
"Kamu benar. Baiklah ... hari ini aku tidak akan pergi ke kantor, kita akan menghabiskan waktu bersama saja!"
"Enak saja ... Nia gak mau, Nia harus ketemu mommy, ada yang harus Nia tanyakan pada nya!" ujarnya dengan kembali bangkit.
Zian menghela nafas, "Baiklah kalau begitu, tapi ... aku yang akan mengantarmu kesana!"
"Tidak usah, aku bisa sendiri!"
"Jangan terus membantah, aku hanya ingin memastikan kamu pulang dengan selamat." jawab Zian dengan mencubit pipi Agnia.
"Iya ... baiklah, tuan pemaksa!" jawab Agnia dengan merebut dasi dari tangan Zian.
Gadis itu kemudian naik ke atas ranjang, menghadap Zian yang masih melihatnya dengan bingung.
"Apa yang kamu lakukan Nia?" tanyanya heran.
"Sini maju!" ucapnya dengan mengulum senyum.
Zian melangkah maju, menatap Agnia dengan satu garis tipis melengkung dari bibirnya.
"Apa kamu sedang menggodaku Nia?" ujarnya dengan mendaratkan telapak tangannya pada bokong Agnia.
Agnia melingkarkan dasi lalu merapikannya, "Nia hanya bantu pasang dasi bukan menggoda om-om genit!" ujarnya dengan menarik lebih kencang dasi yang tengah diikatnya.
"Hei ... pelan-pelan! Kamu mau membuatku mati!"
Gadis itu tergelak, dia melingkarkan kedua tangannya pada leher Zian yang sedikit tersedak karena ulahnya, "Makanya jangan asal pegang!"
.
.
Sementara itu, Dave terbangun dari tidurnya, dia mengerjapkan kedua matanya yang masih belum terbuka sempurna itu dan mencari sosok anak perempuan satu-satunya, kedua kakinya menapak turun dari peraduannya membuka tirai yang mulai menyilaukan, namun dengan cepat dia menutupnya kembali.
Pria berusia 37 tahun itu mengayunkan langkah ke arah kamar mandi, berharap putrinya ada di dalam. Dirinya mulai panik karena tidak menemukan anaknya dimana-mana.
Dave meraih ponsel miliknya yang tergeletak di atas nakas, dengan cepat dia menghubungi no kontak Agnia, namun tidak mendapat panggilan nya diabaikan, dia beralih menelepon kontak Laras.
'Apa Nia bersamamu?' Sentaknya saat panggilannya diangkat.
'Bukankah dia bersamamu dari kemarin?'
Dave menutup sambungan teleponnya, dia menyambar kunci mobil lalu keluar. Tujuan hanya satu, membawa Agnia.
Derap kaki melangkah dengan pasti, keluar dari kamar hotel dengan fikirannya yang kalut, dia bukan hanya tidak rela anak gadisnya bersanding dengan pria yang lebih tua seusia hampir sama dengannya, namun juga ketakutan yang selama ini dia sembunyikan dari semua orang, Zian lah yang mengetahui seluk beluk dirinya di masa lalu.
Kufikir negara ini luas, tapinya nyatanya sangat sempit hingga aku harus kembali melihatnya, dan aku tidak akan terima jika putriku sendiri memilih Zian.
__ADS_1
.
.
Seseorang merangsek masuk, membuat Bi Nur yang baru saja datang terkaget melihatnya.
"Tuan Dave?"
"Mana Zian?" sentaknya dengan mata menyalang, bi Nur hendak menutup pintu, namun Dave mendorongnya hingga wanita paruh baya itu mundur beberapa langkah.
"Katakan, kemana Zian membawa putriku?"
Bi Nur mengernyit, "Bibi tidak tahu Tuan ... bibi baru saja datang!"
Dave masuk dan naik keatas mencari keberadaan Zian juga Agnia, dia membuka satu persatu ruangan dirumah itu, termasuk kamar yang sempat ditinggali oleh Agnia.
Dia mengenal wangi itu, wangi dari sabun racikan yang kerap digunakan oleh putrinya, dia pun melihat barang Agnia yang masih belum sempat diambil dari kamar itu.
"Kurang ajar!"
"Apa kau tahu, putriku tinggal disini sebelumnya?" bentaknya pada bi Nur yang berdiri dibelakangnya. Wanita itu terus mengikuti langkah Dave. "Atau kau juga bersekongkol dengan Zian?"
Bi Nur menggelengkan kepalanya, "Ti__tidak! tidak Tuan ... Justru___!"
"Aaaahkkk ... minggir!" ujarnya dengan mendorong tubuh asisten rumah tangga itu hingga terdorong menabrak pintu.
