
Gadis itu perlahan meng erang, yang bahkan tanpa dia sadari hal itu. Zian semakin merapatkan tubuhnya, hingga dua gundukan keras menempel didada bidangnya, perlahan tangannya naik, menyelip lembut disela leher dan menyibakkan anak rambut milik Agnia ke belakang, bibirnya turun menyusuri leher putih jenjang gadisnya itu. Agnia sampai harus menggigit bibir agar tidak kembali bersuara.
Sensasi yang baru pertama kali dia rasakan, desir demi desir terasa dalam aliran darahnya, buku bulu halus dikulitnya ikut meremang, seiring sentuhan benda basah yang mengecap lehernya.
Zian hampir kalap, dengan wangi semerbak yang terus menyeruak masuk kedalam hidungnya, wangi kulit gadis yang terbilang masih terus akan berkembang pesat.
Dia mengangkat tubuhnya, mendudukkannya dipangkuan sementara dia perlahan duduk dikursi yang sebelumnya diduduki Agnia, tanpa melepaskan kecupan kecupan yang semakin liar diarea leher dan telinga Agnia.
Sesuatu yang keras menghentak membuat Agnia sontak kaget, pun dengan Zian. Namun dia justru kembali menautkan bibirnya dengan tangan melingkar dipinggangnya.
Ada yang semakin mengeras dibawah sana, membuatnya sesak dan butuh sesuatu yang lebih dari itu. Namun itu tidaklah mungkin, dia tidak ingin merusak hidup seorang gadis yang dia cintai.
Trakk
Penabuh gamelan jatuh kelantai, saat tubuh Agnia sudah berada di atas meja dimana gamelan itu tersimpan, membuat keduanya sadar jika mereka sudah berada didalam sana cukup lama.
"Aku harus kembali ke kelas!" Agnia turun dari pangkuan Zian, semntara Zian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Kepalanya berdenyut hebat, bodohnya dia melakukan hal itu ditempat tersebut, hal terbodoh yang pernah dia lakukan selama hidupnya, dengan begitu dia sendiri yang kesulitan.
Agnia merapikan rambutnya, dia juga merapihkan seragam yang dikenakannya, dengan nafas yang masih memburu dsn fikiran sama bodohnya dengan Zian.
"Bisa-bisanya kita berciuman ditempat ini!" gumamnya dengan posisi membelakangi Zian.
"Itu bisa terjadi dimana saja sayang!" jawab Zian dengan memijit pangkal hidungnya.
"Pusing ya!! Syukurin ... salah sendiri, gimana kalau ada yang tahu dan melaporkan kita. Bisa dianggap mencoreng nama baik sekolah ini!"
"Tidak masalah, aku akan mengaku dengan jujur, kalau aku mencintai kamu dan sebaliknya, kalau dikeluarkan, ya sudah tidak masalah, toh aku disini hanya sementara."
Agnia menginjak kaki terbalut sepatu pentopel itu dengan keras, "Tidak masalah pala mu!! Bagaimana denganku? Kau membiarkan aku tidak lulus begitu? Karena keburu dikeluarkan. Enak saja!" gerutunya dengan kedua mata yang mendelik.
Zian terkekeh, "Terus saja galak, sebenarnya apa yang jadi masalah mu Nia. Kenapa merembet kemana mana, lagi pula tempat ini tidak pernah dipakai lagi, jadi kamu tenang saja ya!"
Gadis itu menghela nafas, dia kembali duduk dengan dagu yang ditopangnya.
"Tiba tiba ada kakek kakek yang ngaku ngaku kakek Nia dan bilang akan bawa Nia ke Singapura, dia juga bilang perusahaan dan Daddy membutuhkan Nia." lirihnya.
Zian menghela nafas, ternyata dugaannya benar, Arkhan benar benar datang namun justru menceritakan hal yang berbeda pada Nia. Gadisnya.
"Terus Nia mau?"
__ADS_1
"Enggak lah enak aja! Kemana aja mereka selama ini, kenapa baru muncul saat perusaahan mereka ada masalah, atau ini hanya pura pura, ini hanya siasat Daddy buat misahin kita."
Zian mencubit pelan pipi Agnia yang menggemaskan. "Terlalu banyak menonton drama! Mana mungkin Dave melakukan hal rendahan seperti itu!"
"Bisa saja ... dia saja bisa kabur dan gak tanggung jawab, apalagi soal begini, dia pasti punya banyak cara untuk membuat kita berpisah."
"Tapi itu benar Nia!"
