungut.
Zian menggelengkan kepalanya berulang kali, lalu menyetel tape mobilnya. Memutar lagu yang sangat cocok untuknya saat ini.
Dia bernyanyi dengan suara yang yang sedikit bergumam.
I love you baby, and if it's quite all right
I need you baby to warm the lonely night.
I love you baby.
Trust in me when I say
Can't take my eyes off you.
Agnia menoleh, menatap Zian yang bernyanyi mengikuti sang vokalis dengan terus menatapnya lekat.
"Norak banget sih! Gak inget umur apa?"
"Tidak!! Bahkan aku merasa aku seusiamu Baby!" Ucapnya dengan terus melaju pulang ke rumahnya.
"Dih ... rugi dong! Aku kayak tua banget."
"Baby! Udah dong marahnya."
Tak lama mereka samlai dirumah, Agnia turun dari mobil dengan masih tersungut, namun itu benar benar membuat Zian gemas.
Pria itu menyusulnya masuk, dan terus mengikuti Agnia yang naik ke atas.
"Goda terus goda laki orang!" ujarnya dengan membuka pintu.
__ADS_1
Zian masih mengekor di belakangnya, dia terkekeh saat Agnia memperagakan dirinya seperti Irene, bahkan dia mengulangi perkataan Irene saat menggoda Zian. Bibirnya mengulum lalu mencebik dengan kedua tangan membusungkan dua benda bulat miliknya keatas.
"Zian ... kau ingin pergi ke suatu tempat?" Ucapnya dengan suara mendayu yang dibuat buat. "Sebel!!"