
Jam pulang kuliah.
Indah dan Ines berjalan beriringan menuju halte dekat kampus yang cukup rame mengingat ini jam pulang ngampus dan pulang kerja jadi halte jadi sedikit sesak di penuhi oleh mahasiswa, karyawan swalayan dekat kampus serta beberapa karyawan kantor dekat sana juga.
"Malas kalau desakan ya Nes,"
lalu menarik tangan Ines sedikit menjauh dari keramaian itu.
"Ya mereka juga mau pulang kali Ndah, emang lo doang yang punya rumah,"
Siapa juga yang bilang mereka tak punya rumah, hanya saja Indah bilang tadi hanya malas berdesakan saja bukan mengatakan mereka tak punya rumah.
"Kalau ngomong pakai bismillah dulu Nes, asal nyeblak aja,"
Keluh Indah yang malas berdebat, ya dua sahabat itu kadang mendebatkan hal yang tidak penting seperti sekarang.
Lain maksud Indah lain juga tanggapan Ines.
Ingin rasanya Indah menggetok kepala cantik itu kalau tidak ingat kalau Indah begitu menyayangi Ines.
"Udah baca doa sekalian tadi Ndah, kurang apa coba lagi?"
Sejak kapan mau bicara ada doanya juga, baru kali ini Indah dengar.
Biasanya orang suka bilang kalau mau bicara berfikir dulu atau baca bismillah bukan baca doa.
Ada ya orang seperti Ines di muka bumi ini, patut di lestarikan agar tak punah.
Hewan kali pake di lestarikan.
"Ngak sekalian ambil wudhu abis tuh sholat biar lebih afdol,"
Berjalan menaiki bus yang baru datang dan beruntung masih dapat tempat duduk kalau tidak bayangkan saja berdiri sampai tujuan, bisa sakit tuh kaki kelamaan berdiri.
Sampai tujuan.
"Ndah ngak mampir dulu,"
Tawar Ines yang rumah dia di lewati duluan sebelum rumah Indah.
"Ngak ah Nes lain kali aja, kasian Ibu sendiri di rumah,"
Tolak Indah halus ingin segera pulang menjumpai sang Ibu dan ingin tau keadaan setelah seharian dia tinggal untuk bekerja dan kuliah.
Sebenarnya kakak Indah sudah melarang dia buat bekerja dan di suruh buat fokus kuliah serta menemani Ibu di rumah saja.
Memang dasar Indah keras kepala tidak mengindahkan ucapan kakaknya dan tetap bekerja seperti biasa.
Skip rumah.
"Assalamu'alaikum ibu, ibu lagi apa? pasti mikirin Indah ya?"
Tolong itu mulut di jaga saat bicara, dan juga tolong percaya diri kurangi sedikit kalau kecewa kan sakit dan tak berdarah lagi.
__ADS_1
"Iya ibu mikirin kakak,"
Nah kan ngajak gelud, di apa dan jawaban membuat hati nyes tapi tak bisa apa.
"Hello ibu Indah yang kecantikan nya setelah indah, plis jangan sakiti Indah sekejam ini,"
Dramatis Indah memegang dada seolah sakit serta tidak lupa wajah yang menampilkan kesedihan.
"Dasar kebanyakan nonton kartun jadi error gini tuh isi kepada,"
"Udah sana mandi dan siap shalat kita makan malam bersama.
Ibu udah bikinin sambal kesukaan Indah,"
Titah Ibu kepada Indah, seketika wajah Indah berbinar senang mendengar makanan kesukaan.
"Beneran Ibu bikin makanan kesukaan Indah? Ibu bikin apa aja,"
Binar senang Indah tak dapat dia sembunyikan.
"Rebusan daun singkong,"
Jawab Ibu santai sebelum hilang di balik pintu kamar nya sendiri meninggalkan Indah masih berdiri mematung di ruang tamu.
"Ibu, sejak kapan Ibu punya anak kambing,"
Teriak Indah lantang kepada sang Ibu yang sudah tidak keliatan lagi.
