
Hari bahagia dimana Dave dan Kim berdiri diatas altar dengan mengucap janji setia sehidup semati serta di saksikan oleh banyaknya tamu undangan. Tidak banyak keluarga yang hadir, karena Kim tidak memiliki keluarga juga Dave yang memutuskan tali kekeluargaan dengan ayahnya, namun tidak berpengaruh besar pada acara pemberkatan itu.
Kedua manik Agnia berkaca kaca, melihat Daddy tercinta akhirnya menemukan kebahagiannya sendiri walau dengan cara yang unik.
Tangan Zian menggenggam erat, menoleh lalu memeluk dirinya.
"Kau sedih karena aku menikahimu hanya dinkantir catatan sipil?" tebak Zian, setengah berbisik karena takut mengganggu proses pernikahan.
"Enggak hubby! Aku terharu lihat Daddy," Agnia menoleh sebentar pada Laras, sang ibu yang juga hadir, yang tersenyum dengan menitikkan air mata melihat mantan suaminya menikah. "Tapi aku sedih lihat Momy."
"Laras pasti menemukan kebahagiannya sendiri."
"Memangnya hubby tahu Momy sedang ada kencan? Kok gak bilang Nia?"
"Tidak semua kebahagiaan berpusat pada pernikahan Nia, hanya saja mungkin Laras menemukan kebahagian lainnya nanti."
Agnia mengangguk paham, menatap lagi ibunya namun ternyata Laras sudah tidak ada di tempat duduknya. Agnia menoleh ke belakang mencarinya namun tidak ada.
"Baby ... Jangan khawatirkan ibumu, dia pasti akan baik baik saja." pelukan Zian semakin mengerat.
"Maaf aku terlambat," tepukan pelan dari arah belakang membuat Zian menoleh.
"Carl? Kau hampir membuat jantungan!"
"Lemah!" Carl tertawa lalu menyapa ke arah Agnia. "Halo ibu hamil yang makin cantik aja."
Zian kembali menolehkan kepala, kali ini dengan tatapan mematikan, "Jangan menggoda istri orang Carl!"
"Haisss ... Aku hanya menyapa saja, kau ini. Lagi pula siapa yang berani mengusikmu."
"Tahu diri juga kau!"
Keduanya terkekeh, sementara Agnia yang bersandar di bahunya mencubit pelan, "Hubby!"
"Maaf sayang,"
__ADS_1
Hingga acara pemberkatan selesai dan kedua pengantin turun, Laras tidak lagi terlihat disana. Semua orang menyalami Dave dan juga Kim. Termasuk Zian dan juga Agnia.
"Selamat! Dan jangan berulah, atau aku tidak akan memaafkanmu." ujar Zian dengan menjabat tangan Dave.
"Beri selamat saja, tidak usah dengan ancaman! Aku tidak akan berulah! Kau dengar itu baik baik menantu!" sahutnya dengan kesal, lalu melirik ke arah Kim yang mengulas senyuman memeluk Agnia.
"Selamat ibu Kim! Hajar saja kalau Daddy nakal."
"Pasti Nia, kalau perlu aku akan merantainya. Akan aku jadikan dia makanan ikan."
"Sayang, kau menakutkan sekali." Dave terkekeh dengan tangan melingkari pinggang Kim.
Tanpa aba aba dia juga menyambar bibir Kim didepan Zian dan Agnia. Begitu juga dengan Kim yang membalasnya dengan tangan menerlisik di leher Dave.
"Oh Astaga kalian ini!" Zian menarik tubuh Agnia dan berputar, "Kau ingin aku melakukannya juga baby?"
"Ih apaan jangan norak! Ikut ikutan!"
Keduanya tertawa, meninggalkan sepasang suami istri yang tidak tahu malu itu. Mereka keluar lebih dulu dan pergi ke tempat resepsi juga lebih awal.
"Kim menemukan pria yang benar benar cocok untuknya, kau lihat tadi baby? Dia jadi tidak tahu malu gara gara tertular Dave."
"Sayang, kau membuatku ingin pulang. Tapi maaf kita harus ke tempat pesta! Aku tidak akan melewatkan hal ini."
"Ih siapa juga yang mau."
Mereka akhirnya tiba di ballroom hotel xxx milik Zian yang telah di sulap sedemikian rupa menjadi tempat pesta, hidangan mewah berjajar rapi.
"Hubby!"
"Hem, gimana menurutmu?"
"Bagus sekali! Ibu Kim pasti yang milih ini."
"Kau salah sayang!"
__ADS_1
"Kalau begitu Daddy yang pilih ini untuk ibu Kim, ternyata romantis juga Daddy."
Zian mengulum senyuman, "Kau suka baby?"
Agnia mengangguk, "Hm ... Suka! Mereka pasti bahagia."
"Kalau kau? Apa kau bahagia denganku?"
Agnia menghentikan langkahnya, lalu menatap Zian, "Mana mungkin Nia gak bahagia! Dapet suami kayak Hubby. Pertanyaan aneh deh."
Seorang pria menggunakan jas hitam berlari ke arahnya terlihat berbisik bisik pada Zian lalu mengangguk dan kembali pergi.
"Ada masalah?"
"Tidak! Kita hanya harus berganti pakaian, acara akan segera dimulai dan undangan sudah berdatangan."
Agnia mengangguk, dress pilihan untuknya juga sudah disiapkan, mereka masuk ke dalam ruangan dan berganti pakaian. Dengan bantuan seorang perias.
"Apa ini tidak terlalu mencolok?" ujar Agnia dengan dress yang membalut tubuhnya, perutnya sedikit membuncit karena kehamilannya pun sudah memasuki 28 minggu dan tidak bisa di tutupi.
"Tidak ... Kau sempurna Baby! Juga anak kita." Zian mengelus perut Agnia lembut. "Kalau kau pegal, ganti saja sepatunya."
"Mana mungkin pegal, memangnya kita akan sepanjang hari ada di sini?"
Zian terkekeh, "Terserah padamu, katakan saja kalau kau merasa pegal."
Sampai pria berjas hitam kembali masuk dan memberitahu jika semua sudah siap. Zian pun mengajak Agnia keluar dari ruangan tersebut.
Namun saat pintu terbuka, Agnia tersentak kaget saat menatap semua orang yang bertepuk tangan riuh ke arah mereka.
"Hubby apa ini? Mereka gak mikir kita pengantinnya kan, udah aku bilang dress ini bener bener mencolok dari pada pengantinnya."
"Tidak sayang, ini sudah benar."
Agnia terkaget saat melewati barisan para tamu undangan, bahkan ada Cecilia dan juga Nita. Semua ingin menyalaminya juga.
__ADS_1
"Hubby?" Agnia menatap suaminya dengan berkaca kaca. Ada yang menghangat di pelupuk matanya. Apalagi saat melihat wedding cake setinggi satu meter bertuliskan namanya dan nama Zian.
"Ya baby ... Pesta ini pesta pernikahan kita."