
Agnia kembali kesekolah, kali ini dia tidak menggubris siapapun yang mengatainya secara terang-terangan, bahkan terkesan sangat frontal terkait foto dirinya yang tersebar.
Benar yang dikatakan Zian, dia tidak merasa melakukannya, kenapa dia harus takut. Kepercayaan dirinya pun kembali, dia berjalan melewati selasar, dan melihat Vina yang duduk seorang diri, dia lantas menghampirinya,
"Vina? Lagi ngapain?"
Viba mendongkak, "Nia...?" lantas dia berhambur memeluknya.
"Gue eeuu... aku fikir aku gak akan liat Nia lagi! Untunglah, maaf yaa, masalah kemarin, aku gak bisa bantuin."
Agnia mengulum senyum, "Its ok Vin, gue gak apa-apa kok!"
"Gue gak nyangka aja, Serly sejahat itu ... dia udah bukan Serly yang gue kenal lagi!" sambungnya kemudian.
"Gak apa-apa Nia, masih ada aku!" ujar Vina menenangkan.
"Thanks Vin ... ke kelas yuk!" ajak Agnia.
Tanpa sepengetahuan mereka, Serly menatap dengan wajah sendu dari kejauhan. Lalu pergi setelah melihat keduanya juga pergi.
Namun langkah Agnia terhenti saat melihat Cecilia dan juga Nita yang sedang berjalan ke arah sebaliknya. Membuat Agnia mempercepat langkahnya.
"Cel ... gue mau ngomong!" tukasnya tanpa basi- basi.
Nita mengibaskan rambutnya, dengan mendelik ke arah Vina yang juga menatapnya, namun dengan cepat Vina menundukkan kepalanya.
"Lo gak usah takut Vin sama mereka!"
Cecilia pun mencibir melihatnya, "Udah buruan ngomong apaan? Jangan bilang lo tertarik sama tawaran gue tempo hari?"
Agnia menarik lengan Cecilia, " Lo kan yang nyebarin foto gue? Lo mau maen curang sama gue Cel?"
"What ... lo nuduh gue?" Cecilia mendengus.
"Untungnya buat gue apa? Nyebarin foto lo? Yang ada aib gue nanti yang terkuak, sorry ya ... jam gue sibuk, gak ada waktu buat ngurusin hal receh begituan! Kalau gue mau pun, gak bakal pake cara begituan? Gak ngasilin duit buat gue!"
"Ngerti gak lo Agnia cantik super duper baik hati...!" sambungnya lagi, lalu keduanya tergelak.
"Lagian ya, yang patut lo curigai tuh orang yang paling deket sama lo," timpal Nita.
Agnia tertegun, memang benar apa yang dikatakannya, mereka berdua gila uang, dan sudah pasti tidak akan mau kalau aib mereka pun terbongkar.
"Hati-hati lo Nia ... yang paling berbahaya itu orang terdekat kita tahu!" ujar Nita dengan mata ke arah Vina.
"Bener gak Vin ...!" tanyanya.
Keduanya pun kembali tergelak, dan berlalu begitu saja, "Call me Nia, kalau lo berubah fikiran, lo bisa gabung bareng kita!" seru Cecilia yang kemudian kembali tergelak.
__ADS_1
Membuat Agnia bergidig melihat sikap mereka, dia pun mengajak Vina untuk kembali ke kelas.
"Sakit sih mereka berdua!"
Vina hanya mengangguk, tangannya kembali mengepal, "Sabar ya Nia!"
"Gak apa-apa Vin! Tenang, gue gak apa-apa."
Mereka berdua pun kembali berjalan menuju kelas mereka.
"Celaka Vin! Pak Sopian...." gumam Agnia saat mereka akan masuk ke dalam kelas.
Pak Sopian tengah berdiri menghadapnya, dengan selembar amplop putih di tangannya.
"Palingan dia mau nugasin kamu buat catatan Nia! Gak apa-apa."
"Gak apa-apa gimana, lo gak liat dia bawa apaan,? Mati gue, panggilan buat orang tua pasti." gumamnya lagi.
"Belum tentu Nia...."
Mereka berdua pun menganggukkan kepala saat berhadapan dengan pak Sopian.
"Agnia, Bapak sudah tidak bisa membantu lagi, kamu sudah mencemarkan nama baik sekolah kita, kamu kasih surat ini pada orang tua mu dan pulang sekarang juga! Kamu di skorsing selama 1 minggu." ujar Guru BK itu dengan tegas.
Lutut Agnia seakan lemas seketika, mau tidak mau dia harus menerima keputusan pihak sekolah, meskipun berkali-kali dia menjelaskan, namun semua bukti mematahkan sanggahannya.
