
"Aaaa-- Serly? Aaapa yang terjadi?"
Ketiganya menoleh ke arah Agnia yang terbata bata. Zian bergegas menangkap tubuhnya yang hampir limbung.
"Lepas! Lepasin Nia."
Agnia meronta minta dilepaskan, dia bahkan beberapa kali memukul Zian agar melepaskannya.
"Baby ... tenanglah!"
"Apa, tenang? Kau fikir aku bisa tenang!" Agnia mendorong Zian hingga pria itu mundur beberapa langkah, dengan cepat menyambar jaket miliknya yang tergeletak di tepi ranjang, "Aku ingin ke makam Serly!"
"Sayang, hei ... Hei, tenanglah! Kau akan menjalani pemeriksaaan." Zian memegang kedua pundaknya mencoba menenangkan Agnia.
"Kapan Serly meninggal?" Tanyanya bercucuran air mata, menatap Zian yang tiba tiba terdiam. "Kau sudah tahu tapi diam saja?" tanyanya lagi.
"Baby! Biar aku jelaskan. Aku melakukan ini demi kebaikanmu."
Agnia menepis kedua tangan Zian yang masih memegang bahunya, "Kebaikan apa? Kamu justru membuat aku tidak baik baik saja sekarang."
Agnia keluar dari ruangan VVIP itu, fikirannya benar benar kacau, ingatannya pada Serly, tertawa bersama saat mereka masih dekat, pertengkarannya selama ini yang membuat hubungan mereka semakin jauh. Tidak saling bertanya kabar seolah saling melupakan dan berakhir perpisahan tanpa kata, bahkan kata maaf sekalipun.
"Serly maafin gue!" Agnia terisak, namun langkahnya semakin mantap. Dia ingin menemui sahabatnya walau terlambat.
"Baby ... Jangan begini! Kau juga harus memikirkan anak kita, kita akan ke makan Serly setelah pemeriksaan selesai. Oke?" Ujar Zian yang berhasil mengejar dan menghalau langkahnya. "Please sayang, dengarkan aku. Aku melakukan ini demi kalian."
"Demi siapa? Kau justru membuat aku merasa semakin bersalah, Serly sahabatku, hubunganku dengannya hancur dan aku belum minta maaf padanya. Sekarang?" Agnia menyusut air matanya dengan kasar, "Apa masih bisa aku meminta maaf padanya? Kamu bikin aku bersalah seumur hidupku padanya Ziandra!" tegasnya dengan suara bergetar, juga air mata yang terus mengalir deras.
__ADS_1
Cecilia dan juga Nita yang sengaja datang ke rumah sakit untuk melihat kondisi Agnia melihatnya, langkah mereka pun terpaku tidak jauh dari sana.
"Ce ... Nia!"
"Gue lihat Nit! Gimana ini?"
Agnia menatap tajam keduanya, melangkah melewati Zian dan berjalan ke arahnya mereka, tatapannya juga sulit di artikan.
"Kalian udah tahu kan? Dan gak ada yang ngomong sama gue satu pun! Kenapa ... Apa kalian fikir gue gak makin hancur karena ini?"
"Sorry Nia, kita---"
Ucapan Nita terjeda, dia melirik sebentar ke arah Zian yang berada di belakang Agnia.
"Kenapa. Karena Zian yang suruh?"
"Kalian fikir gue selemah itu? Apa kalian bisa jamin, gue baik baik aja saat gue tahu hal ini justru dari orang lain. Hah?"
Agnia terus menangis dalam keadaan marah dan terguncang. Berkali kali Zian memegang pundaknya, namun Agnia selalu menepiskannya.
"Kita emang bakal kasih tahu lo tapi kalau kondisi lo udah bener bener stabil Nia." jelas Cecilia, "Kita mikirin lo juga, suami lo juga. Kita khawatir, suami lo apalagi Nia."
Agnia terdiam, dia menatap kedua sahabatnya itu bergantian, tentu saja dengan bulir air yang terus berderai.
"Minggir ... Gue mau ke makam Serly!"
"Baby ... Aku akan mengantarmu tapi nanti, setelah dokter memeriksamu ya." bujuk Zian dengan lembut, dia merengkuh kepala Agnia agar istrinya itu kembali tenang.
__ADS_1
Namun Agnia menyentakkan tangannya, "Gue mau sekarang Ziandra Maheswara!"
Dokter Sam yang berada di belakang Zian sejak awal hanya bisa menunggu, dia menatapnya dengan sedih, mengingat putri satu satunya yang telah meninggal. Dokter Sam menepuk bahu Zian, menganggukkan kepala agar memberi waktu untuk Agnia. Dia juga merasa tidak asing saat menatap kedua sahabat Agnia yang kini ikut menangis.
"Bawalah dia ke makam putriku, dengan begitu dia akan tenang, beri waktu sebanyak banyaknya untuknya."
***
Akhirnya dengan terpaksa Zian membawa Agnia ke makam Serly, Nita dan Cecilia juga ikut mereka dan duduk di belakang. Tidak ada yang bicara sepatah katapun dari mereka. Terlebih Agnia yang terus menangis dengan menatap ke arah luar jendela.
Zian melajukan mobilnya dengan sesekali menatap ke arah sang istri, berkali kali mencoba menenangkannya dengan mengusap bahunya lembut, namun Agnia terus menepiskannya.
Air mata Agnia semakin tidak terbendung lagi saat mobil terparkir di area pemakaman. Cecilia dan Nita keluar lebih dulu dan menunggunya, namun Agnia seakan tidak kuasa keluar dari mobil.
"Baby!" Zian mengelus tangannya, "Kita sampai di makam Serly."
Agnia akhirnya membuka pintu mobil dan keluar, tidak sedikitpun dia melihat kedua sahabatnya yang sejak tadi khawatir padanya. Agnia berjalan seorang diri dan menolak dipegangi siapa pun.
Gundukan tanah merah itu terlihat sangat jelas, bunga yang masih baru bertumpuk di atasnya. Papan bertuliskan nama lengkap Serly berada di depannya.
Agnia menangis tergugu, dia masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Apalagi dengan jelas dia melihat tanggal kematiannya.
"Tiga bulan kalian menyembunyikannya! Gak ada satupun yang bilang sama gue selama itu! Apa kalian sekarang tahu gimana perasaan gue." lirihnya dengan terus terisak. Dia bersimpuh walau kesukitan karena perutnya yang buncit. "Serly ... Maafin gue! Gue fikir lo baik baik aja selama ini, ternyata lo pergi tanpa bilang apa apa ke gue, lo bahkan pergi ninggalin gue yang masih berfikir buruk sama lo. Maafin gue Serl."
Tidak ada yang tidak menangis saat itu melihat kesedihan Agnia, bahkan Zian benar benar merasa bersalah karena hal ini, niat baiknya justru berujung pada Agnia yang marah dan tidak mau bicara dengannya.
"Baby ... Maafkan aku!"
__ADS_1