Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 141


__ADS_3

Kondisi perusahaan milik Dave sebelumnya memang tengah mengalami kekacauan, beberapa faktor dari persaingan perusahaan baru salah satu penyebabnya, kepergian Dave ke Indonesia pada awalnya mencari investor besar. Acara yang dibuatnya semata-mata hanya untuk mengundang para investor dan mengajaknya bergabung. Sementara di Singapura, saham-saham minoritas mulai ditawar beli paksa dengan harga murah dilakukan oleh Karina dengan surat kuasa yang diberikan oleh Dave sendiri, dia memakai saham-saham kecil untuk membuat hostile take over atau pengambil alihan secara paksa. Biasanya berguna untuk menyelamatkan perusahaan yang berada diambang kebangkrutan, tujuan Karina sendiri mengakusisi perusahaan karena ingin menyelamatkan perusahaan itu namun dengan langkah yang curang. Dia ingin menjadi pemilik saham pengendali, menggabungkan saham-saham dibawah sepuluh persen yang dibelinya murah, hingga hampir terkumpul setengah nya dan menjadikannya pemilik saham diatas 50 persen.


Wanita cerdas ini yang selama ini diam-diam belajar bisnis, belajar tentang perusahaan milik suaminya hanya untuk merebutnya suatu hari nanti. Karina keluar dari rumah Dave tanpa hambatan, dengan segala kecurangan yang dia lakukan. Melenggang pergi dengan segala kemenangan, dia pun membawa serta putranya yang masih berumur sepuluh tahun Darren Arkhan.


Merasa puas dengan hasil yang dia dapatkan, Karina terbang ke Swiss dimana seluruh aset dia simpan, dan berencana tinggal disana, sementara perusahaan yang dia ambil alih masih dalam keadaan kacau balau karena pemindahan aset dan juga kepemilikan saham yang dimiliki oleh Dave yang hanya tinggal 30 persen saja.


Dave kembali merasakan jatuh setelah ditimpa hujaman, terpuruk karena semua yang dia pertahankan selama ini perlahan diambil, orang-orang terdekatnya kini menjauh, begitupun keluarga besarnya yang memang hanya memikirkan kekuasaan.


Salah satunya mencari investor baru untuk menjadikannya kekuatan menyaingi saham yang kini dimiliki Karina dalam perusahaannya agar bisa merebutnya kembali, Dave pun tidak bisa mengajukan penggugatan pada pengadilan atas hasil akusisi tersebut karena beberapa pemilik saham minoritas menyerahkannya begitu saja pada Karina. Walaupun dibelakangnya Karina bermain curang.


Dave menjalani hari hari beratnya, bulak balik kantor pusat dan pengadilan hanya untuk mengurus masalah itu. Sementara Karina tertawa bahagia karena keberhasilannya.


Kabar itupun sampai ditelinga Kim, sekretaris handal seorang Zian itu menggelengkan kepalanya, tak habis fikir dengan apa yang dialami oleh Dave saat ini.


Zian yang baru saja masuk pun heran, wanita yang sudah dia anggap keluarga itu biasanya berdiri menyambutnya, bahkan tanpa diminta dia akan selalu melaporkan kegiatan yang akan Zian lakukan.


"Kau sedang apa Kim! Sampai lupa laporan yang aku minta!"

__ADS_1


Kim mendongkak, dia kaget sendiri melihat Zian berdiri didepannya entah berapa lama, "Kau sudah tahu kabar dari Dave?" ujarnya dengan menyerahkan berkas berwarna biru dan kuning.


"Apa ini?"


"Laporan yang kau minta bos!" ujarnya namun pandangannya tetap tertuju pada iPad yang dia pegang.


Zian mengambilnya, "Memangnya apa yang terjadi pada Dave?"


"Ku kira kau sudah tidak peduli!"


"Kalau dia membutuhkanku, aku masih akan tetap membantunya, dan itu aku lakukan demi Dunia ku!" ujarnya dengan kedua tangan merentang. "Tapi kalau dia tidak memintanya, jangan lakukan apapun Kim! Ingat itu ... aku tidak ingin disalahkan nantinya!" ujarnya kembali lalu dia melangkah keluar dari ruangan Kim.


"Kau tidak berubah Dave! Kau selalu ceroboh...! Kenapa kau tidak belajar dari kecerobohanmu dimasa lalu." gumamnya merasa iba.


Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, seseorang masuk begitu saja mengagetkan Zian. Gadis liar yang datang dengan memakai kaca mata hitam.


Zian terperanjat, saat melihatnya. Namun juga senang, karena beberapa hari ini mereka hanya saling berkomunikasi lewat telepon,

__ADS_1


"Astaga ... dasar gadis liar!" ujarnya dengan wajah berbinar, betapa senangnya padahal dia karena Agnia datang tanpa dia minta, dia bangkit dari kursi kekuasaannya dan langsung menarik tubuh Agnia dan memeluknya.


"Heh ... jangan kira aku kemari untuk menemuimu begitu saja! Aku kemari untuk ini!!" ujarnya dengan menyerahkan modul tebal pada Zian.


"Gimana sih, bisa bisanya pihak sekolah menerima Om sebagai guru kelas tambahan sementara tugas saja hanya diberikan di class room, kita ini nunggu kejelasan, bagaimana jika semua tidak lulus gara gara guru tidak kompeten dibidangnya kayak Om ini" cerocosnya tanpa henti.


Sementara Zian menyenderkan tubuhnya dibelakang meja kekuasaannya, dengan tangan melihat di depan dada, memperhatikan Agnia yang terus menyerocos bicara tanpa jeda itu dengan seksama, bibirnya melengkung tipis, dengan pandangan menyapu seluruh wajah menggemaskan gadis kecilnya itu.


"Heh ... nyimak gak sih gue ngomong!" sentak Agnia yang menyadari jika Zian hanya menatapnya bicara.


"Kenapa tidak bilang saja jika kamu merindukanku? Kenapa menjadikan tugas sekolah alasan agar bisa kemari? Hem?"


Agnia mengerjapkan kedua matanya, Sialan ... ketahuan lagi,


"Bukankah jadwal kelas tambahan itu besok, dan aku sudah pasti tidak akan membiarkanmu tidak lulus Nia sayang!" ucapnya dengan kepala yang sengaja dia condongkan dan menjadi lebih dekat dengan wajah Agnia yang sudah merona karena malu.


"Te--- tetap aja, harusnya kan ...!" ujarnya mencari alasan dengan tangan menggaruk kepalanya.

__ADS_1


Zian terkekeh, masih dengan tangan yang melipat menunggu alasan yang akan Agnia ucapkan, "Tinggal bilang I miss You maka akan aku jawab I Miss you too...!" godanya lagi membuat warna kedua pipi Agnia semakin merah.


"Bisa bisanya ...!"


__ADS_2