
Dave mendapati Karina tengah duduk dibalkon kamar mereka dirumah besarnya, wanita berambut blonde itu tengah menikmati segelas wine diatas meja, dengan berkas berwarna merah disampingnya.
Dave emosi setelah melihatnya, dia kemudian bergegas menuju balkon dan menghampirinya.
"Apa yang kau lakukan pada perusahaan ku Karina?"
Seakan memang Karina tengah menunggu kehadirannya, dia terkekeh kecil dengan melihat kearah belakang.
"Ahh ... sayang! Kau baru saja pulang tapi sudah marah-marah padaku! Kau tidak mau menciumku dulu hem?" godanya dengan bangkit dari kursi, dan menyambut tangan Dave lalu menyusurinya dan berakhir disela jarinya.
"Tidak usah basa-basi Karina! Jawab saja pertanyaanku!" ucapnya dengan menepis tangan sang istri.
Karina berdecak, dia kembali mendaratkan bokongnya disofa, lalu menyerahkan map berwarna merah itu,
"Tadinya aku juga tidak berniat untuk melakukan nya, tapi mengingat kau pergi ke Indonesia untuk waktu lama, perasaanku jadi takut ... jadi aku putuskan untuk segara mengambil semuanya sekarang, dari pada harus berbagi dengan anakmu dan mantan istrimu yang rakus itu sayang!"
Brakk
"Kau tidak ada hak melakukannya Karina!" bentak Dave dengan menggebrak meja hingga Karina terhenyak kaget, namun seperdetik kemudian, dia tergelak lembut, "Tentu saja aku bisa sayang! Kau memberi surat kuasa penuh padaku darling! Kau ingat?"
Dave mencengkram kedua pipinya dengan keras, hingga rasanya ingin menusuk daging dengan ujung kukunya, "Jangan macam-macam denganku Karina! Sampai kau lupa, dari mana asal tempatmu jika tidak ada aku!!"
Namun Karina justru terkekeh, raut wajahnya dengan cepat berubah, "Aku juga tidak main-main Dave sayang! Semuanya sudah aku pindahkan Dave! Walaupun saat ini kau membunuhku, semua tidak akan kembali seperti semula." ujarnya dengan menepuk lembut pipi Dave.
"Sekarang juga, aku ingin bercerai denganmu Dave!" ujarnya lagi dengan tersenyum licik.
"Apa kau sengaja melakukannya Karina?"
Dave tidak percaya dengan apa yang dia alami sampai hari ini, semua seakan terjadi berurutan tiada henti, masalah besar terus menerus datang, secara bertubi-tubi tanpa jeda sedikitpun, bahkan rasanya untuk menghela nafas pun sulit.
"Sengaja? Ah ayolah Dave sayang, semua orang sudah tahu ... bahkan keluargamu tidak pernah menerimaku karena aku bukan dari kalangan kalian, padahal aku sudah banyak berkorban Dave, tapi mereka hanya bisa menerima Laras, sementara aku ... selama ini harus terus hidup dalam bayang-bayangmu dan juga wanita itu Dave. Aku sudah muak!" terangnya panjang lebar.
__ADS_1
Semua orang memang tahu bagaimana cerita yang terjadi diantara mereka, Karina lah yang menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Dave dan Laras, hingga Dave memilih menikahi Karina dan menceraikan Laras, kejadian itu sudah lama sekali, namun keluarga Dave tidak ada yang mau menerimanya, bahkan sampai detik ini pun.
"Bukankah setimpal Dave? Mereka tidak menginginkan aku, maka aku lebih baik membuat kehancuran untuk kalian!" tegasnya lagi.
Dave bahkan tidak mampu berkata-kata, bukan dia takut, melainkan dia tidak pernah percaya jika semuanya menyerang pada waktu bersamaan.
"Aku ingin lihat, kalian mengemis padaku untuk mengembalikan semuanya! Aku ingin melihat wajah kalian yang memelas pada ku Dave." ucapnya lagi.
Sejurus kemudian Karina mengambil gelas wine yang masih kosong, menuanginya dengan botol berisi minuman keras yang baru saja dibuka. Lalu menyerahkannya pada Dave.
