Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 289


__ADS_3

Agnia menyipitkan kedua matanya, istri dari seorang pemilik hotel itu meragukan kerja sama dan juga meeting yang di adakan di sebuah hotel.


"Ujung ujungnya pasti ngamar!" Desisnya yang membuat Zian tergelak.


"Baby ... kenapa fikiranmu selalu negatif padaku hem? Lagi pula jika benar, tidak ada salahnya kan?" tukas Zian yang tahu arti tatapan sang istri juga desisannya itu. "Kamu istriku baby. Kita bisa melakukannya anywhere and anytime." tukasnya lagi dengan kedua alis tebal yang ikut turun naik, serta bibir yang melengkung sempurna.


"Iiih ... tuh otak mesum gak ilang ilang apa ya?"


Zian berdiri dan mendekati Agnia, dia memegang kedua pundak istrinya itu dengan lembut, "Tentu saja tidak baby, otak mesumku ini disetting otomatis saat bersamamu, sinar lasernya memindai sangat tepat dan disaat tepat pula."


Agnia terkekeh, "Setting otomatis, laser ... norak banget! Terserah kau saja lah superman mesum! Ayo pergi."


Agnia memutarkan tubuhnya hendak melangkah, namun Zian justru menahan pundaknya. Hingga dia tidak jadi melangkah.


"Apa?"


"Laserku tiba tiba aktif dan menyala!"


Agnia tergelak, "Apaan ih! Kita masih ada meeting kan. Ayo pergi hubby!"


Zian masih mengulum senyuman, tangan yang merekat di pundaknya semakin meremass lembut.


"Sebentar saja yuk!"


"Ayo ... kemana kita?" Agnia terkekeh.


"Baby!"


Agnia sedikit berjinjit, wajahnya mendekat ke arah telinga Zian, hingga Zian ikut mendekatkan wajahnya menyambut.

__ADS_1


"Carl saja bilang kau terlambat gara gara aku, kau tidak ingin kan kalau rekan bisnis yang lain menuduh Nia yang bikin makin telat hubby? Mereka tidak tahu saja gimana sebenarnya anda!" gumamnya dengan di akhiri kekehan.


Cup


Agnia mengecup pipi Zian yang tengah terperangah, has ratnya hilang begitu saja saat mendengar apa yang di ucapkan sang istri kecilnya itu. Gadis yang tengah hamil muda itu berbalik dengan terus terkekeh karena berhasil membuat Zian terpaku.


"Kau kejam dengan cara yang cantik!"


"Tentu saja ... aku itu Agnia Sarasvati."


"Istriku!" Gumam Zian dengan bibir yang melengkung tipis.


Keduanya keluar dari ruangan meeting, dengan tangan Zian yang merekat di sela jari Agnia dan tidak ingin melepaskannya, semua orang di kantor sudah tahu dan tidak ada yang ingin Zian tutupi lagi. Berbeda dengan Agnia yang terlihat kikuk. Lamat lamat jemarinya melemah begitu saja, menyamai langkah Zian disampingnya.


"Jangan terlalu ramah pada mereka!" cicit Zian saat sekumpulan pekerja menundukan kepala saat mereka melewatinya.


"Iissh ... bos sombong!"


"Ihh ... cuma segitu juga! Gimana nanti kalau di kampus? Mahasiswa senior pasti cakep cakep." Agnia terkekeh, dia sengaja membuat Zian cemburu dengan perkataannya.


Zian membuka pintu mobil, dan membiarkan Agnia masuk terlebih dahulu. "Jangan membuat masalah baby! Kau tahu apa yang akan aku lakukan jika kau nakal. Lagi pula perutmu akan semakin membesar dan kau tidak akan leluasa menggoda pria lain selain aku."


Agnia masuk dengan bibir yang mencebik, kedua matanya mengikuti Zian yang berjalan ke arah sebaliknya dan masuk. Apa yang dikatakan Zian memang benar adanya.


"Lagian siapa juga yang mau menggoda pria lain? Kalau gue udah punya suami yang sempurna." gumam Agnia.


"Sebenarnya aku tidak sempurna baby! Pria sempurna itu hadir atas dasar pemikiran para wanita saja."


Agnia sedikit tersentak karena gumamannya terdengar Zian, dia menoleh dengan kedua alis yang mengernyit. "Kenapa gitu? Kau kan memang sempurna. Tampan iya, uang, kekuasaan, apalagi coba?"

__ADS_1


"Apa aku sempurna dimatamu?"


Agnia mengulum senyuman, dia sedikit mengangguk karena itu lah kenyatannya.


"Berarti aku sempurna karena kau yang menilainya."


"Gak ngerti lagi! Nia bener bener gak ngerti."


Zian terkekeh, "Iya kan? Menurutmu aku ini pria sempurna, tapi untuk sebagian wanita aku ini pernah jadi pria brengsekk. Semua itu penilaian kan!"


"Iya deh! Ayo jalan aja, lama lama Nia malah pusing dengernya."


Zian terkekeh, dia menyentuh pundak sang supir yang sedari tadi diam dan menunggu perintah atasannya.


Tak lama mobil melaju dengan kecepatan sedang, namun beberapa kali Agnia menatap jalanan yang berbeda dari jalan yang dia lalui.


"Ini bukan jalan ke hotel kan? Kita mau ke hotel yang dimana?"


Zian menoleh lalu mengulas senyuman, meraih tangan Agnia dengan lembut lalu di kecupnya.


"Singapura."


.


.


Jangan dulu bosen ya readers terlope lope akoh. Othor belum mau tamatin soalnya.hihihi


Jangan lupa like dan komennya, dan kasih rate 5 juga buat ZiaNia. Masa ratenya turun lagi sih. Dan buat yang gak suka mending skip daripada kasih rate jelek buat novel receh othor ini.

__ADS_1


Makasih yaaa kalian terlope lope.


__ADS_2