Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Epsode. 315


__ADS_3

...Hai readers Terima kasih sudah selalu mendukung ZianNia. Semua warbsyah aku sampe gak bisa berkata kata, dukungan dan koment positif, semua semangatnya. Pokonya aylope you....


...Hari ini bakal jadi 2 episode terakhir dari kisah ZianNia yaa. Huhu sedih. Tapi itu karena mereka udah bahagia....


...Jangan lupa mampir di kisah Cecilia dan juga Raya yang paling beda menurutku. Hihihi....


...***...


Tubuh Zian melemah, dia duduk dengan mengusap wajahnya dengan kasar, apa yang akan dia lakukan jika terjadi sesuatu pada Agnia.


"Semua ini salahmu! Harusnya kau menurut padaku untuk tidak membuatnya hamil dulu. Kau lihat sekarang!" seru Laras dengan marah, sorot matanya tajam pada pria yang kini tertunduk tanpa daya.


"Sudahlah Laras! Kau harus tenangkan dirimu, bukan salahnya Zian, di---"


"Berhentilah bicara! Aku tidak minta pendapatmu, siapa kau?" sentaknya pada Carl.


Seketika Carl membungkam mulutnya sendiri, dia duduk dengan kedua tangan yang menopang di kedua pahanya. "Aku lupa aku bukan siapa siapa di sini!" gumamnya.


Zian bangkit dan meninggalkan keduanya, dia berjalan ke ruang inkubator dimana bayi bayi yang dilahirkan prematur di letakkan pada sebuah tempat dengan peralatan khusus.


Setelah mendapat informasi mengenai putranya, dia masuk dengan di antarkan seorang suster.


Zian menatap sendu pada bayi yang baru saja dilahirkan ke dunia, kulitnya masih berwarna kemerahan, dengan kedua tangan bergerak gerak di udara. Dia masih tidak percaya jika yang dia lihat adalah putranya. Buah cintanya dengan Agnia.


"Halo jagoan! Kau lahir lebih awal rupanya, dan membuat Ayahmu ini khawatir, tapi papa yakin kau kuat dan tidak akan menyerah seperti ibumu." Zian menyentuh lapisan kaca yang membuatnya tidak bisa menyentuhnya dengan bulir menetes perlahan di pipinya. "Kita akan segera bertemu ibumu nak!"


Hampir satu jam Zian berada di ruangan perawatan bayi, memperhatikan bayi yang sesekali menggeliat dengan seluruh peralatan menempel di tubuhnya, tangannya juga tidak berhenti bergerak gerak. Sangat lucu dan menggemaskan.


Tak lama ponselnya berdering, dengan cepat Zian melihatnya dan keluar dari sana setelah tahu Carl menghubunginya.


Zian berlari secepat mungkin saat dia diberitahu jika Agnia sudah dipindahkan ke ruang perawatan.


"Dimana istriku?" ujarnya saat melihat Carl duduk di kursi di depan pintu VVIP.


"Di dalam bersama ibunya, tapi istrimu masih belum sadarkan diri." Terang Carl.


Zian kembali duduk dengan lesu, dia tidak langsung masuk setelah tahu di dalam ada Laras, tidak ingin membuat keributan lagi dengannya.


"Bagaimana kondisi putramu?"


Zian hanya menganggukkan kepalanya tanpa ingin menjawab, yang hanya dia inginkan saat ini hanyalah melihat Agnia kembali sadar.


Tak berlangsung lama, Laras keluar dengan wajah sembabnya, Zian bangkit dan langung masuk tanpa mengatakan apa apa, bahkan Laraspun sepertinya masih marah padanya.

__ADS_1


"Duduklah! Kau juga harus istirahat." Carl menepuk kursi kosong di sampingnya.


Laras berdecih dengan tatapan tajam namun juga tetap duduk.


Sementara Zian duduk di tepi ranjang dengan menitikkan air mata melihat Agnia yang masih belum juga sadar. "Maafkan aku baby! Maafkan aku, cepatlah sadar dan marahi aku, pukul aku atau apapun itu, aku tidak ingin melihatmu seperti ini."


Zian terus menggenggam tangan Agnia, tidak ingin melepaskannya sedetikpun. "Anak kita sudah lahir, dia kuat sepertimu baby, kau harus bangun dan melihatnya sendiri. Aku tidak bisa memberikan nama padanya sendirian seperti ini."


Zian terus bicara banyak hal, mencium sebanyak mungkin tangan yang dia genggam, juga mengelus kepala Agnia selembut mungkin.


