Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 210


__ADS_3

...Nah bab ke 3 yang othor kasih hari ini buat kalian terlope lope ... jangan lupa like, dan komen, gift dan juga karena hari ini hari Senin, boleh dong vote juga. Happy reading...


.


.


Agnia terbangun saat dirinya merasakan tubuhnya bergerak gerak hingga rasanya perutnya sepertinya mau muntah, padahal dia merasa berada di perpustakaan yang tenang dan juga damai, namun tidak dengan saat ini karena sangat berisik dengan suara klakson.


Gadis itu membola saat melihat ruas jalan didepannya sementara dia mengedarkan pandangan.


"Sudah bangun baby?"


Agnia mencubit lengannya sendiri, apa dia sedang bermimpi melihat dan mendengar suara bariton Zian,


"Kenapa? Kau tidak sedang mengigau sayang, kau memang tertidur pulas di perpustakaan! Bukankah sudah aku bilang kamu itu harusnya istirahat saja dirumah, jangan malah membantah sampai hampir dicium orang!"."


Gadis yang belum sepenuhnya sadar itu menolehkan kepalanya, "Dicium siapa? Orang Nia ngantuk kok, ya udah tidur aja, lagian juga Nia tidur di tempat aman dan waktu istirahat." akhirnya menghela nafasnya kembali, dia lantas menyandarkan punggungnya disandaran seat mobil. Namun tidak dengan Zian,


"Kamu bisa lihat jam berapa ini baby? Kalau sampai bocah itu menciummu, aku akan membuatmu menyesal."


Agnia menggaruk kepalanya, saat melihat jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya, "Udah hampir jam pulang ya!"


"Hm ... dan bocah itu hampir menciummu, beruntung aku datang dan Cecilia memberitahuku! Kalau tidak___"


"Kenapa terus bahas orang yang menciumku! Emangnya tadi dia berhasil nyium Nia?"


"Tidak ... tapi kalau aku telat sedikit, habislah dia babak belur."


Agnia menghembuskan nafasnya kasar, hingga anak rambut yang menutupi bagian dahinya bergerak maju. "Tapi kan enggak jadi! Kenapa masih marah marah juga!"


Kruuuukkk


Suara perut Agnia berbunyi, meminta haknya untuk di isi, dan seketika Zian menggelengkan kepalanya.


"Kamu pasti belum makan kan?"


"Kalau udah makan mungkin gak bunyi seperti ini hubby!!" ujarnya dengan gigi putih berjejer rapi.


Mendengar hal itu bibir Zian sedikit melengkung, panggilan sayang yang akan keluar tanpa di minta apalagi dipaksa, sedangkan Agnia memanggilnya dengan begitu agar Zian berhenti menggerutu, dan membahas tentang orang yang hendak menciumnya, tanpa memberi tahu orangnya.


Baru dipanggil segitu doang udah meleleh Lo ... tapi lucu yaa, mukanya bikin gemes. Agnia membatin dengan melirik ke arah Zian yang diam diam menyunggingkan bibirnya.

__ADS_1


Zian mengarahkan mobil yang dikemudikannya ke arah hotel xxx miliknya, alih alih mengunjungi kafe atau pun restoran dengan Agnia yang mengenakan seragam sekolahnya.


"Eeh ... ngapain kita ke hotel? Nia gak mau yaa ... Nia mau pulang!"


Zian mengernyit, dengan menoleh ke arah sang istri saat memasuki lobby hotel, "Are you sure? Kau lupa kau sudah sah menjadi istriku? Sekalipun kita ke lubang semut pun tidak akan jadi masalah." dia baru ingat kalau mereka sudah menikah, lebih tepatnya baru sepekan menikah dan baru semalam melakukan hubungan yang membuatnya melayang berkali kali.


"Aaah ... iya!" cicit nya tepat saat Zian menghentikan mobilnya, dia membuka seat belt milik Agnia dengan wajah yang sangat dekat.


"Perutmu kosong dari pagi sampai hilang konsentrasi, mengantuk dan lupa ingatan kalau kau sudah menjadi istriku. Lalu apa kau ingat kejadian semalam?" Ujar Zian dengan nada bicara sangat pelan, nafas hangat dengan harum mint berhembus ke wajah Agnia.


"Lagi pula bukankah kau tidak suka ke tempat umum denganku jika masih mengenakan seragam mu ini?"


Zian menarik kancing seragam Agnia dengan iseng, membuat jantung Agnia berada di batas normal, namun dia hanya bisa terdiam.


