Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 139


__ADS_3

Dave terus menatap lurus ruas jalan didepannya, dengan kedua mata yang masih berkabut dan juga basah, penyesalan memang selalu datang terlambat, setelah 17 tahun melupakan kesalahannya dan hidup tanpa beban.


Sikap Agnia sendirilah yang menyadarkannya, anak gadis satu-satunya yang teramat dia sayang, tanpa dia tahu, anak gadis lain yang juga anaknya yang bahkan tidak pernah mendapatkan kasih sayang darinya, bahkan secuil pun tidak.


Dave merasa sudah menjadi ayah yang baik selama ini dengan terus bekerja untuk memberikan semua hal yang anaknya butuhkan, tanpa dia sadar, bukan hanya itu yang mereka butuhkan. Kehadirannya lah yang teramat penting, sosok Ayah yang jadi panutan, pahlawan yang akan selalu membela anaknya, cinta pertama yang tidak akan pernah berakhir, menjadi arah pulang saat tersesat, dan jempatan yang akan mengantarkannya menjemput asa.


Ucapan Agnia begitu menyakitkan, menghancurkan hatinya menjadi remuk redam, dadanya penuh dengan rasa sesak. Dering ponsel yang terus menjerit-jerit di atas dashboard mobil pun dia abaikan, entah berapa puluh kali. Hingga dia tersadar saat ada ketukan dikaca mobilnya.


Dave menoleh kearah samping, dimana seorang pria tegap berdiri mematung menunggunya keluar. Perlahan dia menurunkan kaca mobil dengan satu tangan menyusut matanya.


"Ada apa?"


"Kita harus pergi, sebelum tuan besar bertambah marah!" ucapnya dengan nada tegas. "Barangmu sudah siap, kita langsung ke bandara, barang putri anda akan diantarkan ke rumah nyonya Laras." tukasnya kemudian.


Dave berdecak, tanpa menjawab apapun dia kembali menaikkan kembali kaca mobilnya, lalu menghidupkan mesin dan melaju, pria tersebut menyusulnya dari arah belakang dengan mobil yang berbeda.


Dave begitu terkejut saat melihat laporan yang diberikan asistennya padanya, laporan yang membuat ayahnya sendiri murka dan memanggilnya untuk cepat kembali hari ini juga.


"Apa kau tidak salah?" Ujarnya dengan melempar berkas laporan tepat pada wajah asisten pribadinya itu, dia kemudian mengayunkan kaki masuk ke dalam pesawat.

__ADS_1


Roni mengambil berkas tersebut, dan segera menyusul tuannya yang telah masuk. Dia tahu sikap Bosnya jika tengah kesal maupun marah.


Dave merogoh ponselnya, berusaha menghubungi Karina, istri keduanya. Namun sekian lama dia menelepon, no kontak Karina justru tidak aktif.


"Kurang ajar!"


Dave melemparkan ponselnya kesamping, beruntung, pesawat yang ditumpanginya bukanlah pesawat komersil, melainkan pesawat milik keluarganya.


"Kemana wanita itu pergi Roni?"


Roni yang masih menunggu perintah itu masih mematung, bawahannya yang bertugas di Singapura tidak tahu kemana istri tuannya pergi.


Dave semakin murka mendengarnya, tangannya mengepal kuat dengan terus menahan emosinya, "Kita pulang sekarang juga!"


Roni mengangguk, dia kemudian menghubungi sang pilot untuk segera landas.


Dave menatap jendela pesawat, fikirannya melayang pada sang putri kesayangan, Agnia yang cantik juga pintar, gadis berusia 17 tahun yang semakin dewasa saat ini. Gumpalan awan putih terlihat berkumpul menutupi pandangannya, namun tidak serta merta menutup bayangan Agnia yang terus berputar dikepala, semua kata-katanya, tingkahnya, keberaniannya, tanpa dia sadar tempatpun sudah berubah.


.

__ADS_1


.


Dave mendapati kemarahan Ayahnya saat tiba di Singapura, bagaimana bisa seorang Dave bisa begitu teledor karena mempercayakan kuasanya pada sang istri, Karina.


Hingga seluruh aset perusahaan diambil alih dengan begitu mudahnya, bahkan Karina memindahkan dana perusahaan ke sebuah bank di swiss, hingga tidak seorang pun bisa mengambilnya kembali.


Dave melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangannya dikantor, dia harus menghadapi beberapa orang dari pemegang saham juga para direksi. Mereka tentu saja menyalahkannya atas apa yang terjadi, dan yang mereka inginkan hanyalah uang mereka kembali.


Belum selesai dengan masalah itu, Dave kembali mendapat masalah, semua rekening dan aset miliknya dibekukkan oleh berbagai bank, karena menurut laporan bank, Dave adalah penjamin dari Karina terkait masalah utang piutang.


"Ayah bilang apa Dave ... dia itu wanita ular! Dia hanya mengincar harta keluarga kita saja, dan sekarang! Kita mendapat masalah gara-gara kau! Fikir Dave, apa akan ada orang yang mau menjadi investor kita saat ini dengan perusahaan yang kacau balau ini?' sentaknya dengan melempar-lemparkan berkas laporan diatas meja.


"Papa tenang saja! Aku pasti akan mendapat solusinya nanti, saat ini aku akan mencari Karina dan juga Darren!"


"Dengar Dave ... papa tidak akan main main kali ini, papa tidak akan mengijinkanmu untuk kembali membawa wanita itu ke rumah!"


"Dari awal aku tidak pernah setuju saat kau hendak menikahinya, tidak Dave, tapi kau tidak mendengarkan perkataan ku!"


Dave bangkit dari duduknya dan bergegas meninggalkan ruangan itu, dia tidak ingin Ayahnya terus mengoceh masalah tentang Karina.

__ADS_1


"Karina ... kau dimana!!"


__ADS_2