Hingga malam tiba, Agnia masih belum juga sadar, Zian bahkan sengaja menyewa kamar vip disebelahnya untuk Laras beristirahat, sedangkan dia tidak sekalipun meninggalkan Agnia.


"Kau harus makan! Sejak siang aku tidak melihatmu makan. Ayo!" tawar Carl yang mulai khawatir.


"Aku tidak mau! Bagaimana jika istriku sadar dan mencariku nanti." lirihnya.


"Dia akan bangun dan kembali sedih jika tahu kau mengabaikan dirimu sendiri Zian!" sentak Laras dari ambang pintu yang baru saja dia buka, "Pergilah makan, biar aku yang jaga putriku! Sudah cukup kau membuatnya seperti ini, jangan sampai membuatnya semakin sedih saat dia bangun dan kau tidak peduli pada dirimu sendiri." ujarnya lagi dengan melangkah masuk.


"Galak sekali wanita ini!" gumam Carl.


"Kau baru menyadarinya? Jadi tidak perlu berpura pura kita saling kenal, karena aku tidak kenal denganmu."


Zian menghela nafas, dia sedang tidak ingin mendengar keributan apapun saat ini. Dia memilih beranjak dari sana dan keluar.


Namun membuat bibir Zian terangkat, "Persis seperti itu pada awalnya, tapi semakin aku mengenalnya, dia semakin manis dan juga manja."


Bayangan Agnia terus berputar putar di dalam kepalanya, awal buruk di pertemuan pertama mereka, pertengkaran dan sikap keras kepalanya, juga ucapannya yang seenak jidatnya, tingkahnya dan segala macam tentangnya.


Zian menghentikan langkahnya, saat melihat Dave dan juga Kim yang berjalan dengan cepat ke arah mereka.


"Dave!"


"Zian?"


Bugh!


Tanpa disangka Dave memukulnya tepat di wajah Zian, Kim berteriak dan menarik Dave yang bersikap kasar padanya.


"Apa yang kau lakukan pada putriku brengsekkk!"


"Dave! Hentikan, ini dirumah sakit." ujar Kim menggenggam tangan suaminya. "Tenanglah, kita harus melihat Agnia lebih dulu." ujarnya lagi.


"Lepas ... Aku harus menghajarnya lebih dulu!"

__ADS_1


"Hei ... Kenapa kau memukulku bangsatt!"


Bugh!


Zian kembali membalas pukulan Dave, "Kau tidak tahu apa apa. Dan kau langsung memukulku."


"Carl! Kim menatap Carl, dia mengangguk seolah mengerti apa yang Kim ucapkan.


Carl menarik Zian sementara Kim menghalangi Dave kembali menyerangnya


Zian berdecih, dengan memegangi bibirnya yang terasa perih. "Keparatt kau!"


"Sudahlah Zian ... ayo pergi Dave!" ajak Kim menarik tangan Dave.


Tak lama Laras keluar dari ruangan dan berteriak memanggil Zian. Hingga ke empat orang dewasa itu menoleh ke arahnya.


"Zian! Nia sudah sadar."


Zian berlari masuk kedalam ruangan, dan menatap Agnia yang kini melihat ke arahnya. Lalu menangis lagi.


"Baby!" Zian memeluknya dan menciumi wajahnya, rasa haru meliputi keduanya.


"Maafkan aku! Telah membuatmu jadi begini."


Agnia menggelengkan kepalanya, "Enggak Nia yang salah. Maafin Nia, Nia yang keras kepala."


Semua orang juga masuk, namun dokter Siska yang juga masuk menyuruh mereka kembali keluar. Hanya Zian yang bisa menemani Agnia saat dokter Siska memeriksanya kembali setelah kesadarannya pulih.


"Tuan Zian, aku periksa dulu istrimu yaa."


"Mana anak di dalam perutku?"


Siska tersenyum, dia melirik ke arah Zian yang kini juga ikut tersenyum. "Aku periksa dulu kondisimu yaa, setelah itu kau istirahat, besok baru bisa melihat putramu Nia."


"Kenapa harus besok! Aku mau lihat sekarang, apa dia baik baik saja?"


"Baby, tenanglah! Anak kita baik baik saja, dia sedang dipantau dokter, jadi besok kita lihat ya,"


"Kau sudah lihat? Curang! Aku saja yang belum."


"Sabarlah Nia ... Hari ini kau cukup membuat semua orang khawatir. Sekarang kau juga harus tenang agar semua orang terutama suamimu ini tenang ok!"


Agnia tertegun, dia melirik ke arah Zian dengan wajah sendunya. Wajah yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.

__ADS_1


"Maafin aku!"


__ADS_2