
"Regi...?"
Regi mengangguk, "Hum ... ini gue! Lo ngapain disini?"
"Ini semua gara-gara Agnia! Dia dan teman-teman barunya tega nurunin gue disini hanya karena gue bilang, mereka mengirimkan proposal dengan modal body dan kecantikan!" ujarnya tidak menyia-nyiakan kesempatan.
"Benarkah? Agnia berbuat seperti itu padamu?" jawab Regi dengan ragu.
"Itu semua karena pengaruh kedua teman barunya, mereka yang membuat Agnia berubah!"
"Bukannya lo yang gak pernah mau nerima kesalahan lo Serl?" ujar Regi menohok.
Serly menelan ludah, "Gue udah baikan sama Agnia, buktinya hari ini gue pergi bareng mereka buat tugas akhir sekolah, tapi nyatanya mereka berdua bikin Agnia gak bisa nolak buat ngusir dan akhirnya nurunin gue disini."
"Ya udah buruan naik! Gue anterin lo pulang!" ajak Regi.
Serly tersenyum penuh kemenangan, "Beneran Lo mau nganterin gue balik?"
"Ya udah buruan!"
Akhirnya Regi mengantar Serly pulang, sementara dijalan dia terus membicarakan kejelekan Cecilia dan juga Nita yang mempengaruhi Agnia hingga sampe dia berubah. Regi hanya mendengarkannya bicara tanpa menyela.
"Gi ... gue laper! Boleh gak kalau kita mampir sebentar ke kafe untuk makan, gue traktir lo deh!" ajak Serly membujuk Regi.
"Sorry Serl ... gue mesti pergi, kalau lo mau lo gue drop di kafe buat makan."
Serly mencebikkan bibirnya, "Ya udah deh ... gue pulang aja kalau lo gak mau!"
.
.
Sementara Agnia, Cecilia dan juga Nita berhasil menitipkan semua proposal mereka kesemua tempat yang mereka tuju. Setelah itu mereka menuju sebuah kafe untuk makan.
"Kira-kira yang manggil kita yang mana ya?" ujar Nita. "Semoga kita bisa satu tempat ya! Pasti seru kalau kita bisa workshop bersama." ucapnya lagi.
Cecilia menghela nafas, "Kalau gue sih sebenernya males, tapi ya udahlah gue ngikut aja!"
Nita mencibirnya, "Lo sih tinggal bilang Daddy lo yang itu! Lo pasti dapet posisi enak!"
__ADS_1
"Ya ... dan pasti saat itu juga ketahuan gue sama anaknya! Dan lo tahu gak kemaren aja hampir ketahuan."
"Ribet amat sih hidup lo Ce! Kenapa gak berhenti coba ...!"
"Heh Nia, kalau gue berhenti sekarang! Gue dapet dari mana buat biaya hidup gue? Makan ... sekolah bagus, gak ada yang bisa jamin hidup gue! Lo fikir gue gak mau berhenti apa? Tapi gue gak bisa, karena tuntutan hidup gue! Gue gak kayak lo yang berasal dari keluarga berada, gue juga broken home dan lo fikir gue pengen selamanya hidup kayak gini? Enggak Ni ...Enggak!!"
Agnia tersentak dengan alasan yang dikatakan Cecilia, "Sorry Ce ... gue gak ada maksud buat nyinggung masalah ini!"
"Gak apa-apa! gue udah biasa direndahin orang! Gue masih bisa terima karena lo juga baik sama gue, lo masih mau temenan sama gue walaupun lo udah tahu keadaan gue yang sebenernya gimana!" ujar Cecilia.
Agnia menunduk, membuat situasi menjadi sentimental, sementara Nita berdecak, "Udah deh Ce ... gak usah serius -serius lah! Hidup kita udah berat, mending kita seneng-seneng ya kan!"
Harusnya gue bersyukur, setidaknya walaupun gue juga korban broken home, mereka masih ngurusin finansial gue, gue gak mesti terjun di dunia kayak Cecilia juga Nita ini. Tapi gue berharap mereka bisa nemuin pekerjaan yang lebih baik dari yang sekarang ini, agar mereka juga gak dianggap rendahan, dan gak berharga, maksud gue itu. batin Agnia.
