
Zian masuk kembali ke dalam kelas, namun dengan wajah serius dan tampak tegas, sangat berbeda dengan saat melihatnya di ruang guru, yang membuat hati Agnia dongkol.
Pria tegap itu mendaratkan bokongnya di kursi, dengan kedua tangan yang ditautkan, diatas meja. Kedua mata tajam dia menyisir semua ruangan, menatap satu persatu siswa yang tengah mengerjakan tugasnya.
Namun tidak dipungkiri, sudut matanya selalu berakhir pada gadis cantik yang duduk pada kursi yang sejajar lurus didepannya, dengan rambut panjang yang sengaja di gulung keatas, agar tidak mengganggu saat gadis itu menunduk dan menghalangi wajahnya.
Zian harus benar-benar menahan diri, berkali-kali menelan salivanya, apalagi saat melihatnya tertunduk, hingga sebagian tengkuk putihnya yang penuh bulu-bulu halus itu mengganggu penglihatan dan konsentrasinya.
Agnia mengenadah, dan tepat pada saat Zian menatapnya, hingga Zian langsung memalingkan wajahnya berlawanan agar senyumnya tidak terlihat. Terlihat aneh memang, ditambah rasa yang Zian rasakan semakin bergejolak, sementara Agnia hanya menatapnya dengan mengernyitkan dahi, kedua matanya tajam menatap pria tampan yang tengah memalingkan wajah. Please jangan norak. ucapnya dalam hati.
Dan setiap kali Zian memberikan penjelasan tentang materi tambahan, sesekali menatapnya, dia pun tengah bersusah payah mentaur ritme jantungnya sendiri. Beberapa teman-temannya yang memang mengidolakan Zian pun tampak senang, suasana kelas yang sedikit gaduh saat Zian berdiri dengan tegap.
"Ya ampun pak Zian ganteng banget!"
"Ih asli ..., gebetan gue itu!"
"Iih apaan sih, dah gue tandaain!"
Sebagian dari mereka kasak-kusuk membicarakan ketampanan Zian dibelakang, tak jarang disertai suara cekikikan khasnya, Agnia menoleh, lantas merekatkan jari telunjuknya di bibirnya, "Suutthhh ... bisa diem gak?"
Begitu pula dengan Adam yang duduk dibelakang, dia menyuruh teman-temannya untuk diam.
Serly mencondongkan kepalanya, "Om lo sih kebangetan gantengnya! makanya mereka pada heboh, gue juga kalau udah move on bisa jadi gebet om lo ... syukur-syukur bisa jadi Tante lo Nia, biar bisa ngelarang lo bergaul sama dua cewek pe la cur itu."
"Apaan sih Serl, jangan asal kalau ngomong, mereka bisa marah sama lo kalau lo denger!" jawab Agnia merasa Serly berlebihan akan ucapannya yang sarkas.
Serly terkekeh, "Ya lo gak usah ember lah, lo sahabat gue Nia! Sama mereka lo cuma temen biasa, yang lebih tahu lo itu gue!"
Jujur Agnia benci sifat Serly yang terlalu ikut campur dan terlalu posesif sebagai teman, sampai berkali-kali Agnia merasa persahabatan mereka tidak bisa seperti dulu, walaupun Agnia kerap menyangkalnya, tapi lambat laun sifat Serly memang menyebalkan.
"Serly ... Agnia, jam pelajaran saya sebentar lagi berakhir, bisa kalian tahan untuk tidak mengobrol dulu? Dan untuk kalian juga yang dibelakang!"
__ADS_1
Zian berbicara dengan tegas, raut wajahnya pun datar, dengan rahang kuat dan kedua manik tajamnya, namun justru membuat ketampanannya bertambah, ada yang mencelos dihati Agnia, wajah datar nan tampan itu mengingatkannya pada Zian yang pertama dia kenal. Bagaimana Zian marah saat dia masuk kedalam mobil tiba-tiba dan tanpa sengaja menyentuh barangnya hingga dia berang.
Dasar pemarah dan galak. Tidak berubah sedikitpun, eeh tapi berubah juga kalau sedang berdua, mereka gak tahu aja kalau dia itu menyebalkan, tapi tetep ganteng. Ya ampun Nia. Agnia bermonolog dalam hati.
