
Dokter Sam. Celaka! Bisa bisa gue ketahuan nih. Enggak enggak. Jangan sampai gue ketemu ayahnya Serly, bisa berabe urusannya, apalagi sekarang gue bener bener hamil, nanti dia kira beneran anak dia lagi nih. Agnia membatin, bahunya juga bergidik membayangkan apa yang akan terjadi jika dia bertemu Dokter Sam.
"Hubby ... Nia gak mau diperiksa lagi! Nia capek mau pulang." rengeknya, berharap Zian mengabulkan keinginannya.
"Istirahatlah sayang! Untuk itu aku ingin memeriksamu secara menyeluruh dan membawamu ke rumah sakit agar bisa istirahat total oke." ucapnya mengelus dahi Agnia lembut. "Aku keluar mengurus kamar mu dulu oke."
Zian keluar dari ruangan Dokter Siska, menelepon asistennya untuk mengurus semuanya.
"Bagaimana putriku. Apa dia bisa pulang sekarang?" Laras bangkit saat melihat pria yang hanya terpaut usia empat tahun dengannya itu keluar dari ruangan obygn.
"Tidak, dia akan di tes menyeluruh!" ujarnya tanpa melihat Laras, kedua matanya hanya berfokus pada layar pipih di tangannya.
"What? Astaga Zian, apa harus melakukan itu?" Laras memijit keningnya, "Dokter Siska sudah katakannjika dia baik baik saja."
Zian menatap Laras dengan, "Bukankah kau yang bersikeras agar aku menjaga putrimu dengan baik saat dia aku buat hamil? Dan aku melakukannya sekarang Laras."
Carl ikut menghela nafas, menurutnya Zian sudah terlalu khawatir berlebihan. Tapi dia juga tidak bisa menyalahkan sikap khawatirnya itu.
Laras menatapnya tajam, begitu juga dengan Zian yang semakin sensitif jika berkaitan dengan kehamilan Agnia.
"Kalian berdua tenanglah!" Cicit Carl yang kali ini ikut bangkit.
Laras berdecih, dia kembali duduk di kursi, namun matanya terus menatap Zian. "Terlalu berlebihan!" gumamnya nyaris tak terdengar.
Tentu saja Zian tidak peduli siapa yang keberatan maupun bertentangan dengan pemahamannya sendiri. Dia berlalu pergi tanpa mengatakan apapun lagi.
"Cih! Orang itu."
"Sudahlah, tidak perlu khawatir! Zian tahu apa yang harus dia lakukan."
__ADS_1
"Aku tidak minta pendapatmu!" ketus Laras, wanita berparas cantik itu bangkit dan berlalu begitu saja.
Carl menghela nafas, "Padahal aku sedang berusaha menenangkanmu nyonya, malah aku di tinggal begitu saja!"
***
Agnia semakin cemas jika kelakuan nekadnya tempo hari ketahuan jika dia sampai bertemu dengan dokter Sam saat itu juga.
"Dokter Siska?"
"Ya?"
"Bantu aku keluar dari sini! Aku ingin pulang saja."
"Maaf Nia, aku tidak bisa melakukannya. Suamimu pasti marah jika kau melakukan hal itu."
"Masalah itu biar aku yang tanggung jawab."
Agnia menghela nafas, dia kembali menatap langit langit ruangan. Kalau gak ada yang bisa bantuin gue, gue pergi aja sendiri.
Tak lama Agnia di pindahkan ke ruangan Vvip dan menunggu dokter Sam yang sedang dalam perjalanan, kecemasannya pun bertambah berkali kali lipat, ditambah Zian selalu berada di sampingnya dan membuat dia tidak bisa bergerak sedikitpun.
Dia sudah meminta banyak permintaan, namun tidak membuat Zian keluar dari ruangan, dia selalu menyurih asistennya yang menyiapkan.
"Hubby ... dokter Sam masih lama?"
Zian melirik jam dipergelangan tangannya. "Dia sudah datang!"
"Hah?"
__ADS_1
"Mungkin sebentar lagi kemari."
"Aku mau ke kamar mandi." Agnia hampir melompat dari ranjang kalau tidak Zian cegah, gadis itu lupa diri jika perutnya sudah membuncit.
"Hati hati Baby!"
"Aku kebelet."
Agnia masuk ke dalam kamar mandi, hanya duduk diam dan memikirkan bagaimana caranya menghindari Dokter Sam, hingga beberapa saat kemudian Dokter Siska masuk bersama Dokter Sam kedalam ke ruangan.
"Tuan Zian! Perkenalkan. Ini Dokter yang hari ini akan memeriksa istrimu. Dokter Sam,"
Mereka saling menjabat tangan, Zian memang beberapa kali melihatnya, dia ingat betul jika isrtinya pernah menolak jika dokter Sam yang memeriksanya. Agnia masih belum mau keluar, dia juga belum tahu jika Ayah dari Serly itu sudah berada di ruangan. "Terima kasih Dokter Sam. Kita sempat berpapasan beberapa kali! Tapi baru kali ini kita berkesempatan bertemu dan berkenalan. Bahkan sejak awal memeriksa kehamilan istriku."
"Aku tahu bagaimana perasaanmu, bahkan mengkhawatirkan anak yang masih berada di dalam rahim ibunya adalah tugas seorang Ayah."
Kata sambutan yang membuat hati Zian semakin mantap melakukan semua yang terbaik untuk anak dan istrinya, Zian pun mengangguk dengan kedua tangan yang masih saling menjabat.
"Putriku satu satunya baru saja meninggal karena kecelakaan! Dan itu membuatku hidupku hancur. Jika aku bisa mengulang kembali waktu. Aku akan melakukan hal yang sama denganmu. Benar benar menjaganya dengan baik."
Bruk!
Pintu toilet terbuka dengan sangat keras, Agnia memaku di tempatnya, dengan memegangi perut buncitnya. Dengan keringat serta air mata yang sudah sulit dibedakan membasahi seluruh wajahnya. Entah sejak kapa dia mendengar keduanya bicara.
"Aaaa-- Serly? Aaapa yang terjadi?"
.
.
__ADS_1
...Kataku apa ... Kabur Nia, kabur! Jadi cemen kan lo ih semenjak hamil. Biasanya demen banget kabur kaburan. Sekarang tau rasa kan. Wkwkwk....