"Aku sudah lelah mengalah sayang! Kesabaran ku telah habis, dan sekarang bukankah posisi ku sama dengan Laras, kami berdua seorang wanita yang kaya, mandiri juga elegan. Bukan begitu Dave? Aaaahhkkk... satu lagi, jago diranjang! Benarkan sayang?" tambahnya dengan mengedipkan sebelah matanya.
Dave berdecih, dia bahkan tidak mau meminum gelas yang telah diberikan olehnya, dia hanya menyimpannya kembali tanpa mengalihkan tatapannya pada Karina dengan tajam.
"Kau ternyata lebih buruk daripada yang aku kira Karina!"
"Kau menyesal Dave?" ujarnya tergelak.
"Kau boleh pergi dengan semua yang kau inginkan Karina, tapi Darren akan aku bawa!"
"Darren akan tetap bersamaku!" tegasnya dengan rahang yang semakin tegas.
"Maaf Dave... kau fikir aku bodoh selama ini jika Meraka saja tidak pernah menganggap ku ada Dave? Apa aku harus membiarkan Darren bersamamu?" Ahh ...come on Dave! aku tahu itu bukanlah aku! Aku menunggu saat ini tiba selama bertahun tahun menjadi budakmu, bukan istrimu Dave!! Aku menderita, aku ini istri tersembunyi mu bukan? Meskipun kau sudah bercerai dari lama dengannya, kau tetap tidak bisa membelaku dihadapan keluarga besarnya Dave, yang di fikiran mereka hanya Laras ... Laras ... dan Laras!"
Dave semakin shock mendengarnya, dia tidak menyangka jika Karina menipunya, hanya karena sakit hati pada perlakuan keluarga padanya, dia juga sakit hati pada Laras.
"Karina! Aku hanya minta Darren!!"
"Tidak Dave ... aku tidak akan memberikan Darren padamu! Sekarang kau hanya harus tanda tangani surat cerai itu! Nanti pengacaraku yang akan mengambilnya kemari!" ungkapnya dengan kembali bangkit dari duduknya.
Dave menarik lengannya dengan kasar, "Kau memang wanita jalangg Karina, aku menyesal karena lebih memilihmu dibandingkan dengan Laras."
__ADS_1
"Lepas Dave! Walaupun kau berbuat kasar padaku, tidak akan mengubah apapun lagi saat ini, jadi terima lah ...!" ujarnya dengan masuk lalu keluar dari kamar, meninggalkan Dave seorang diri yang terduduk dengan lesu.
Bagaimana mungkin Karina melakukannya, wanita yang dia pilih dibandingkan istri dan anaknya dulu, wanita yang menurutnya lebih menarik dan juga lebih semuanya dari Laras.
Dave menerjang meja hingga semua yang berada diatasnya berhamburan.
"Kau memang brensekk!!" teriaknya dengan kembali melemparkan botol hingga pecah berserakan.
.
.
Tiga hari sudah kepulangan Dave ke negaranya, Agnia pun kembali tinggal dirumah bersama ibunya untuk sementara, walaupun hubungan keduanya membaik, namun Agnia tidak merasa nyaman tinggal kembali dirumah itu.
"Mom ... apa Daddy benar-benar pergi?" tanyanya.
"Ya ... memangnya kenapa?"
Agnia menggelengkan kepalanya, "Tidak apa Mom! Hanya saja aku ngerasa gak betah dirumah ini! Terlalu banyak kenangan yang bikin Nia sesek!"
"Apa kita pindah saja dari sini Nak?" ujar Laras yang tahu Agnia terlihat tidak nyaman, "Mommy sudah tidak pernah membawa pria lain kerumah ini lagi sayang! Mommy sudah berjanji bukan!" sambungnya lagi dengan mengelus lembut pipinya.
"Bukan itu Mi!" gumamnya dengan menggulingkan tubuhnya diatas ranjang, kedua pandangan nanar ke atas langit-langit kamarnya.
Gue kangen Om Zian, tiga hari ini gak ketemu sama, aneh juga rasanya.
.
.
.
__ADS_1
Hai reader terlope lope... makasih banget sama kalian yang udah kasih dukungan poll buat author. like dan komentar nya yang luar biasa, gift dan juga vote nya ...pokoknya Lope lope deh....
Udah sampe 140 bab lagi, semoga gak ngebosenin yaa... terus dukung author.. big big lope lope.