Adam bangkit dari duduknya, berjalan ke bangku Agnia dan memberikan buku
Tatapan Zian yang tertuju pada Agnia dan melihatnya tengah menatapnya pun menarik tipis garis dibibirnya. Dia merasa ide untuk datang dan mengajar disekolah ininsangat tepat, tujuannya yang apa lagi kalau bukan untuk membuat Agnia kembali luluh dan rencana pernikahan itu kembali berjalan.
Agnia menghela nafas, sungguh keadaan ini membuatnya tidak nyaman, batinnya seolah berperang hebat, mau tidak mau Zian harus terus melihat ke arah Zian yang tengah bicara, namun juga merasa kikuk saat Zian hanya menatap ke arahnya. Dan itu berlangsung selama dua jam pelajaran.
Lagu Maroon Five kembali terdengar, menandakan jam pelajaran berakhir, hanya Agnia yang terlihat sumringah, sementara sebagian dari teman-temannya mendengus pelan karena kelas guru tampan itu telah berakhir.
Zian menutup laptopnya, "Kita lanjutkan besok!"
Tak lama Adam beranjak dari duduknya, dan berjalan ke arah lurus mengarah pada Agnia, "Nia ... catatan buat tugas lo nih!" ujar Adam dengan memberikan buku pada Agnia.
Tentu saja membuat Zian yang masih diam di kursi mendengus kasar dengan tatapan menatam kearah mereka.
"Dih... segitu aja pake nyuruh gue segala, cari perhatian banget sih!" gumamnya lalu bangkit dan meninggalkan Adam begitu saja, mengambil laptop Zian diatas meja, dan mengikuti langkah Zian.
Zian keluar disusul oleh Agnia dari belakang, walaupun Zian sengaja memperlambat lnagkah kakinya, berharap Agnia menyamai langkahnya, namun hingga mereka sampai ke ruang guru, Agnia tetap melangkah beberapa langkah dibelakang Zian.
"Simpan disini saja!" ujarnya dengan terus menatap Agnia.
"Aku tidak suka kamu dekat-dekat dengan laki-laki lain!"
"Sekolah ini kan bukan sekolah khusus perempuan, gimana sih ya pasti ada laki-lakinya!" kilahnya. "Dan gak usah nyari alasan, pake bantuin bawaain barang se ringan ini!" tambahnya lagi.
Zian mengulum senyum, dengan mencubit lembut pipi Agnia, "Jangan marah!"
"Tahu ah!" jawab Agnia lantas dia keluar begitu saja.
__ADS_1
Grep
Zian menahan pergelangan tangannya, sementara diluar ada beberapa guru yang tengah berjalan masuk, "Lepas gak! Itu udah ada guru yang lain." ujarnya dengan berusaha melepaskan tangan Zian.
"Biarkan saja!"
"Om ...!! Ih itu lihat mereka mau masuk."
Masih terus berusaha menarik tangan Zian dari pergelangannya. Sementara Zian sengaja melakukannya dan terus memegang tangan Agnia.
"Astaga! Ayo lepas!"
"Bilang dulu kamu merindukanku, baru aku lepaskan!"
"Dih apaan!"
"Ya sudah, aku tidak akan melepaskan mu kalau begitu!"
"Om iih!! Udah buruan...!"
"Bilang saja dulu!"
"Iya iya oke ... aku merindukanmu!" ujarnya dengan sekali nafas, Zian tersenyum lalu melepaskan tangannya, tepat dengan para guru yang masuk kedalam ruangan dan menyapa Zian.
Agnia menganggukkan kepalanya lalu keluar dari ruangan guru dengan tersungut. Sementara Zian kembali terkekeh, dia duduk dan memeriksa ponsel miliknya, dan melihat beberapa notifikasi dari Kim, dia lantas keluar dari ruang guru dan pergi.
"Lho pak Zian sudah mau pergi?" tanya pak Sopian.
"Hm ... kelas ku sudah selesai! Aku harus pergi." ujarnya dengan kembali mengayunkan kaki.
Agnia menoleh ke belakang, dan melihat Zian yang berjalan keluar dari ruang guru, lalu melambaikan tangan ke arahnya.
__ADS_1
"Dasar norak ... norak ... norak, kelakuanmu lebih dari Aya!"