Indah masuk ke dalam kamar buat siap siap.
Kan kasian juga kambingnya kalau makanan dia di makan Indah jadi berkurang porsinya.
\=\=
Di F'Corp.
Jam pulang kantor sudah berakhir setengah jam yang lalu.
Namun lelaki tampan yang masih sendiri itu masih sibuk sama berkas yang kata dia tidak ada habisnya itu.
"Lo nggak pulang nanti di cari orang rumah?"
Tanya Farid ketika memasuki ruangan mewah itu.
Dengan jas yang tidak tau dimana berada hanya menyisakan kemeja yang sudah kusut serta dasi yang sudah longgar tapi masih melingkar di leher kokoh itu.
"Lo kira gue anak ayam yang hilang hingga harus di cari segala,"
Sarkas Frans dengan suara tidak bersahabat.
Kalau orang luar melihat mereka berdebat maka tidak ada yang percaya kalau Frans sangat kejam dan arrogant.
Tidak pandang bulu kalau merasa seseorang bersalah baik pria maupun wanita.
__ADS_1
Bagi dia siapa pun bisa melakukan kesalahan maka dia tidak punya toleransi dalam menyikapi seseorang.
"Iya juga ya, kan ngak ada istri juga yang nungguin lo pulang,"
Hellow coba yang bicara ngaca dulu, apa kaca yang di belikan Frans tadi siang kurang besar hingga Farid masih berani bicara soal pasangan.
"Kayaknya mulai besok lo pindah kerja di pabrik pembuatan kaca supaya lo bisa ngaca tiap hari,"
Mengambil jas yang tersampir pada sandaran kursi lalu berjalan keluar buat pulang.
Baik Frans atau Farid setiap ucapan atau perdebatan mereka tidak ada yang sampai masuk kedalam hati masing-masing hanya sebatas kerauan buat menghilangkan rasa jenuh selama bekerja.
Keluarga Frans.
Sampai rumah Frans masuk rumah dan sampai dalam rumah kedua orang tuanya lagi bersenda gurau entah apa yang mereka bicarakan.
"Udah pulang sayang, sini gabung dulu sama mommy dan daddy,"
Panggil nyonya rumah itu ketika melihat Frans datang memasuki rumah besar itu.
"Udah berapa kali Frans bilang ma, jangan panggil Frans sayang terus nanti kalau ada dengar gimana malah Frans di kira simpanan tante tante lagi,"
Ngaco sampai berfikir sejauh itu.
Lagian siapa juga yang berani membicarakan seorang Frans yang sangat di takuti orang orang.
"Tapi kalau setampan, sekaya serta sesukses kamu mama juga mau punya simpanan,"
Timpal mama yang belum menyadari aura hitam di sebelahnya mulai keluar mendengar kata simpanan dari bibir sang istri.
"Iya dan besoknya lagi langsung keluar berita dengan judul 'karna jadi simpanan tante tante seorang pemuda di bunuh oleh suami sang perempuan'.
Mama ngak tau aja kalau singa di samping mama udah mulai menunjukkan taring,"
Selesai mengucapkan kata-kata itu Frans memilih masuk kamar tidak mau melihat kemesraan yang menjadi kan jiwa jomblo Frans memberontak.
Mama Frans menoleh ke arah suami yang menampilkan wajah devil hingga mama tepuk jidat sendiri.
"Ya begadang lagi,"
Pasrah mama yang tau dia salah dan siap di ajak begadang malam ini.
Frans sangat hangat bersama keluarga dan sahabatnya Farid.
Hanya saja tidak ada yang tau.
Di kamar Frans selesai mandi dia duduk di balkon kamar sambil memperhatikan langit gelap tiada bintang itu.
"Nih langit tau aja gue kesepian ngak ada istri, dia juga malah sama tak ada bintang.
Kalau mau ketawa, ketawa aja ngit kita sama sama sendiri tapi ngak usah ketawa juga kan sama sama senasib,"
Lah langit sampai di ajak bicara situ waras Frans.
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Tbc.