"Nita bener! Kita seneng-seneng aja! Gimana kalau kita ke karoke? Atau klub?" ujar Cecilia dengan jari telunjuk dan juga ibu jari yang dijentikkan.
"Seru tuh! Gue setuju."
Agnia menggelengkan kepalanya, "Gue mending pulang, kalau besok kita ada panggilan dari tempat tadi, mampus kita! Gak bisa ... gak boleh bergadang! Kalian mesti pulang, dan siapin diri buat besok."
Cecilia dan juga Nita menghela nafas, "Susah kalau udah si paling pinter ini udah ngomong, karena pasti kita gak bisa nolak!"
Cecilia mengangguk, "Seenggaknya Nia ada fungsinya sebagai temen, dia selalu ngingetin kita, gak kayak lo Nit ... ngajak bikin dosa Mulu! Ujar lnya tergelak.
Sesaat kemudian, pelayan datang membawa camilan dan minuman yang mereka pesan, mereka pun mengobrol rencana demi rencana yang sudah mereka susun, hingga mereka lupa waktu dan sudah berjam-jam mereka ada disana.
"Gue harus cabut nih! Udah malem."ujarnya dengan merogoh ponsel, namun ternyata ponselnya kehabisan daya. "Yah ... mati lagi!" gumamnya kemudian.
"Iya deh iya ... pasti Daddy lo udah resah ya kan!" Cecilia menyikut Nita.
Agnia berdecak seraya menggelengkan kepalanya, "Udah deh ... gak usah mulai!"
"Lo belum cerita lho Nia sama kita!" kedua alis Cecilia naik turun.
Tak lama kemudian, mereka dikejutkan dengan sosok Regi yang baru saja masuk dengan beberapa orang yang membawa alat musik.
"Eeh ... itu temen lo kan Nia? Kapten basket yang dulu pernah ada masalah sama Adam."
Agnia menoleh kearah belakang, dan melihat keberadaan Regi yang berjalan menuju stage panggung.
__ADS_1
Sementara teman-temannya mulai memasangkan alat musik yang mereka bawa,
"Huum ... itu Regi!"
"Dia itu home band?" tanya Nita penasaran.
Agnia mengangguk, "Tapi gue baru tahu kalau dia juga sampai kesini. Padahal gue sempet ketemu dia di kafe lain, yang jaraknya aja lebih jauh dari sini!"
"Mungkin 2 tempat, hebat gak sih!" seru Nita.
"Regi emang keren, dia juga baik ... pokoknya the best lah." timpal Agnia. Dan memang itu kenyataannya.
Regi baru menyadari bahwa Agnia berada disana dan tengah melihat ke arahnya, namun Regi harus segera tampil untuk bernyanyi. Dia hanya melambaikan tangan kearahnya.
Agnia membalas lambaian tangan Regi, sementara kedua temannya saling menyikut.
"Cakep gak sih dia menurut Lo Nia?"
Agnia mengangguk, "Menurut lo gimana?"
"Cakep gila anj ...!" jawab Cecilia menutup mulutnya sendiri.
"Single kan dia ... maksudnya dia belum punya pacar kan?"
Agnia menggelengkan kepalanya, "Setau gue sih enggak, tapi gak tahu lah...!"
Agnia yang berencana akan pulang itu kembali lupa waktu. Hingga Regi selesai performance diatas stage panggung dan menghampirinya.
"Hai Nia? Gimana kabar lo?"
"Baik Gi ... lo sendiri gimana?"
"Seperti yang Lo lihat! Gue baik-baik saja, bahkan lebih baik sekarang ini."
"Eh ... Gi, suara lo bagus banget, Nyanyi lagi dong, tapi khusus gue ya." Nita cekikikan.
Regi tersenyum, "Nia ... Lo pulang bareng siapa? Atau lo dijemput sama Om lo?"
Cecilia dan juga Nita mengulum senyum dengan melirik Agnia yang hanya diam.
__ADS_1
"Ah ... enggak gue balik barang mereka kok! Ok gue lagi sibuk soalnya." jawab Agnia.
"Kalau gitu, lo balik bareng gue aja! Gimana?"