Lamat lamat Zian mengecup ujung bibir Agnia dengan lembut, lalu berhenti sejenak hanya untuk melihat reaksi Agnia. Gadis itu tentu saja bergerak, mempertemukan lidah mereka dengan lummatan lembut. Membuat Zian menyunggingkan senyuman lalu membalas lummatan itu lebih panas, tangannya mulai menyusup di celah kanc8ng Agnia yang dia buka satu, meremmas benda kenyal yang sekarang menjadi favorite nya sejak semalam.


Agnia memejamkan kedua matanya, dengan tangan meremmas jas kemeja Zian, namun tidak berlangsung lama karna suara perut keroncongan menghentikan aktifitas mereka, Zian mengelap bibir Agnia basah dengan ibu jarinya, "Kita makan dulu ... baru lanjutkan yang barusan itu."


"Iih ... dasar!" jawab Agnia dengan mengulum senyuman sembari memasangkan kembali kancing seragamnya.


Keduanya keluar dari mobil, menuju lift yang berada di basement dan langsung menuju restoran di atas.


Restoran yang memiliki akses jalan sendiri, staf hotel menyambut bos mereka, yang terlihat heran saat bos mereka membawa seorang gadis yang masih sekolah ke hotel, ada pula yang menatapnya dengan mata menyalang dan juga mencibir di belakang.


"Kalau Bos Zian hanya butuh pelampiasaan, aku tidak akan menolak!"


Wanita yang duduk dibelakang meja resepsionis itu membicarakan mereka, dan tentu saja membicarakannya saat keduanya sudah lewat.


Keduanya tiba di restoran, Zian menarik kursi untuk di duduki Agnia, lalu setelahnya dia duduk di kursi, posisi mereka saling berhadapan, hingga tidak mungkin tidak saling memandang satu sama lain.


"Apa?"


"Apa? Aku tidak___!"


"Iih apaaan!!"


Ketidak jelasan keduanya membuat gelak tawa keduanya, Zian mencubit hidungnya yang mancung dengan lembut.


"Kau ini!!"


Beberapa pelayan masuk dengan hidangan spesial dari hotel, mereka faham betul apa yang harus dilakukan jika bos mereka datang, tentu saja semua aturan ini diterapkan oleh Kim, Sekretaris handal dari Zian.

__ADS_1


Beberapa piring mulai disajikan, membuat Agnia yang sudah lapar itu menelan ludah. Namun dia harus menahannya, karena menunggu pelayan itu selesai menyajikan makanan itu dengan sesuai.


Setelah kepergian petugas hotel, Agnia mulai menyuap, dia berkali kali menyiapkan makanan ke dalam mulutnya sampai penuh.


"Hati hati makannnya ... memangnya kau mau kemana?" Zian mengelap saos sambal yang tersisa di ujung bibir Agnia.


Membuat gadis itu tersentak kaget, laku dia mengelapnya sendiri.


"Kau mau lihat kamar yang paling atas di hotel ini tidak?" ajak Zian dengan lengkungan bibirnya.


"Hah ...?"


"Lihat saja baby ... tidak lebih!"


Setelah beberapa lama kemudian, merekapun selesai makan siang, dan Ziang mengajak Agnia untuk melihat kamar yang dia maksud.


Tempat yang hendak Zian perlihatkan berada di paling atas hotel itu, hingga Zian dan juga Agnia harus menaiki lift yang berjarak lima lantai, namun saat hendak masuk mereka dikagetkan oleh sekretaris Kim yang keluar dari lift.


"Kim?"


"Sekretaris Kim?"


"Bos ... Nia? Apa kalian mau ke atas?"


"Hem ...! Kau kenapa disini?"


"Kau lupa? Kita hari ini akan meeting dengan PT Angkasa, dan aku dari ruangan meeting diatas," Kim menyunggingkan senyuman datar saat Zian tidak sedikitpun melepaskan tangan Agnia dari genggamannya, bahkan ibu jarinya bergerak lembut mengelus jemari Agnia. "Masih ada waktu lima belas menit jika kalian ingin ke atas." ujarnya lagi.


Zian menoleh ke arah sang istri kecilnya, "Bagaimana? Baby mau?"


Kim hanya mengulas senyuman yang dia yakini senyuman itu sangat amat berat, namun sekali lagi, dia benar benar bertekad mengubur perasaannya.


Agnia menggelengkan kepalanya, dia menoleh ke arah Zian yang menunggu jawaban darinya.


"Mana bisa waktu lima belas menit!"


.


.


.

__ADS_1


Emang mau ngapain Nia? ...wkwkkw 15 menit cuma liat liat aja mah bisa kan. Cuma liat liat kok... wkwkwkwk


Mulai nakal nih Nia, terpengaruh othor keknya.. hahaha


__ADS_2