Dave kembali masuk kedalam mobil, dia melajukan mobilnya kembali dengan kecepatan tinggi, sesekali dia memukul setir mobil dengan keras, merutuki Zian yang dengan berani-beraninya membawa putrinya.
"Apa kau benar-benar ingin membalas dendam padaku Zian? Brengsekk...!" rutuknya dengan kembali menginjak pedal gas, hingga kendaraannya semakin cepat.
Dreett
Dreett
Ponsel Dave berbunyi didalam saku, panggilan dari orang yang dipercaya yang mengurus perusahaannya di Singapura.
Dave mengangkat sambungan telepon itu dengan kesal.
"Ada apa?"
"Tuan Dave? Kau harus segera kembali ... saat ini perusahaan menjadi tidak terkendali, kami membutuhkanmu tuan!"
"Lalu untuk apa aku membayarmu mahal kalau bukan untuk mengurusnya! Bodoh!!" sentaknya dengan melemparkan ponsel ke arah seat mobil disampingnya.
"Semuanya menjadi kacau, gara-gara kau Zian! Pagi ini harusnya aku sudah dalam penerbangan kembali ke Singapura!" geramnya dengan kedua tangan mencengkram setir mobil.
Mobil melaju dengan kencang kearah sekolahan Agnia, tak lama kemudian dia sampai dan bergegas turun, masuk kedalam gerbang dan bertanya pada seorang security.
__ADS_1
Setelah mendapatkan informasinya, Dave kembali masuk kedalam ruangan guru.
"Aku ingin mencari putriku, apa pagi ini dia masuk?" tanyanya tanpa basa basi.
Beberapa guru saling menatap, lalu kembali menatap pria tegap itu, dan segera menghubungi guru pembina bimbingan konseling.
Dave bahkan hanya berdiri mematung menunggu jawaban, dia kembali keluar saat seorang guru tengah menelepon.
"Lambat!!" gumamnya dengan kesal.
Serly yang kebetulan lewat ditempat itu mendongkakkan kepalanya kearah ruang guru, dia memperhatikan Dave.
"Itu kan Daddynya Agnia!"
Dave berjalan dengan kedua mata yang menyisir segala arah, dia benar-benar tidak tahu di mana kelas putrinya belajar, Bahkan dia tidak ikut campur masalah sekolah putrinya, dia hanya mengirim uang, uang dan terus uang tanpa peduli putrinya sekolah ditempat bagus atau tidak.
"Om Dave?" tanya Serly.
Serly samar-samar mengingatnya walaupun hanya sempat beberapa kali melihatnya sewaktu kecil dulu, dan juga foto saat sering bermain di kamar Agnia.
"Ya!"
"Om ayahnya Nia kan? Maksudnya Agnia?"
"Kau tahu! Kemana dia sekarang?" Dave balik bertanya pada Serly.
"Agnia tidak masuk kok Om! Dia kan sering tidak masuk akhir-akhir ini, Bahkan sempat hilang selama dua bulan," jawab Serly yang membuat Dave terperangah.
"Pasti ulah Zian!" gumam Dave mengepalkan tangannya.
"Pak Zian? Om nya Nia kan? Guru pembimbing kelas tambahan juga di sekolah ini kok Om Dave!"
Dave semakin terperangah mendengarnya, "Om?"
Serly mengangguk, "Orang- orang tahu juga kalau pak Zian itu Omnya Nia!"
Gue udah curiga dari awal kalau Pak Zian itu bukan keluarga Nia, bahkan Daddy nya saja keliatan kaget gitu.
"Katanya paman dari paman jauh ... pokoknya gitu deh, aku juga gak paham!" tambah Serly lagi.
Dave tidak mengatakan apa-apa lagi, dia kemudian turun kembali dan berjalan keluar, meninggalkan Serly begitu saja. Pak Sopian baru saja datang dan mencari keberadaan seseorang yang diduga mencarinya, namun tidak melihat siapapun kecuali Serly yang tengah mematung.
"Serly? Sedang apa kamu berdiri disini? Ayo kembali ke kelas!"
Serly mengangguk dan kembali berjalan masuk dengan beberapa pertanyaan yang membingungkan dalam kepalanya.
"Reaksi Daddynya Nia sangat membingungkan! Dia juga keliatan kaget saat gue bilang Om nya Nia! Apa jangan-jangan kecurigaan gue itu bener, mereka gak ada hubungan keluarga, apa Nia jangan-jangan jadi sugar baby dan Om Zian yang jadi sugar Daddy nya?" gumamnya dengan terus melangkah.
__ADS_1