
"Aya mana ya? Kok ilang!"
Gadis kecil berusia 5 tahun itu terkikik dibawah selimut, namun Agnia masih berpura-pura tidak melihatnya, hingga dia sengaja merebahkan dirinya di atas kasur berukuran sedang itu.
"Ah ... kak Nia mau bobo aja! Mungpung Aya gak ada," ujarnya mengulum senyum.
"Iihhh ... kak Nia jahat, masa Aya segede ini gak ketahuan sih! Jahat nih kak Nia ... Bu, kak Nia jahat!" teriaknya dengan mulai menangis.
Agnia tersentak dan menahan tawanya, butuh beberapa waktu agar gadis itu berhenti menangis karena keisengan Agnia.
"Kak Nia curang!"
Agnia hanya terkekeh, dengan menghadap gadis kecil itu, "Gak curang kok, Aya aja yang cengeng!"
Tak lama kemudian terdengar ketukan dipintu, yang membuat hati Agnia selalu resah, bagaimana tidak, selama ini dia bersembunyi ditempat yang tidak dapat di duga siapapun, termasuk Zian dan juga sekretaris Kim.
Aya berlari dengan isak tangis yang masih tersisa, dan menyerbu seorang wanita paruh baya.
"Ibu ... ibu, kak Nia nakal Bu!" ujarnya dengan menunjuk arah kamar.
"Lho kenapa? Pasti Aya yang usil." sahutnya.
Agnia keluar dari kamar, menyambut wanita yang kini menyimpan barang bawaannya diatas meja kayu.
"Enggak kok, kak Nia yang curang! Masa Aya sembunyi tapi gak ketahuan, padahal jelas-jelas Aya sembunyi dibawah selimut!" Gadis kecil itu bercerita dengan wajah yang merengut, sementara sang ibu hanya menggeleng kepalanya.
"Gimana kerjanya Bi?" Tanya Agnia.
Wanita paruh baya itu menghela nafas, lalu duduk di kursi kayu dengan ukiran bunga kedua sisinya.
"Lagi-lagi tuan Zian gak makan dirumah! Tuh bibi terpaksa bawa lagi kemari, sebagian bibi udah kasih buat tetangga depan." terangnya.
Agnia bangkit dari duduknya, "Mungkin dia makan diluar, makanya gak pernah makan dirumah, padahal bibi kan udah masak segitu banyaknya."
"Sepertinya tidak Non, Tuan Zian terlihat lebih tirus semenjak Non Nia tidak pulang kerumah, dan tidak pernah lagi keluar kamar kalau dirumah."
"Benarkah? Tapi ah, biarin aja ... nanti juga biasa! Ditambah mungkin dia udah balikan sama Dita!"
Bibi pelayan bernama Nur itu menghela nafas, mengeluarkan boks wadah yang berisi masakannya dari kantong plastik.
"Tapi selama Non Nia pergi, non Dita tidak pernah sekalipun muncul dirumah! Hanya sekretaris Kim saja yang selalu bibi lihat Non!"
Mungkin mereka bertemu diluar, bodo amat lah! Gue gak mau tahu!
"Bagaimana dengan sekolahmu Non? Udah berapa Minggu gak masuk sekolah? Apa gak khawatir nilai non Nia nanti anjlok?" tanya bi Nur dengan memindahkan lauk pauk keatas piring.
__ADS_1
"Enggak lah bi, tinggal beberapa bulan lagi sih buat ikut ujian Nasional, paling nanti Nia nyusul aja!"
"Oalah, emang bisa ya? Sekolah ditempat orang kaya, nyusul pun gak masalah ya? Apa dikerjaainnya di laptop itu ya?"
Senyum Agnia berubah menjadi lebih lebar, saat wanita yang dihadapannya itu mengatakan laptop.
"Bibi jadi ambil laptop Nia? Aaaa ... makasih Bi!!" ujarnya dengan tangan yang melingkari bahunya.
"Sama-sama Non! Awalnya bibi juga ragu, takut ketahuan tuan Zian, tapi sepertinya dia tidak sadar, satu persatu baju Non Nia, bibi ambil." ujarnya terkekeh.
"Iya Bi ... makasih ya! Nia gak tahu kalau gak ada bi Nur, mungkin Nia saat ini gak tahu dimana."
Flash back On.
Saat Agnia berjalan dari taman dengan tujuan yang entah kemana, karena belum tahu tujuan yang mesti dia tuju, akhirnya Agnia duduk dihalte bis, namun saat menunggu disana, dompet dan ponselnya tiba-tiba raib. Gadis itu kelimpungan, semua uangnya ada didompet dan satu-satunya alat komunikasinya pun ikut raib.