Agnia menatap Zian, "Maksudnya?"
"Perusahaan Dave memang sedang ada masalah, dan dia memang sedang kesulitan, kakekmu tidak mengada ngada sayang!"
Agnia mengerjap, "Jadi om udah tahu?"
Zian mengangguk, "Kakekmu sendiri yang datang menemuiku! Dan menceritakan semuanya."
"Memalukan ... dia pasti meminta bantuan pada Om!"
"Pintarnya gadisku ini!" ucapnya dengan menjumput hidungnya sampai memerah.
"Terus Om mau? Bodoh aja kalau Om masih mau membantu mereka!"
Zian menghela nafas, "Apa kau tahu kakekmu menjanjikan apa padaku kalau aku bisa membantunya?"
"Coba tebak?"
Agnia mencoba berfikir, tapi entahlah. Justru fikirannya melayang kemana mana.
"Tahu ahk ... males mikir! Yang pasti apapun itu, pasti menguntungkan mereka!"
Zian mengulum senyum, "Kau salah, justru menguntungkan ku! Jika aku mau melakukannya,"
"Apa memangnya yang menguntungkan mu. Oh aku tahu, kerajaan Bisnismu semakin lebar, pria tua itu akan memberimu perusahaan ya?"
Zian menggelengkan kepalanya, "Tidak hanya itu,"
"Udah deh ... cerita yang lengkap sekalian, jangan setengah-setengah. Kau malah semakin membuatku kesal!"
Zian terkekeh, "Kalau aku membantu kakekmu, dia akan memberikanku cucunya yang paling cantik."
Agnia melebarkan kedua maniknya, bola mata itu tiba tiba membelalak, "Apaan?!!!"
__ADS_1
"Sudah ku duga, reaksimu akan seperti ini," kembali mencubit pipinya dengan gemas.
"Maksudnya apa?"
"Ya seperti itu, kalau aku membantunya, maka Agnia yang cantik, cucu tuan Arkhan akan menjadi milikku."
"Gila aja, mereka fikir aku apa? Barang ...!! Udah ah, Nia mau keluar, malah makin bete tahu gak, mereka fikir mereka bisa ngatur ngatur hidup Nia seenak jidatnya."
Agnia menggerutu kemudian keluar dari ruangan kesenian itu, meninggalkan Zian begitu saja.
"Hey ... lantas nasibku bagaimana?" ucapnya dengan menatap kearah bawah, sesuatu dari balik celananya yang terlihat menonjol.
"Selalu saja begitu!"
.
.
Agnia kembali kedalam kelasnya dengan wajah semakin tidak karuan, Apa sih maunya si kakek tua itu. Nyebelin banget! Seenaknya aja ... dia fikir dia siapa.
Cecilia dan juga Nita yang baru keluar dari kelas saling menatap saat melihat Agnia berjalan naik, lalu menyebrang ke selasar gedung untuk kembali.
"Nit ... lihat?" ucap Cecilia dengan dagu menunjuk Zian yang berjalan di belakang Agnia dengan jarak yang lumayan jauh.
"Menurut lo, mereka abis ngapain?" tanyanya lagi dengan tatapan genit ke arah Nita.
"Tahu deh! Kepala gue ngedadak pusing!" jawab Nita dengan memijit pelipisnya.
"Ah lo gak bisa diajak kompromi ... bilang aja fikiran lo kotor, makanya pusing, mau juga kan Lo!" tuduh Cecilia yang membuat keduanya cekikikan.
Agnia melihatnya dari jauh, dia menghampiri kedua temannya yang masih belum berhenti tertawa.
"Ngapain kalian disini?"
"Lah ... yang ada juga gue yang nanya lo ngapain dari sana, pake berduaan lagi. Hayo ngaku lo abis ngapa___!"
Agnia dengan cepat membungkam mulut Cecilia, hingga mereka kembali tertawa, Zian melewatinya begitu saja, dia hanya melirik sebentar, membuat tawa ketiganya berhenti, lalu kembali tertawa saat Zian berjalan ke arah ruang guru.
"Enak lo yah, bisa bebas ngapain aja disekolahan, awas lo ada Cepu!"
"Apaan Cepu? Yang ada lo tuh cupu!" timpal Nita menoyor kepala Cecilia.
__ADS_1
"Eeh lo gak tahu Cepu? Noh yang lagi jalan kemari." tunjuknya pada Serly yang baru saja keluar dari kelas, dan berjalan mendekat.
"Sialan lo! Dia temen gue!"