"Thanks Vin!" lirihnya.
Masuk kelas saja belum, udah disuruh pulang dan dapet surat panggilan, gimana coba, Mami dan Daddy saja tidak pernah peduli sama gue.
Agnia pun kembali berjalan keluar, setelah berpamitan pada Vina, sedangkan di dalam kelas, Serly menatapnya terus hingga sahabatnya itu menghilang dibalik gerbang.
Agnia berjalan dengan fikiran yang semakin tidak karuan, masalah dalam hidupnya seakan tidak pernah berhenti, ditengah kegigihannya untuk terus berprestasi, dia juga harus berjuang untuk bertahan dari cobaan yang terus menerpanya.
"Gue kayak gak punya pegangan hidup!" gumamnya dengan berdiri dipinggir jalan.
Sebuah motor sports berwarna hitam berhenti tepat dihadapannya, sosok berseragam sama dengannya itu membuka helm fullface yang dikenakannya. Adam.
"Nia ... lo mau kemana? Bukannya jam masuk bentar lagi?"
"Gak usah sok baik deh lo depan gue!"
Adam turun dari motor dan menghampiri Agnia, "Lo salah Nia, gue gak ngelakuin hal licik kayak gitu! Terserah lo percaya apa enggak sama gue!"
Agnia melipat kedua tangan di dadanya, "Kepercayaan gue udah ilang sama lo juga pacar lo itu! Ngerti lo."
"Lo marah karena gue pacaran sama Serly, apa perlu gue putusin dia agar lo percaya Nia?"
__ADS_1
"Sakit lo!" sentaknya sambil berjalan menjauhi Adam.
"Gue suka sama lo Nia!" serunya dari kejauhan.
Membuat Agnia menoleh dan mengacungkan jari tengah padanya.
Adam mengejarnya, dan mencekal tangan Agnia, hingga tubuh Agnia mengarah ke hadapannya. "Gak waras lo!"
"Maafin gue! Tapi gue bener-bener serius dengan apa yang gue ucapin sama lo, gue suka suka sama lo Nia!"
"Apaan sih ... lo fikir gue percaya? Lo pacarin sahabat gue, tapi lo juga bilang lo suka sama gue! Come on Dam, kalau mau ngibul pinteran dikit!" tukas Agnia kesal.
Adam menatapnya nanar, "Tapi gue lebih suka sama lo Nia!"
"Tapi gue nya enggak...!"
Agnia menepiskan tangan Adam, dan kembali berjalan dengan tersungut, sementara Adam terpaku ditempatnya.
"Dia fikir dia siapa? Bodohnya gue sempet suka sama dia!" gumam Agnia dengan terus menggerutu.
.
Hari itu juga Agnia memutuskan keluar dari rumah Zian, tak peduli Zian akan marah ataupun menyusulnya, Agnia memilih pulang dengan menggunakan ojek online menuju rumahnya. Rumah yang dulu hangat dan dipenuhi kasih sayang kini tampak sepi dan kosong. Hanya bi Yum yang peduli padanya saat ini, pelayan rumah yang mengasuhnya sejak dia bayi.
Setelah membuka gerbang rumahnya, Agnia menyembulkan kepala ke arah carport, dan ternyata mobil milik ibunya ada disana, "Mami ada dirumah, tapi tidak pernah sekalipun cariin gue!" sungutnya, lalu kembali berjalan masuk.
"Bi Yum ... Bi, pada kemana nih sisa orang-orang dirumah ini!" ujarnya saat membuka pintu.
Pelayan rumah yang dia panggil berlari dari belakang, "Ya tuhan ... Non! Akhirnya pulang juga," ucapnya dengan memeluk tubuh Agnia yang lebih tinggi darinya.
"Gimana kabarnya Bi?"
"Baik Non ... Bibi baik, Non sendiri gimana kabarnya? Non sehat kan? Makan dulu ya ... bibi siapin!"
Agnia menggelengkan kepalanya, "Nanti saja Bi, Nia masih kenyang!"
Pelukan keduanya mengurai, bi Yum menyeka air dipelupuk matanya,
"Bi Yum kok nangis, Nia kan sudah pulang, Mami ada di rumah kan ya! Nia mau ke Mami dulu ya Bi." ucapnya dengan berjalan.
"Non ... jangan!!"
.
.
Hai semuanya, terima kasih sudah baca karya author, buat yang like, komen, rate 5, gift dan votenya ... terutama buat kalian yang setia baca dari karya pertama author... lope lope badag buat kalian.
__ADS_1
Selamat beribadah puasa buat yang menjalankan, semoga lancar yaa.