Tuhan maha baik, setelah seharian hanya diam dihalte, disitu pulalah, Agnia bertemu seorang anak kecil yang tengah memakan sepotong roti, Agnia menatapnya dengan lapar, dia baru ingat kalau perutnya belum terisi sama sekali.
Gadis kecil itu tampak riang, dia bersenandung dengan mulut penuh roti, lalu duduk disamping Agnia. Membuatnya menelan saliva karena anak kecil itu makan dengan nikmat.
Tiba-tiba saja gadis itu menoleh ke arahnya, lalu menyembunyikan roti itu dibelakang punggungnya.
"Ade sama siapa kemari?"
"Ibu ...!"
"Disana! Ada ...!"
Duh mana gue laper lagi, masa iya gue nyuri roti dari anak kecil ini! Kalau gue balik lagi, ini udah jauh banget, bisa-bisa gue nyampe malem ini! batin Agnia yang terus menatap anak kecil disebelahnya.
Agnia mendekat, dengan tangan ke arah belakang gadis itu, berusaha mencuil roti dari tangannya barang sedikit, namun anak kecil itu malah menangis. "Ibu ... Aya takut!"
"Eeh ... gak usah nangis! Kakak gak ngapa-ngapain ko!" ujarnya dengan kedua tangan yang terangkat ke atas.
"Ibu ...!"
Bukannya berhenti menangis, anak itu justru semakin kencang menangis, membuatnya panik sendiri.
"Aya takut!" ucapnya dengan menangis.
"Gak usah takut! Kita cari ibu yaa ... cari ibu!"
Agnia menggendongnya lalu mengajaknya mencari ibunya yang dia sendiripun tidak tahu.
Dalam pangkuan Agnia, gadis kecil itu mulai tenang, hingga dengan leluasa Agnia mencuil roti miliknya dan mengunyahnya dengan cepat. Tak lama kemudian sesosok wanita paruh baya berlari menghampiri mereka.
__ADS_1
"Astaga, Aya! Ibu mencarimu kemana-mana!"
Gadis kecil itu turun dari pangkuan Agnia, dan berlari ke arah ibunya, Agnia sendiri tersentak saat melihatnya, begitupun dengan wanita paruh baya yang saat ini menggendong anaknya.
"Non Nia?"
"Bi Nur?"
"Astaga Non, sedang apa disini. Ini kan jauh sekali dari rumah!" ujarnya dengan terkaget.
Agnia pun menceritakan jika dompet dan uangnya telah dicopet.
"Bu ... kakak ini makan rotiku!" celetuk gadis cilik bernama Aya itu.
Agnia menggaruk kepalanya, "Maaf yaa! Tadi kakak laper, dan lihat roti Aya jadi makin laper."
"Kalau mau, Non Nia ikut bi Nur ke rumah saja, sampai bi Nur kabarin tuan Zian untuk suruh jemput kemari ya."
"Jangan bi! Jangan bilang dia kalau Nia ada disini!"
Bi Nur mengernyit, "Kenapa?"
"Ceritanya panjang!"
"Ya sudah, Non ikut bibi pulang aja ya."
Jarak rumah dengan taman kota itu tidak begitu jauh, rumah Bi Nur terletak dibelakang gedung apartemen mewah, dan orang-orang akan luput jika dibelakangnya ternyata ada pemukiman warga.
"Nah ini rumah bibi." ujarnya saat mereka sampai.
"Apa Om Zian tahu rumah ini Bi?"
"Tahu Non, dari kecil tuan Zian sering main disini, saat mendiang tuan besar masih ada, tapi setelah sibuk sekolah, dia tidak pernah kemari. Mungkin sudah lupa ada tempat ini."
"Ooh...!" Agnia hanya beroh ria. Mungkin tempat ini cocok buat gue sembunyi sementara waktu sampe gue punya uang, dan pergi jauh.
"Memangnya kenapa Non gak mau Tian Zian jemput kemari? Nanti dia bisa khawatir Non."
"Gak akan bi, dan bibi harus janji jangan bilang Nia disini!"
.
.
.
__ADS_1
Nah siapa yang tebakannya benar, Agnia di umpetin bibi pelayan rumah Zian. Selamat yaa guys... yang jawabannya bener dapat hadiah alat make up berupa iklan๐ ๐ โ๏ธ
kaboooorrrrr...